Pulang.

Pulang.
Bab 5


__ADS_3

Disana aku mempunyai sorang teman adalah Basyir, orang pertama yang kutemui setiba di


kota—bukan ibukota ini, masih di kota provinsi.


Dua puluh tahun lalu, gerimis turun saat empat mobil Basyir pulang pukul delapan malam, dengan lengan


dibebat.


“Kami akhirnya berhasil menguasai Pasar Induk….


Kopong sedang menyelesaikan sisanya, menyumpal


mulut petugas dan wartawan agar kejadian tidak


tersebar kemana-mana. Kopong ahli sekali soal itu, dan


orang-orang hanya melihatnya seperti kebakaran dan


rusuh biasa” Basyir bercerita antusias, dia tidak peduli


meski pakaian dan rambutnya kotor serta acak-acakan.


“Apa yang kau lakukan hari ini, Bujang? Apa tugasmu


dari Tauke?”


Aku menggeleng, tidak tertarik membahasnya.


“Ini apa?” Basyir menunjuk heran buku-buku tebal di


atas tempat tidurku.


Aku tidak menjawab.


“Sejak kapan ada orang di rumah ini yang membaca buku?”


Aku menelan ludah.


Basyir tertawa, akhirnya dia bisa menebak apa yang


terjadi, “Kami seharian melakukan hal seru di luar


sana, Bujang. Memukuli preman pasar yang banyak


tingkah, kau justeru disuruh membaca.”


Sial, aku melotot kepada Basyir yang


mentertawakan ku.


“Aku mandi, Bujang. Belajar yang rajin kau.” Basyir


melambaikan tangannya, kembali ke kamarnya.


Aku menghembuskan nafas kesal.


Waktu itu aku belum paham apa yang sebenarnya


sedang disiapkan oleh Tauke, baru beberapa tahun


kemudian, aku menyadarinya. Tauke punya rencana


besar. Usia Tauke lima puluh tahun, dia sedang


menatap masa depan Keluarga Tong yang gemilang,

__ADS_1


dia telah menyiapkan rencana agar keluarga kami tidak


hanya menjadi penguasa di provinsi.


Rencana yang justru tidak aku sukai saat itu.


Seminggu hanya dijejali buku-buku yang diberikan


Frans, aku memutuskan menemuinya di ruang kerja


bangunan utama. Bilang aku akan berhenti membaca


buku-buku itu.


“Kau harus sekolah, Bujang.” Tauke menatapku


marah, wajahnya tidak suka.


Aku menggeleng.


“Kau harus sekolah, BUJANG!!” Tauke membentak ku.


Niatku sudah kokoh. Aku tidak datang sejauh ini ke


kota besar hanya untuk sekolah. Aku tidak membunuh


**** raksasa itu hanya untuk kemudian disuruh


belajar.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tauke


mengendurkan teriakannya, berusaha sedikit


terkendali, merapikan kertas-kertas yang sedang dia


“Aku ingin menjadi seperti Bapakku dulu.”


"Menjadi Bapak kau? Lantas apa yang berhasil


Syahdan dapatkan dari menjadi seorang tukang pukul?


Kakinya lumpuh satu. Kau ingin menjadi lumpuh


seperti dia, hah?”


Aku diam.


“Masa depan Keluarga Tong bukan di tangan orangorang yang pandai berkelahi. Masa depan Keluarga ini


ada di tangan orang


yang pintar. Kita tidak akan terusmenerus hanya menjadi keroco dalam dunia hitam.


Hanya memalak, memeras, menyelundupkan barangbarang. Itu bisnis kotor. "


"Kita akan menjadi lebih besar


dari itu semua, dan untuk menjalankannya, aku butuh


orang pintar. Itulah yang disebut visi, melihat masa


depan. Kau harus sekolah setinggi mungkin. Biarkan


saja Basyir, yang memang tidak punya otak untuk

__ADS_1


mengunyah bangku sekolah, yang menjadi tukang


pukul. Kau tidak.”


Aku tetap menggeleng.


"Astaga, Bujang! Omong kosong menjadi seperti bapak


kau. Lihatlah. Aku bertahun-tahun ingin menjadi


seperti Ayahku dulu, Tauke Besar sebelumnya. Lantas


apa yang aku dapat setelah menjadi dirinya? Di kota ini


saja keluarga lain tidak menghormati ku, kita hanya


dianggap keluarga rendah."


" Jangan tanya di pulau


seberang, Ibukota, mereka hanya memicingkan mata


tidak peduli. Kita dianggap sama dengan preman Pasar


Induk yang kita taklukkan. Tidak berkelas. Murahan.”


Aku tetap diam.


“Kau harus sekolah, Bujang. Frans yang akan


mengajarimu secara privat di rumah ini hingga kau bisa


mengejar ketinggalan kelas. Kau tidak akan menyianyiakan bakat pintar mu. Kau seharusnya sudah kelas


satu SMA, Bujang. Usiamu sudah lima belas tahun—”


“Aku tidak mau.” Aku memotong.


Tauke Besar mendengus, andai saja aku orang lain,


mungkin sejak tadi dia sudah menyambar memukul tanpa ampun.


"


Baiklah…. Baiklah, Bujang! Aku tahu, membaca buku


itu tidak seru. Sementara setiap pagi kau hanya


mendengarkan cerita hebat dari Basyir dan pemuda


lain di meja panjang saat sarapan. Membuat kau hanya


jadi bahan olok-olok. Baiklah, BUJANG! Aku tahu,


memukuli orang lain itu lebih seru, lebih menantang.


Malam ini, kau ikut denganku, akan kuberikan apa


yang kau mau. Kau dengar, hah?”


Percakapan itu berakhir cepat. Aku pikir aku telah


mendapatkan yang aku inginkan, Tauke mengalah,


hingga malam tiba, ternyata sebaliknya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung novel ini


ya. Like dan komen 🙏


__ADS_2