
Disana aku mempunyai sorang teman adalah Basyir, orang pertama yang kutemui setiba di
kota—bukan ibukota ini, masih di kota provinsi.
Dua puluh tahun lalu, gerimis turun saat empat mobil Basyir pulang pukul delapan malam, dengan lengan
dibebat.
“Kami akhirnya berhasil menguasai Pasar Induk….
Kopong sedang menyelesaikan sisanya, menyumpal
mulut petugas dan wartawan agar kejadian tidak
tersebar kemana-mana. Kopong ahli sekali soal itu, dan
orang-orang hanya melihatnya seperti kebakaran dan
rusuh biasa” Basyir bercerita antusias, dia tidak peduli
meski pakaian dan rambutnya kotor serta acak-acakan.
“Apa yang kau lakukan hari ini, Bujang? Apa tugasmu
dari Tauke?”
Aku menggeleng, tidak tertarik membahasnya.
“Ini apa?” Basyir menunjuk heran buku-buku tebal di
atas tempat tidurku.
Aku tidak menjawab.
“Sejak kapan ada orang di rumah ini yang membaca buku?”
Aku menelan ludah.
Basyir tertawa, akhirnya dia bisa menebak apa yang
terjadi, “Kami seharian melakukan hal seru di luar
sana, Bujang. Memukuli preman pasar yang banyak
tingkah, kau justeru disuruh membaca.”
Sial, aku melotot kepada Basyir yang
mentertawakan ku.
“Aku mandi, Bujang. Belajar yang rajin kau.” Basyir
melambaikan tangannya, kembali ke kamarnya.
Aku menghembuskan nafas kesal.
Waktu itu aku belum paham apa yang sebenarnya
sedang disiapkan oleh Tauke, baru beberapa tahun
kemudian, aku menyadarinya. Tauke punya rencana
besar. Usia Tauke lima puluh tahun, dia sedang
menatap masa depan Keluarga Tong yang gemilang,
__ADS_1
dia telah menyiapkan rencana agar keluarga kami tidak
hanya menjadi penguasa di provinsi.
Rencana yang justru tidak aku sukai saat itu.
Seminggu hanya dijejali buku-buku yang diberikan
Frans, aku memutuskan menemuinya di ruang kerja
bangunan utama. Bilang aku akan berhenti membaca
buku-buku itu.
“Kau harus sekolah, Bujang.” Tauke menatapku
marah, wajahnya tidak suka.
Aku menggeleng.
“Kau harus sekolah, BUJANG!!” Tauke membentak ku.
Niatku sudah kokoh. Aku tidak datang sejauh ini ke
kota besar hanya untuk sekolah. Aku tidak membunuh
**** raksasa itu hanya untuk kemudian disuruh
belajar.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tauke
mengendurkan teriakannya, berusaha sedikit
terkendali, merapikan kertas-kertas yang sedang dia
“Aku ingin menjadi seperti Bapakku dulu.”
"Menjadi Bapak kau? Lantas apa yang berhasil
Syahdan dapatkan dari menjadi seorang tukang pukul?
Kakinya lumpuh satu. Kau ingin menjadi lumpuh
seperti dia, hah?”
Aku diam.
“Masa depan Keluarga Tong bukan di tangan orangorang yang pandai berkelahi. Masa depan Keluarga ini
ada di tangan orang
yang pintar. Kita tidak akan terusmenerus hanya menjadi keroco dalam dunia hitam.
Hanya memalak, memeras, menyelundupkan barangbarang. Itu bisnis kotor. "
"Kita akan menjadi lebih besar
dari itu semua, dan untuk menjalankannya, aku butuh
orang pintar. Itulah yang disebut visi, melihat masa
depan. Kau harus sekolah setinggi mungkin. Biarkan
saja Basyir, yang memang tidak punya otak untuk
__ADS_1
mengunyah bangku sekolah, yang menjadi tukang
pukul. Kau tidak.”
Aku tetap menggeleng.
"Astaga, Bujang! Omong kosong menjadi seperti bapak
kau. Lihatlah. Aku bertahun-tahun ingin menjadi
seperti Ayahku dulu, Tauke Besar sebelumnya. Lantas
apa yang aku dapat setelah menjadi dirinya? Di kota ini
saja keluarga lain tidak menghormati ku, kita hanya
dianggap keluarga rendah."
" Jangan tanya di pulau
seberang, Ibukota, mereka hanya memicingkan mata
tidak peduli. Kita dianggap sama dengan preman Pasar
Induk yang kita taklukkan. Tidak berkelas. Murahan.”
Aku tetap diam.
“Kau harus sekolah, Bujang. Frans yang akan
mengajarimu secara privat di rumah ini hingga kau bisa
mengejar ketinggalan kelas. Kau tidak akan menyianyiakan bakat pintar mu. Kau seharusnya sudah kelas
satu SMA, Bujang. Usiamu sudah lima belas tahun—”
“Aku tidak mau.” Aku memotong.
Tauke Besar mendengus, andai saja aku orang lain,
mungkin sejak tadi dia sudah menyambar memukul tanpa ampun.
"
Baiklah…. Baiklah, Bujang! Aku tahu, membaca buku
itu tidak seru. Sementara setiap pagi kau hanya
mendengarkan cerita hebat dari Basyir dan pemuda
lain di meja panjang saat sarapan. Membuat kau hanya
jadi bahan olok-olok. Baiklah, BUJANG! Aku tahu,
memukuli orang lain itu lebih seru, lebih menantang.
Malam ini, kau ikut denganku, akan kuberikan apa
yang kau mau. Kau dengar, hah?”
Percakapan itu berakhir cepat. Aku pikir aku telah
mendapatkan yang aku inginkan, Tauke mengalah,
hingga malam tiba, ternyata sebaliknya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung novel ini
ya. Like dan komen 🙏