
Hari ini.
Tiga puluh menit sejak telepon Basyir, sedan hitam yang ku kendarai merapat di sebuah kawasan elit ibukota. Pintu gerbang yang terbuat dari baja setebal lima senti terbuka secara otomatis saat mengenali wajahku. Itu bukan gerbang yang harus didorong oleh dua orang seperti di kota provinsi dua puluh tahun dulu, ini adalah markas besar Keluarga Tong dengan teknologi mutakhir.
Hampir semua mobil yang ada di benteng rumah Keluarga Tong berangkat. Juga hampir seluruh tukang pukul ikut serta.
Aku duduk di mobil jeep terdepan, di
sebelah Tauke. Dia tidak banyak bicara, wajahnya masih masam sejak percakapan tadi siang.
Tauke hanya sesekali bicara dengan Kopong, yang juga satu mobil, membahas pekerjaan yang dia berikan. Konvoi mobil tidak jauh,
dua puluh menit, kami tiba di komplek
gudang besar, penuh dengan kontainer,
bertumpuk.
Pukul sepuluh, bangunan yang
menghadap pantai itu, sepi, gelap, tidak ada aktivitas di sana, hanya kerlap-kerlip lampu perahu nelayan yang terlihat di kejauhan laut.
Mobil-mobil kami tidak diparkir di halaman bangunan, melainkan terus maju,
parkir di tepi pantai, penumpangnya berlompatan.
Beberapa pemuda meletakkan potongan kayu besar di pantai, gerakan mereka gesit, mereka sudah menyiapkan semuanya sejak dari rumah.
Salah-satu menyiram tumpukan kayu dengan bensin, kemudian memantik nya. Nyala api segera membumbung tinggi,
membuat terang wajah-wajah kami.
Semua orangtanpa disuruh berkumpul, berdiri mengelilingi api unggun, membentuk lingkaran. Wajah Mereka semangat, seperti menunggu kabar gembira.
Tauke Besar melangkah ke tengah lingkaran.
Kopong menyikut lenganku, menyuruhku menyusul Tauke.
Aku menelan ludah. Aku disuruh maju? Apa yang akan terjadi?
Ada apa denganku?
“Kau maju sana, Bujang! Jangan banyak tanya.”Kopong mendelik.
“Sudah lama sekali.” Tauke mengangkat tangannya, berseru saat aku sudah berdiri di sebelah Semua tukang pukul memperhatikan seksama, wajahwajah antusias. Beberapa bahkan sudah berseru-seru
__ADS_1
mengepalkan tangan.
“Sudah lama sekali kita tidak melakukan tradisi ini. Terakhir adalah lima tahun lalu, saat aku memilih Kopong menjadi kepala tukang pukul. Malam ini, kita akan kembali melakukannya. Tradisi paling tua di
keluarga kita. Anak-anak sekalian, malam ini,
kupersembahkan kepada kalian.
"Amoookkk!!” Tauke
Besar berteriak kencang, tangannya teracung tinggi. Seketika lingkaran api unggun buncah oleh teriakan mereka.
" AMOOOKKK!!”
Aku menelan ludah. Tidak mengerti.
Angin laut bertiup, membuat nyala api unggun
meliuk-liuk. Pelepah pohon nyiur berkelapakan.
Tidak ada yang peduli udara dingin, semua orang berseruseru seperti menyambut pesta.Mulai melepas sepatu. Melemparkan senjata tajam ke belakang, menggulung
lengan baju.
“Kau sendiri yang memintanya, Bujang. Sayang sekali, bahkan lukamu baru saja sembuh. Tapi demi kau, akan kuberikan sesuatu yang spesial. Aku telah berjanji pada
Tauke Besar masih menatapku dengan wajah masam,menjelaskan.
“Kau berdiri di tengah lingkaran, Bujang.
Sendirian. Enam puluh tukang pukul lain akan
menyerang mu. Mereka maju sendiri, berdua, bertiga, terserah mereka. Tidak ada peraturannya. Bahkan kalaupun mereka serempak menyerang mu, itu menjadi.
masalah kau. Tidak ada yang akan menolong mu.
"Perkelahian tangan kosong. Hanya boleh
menggunakan apapun yang tersedia di arena
perkelahian, di dalam lingkaran. Kita lihat akan
seberapa lama kau bertahan.”
Nafasku mulai kencang, detak jantungku mulai cepat. Aku paham sekarang apa maksud kata “amok” tadi.
__ADS_1
Perkelahian bebas.
“Syahdan bisa melakukannya selama
enam puluh menit, saat dia terpilih menjadi
kepala tukang pukul Ayahku dulu. Kopong, bertahan empat puluh menit, saat dia menjadi kepala tukang pukul ku. Mari kita lihat
seberapa lama kau bisa bertahan.
Jika kau bisa berdiri di atas pasir selama
dua puluh menit, aku akan menuruti kemauan mu, kita bakar buku-buku itu, lupakan ide Frans si Amerika dan seluruh kejeniusan
yang kau miliki. Aku akan membiarkan
kau menjadi tukang pukul. Kau akan
belajar dengan Kopong.”
Nafasku semakin menderu.
Mulai bisa merasakan
antusiasme. Menatap wajah-wajah di sekelilingku yang sudah tidak sabaran menyerbu. Ini seperti pesta
perkelahian bagi mereka, dan aku adalah samsak sasarannya.
“Apakah kau takut, Bujang.” Tauke Besar bertanya.
Aku menggeleng cepat.
Aku tidak takut.
“Kau sudah siap?”
Rahang Ku mengeras. Siap atau tidak siap, tukang. pukul lain tetap akan menyerang ku.
Saat itu, usiaku baru lima belas tahun. Tapi fisikku tidak lagi remaja, aku bahkan sudah lebih tinggi dibanding Tauke. Akan kutunjukkan jika aku layak. menjadi seorang tukang pukul. Tauke kembali ke tepi
lingkaran, masih menatapku masam.
“AMOOOK!!” Tauker mengacungkan tangannya,
pertanda ritual dimulai.
__ADS_1
Jangan lupa dukung novel ini
ya. Like dan komen🙏