Qalbie

Qalbie
Part 4


__ADS_3

Cinta tak membutakanmu,


tapi kamu yang membuat cinta itu menjadi buta.


***


Qalbie menutup buku hariannya.


Sudah beberapa hari ini Miftah melihat sahabatnya nampak tak bersemangat. Dia sering mendapati gadis itu sedang melamun. Kadang pula nampak mencari-cari sesuatu, dan ketika dia menemukan Rian, gadis itu akan terus menatapnya tanpa berkedip.


Sering juga Rian membalas tatapannya sesaat. Namun tak pernah berbicara.


Jika gadis itu tak menemukan Rian, biasanya dia akan duduk di taman dekat jalan masuk, menunggu lelaki kurus itu.


Qalbie mulai meyakini bahwa perasaan itu bukan nafsu, tapi cinta.


Jika diamati sekilas, sepertinya perasaan itu telah melemahkan hatinya. Dia mulai kalah dan mengikuti alur-alur perasaannya.


Ya. Hatinya selalu bersenandung menyanyikan lagu-lagu rindu. Bahkan hidupnya terasa hampa jika tak melihat Rian dalam sehari. Dan bahkan dia hanya merasa hidup setiap kali melihat lelaki itu.


Qalbie telah kehilangan kendali atas perasaannya. Sebaliknya, perasaan itu telah mengendalikan dirinya.


Seperti biasa, dia menunggu Rian di taman setelah shalat Dzuhur sambil searching materi kuliah sebagai referensi tambahan. Sudah bulan Desember, artinya tinggal beberapa pekan ujian akhir semester akan dilaksanakan.


Diam-diam Qalbie melihat profil facebook Rian dan mengambil nomor ponselnya. Tentu saja hal ini dia lakukan tanpa sepengetahuan Miftah. Karena gadis itu yakin kalau sahabatnya tak akan berhenti mengoceh kalau sampai dia tahu.


Qalbie sudah lelah memendam perasaannya. Tapi sebagai gadis muslim yang masih memegang adat ketimuran, mengungkapkan cinta adalah hal sangat yang tabu sehingga dia tak punya pilihan selain menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri.


Malam harinya, gadis itu tak dapat berpikir jernih. Dia nekat mengirim pesan singkat pada Rian.


Gadis itu telah kalah, dia memutuskan untuk mengirim pesan tanpa memikirkan apapun lagi.


I Love You


#Dilarang Protes


Qalbie merasa lega dan bahagia. Hatinya tak menentu membayangkan reaksi Rian. Dia terus bertanya-tanya, akankah lelaki itu membalasnya atau malah mengacuhkannya?


Waktu menunjukkan pukul 01.20 Wita. Dia sudah menunggu lebih dari empat jam namun Rian sama sekali tak menjawab pesannya.


Qalbie kecewa. Ingin menangis namun dia berusaha keras menahannya.


Pagi harinya gadis itu terlambat bangun karena baru tertidur setelah melaksanakan shalat Subuh.


Dia yang biasanya rajin membersihkan diri nampak bermalas-malasan di atas kasur.


“Hari ini hari ahad. Apa yang harus kita lakukan, Miftah?”


“Hari ini ada seminar di hotel, kamu beli tiketnya, kan?”


“Oh, iya, ya. Aku lupa.”


“Makanya Qalbie, jangan hanya memikirkan Kak Rian seolah dalam duniamu hanya ada dia. Segeralah mandi! Ini sudah jam sembilan, jam sepuluh seminarnya akan dimulai.”


“Aku tidak ikut.”


“Kenapa?”


“Malas.” jawab Qalbie santai.


Mata Miftah melotot dengan ekspresi kesal. Melihat itu Qalbie tersenyum lalu berkata, “Iya deh, iyaa, aku ikut. Bercanda. Oke?”


***


Qalbie mengempaskan tubuhnya di atas kasur saat pulang seminar. Tas yang dibawanya, dilempar begitu saja. Miftah tidak dapat melakukan apa-apa melihat sahabatnya seperti itu.


Sejak Qalbie jatuh hati pada Rian, secara perlahan sikapnya mulai berubah.

__ADS_1


Jika pada awalnya mata gadis selalu berbinar, maka kini, matanya selalu berkabut.


Rupanya Qalbie telah tenggelam dalam rindu yang tak terbalas. Kerinduan yang amat dalam.


Gadis itu menutupi wajahnya dengan bantal. Berusaha memejamkan mata.


Namun ponselnya berdering tanda pesan masuk. Dia berusaha menggapainya dengan malas.


Qalbie mendadak duduk saat membaca pesan itu. Detak jantungnya meningkat.


Siapa, ya? Tanya Rian melalui pesan singkat.


Aku adalah perempuan yang hatinya telah lumpuh olehmu. Jawab Qalbie berlebihan, tapi itulah kata-kata yang pertama kali terlintas di benaknya dan dia langsung mengetik tanpa berpikir lagi.


Maksud aku, nama kamu siapa? Sepertinya Rian semakin penasaran.


Qalbie mengetik lagi: akankah ada yang berbeda jika kamu tahu siapa aku?


Mungkin saja.  Balas Rian cuek.


Qalbie mengetik pesannya dengan penuh perasaan. Akankah kamu membalas perasaan ini jika kamu tahu siapa aku?


Mungkin. Jawaban Rian membuat Qalbie agak dongkol.


Jika tidak, bagaimana?


Maka dari itu beritahu aku siapa nama kamu, bagaimana caranya aku dapat mencintai kamu sementara nama saja aku tidak tahu? Nada pesan Rian mulai kesal.


Aku tidak bisa. Aku takut akan lebih berharap padamu. Jawab Qalbie.


Ya, sudah. Terserah kamu!


Dari kalimat itu, sepertinya Rian kesal. Ada rasa menyesal di hati Qalbie. Namun nyalinya belum cukup besar untuk memberitahukan namanya.


Gadis itu sengaja memakai kata ‘aku-kamu’ agar Rian tak berpikir bahwa pesan itu berasal dari seseorang yang lebih muda darinya.


Menurut Qalbie, dengan cara itu, Rian akan berpikir bahwa pesan itu berasal dari seseorang yang sebaya dengannya.


Qalbie tidak dapat memejamkan mata hingga larut malam, terus tersenyum mengekspresikan kebahagiaan yang tak terbendung.


Wajah Rian semakin jelas terbayang.


Sekali lagi, Qalbie tak dapat menahan diri.


Aku merindukanmu.


#Dilarang Protes


Akhirnya, Qalbie memutuskan bahwa itu adalah kalimat yang harus dia kirim. Tak lama kemudian ponselnya berdering.


Dilarang melarang. Kata-kata itu membuat Qalbie tertawa.


Monster berhati dingin! Bentaknya dalam hati.


Maafkan aku. Balas Qalbie.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Qalbie membuka pesannya dengan sigap.


Alangkah kecewanya gadis itu.


“Hufth!” keluhnya.


Gadis itu mengempaskan diri di tempat tidur.


Rupanya pesan itu dari nomor tak dikenal. Menawarkan informasi bocoran togel. Ya. Akhir-akhir ini pesan seperti itu memang marak.


Tak lama kemudian ponsel Qalbie berdering lagi. Rupanya kali ini pesan itu memang berasal dari orang yang dia harapkan. Mereka saling berbalas pesan beberapa kali.

__ADS_1


Rian : Di dunia ini ada banyak laki-laki. Kenapa kamu memilihku?


Qalbie : Jika kamu bertanya kenapa, aku pun tidak tahu persis. Hingga detik ini, aku masih mencari jawaban. Dari sekian banyak lelaki, aku tidak pernah tahu kenapa lelaki yang membuatku jatuh cinta harus kamu. Tapi, apa itu penting?


Rian : Apa yang kamu suka dariku?


Qalbie :  Semuanya.


Rian : Apa yang kamu inginkan dariku?


Qalbie : Tidak ada.


Rian : Tidak ada, atau tidak tahu? Kalau memang tidak ada, kenapa kamu menggangguku? Asal kamu tahu, aku sudah punya pacar.


Qalbie : Aku tak peduli.


Rian : Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya jika dia membaca sms-mu?


Qalbie : Lalu kenapa? Kenapa aku harus memikirkan perasaannya? Dia sudah memiliki kamu, apa itu belum cukup? Apa aku harus berhenti mencintaimu agar dia lebih bahagia? Kenapa aku harus melakukan itu? Kenapa aku harus memedulikan perasaannya? Jika dia ada di posisiku, belum tentu dia mau meninggalkanmu, jadi kenapa aku harus peduli?


Rian : Kamu egois dan kekanak-kanakan!


Begitulah. Malam itu berakhir dengan pertengkaran kecil di antara mereka.


Kenyataan bahwa Rian telah memiliki kekasih membuat hati Qalbie panas. Dia merasa sedih dan tak terima. Bahkan di hatinya ada rasa benci kepada gadis yang telah memiliki hati Rian.


Untuk beberapa saat lamanya, dia berusaha melupakan Rian. Namun bukannya lupa, bayangan Rian malah semakin jelas.


Perlahan, Qalbie mulai membenci diri dan perasaan cintanya kepada Rian. Akibatnya, gadis itu menjadi lebih emosional.


***


Besok sudah memasuki waktu ujian akhir semester. Qalbie berusaha me-review mata kuliahnya. Namun kali ini lembaran-lembaran kertas yang dia baca lebih terasa seperti obat tidur.


Gadis itu baru membaca lima menit namun matanya sudah terasa sangat berat, ditambah lagi bayangan Rian semakin nyata dalam pandangannya.


Tak ada satu pun materi kuliah yang dapat tersimpan di kepalanya.


Qalbie naik pitam.


Dilemparnya kertas-kertas itu, pikirannya kacau balau. Dia berusaha melampiaskan amarahnya yang sudah tak bisa dia bendung dengan membenamkan kepalanya di bawah bantal lalu berteriak.


Miftah bergegas duduk di dekat Qalbie yang berbaring menutupi kepalanya dengan bantal guling. “Qalbie ... kuasai dirimu. Qalbie yang aku kenal adalah gadis ayu yang selalu mampu bersikap sabar. Dia tidak pernah marah sekalipun orang kasar padanya. Kamu tahu, Qalbie yang aku kenal memang hanya manusia biasa, dia juga punya banyak kekurangan seperti orang kebanyakan. Tapi Qalbie yang aku kenal juga memiliki satu kelebihan, dia adalah gadis yang tangguh. Bangun Qalbie, anggap saja kamu sedang bermimpi.”


Nasehat Miftah membuat Qalbie tak dapat menahan air matanya.


Dia bangun memeluk Miftah. “Sejujurnya aku malu. Aku malu pada kamu, aku malu pada diriku sendiri.”


Miftah mengelus rambut sahabatnya penuh kasih, “Bicaralah, Qalbie.”


“Cinta telah membutakan aku Miftah, aku buta hingga aku tak mampu melihat apapun selain perasaanku. Aku bagai perempuan tak tahu malu yang mengemis cinta padanya. Cinta tidak menguatkan aku, tapi malah melemahkanku. Aku benci perasaan ini. Kenapa aku harus mencintainya? Kenapa Tuhan harus mempertemukan aku dan Kak Rian? Kenapa, Miftah?”


“Istighfar Qalbie ... tak salah jika kamu mencintainya. Tak salah jika Tuhan mempertemukan kamu dan kak Rian. Bukankah kamu tahu bahwa Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagimu? Cinta tidak salah, Qalbie. Cinta tidak membutakan kamu, tapi kamu yang membuat cinta itu menjadi buta.


“Cinta hanya sebatas perasaan, Qalbie. Cintamu ibarat sebuah kereta yang sedang melaju ke dalam hati Kak Rian, kamu harus berusaha agar kereta itu tetap berada pada jalur yang tidak akan mencelakakan dirimu maupun kak Rian.


“Cinta tak melemahkan, tapi menguatkan. Karena cinta, harapan yang telah mati bisa hidup kembali.”


Miftah melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Qalbie. Mata gadis itu nampak basah. “Qalbie, kamu seperti ini, karena sampai detik ini kamu masih belum ikhlas menerima perasaan itu. Aku juga meminta maaf karena pernah memintamu untuk melawan rasa cintamu.


“Aku sadar bahwa cinta tak harus dilawan. Cukup menjalaninya dengan ikhlas, maka cinta akan menguatkanmu. Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan kamu dan kak Rian agar kamu dapat mengenal apa itu cinta, juga sebagai pelajaran agar kamu bisa menjadi muslimah yang lebih kuat.


“Ingat Qalbie, perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri. Lawan yang paling sulit untuk kamu kalahkan adalah dirimu sendiri. Dirimu yang penuh nafsu dan ego. Jangan kalah Qalbie, jangan tenggelam dalam nafsu dan egomu. Cinta tak mengajarkan manusia untuk memiliki, tapi cinta senantiasa mengajarkan manusia untuk berbagi.


“Sadarlah Qalbie, sadarlah bahwa Allah sedang mengujimu. Di saat kamu sudah memiliki seseorang yang kamu cintai, adakah kamu akan tetap merindu pada Robbi yang telah menciptakan kamu dan orang terkasihmu itu? Sudah cukup lama aku tak mendengar percik wudhumu di sepertiga malam terakhir. Ingat Qalbie, sebaik-baik tempat mengadu hanyalah kepada Allah.”


Miftah kembali memeluk sahabatnya.

__ADS_1


Memang sudah cukup lama, sudah cukup lama Qalbie tak membenamkan diri dalam sembah sujud tahajudnya. Dia lebih merindukan Rian daripada Dzat yang telah menciptakan Rian.


Nyanyian rindunya kepada lelaki itu tak membuatnya merasa rindu kepada Robbi sebagai tempat mengadu yang paling baik baginya.[]


__ADS_2