
Menodai kehormatanku
berarti menodai kehormatan keluargaku.
***
Qalbie mondar-mandir di dalam kamar. Batinnya berdebat. Di satu sisi dia sangat ingin menemui Rian, namun di sisi lain dia tidak ingin menodai pengabdiannya pada sang Pencipta.
Nalurinya terus berkata: pergilah! Ini kesempatan yang tak boleh kamu lewatkan.
Kamu akan menyesal jika tak datang menemuinya. Ini kesempatan yang sudah lama kamu nantikan!
Bayangkan bagaimana bahagianya hidup kamu jika bisa bersanding dengannya. Kamu sangat mencintainya bukan?
Datanglah padanya!
Jika tidak, kamu akan menyesal seumur hidup, karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan olehnya. Sekali dia berpaling darimu, maka dia tidak akan pernah melihatmu lagi. Ingat itu!
Tidak! Bantah suara yang lain. Jika dia ditakdirkan untukmu, maka dia akan datang dengan cara yang baik.
Sekali kamu memilih jalan itu, akan sulit bagimu untuk menemukan jalan kembali.
Jangan pergi!
Tinggallah di sini dan jadilah gadis yang baik untuk calon suami dan anak-anakmu kelak.
Ingat ayah-ibu yang setiap hari bekerja keras untukmu, bukankah mereka mencintaimu lebih dari dirinya sendiri?
Untuk apa mencari cinta yang lain, jika kamu harus melepas cinta dari orang yang selama ini selalu ada untukmu?
Tak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa dia benar-benar mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu hingga akhir!
Qalbie kembali mengempaskan tubuhnya di atas kasur. Haruskah aku melakukan itu, ya Robb? Aku mencintainya. Dan ini adalah kesempatan terbaik untuk menjadi perempuan satu-satunya dalam hidup Kak Rian.
Engkau Maha Tahu, Robb. Sungguh! Aku benar tak ingin menodai pengabdian ini, tapi aku sangaaatt mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?
Setelah berpikir beberapa saat lamanya. Akhirnya Qalbie memutuskan untuk menemui Rian.
Dia yakin bahwa itulah keputusan yang terbaik.
Gadis itu berdiri menghadap kiblat. Hampir empat kali dia mengulang wudhu, namun shalat Maghrib selalu gagal ia tunaikan.
Pikiran nya didera rasa bersalah
Hatinya terus berteriak mohon ampun atas apa yang telah dia putuskan, namun kebulatan tekad membuat dia tetap bersikeras untuk bertahan. Dia sangat mencintai Rian, dan dia harus memperjuangkan cintanya.
Gadis itu melihat teman-temannya rela mengorbankan apa saja untuk lelaki yang mereka cintai. Jadi, kenapa tidak? Toh, dia juga sangat mencintai Rian.
Qalbie mengumpulkan serpihan semangatnya untuk mendirikan tiga rakaat. Walau gadis tak mampu berkonsentrasi sebagaimana biasa, dia tetap melakukannya.
Tak ada manusia yang sempurna. Dan tak ada pula manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Pikir gadis itu.
Setelah melaksanakan shalat, Qalbie langsung melepas mukenah. Dia tak lagi membuka Al-Qur’an sebagaimana biasa. Hatinya teramat resah, namun tetap bersikeras untuk menemui Rian.
Ampuni hamba-Mu ini, yaa Allah! Qalbie bersandar di sisi tembok, memeluk lutut dengan kepala tertunduk. Gadis itu tahu apa yang akan dilakukannya adalah hal salah, tapi dia sudah tak berdaya menghadapi perasaannya.
Air mata gadis itu menetes
Di satu sisi, hal itu sangat bertentangan dengan dirinya. Namun di sisi lain, hatinya terus memanggil-manggil nama Rian. Dia merasa tak sanggup jika harus menunggu lagi.
Qalbie menenggelamkan wajah di antara tangan yang melingkar pada lutut. Merenung, menangis, bahkan terisak.
Perasaannya bercampur aduk. Antara rasa bersalah, takut, dan rasa ingin.
Nalurinya terus mendorong bahwa Rian merupakan cinta pertamanya. Dan dia merasa harus memperjuangkannya.
Setelah shalat Isya, Qalbie menunggu hingga jam 19.50 Wita.
Dia mengenakan kerudung sepanjang dada, baju lengan panjang dilapisi sweater, rok panjang menutupi tumit, ditambah lapisan legging.
Gadis itu melangkah lunglai. Matanya menatap lurus, melintasi lorong gelap. Hatinya makin tak menentu saat kakinya tergelincir ke dalam genangan air.
Resah, gelisah.
Jantung Qalbie berdegup kencang saat melihat lelaki kurus dengan pakaian lebih sedikit rapi sedang menunggu di seberang jalan. Tepat di depan kampusnya.
Gadis itu ingin berbalik dan kembali ke dalam lorong, namun kakinya tetap melangkah ke seberang jalan. Otaknya sudah tak mampu berpikir apa yang harus dilakukan, hanya tertuju pada lelaki kurus yang warna kulitnya hampir menyatu dengan gelap malam.
Sesampainya di sana, gadis itu hanya bisa membisu dengan tatapan kosong. Melihat itu, Rian jadi bingung. Tak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan. Rasanya tak akan lucu kalau mereka hanya diam-diaman hingga larut.
Rian ingin mengajak Qalbie pergi dari tempat itu, tapi tak tahu bagaimana harus memulainya. Kekakuan gadis itu membuat suaranya tercekat di tenggorokan.
“K-ki ... Ehhemm!” Rian berdehem karena volume suaranya teramat kecil, “Kita harus ke mana?” tanyanya lantang.
Lelaki itu merasa kikuk. Dia yang sebenarnya banyak bicara, tiba-tiba serius dan terkesan to the point.
__ADS_1
"Ya, kak?"
"Kita harus kemana?"
Qalbie mengedarkan pandangan ke arah sekeliling. Jemarinya terus bertaut, berupaya menghilangkan kegundahan yang bukannya hilang, malah berkembang semakin besar.
“Terserah Kakak saja.” jawabnya kemudian.
"Kalau begitu, ayo naik"
Qalbie menatap ragu ke arah motor Rian. “Naik ke mana, Kak?”
"Aku bonceng kamu"
Qalbie terdiam. Tak menolak, tapi tak beranjak juga.
Rian menangkap keraguan Qalbie melalui bahasa tubuh dan tatapan gadis itu.
Beberapa detik kemudian, dia memutuskan untuk mengalah. “Kalau begitu, kita naik taksi saja.” ujarnya seraya memarkir motor di halaman kampus.
Mereka duduk berdampingan di dalam taksi.
Rian dan Qalbie menatap penuh makna ke depan sana. Mereka tenggelam dalam dunia masing-masing. Qalbie dengan kegalauan hatinya, dan Rian dengan letupan-letupan aneh yang melesat cepat ke dalam rongga dadanya.
“Mau ke mana, Dik?” tanya supir taksi itu.
Rian dan Qalbie menjadi salah tingkah.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanya Qalbie setelah menangkap ekspresi tak sabar dari wajah sang supir.
“Ya? Kenapa? Kamu mau ke mana?” Rian malah bertanya balik.
Sang supir mulai kesal. “Kalian sebenarnya mau ke mana, sih!?”
“Ke tempat yang sepi. Eh, bukan! Maksud sayaa….”
“Jalan saja dulu, Pak.”Qalbie terdengar menyambung kalimat Rian yang tak sempat selesai karena gugup.
Sang supir menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Adam-Hawa abad modern yang sedang menumpang taksinya. Dia memacu mobilnya kencang, membelah aspal yang cukup licin karena hujan tadi sore.
Qalbie mengintip lampu-lampu temaram dari balik kaca jendela, begitu pula Rian. Letupan aneh terus menelusup ke dalam relung hati mereka.
Akhirnya, taksi berhenti di depan bioskop. Rian langsung masuk setelah membayar ongkos sementara Qalbie mengekor di belakangnya.
“Tunggu, Kak!” pinta Qalbie setelah jaraknya cukup dekat.
Rian berhenti dengan jantung berdebar. Apa aku bisa mendaratkan satu kecupan di pipinya? Dekat dengannya saja, rasanya jantungku mau copot.
Mereka duduk bersebelahan. Menonton film horor.
Rian memilih tempat duduk di pojok paling belakang. Lelaki itu duduk gelisah seraya memegang dada kiri, seolah takut, Qalbie mendengar detak jantungnya.
Rian menarik nafas panjang
“Kak Rian, kenapa?” tanya Qalbie. Gadis itu sadar bahwa tingkah Rian tak seperti ketika dia melihatnya di kampus.
“Aku? Emmm … tidak! Hahah … aku baik! Aku tidak apa-apa! Itu, filmnya menyeramkan!” Rian memalingkan wajah, lalu menutup mata.
Bodoh! Ini kan, elo yang minta! Tapi kok, malah deg-degan setengah mati?
Rian merasa konyol
“Kak Rian baik-baik saja?” tanya Qalbie, “Kakak tidak punya riwayat penyakit jantung, kan?”
Qalbie menatap tangan Rian, khawatir melihat lelaki itu memegang dadanya sejak tadi.
Sadar akan pandangan Qalbie, Rian langsung melepaskan tangannya lalu tertawa pelan. Memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.
Melihat Rian bertingkah seperti itu, Qalbie malah curiga.
Jangan-jangan Kak Rian mulai memikirkan hal-hal aneh. Apa mungkin ... Kak Rian ingin mencium pipiku sekarang? Di tempat ini?
Qalbie menoleh pelan
Gadis itu menahan napas melihat Rian duduk gelisah menatap layar.
“Di sini terlalu ramai!” Qalbie berteriak tanpa sadar. Dia berdiri tegak menatap Rian yang terlonjak kaget. Beberapa orang ikut terkejut dan berbalik menatap mereka.
“Huuu… lagi serius, nih! Adegan lagi seram-seramnya! Malah teriak nggak jelas!” protes perempuan yang duduk di samping Qalbie.
“Maaf, Kak!” ucap Qalbie, lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Rian mengikutinya dari belakang. “Kamu kenapa?” tanya lelaki itu ketika mereka sampai di trotoar.
“Kak Rian ingin menciumku, kan?” tanya Qalbie, “A-a-ayo lakukan!” Gadis itu menatap tajam.
__ADS_1
“Kamu marah?” Rian tertawa kecil. “Kamu mau aku mencium kamu di sini? Tidak apa-apa kalau ada yang melihat kita? Kalau aku, sih, malu.” jawab lelaki itu, menggoda.
Qalbie menghentikan langkahnya
Rian tersentak melihat gadis itu tiba-tiba berhenti. Kedua tangannya menutup pipi. Waspada.
Jangan-jangan cewek ini mau menamparku!
“Kalau begitu ayo kita cari tempat sepi dan selesaikan semuanya!” ujar Qalbie kesal.
Rian membatin: cewek ini kayak ngajak berkelahi saja!
Mereka mendatangi beberapa tempat, namun Qalbie tak merasa cocok.
Setelah lelah berkeliling, Rian mulai bertanya-tanya, apa gadis itu sedang mengerjai dirinya? Kenapa dia selalu berkata bahwa dia takut ada yang melihat, padahal mereka sudah berada di tempat yang gelap dan sunyi?
Akhirnya, mereka turun di depan kampus setelah tak tahu harus ke mana. Rian merasa, gadis itu benar-benar berhasil membuat dirinya menjadi orang yang sangat patuh malam ini.
Lelaki itu mengambil motornya di halaman kampus, lalu kembali menemui Qalbie.
Dia menepi tepat di depan gadis itu
Tak lama berselang setelah Rian menepikan motor, ponsel Qalbie berdering.
Gadis itu gelagapan merogoh saku sweaternya. Ternyata ada pesan dari Miftah.
Katanya; kemenangan itu akan datang setelah kesabaran, kebahagiaan itu akan datang setelah kegalauan, dan sungguh! Akan ada kemudahan yang menyertai kesulitan.
Tidak lama kemudian, ponsel Qalbie berdering lagi. Namun kali ini dari ibunya.
Assalamu ‘alaikum, Nak. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba ibu kepikiran. Kamu belum tidur, Nak?
Hati Qalbie tersayat-sayat saat membaca pesan itu. Untaian nasehat dari ayah-ibu beserta keluarga besarnya sebelum berangkat ke kota, terngiang kembali.
Ingat! Kamu membawa kehormatan keluarga ini di pundakmu. Kami percaya padamu. Jadi, jangan kecewakan kami, Nak! Kata kakeknya waktu itu.
“Astaghfirullah… astaghfirullah….” Qalbie mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, “Mereka percaya padaku, Kak. Mereka semua percaya padaku!” gumamnya. Tak jelas terdengar. Rian mengerutkan kening. Hanya air mata gadis itu yang membuat ia sedikit paham.
Qalbie menyeka air matanya, menarik napas panjang lalu berujar dengan lantang, “Kakak tahu apa yang aku pikirkan sebelum menemui Kakak? Aku mengatakan; tak ada manusia yang sempurna. Dan tak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan!” Gadis itu menarik napas. “Ya, memang benar. Tapi sekarang aku sadar bahwa kalimat itu hanya sekedar pembenaran agar batinku tak dihujani rasa bersalah.
“Memang, tak ada manusia yang sempurna. Tapi bukan berarti, ketidaksempurnaan bisa dijadikan alasan untuk berbuat dosa!
“Menodai kehormatanku berarti menodai kehormatan keluargaku!
“Mungkin bagi Kakak, satu kecupan tidak berarti apa-apa, tapi bagiku itu luar biasa. Aku adalah gadis muslim. Dan seorang muslimah tidak pantas menodai kesuciannya dengan mengatas namakan cinta!” Mata Qalbie berkaca-kaca, “Kalau memang Kakak diciptakan khusus untukku ... mungkin suatu hari, Kakak akan datang dengan cara yang lebih baik dari ini.”
Mereka terdiam sesaat.
"Jadi...kamu menolak?" tanya Kak Rian kemudian
“Iya, Kak!” jawab gadis itu dengan tegas. Kepalanya tertunduk.
“Gadis kampung! Heh, terserah! Kamu pikir, di dunia ini, cuma ada kamu? Asal kamu tahu! Di luar sana banyak cewek yang lebih baik dari kamu!” Rian menyalakan mesin motornya. “Sok suci!”
“Tidak. Aku menolak bukan karena sok suci,” jawab Qalbie tenang, “aku menolak demi kebaikan kita. Kebaikan Kakak!”
Mereka terdiam
"Kak.."
Rian yang sedang bersiap untuk pergi, nampak diam menunggu kalimat selanjutnya.
“Ketika Kakak mencapai titik jenuh, aku ada di sini. Dan jika Kakak ingin kembali, aku masih ada di sini.”
“Kenapa kamu selalu bilang kalau kamu takut ada yang melihat, walau kita sudah berada di tempat yang sunyi dan gelap?”
“Tidakkah Kakak sadar bahwa Allah selalu melihat kita?”
Skak!
Lelaki kurus itu terdiam. Hanyut dalam pikirannya sendiri. Melihat itu, Qalbie tersenyum, lalu pergi.
***
Setelah sampai di kost, Qalbie berbaring setengah duduk seraya memeriksa pipinya sekali-kali.
Dingin
Gadis itu masih tak percaya, dirinya akan senekat itu. Untunglah, Allah menyadarkannya. Untunglah ... Allah melindunginya.
Qalbie merasa lega. Sadar. Bahwa cinta adalah fitrah suci yang tak seharusnya dinodai demi memuaskan nafsu.
Qalbie menyungging senyum.
Hampiiiirr saaja. Terima kasih, yaa ... Allah![]
__ADS_1