
Ketika mereka hendak memanggil tetangga, mereka bisa membuka
jendela lantas berteriak sekencang mungkin—itulah kenapa intonasi orang pedalaman Sumatra kasar.
“Apakah kita harus membayar mereka, Syahdan?”
Tetua kampung bertanya dengan cemas.
Bapak perlahan menggeleng, dalam pertemuan sebulan lalu,
“Tidak sepeser pun, Bang. Mereka memang suka berburu **** hutan dan Itu adalah
hobi orang kota. Mungkin beberapa
**** akan dibawa oleh mereka, untuk dimakan ataupun untuk dijual. Hanya
itu bayarannya.” Ujar bapakku.
Aku yang juga ikut di pertemuan, langsung bisa menyimpulkan, itulah pasti orang-orang yang boleh makan ****. Karena Mamak Ku
di rumah bilang berkali-kali, **** haram dimakan.
“Bujang!” Bapakku berseru dari atas, sudah naik teras
rumah panggung, “Kau bantu Mamak kau menyiapkan makanan. Jangan hanya berdiri tak guna di bawah sana.” Marah bapakku
Aku mengangguk, segera menaiki anak tangga.Lima belas menit. Dua belas pemburu itu sudah duduk di atas hamparan tikar, senjata api mereka diletakkan berbaris di balai bambu.
Juga ransel, senter besar, tali,
jaring dan peralatan lain. Aku segera tahu, menilik gerakan cekatan, mereka pastilah pemburu berpengalaman. Yang aku tidak menduganya adalah, Bapakku ternyata kenal dekat dengan pimpinan rombongan ini. Mereka duduk berdekatan di sudut
tikar, bercakap seperti sahabat lama tak bersua.
“Kemari kau Bujang.” Bapakku berseru lagi.
Aku yang sedang mengangkat ceret berisi kopi panas, menoleh.
“Ayo!” Bapakku melotot, tidak sabaran.
Aku bergegas melangkah ke sudut tikar.
__ADS_1
“Ini anakku, Tauke Muda.” Bapak menunjukku,
“Usianya lima belas. Namanya Bujang.”
“Ah, kau tidak bilang dalam surat mu kalau
kau punya anak laki-laki, Syahdan?” Orang bermata sipit itu menatapku, dari ujung kepala hingga kaki, “Tubuhnya Gagah besar seperti bapaknya. Sudah Seperti pemda dewasa. Matanya hitam tajam. Aku suka dia. Kelas
berapa kau sekarang?” tanya orang itu.
Bapakku menggeleng, tertawa, “Tidak sekolah. Seperti Bapaknya.” tambah
bapakku.
Orang bermata sipit masih menatapku, “Kemari, Bujang. Lebih dekat.”
Aku melangkah lagi, duduk dengan lutut di atas tikar.
“Apakah kau pandai berburu **** hutan seperti bapakmu itu?”
“Jangan harap.” Bapak terkekeh, memotong jawaban,
takut sekali anaknya terluka. Mentang-mentang anak
satu-satunya.” potong bapakku.
Orang bermata sipit mengangguk-angguk takjim.
“Kau mau ikut berburu nanti petang?”
Aku mengangguk dengan cepat—bahkan sebelum melihat ekspresi wajah Bapakku
yang duduk disebelah.
“Bagus sekali! Mari kita lihat seberapa
hebat kau didalam sana. Bapak kau ini
dulu, adalah pemburu yang
hebat, berikan senapan itu padanya, dia
__ADS_1
akan menjatuhkan satu persatu ****-****
itu"sungut orang itu.Itu percakapan yang terlalu cepat.Bahkan sebelum aku
menyadarinya,aku telah memperoleh
tiket emas yang selama ini aku idamkan. Setengah jam kemudian, di dapur rumah panggung,Mamak tidak senang,
wajahnya yang berkeringat karena
sedang memasak gulai, nampak masam.
Tapi Bapak meyakinkan kalau
semua baik-baik saja. Mereka bicara khusus,
tentang ijin berburu untukku.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Midah. Anakmu Hanya ikut berburu. Ada dua belas pemburu yang ikut bersamanya, juga beberapa pemuda kampung. Mereka
membawa senter besar, senjata api.
Paling anakmu hanya tergores duri,
atau kakinya digigit lintah.” jelas bapakku.
Mamak melengos, menatap kuali berasap.
“Ayolah, Midah. Tauke Muda memintanya sendiri, dan harus berapa kali aku bilang,
kita tidak bisa menolak permintaannya.
Aku berhutang segalanya.”
Mamak hanya diam, menyeka pelipis. Tapi sepertinya dia bisa memahaminya, mengalah. Hal yang jarang
sekali dia berikan jika menyangkut diriku.
Jangan lupa dukung aku ya kak.
Like dan komen novel ini🙏
__ADS_1