Qalbie

Qalbie
Part 1


__ADS_3

Robbiii ... layakkah aku menjadi penyejuk dalam rumahnya? Sementara hati ini masih penuh dengan coretan-coretan hitam.


Robbiii ... jika aku membuka hati untuknya, akankah hati ini tetap merindu pada Engkau yang telah mencipta jiwa dan ragaku?


Aku takut akan lebih merindu padanya. Aku takut, ya, Robb....


Begitulah untaian doa yang dilafadzkan Qalbie—empat tahun silam ketika Tuhan menetapakan garis pertemuan yang begitu singkat antara dirinya dengan Dzul. Ucapan pemuda itu tentang pernikahan, berhasil menyentuh keluguannya. Namun tak berlangsung lama. Sebab setelah tumbuh, gadis itu malah yakin kalau ucapan itu tak lebih dari sekedar gurauan.


Gadis lembut berkulit kuning langsat dengan mata bulat. Murah senyum dan berpembawaan tenang. Badan mungil serta wajah baby face-nya membuat banyak orang mengira bahwa ia masih SMA.

__ADS_1


Qalbie hidup di lingkungan yang agamis di kampungnya. Kakeknya seorang imam masjid dan keluarganya sangat disegani. Walau begitu, Qalbie sadar betul bahwa dirinya hanya gadis biasa yang hijabnya baru seumur jagung. Itu sebabnya, realita pergaulan pemuda-pemudi muslim yang ia saksikan di kota metropolitan, terkadang membuat gadis itu teramat takut. Ada banyak remaja muslim yang awalnya adalah remaja taat, namun akhirnya tergelincir dalam pergaulan negatif ala kota.


Sebagai seorang remaja yang baru menuju fase kedewasaan, tentu jatuh cinta adalah hal wajar.  Namun gadis itu takut  jika dirinya lebih mendengarkan bisikan-bisikan syaitan dari pada ayat-ayat Allah. Karena itu, ia tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Baginya, dunia akan indah jika semua orang saling menjaga layaknya saudara.


Awalnya Qalbie merasa heran. Apa yang ia temukan di kota sungguh berbeda. Anak gadis di kampungnya sangat menjaga sikap, bahkan cara mereka tertawa pun diatur—tak boleh terbahak. Apalagi yang berkaitan dengan pergaulan terhadap lawan jenis.


Bagi ukuran gadis-gadis di kampung Qalbie, tangan disentuh lelaki asing saja sudah dianggap aib. Sangat dilarang. Apalagi jika melakukan sesuatu yang lebih besar dari itu.


Ketika memasuki hari pertama orientasi kampus, hati Qalbie masih bertanya, Robbiii ... apakah tempatku memang di sini?

__ADS_1


Hal itu terjadi lantaran pilihannya untuk masuk kampus keperawatan merupakan hasil keputusan emosional. Qalbie masih ingat kala itu. Di kamar, ia melepas kerudung, kemudian melemparnya penuh amarah. Hatinya berteriak bahwa Allah tidak adil. Bagaimana mungkin ia gagal masuk Universitas Negeri sementara nilainya lebih bagus dari yang lain?


Setelah puas menangis, barulah Qalbie beristighfar. Berusaha meyakinkan diri bahwa Allah punya rencana yang lebih baik.


Bulan pertama hingga bulan ketiga, semuanya berjalan baik. Meski kadang ia merasa miris melihat pergaulan sebagian besar teman-temannya. Bagaimana tidak, banyak di antara mereka yang tidak merasa malu memamerkan kemesraan di depan orang lain. Seolah dunia adalah milik mereka.


Pernah suatu ketika Qalbie berusaha menasehati seorang teman yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Saat itu temannya membawa pacar ke kamar kost. Sebenarnya gadis itu percaya bahwa mereka tidak akan melakukan hal negatif. Namun semakin lama jarak mereka semakin dekat sehingga Qalbie merasa tak punya pilihan lain. Ia merasa berdosa jika harus duduk-diam-membiarkannya saja.


“Hmmm ... kalian belum muhrim, loh.”

__ADS_1


Qalbie berusaha mengingatkan, namun ia malah diejek sebagai gadis desa yang sok berlagak jadi ustadzah. Sebagai gadis yang berhati lembut, tentu saja ia terluka, tapi ia tetap tersenyum dan berkata, “Saudaraku ... aku berusaha mengingatkan bukan karena merasa lebih baik. Tapi aku berharap, suatu saat nanti jika aku khilaf, kalian bisa berada di sisiku untuk mengingatkan aku.”


Gadis itu sadar bahwa imannya cenderung berubah-ubah, kadang pasang-kadang surut. Ia berharap, jika kelak imannya sedang surut, seseorang akan mengingatkan agar ia tak melakukan hal yang dilarang. Mungkin saja suatu saat dirinya akan ada di posisi yang sama. Apalagi ia hidup sendiri di tengah hutan belantara kota. Tempat di mana beribu godaan mengintai. Bisa saja, tanpa sadar debu kota telah menggerus imannya.[]


__ADS_2