
Aku telah sampai pada titik jenuhku.
***
Ini hari minggu. Besok sudah waktunya kuliah, namun Miftah belum datang.
Untuk mengusir rasa bosan, Qalbie mencari buku catatan kecilnya di dalam kardus. “Di mana, ya?” gumam gadis itu, “Aku benar-benar pelupa.” keluhnya.
Setelah menghamburkan buku-buku yang telah tersusun rapi. Akhirnya dia menemukan buku itu. Dia membacanya perlahan. Sekali-kali nampak tersenyum.
“Baiklah! Saatnya membuat rencana baru. Mimpiku adalah menjadi hamba yang taat dan bisa memberikan sesuatu kepada orang lain!”
Dengan semangat tinggi, Qalbie membuat salinan di kertas lain, kemudian menempelnya di balik pintu lemari.
Qalbie berusaha meyakinkan diri agar tetap fokus kuliah dan tak terlalu memikirkan Rian lagi. Toh, tak akan ada yang berubah walau dia uring-uringan siang-malam. Semuanya tetap sama. Gadis itu yakin, bahwa satu-satunya cara agar dia berhasil adalah dengan berusaha menyibukkan diri.
Qalbie tahu, akan sulit memulainya. Apalagi perhatiannya memang selalu mudah beralih. Tapi gadis itu yakin, bahwa lama-kelamaan dia akan terbiasa. Yang paling penting, apapun yang terjadi, jangan pernah putus asa.
Qalbie sedang membaca buku ketika Miftah tiba di kost. Mereka berpelukan erat sekali. Saling melepas rasa rindu.
"Apa kabar, Qalbie?"
“Alhamdulillah ... baik. Berkat doa kamu.”
Gadis itu tersenyum lebar, membuat Miftah terheran-heran.
“Kamu sendiri bagaimana? Senang, ya, habis ketemu keluarga? Terus ... kenapa kamu tidak bilang, kalau hari ini kamu mau datang? Kamu pasti repot bawa barang-barang sendirian. Aku kan, bisa menjemput kamu di terminal.”
“Aku sengaja tak bilang. Takutnya kejadian yang lalu terulang lagi, kamu menunggu berjam-jam karena aku.”
“Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya. Kita kan, saudara.”
Qalbie mengangkat koper sahabatnya masuk ke kamar. Gadis bermata bulat itu duduk di samping Miftah sambil menikmati makanan khas yang terbuat dari susu. Mirip keju.
“Bagaimana kabar perasaan cinta dan rindu kamu untuk Kak Rian?”
“Sangat baik. Lebih baik dari kemarin.” Qalbie tersenyum manis, lalu menggigit kue tradisional sedikit demi sedikit.
"Serius?"
“Tentu ... aku masih cinta dan akan terus mencintainya. Tapiii ... dengan cara yang sedikit berbeda.”
"Cara berbeda itu seperti apa?"
"Ada, deh!"
Qalbie tersenyum manis. Dalam hati, dia mengingat pertemuan terakhirnya dengan Rian.
Gadis itu merasa sangat bahagia. Jauh lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya.
***
Waktu terus berjalan. Dua bulan, tiga bulan, hingga empat bulan.
Qalbie selalu tersenyum ramah setiap kali berpapasan. Ya. Walau Lelaki kurus itu selalu memalingkan wajah. Entah marah atau apa, yang jelas, Rian mulai seperti itu sejak pertemuan terakhir.
Sikap Rian tak membuat Qalbie larut dalam kesedihan. Justeru dia semakin bersemangat. Gadis itu menganggapnya sebagai hal wajar. Dia yakin, suatu saat nanti, Rian akan berhenti bersikap seperti itu.
Lima bulan berlalu. Rian nampak semakin sibuk menjalani praktek klinik keperawatan. Sementara itu, Qalbie juga menyibukkan diri, mempelajari teori keperawatan.
Mereka tak pernah saling menyapa. Hanya sunggingan senyum yang selalu nampak di wajah Qalbie, walau Rian selalu mengacuhkannya.
Waktu terus berjalan. Kadang lelaki itu tiba-tiba datang, duduk di samping Qalbie, lalu pergi lagi. Terus seperti itu. Tanpa percakapan.
Sikap Rian membuat senyum Qalbie mengembang sempurna. Gadis itu sangat yakin bahwa kebekuan mereka akan segera mencair. Di sisi lain, dia semakin giat belajar. Tak ingin membebani pikirannya, apalagi terjebak seperti dulu.
Sebagai sahabat, Miftah sangat bahagia melihat Qalbie semakin bergairah menjalani aktivitas kampus.
***
Tak terasa, acara wisuda Rian hanya dalam hitungan bulan. Acara penyumpahan dan ramah tamah sendiri kabarnya akan dilaksanakan dua hari sebelum wisuda.
Tentu saja Qalbie merasa sedih karena harus melepas Rian menuju tahap kehidupan selanjutnya, tapi di sisi lain, dia juga bahagia, sebab orang terkasihnya itu akan segera wisuda.
Keinginan Qalbie untuk hadir di acara penyumpahan dan ramah tamah sangatlah besar. Gadis itu ingin sekali menyaksikan prosesi penyumpahan Rian. Namun apa daya, hanya beberapa mahasiswa yang boleh datang. Dan mereka adalah pengisi acara.
Empat bulan menjelang acara penyumpahan, teman kelas Qalbie yang merupakan mantan atlet pencak silat, tiba-tiba sakit. Namanya Firman. Dia didiagnosa menderita demam thypoid dan harus istirahat.
Dengan berat hati satu pertunjukan dibatalkan.
Sangat disayangkan, padahal dosen sangat berharap dua belas jurus wiraloka bisa ditampilkan, karena selama ini, dalam acara penyumpahan, belum pernah ada pertunjukan semacam itu.
Pihak kampus sangat mendukung, bahkan mereka membeli seragam untuk mahasiswa yang mengikuti ekstra kurikular pencak silat dan menyewa pelatih profesional.
“Padahal saya sangat berharap bisa menampilkan dua belas jurus wiraloka. Apa boleh buat. Sekarang saya sakit.” Firman tertunduk lesu.
“Sabar, ya? Semoga cepat sembuh. Kami selalu mendoakan kesembuhanmu.” Qalbie tersenyum. “Seandainya sajaa ... aku jago pencak silat. Aku pasti akan menggantikan kamu tampil. Tapi sayang, aku tidak bisa.”
“Kamu serius mau tampil ... seandainya kamu bisa?” Mimik wajah Firman berubah serius.
“Tentu saja! Aku rasa, tak akan ada yang menolak andai mereka bisa. Apalagi, itu acara terakhir Kakak tingkat kita sebelum wisuda. Tapi kan, tidak semua orang bisa melakukannya. Termasuk aku.”
“Yang paling penting adalah kemauan. Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalannya. Aku sudah bertanya pada teman-teman yang ikut ekskul pencak silat, tapi tidak ada yang mau. Alasannya, mereka baru bergabung, berbeda dengan aku yang memang mantan atlet.
“Aku sudah berusaha memberikan pengertian agar mereka berubah pikiran, tapi tetap saja, tidak ada yang mau. Padahal, pihak kampus sudah berkorban materi dan sangat mendukung kami. Jadi, sangat sayang kalau pertunjukan itu harus batal.
“Kalau kamu benar-benar mau, aku bisa mengajari kamu. Tapi mungkin gerakanku adalah versi lambatnya, karena aku harus banyak istirahat.
“Mungkin besok aku sudah boleh pulang. Kalau mau, kamu bisa datang tiga atau empat hari kemudian. Sekali lagi, kalau kamu benar-benar mau.” Firman mempertegas kalimat terakhirnya.
“Aku mau!” Mata Qalbie berbinar-binar. Baginya, ini adalah kesempatan yang tak boleh dia lewatkan. Hanya dengan cara itu, dia bisa menyaksikan acara penyumpahan Rian.
“Tunggu... kamu serius? Jangan bercanda, Qalbie!” Miftah tak percaya melihat sahabatnya begitu bersemangat. Namun, melihat gadis itu tersenyum lebar seraya mengangguk bersemangat. Miftah yakin bahwa dia tak sedang bermimpi.
Miftah senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang. Geli membayangkan Qalbie yang lemah lembut, memainkan tongkat dan pedang.
Firman memberikan beberapa video sebelum gadis itu meninggalkan rumah sakit. Setelah sampai di kost, Qalbie memutar beberapa video berisi rekaman atlet yang sedang memperagakan jurus wiraloka.
Mereka nampak hebat dan lincah
Qalbie jadi tak yakin setelah melihat video itu. Tapi, demi melihat Rian disumpah, gadis itu berjanji bahwa dia tak akan menyerah sebelum berjuang habis-habisan.
Dia akan berusaha keras untuk menguasai dua belas jurus wiraloka dan menjadikannya persembahan terakhir sebelum lelaki itu meninggalkan kampus.
__ADS_1
“Aku pasti bisa! Seperti yang Firman katakan di rumah sakit, bahwa di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalannya!” Qalbie masih bersemangat.
Miftah nampak lesu dan tidak yakin. “Ya... kamu pasti bisa. Tapi, jika atlet bermain cepat, maka kamu versi lambatnya. Loyo dan tidak bertenaga.”
Qalbie ikut lesu mendengar kata Miftah
“Mana mungkin seorang Qalbie yang lembut, yang lelet, yang ... uh! Pokoknya aku nggak yakin, pake banget!”
Miftah melirik sahabatnya yang tunduk tak bersemangat, dia sadar seketika bahwa kata-katanya telah membuat Qalbie putus asa.
“Tapiiii... kita patut mencoba! Kita kan, punya Allah. Dengan berusaha lebih keras, dan berdoa, maka Insya Allah! Keajaiban bisa saja terjadi, lihat saja kura-kura yang menang melawan kancil! Iya, kan?”
Qalbie mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat wajah. Dia tersenyum mendengar ucapan Miftah. Paham bahwa kata-kata itu hanya untuk menghibur dirinya agar tidak putus asa.
Aku tahu, Miftah ... kita tak sedang hidup dalam dongeng.
Begitulah. Tapi, bagaimana pun juga, kata-kata Miftah ada benarnya juga. Gadis itu patut mencoba. Tak ada yang tidak mungkin sepanjang Qalbie mau berusaha.
Dan yang terpenting, apapun yang terjadi, jangan pernah putus asa.
Dua hari kemudian, gadis itu menemui Firman. Miftah menemaninya dengan setia, tak pernah mengeluh. Bahkan, dia orang pertama yang selalu memberikan wejangan agar Qalbie tetap semangat.
Minggu pertama, kaki Qalbie sempat terkilir dan harus dibawa ke tukang urut. Badannya pegal-pegal seperti habis dipukuli. Ada lebam di beberapa bagian.
Gadis itu cukup kesulitan mengatur waktu karena harus kuliah, namun dia tetap datang. Tak pedui lelah mendera.
Minggu kedua, Qalbie mulai bisa menyesuaikan diri walau gerakannya masih tak bertenaga dan lambat. Gadis itu merasa kesulitan belajar dua belas jurus wiraloka sekaligus. Karena itu, Firman mengajarinya satu per satu.
Saat pertama kali memainkan tongkat, gadis itu sangat kaku dan kerap kali menjatuhkan tongkatnya. Bahkan, tak jarang tongkat itu mengenai kepalanya.
Qalbie hampir putus asa saat berhadapan dengan tongkat itu, namun keberadaan Miftah yang selalu mengingatkan dirinya tentang Rian, amat mujarab untuk membangkitkan semangatnya.
Kini, sampailah Qalbie pada tahap belajar memainkan pedang. Karena merasa ngeri, untuk sementara waktu, Miftah memasang jarak sejauh mungkin. Takut, kalau-kalau pedang itu terlepas dan mengenai seseorang.
Firman paham betul. Sebab itu dia meminta Qalbie bermain lambat sampai gadis itu benar-benar menguasai pedangnya. Setelah itu, barulah dia meminta Qalbie bermain lebih cepat.
Hal itu dia lakukan secara bertahap.
***
Akhirnya, sampailah Qalbie di acara penyumpahan. Semua orang takjub memandang tubuh mungil dan wajah baby face-nya dalam balutan kostum. Apalagi, ada tongkat dan pedang di tangannya.
Penasehat Akademik yang selama ini mengenal Qalbie sebagai gadis lembut, nampak terkejut melihat gadis itu.
Penampilan Qalbie diakhiri decak kagum dan tepuk tangan meriah seisi ballroom.
Hampir empat bulan dia mempelajari jurus-jurus itu tanpa mengenal kata lelah. Bahkan setelah sampai di kamar kost, gadis itu masih mengulang-ulang jurus yang telah dipelajarinya bersama Firman.
Apa yang dia capai pada hari ini, adalah buah kerja kerasnya selama ini.
Kata-kata Firman memang benar. Bahwa di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalannya.
“Ini semua terjadi karena izin Allah. Yang terpenting adalah... apa pun yang terjadi, jangan pernah putus asa. Firman bilang, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalannya.” jawab Qalbie ketika teman-teman yang bergabung dalam grup tari dan paduan sauara, menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
“Qalbie.…” Seseorang memanggil gadis itu saat dia sedang menikmati makan siang di belakang panggung.
Qalbie mengangkat kepalanya
Saat gadis itu sadar bahwa Rian telah berdiri di depannya, nasi yang baru saja dia telan, mendadak seret di tenggorokan.
"Emm...ya, Kak?"
“Penampilan kamu bagus, aku hampir tidak percaya kalau itu benar-benar kamu.” Rian tersenyum sambil mengucapkan selamat.
Qalbie merasa kakinya sudah tidak berpijak di bumi lagi. Bahagia melihat Rian tersenyum untuk yang pertama kalinya.
Ah ... andai Kak Rian tahu kalau aku belajar mati-matian untuknya, mungkin dia akan lebih bahagia. Tapiii ... ya, sudahlah. Yang paling penting, sekarang aku ada di sini, di acara penyumpahannya.
Qalbie membalas senyuman Rian. “Oh ... iya, Kak. Terima kasih. Kakak juga, selamat, karena sebentar lagi Kakak akan wisuda.”
“Oh, iya! Ini….” Rian mengeluarkan kado yang sejak tadi dia sembunyikan.
"Apa ini kak?, ini untuk Qalbie?"
Qalbie tak bisa menyembunyikan binar matanya. Gadis itu sungguh tak percaya bahwa orang yang selama ini dia rindukan, tengah tersenyum dengan sebuah kado di tangannya.
“Iya, ini buat kamu, dari teman. Katanya sudah lama dia menyukai kamu, tapi merasa tak pantas. Karena itu, dia sempat memilih untuk menjauh. Tapi setelah berpikir lagi, akhirnya dia mengatakan bahwa, kalau memang dia tidak pantas, maka mulai saat ini, dia akan berusaha menjadi orang yang pantas.”
Rian pamit, lalu bergegas meninggalkan gadis itu
Qalbie mematung. Menatap dengan mata berkaca. Ketika Rian berbalik, air matanya menetes.
Gadis itu menarik dapas dalam. Berusaha membuang perih yang menyesaki rongga dadanya.
Aku tahu, ya Robb
Cinta hanya bercerita dua hal
Kebahagiaan dan rasa sakit
Karenanya aku tak akan menuntut kebahagiaan, jika pada akhirnya, rasa sakit yang harus kureguk sepanjang waktu.
Duhai Robbiii ... beri aku sabar tak berbatas. Dan keteguhan hati yang tak pernah usai.
Hanya Engkau Tuhanku... dan hanya Engkau cinta sejatiku.
***
Sudah dua hari kado itu tergeletak begitu saja di atas meja. Bukan karena Qalbie tak menghargainya, tapi kekecewaan telah membuat rasa tertariknya untuk mengetahui isi kado itu benar-benar pupus.
Miftah melirik bingkisan
Penasaran akan isinya. Tapi, apa boleh buat, jangankan untuk membuka, bahkan ketika ditanya siapa yang memberi, Qalbie tak mau menjawab.
“Qalbie ... kalau kamu tidak mau. Kadonya buat aku saja, ya?”
“Dengan senang hati, Miftah. Ambil saja kalau kamu mau.”
"Serius?"
“Iya, aku serius.” Jawab Qalbie seadanya sambil membuka buku panduan laboratorium, mood-nya benar-benar hilang.
Miftah kembali melirik kado itu. Ingin membuka, tapi masih merasa tak enak.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, benda itu bukan haknya. Dia yakin, Si Pemberi akan sangat kecewa, kalau tahu bahwa Qalbie telah memberikannya pada orang lain.
Qalbie beranjak ke kamar mandi
Sejujurnya, kadang dia marah sampai ingin membuang kado itu, tapi tak tega. Karena itulah, dia membiarkannya begitu saja.
Setelah mendebat nurani, akhirnya Miftah memutuskan untuk membuka kado itu.
Toh, aku tidak akan mengambil isinya. Siapa tahu Qalbie akan tertarik setelah melihatnya.
Miftah merobek pembungkusnya, lalu membuka kotak persegi panjang di dalamnya.
Isinya adalah buku bersampul merah jambu dengan judul An-Nisaa.
Waahh … bukunya cantik! Kira-kira siapa yang memberikan buku ini? Kalau dia lelaki, sungguh dia lelaki yang romantis.
Miftah tersenyum gemas membaca buku itu. Keseluruhan isinya membahas perempuan. Tentang harus bagaimana perempuan muslimah dalam menjalani hidup, tata cara berpakaian, bertutur kata dan semacamnya.
Saat Miftah tengah asyik membaca, sebuah amplop terjatuh. Gadis itu memungutnya dari lantai , lalu membaca tulisan yang tertera di bagian depan amplop.
“Qalbie ... kado ini ada suratnya! Dari Kak Rian, ya? Kok, dicuekin? Bukannya kamu suka sama Kak Rian?” tanya Miftah setelah Qalbie kembali.
“Miftah ... bisa tidak, kita tidak membahas Kak Rian untuk sementara waktu?” pinta Qalbie, tatap matanya menampakkan keputusasaan. Gadis itu mengempaskan tubuhnya di atas kasur. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Heran. Apa mungkin hati Kak Rian terbuat dari baja, batu, atau sesuatu semacam itu?”
“Cieeee ... mau move on ceritanya?”
“Bukan, Miftah. Aku heran saja kenapa Kak Rian tidak pernah melihatku.”
Miftah tersenyum menggoda. “Siapa bilang Kak Rian tidak melihatmu? Bukankah kado ini dari dia?”
Qalbie cemberut. “Bukan Kak Rian, tapi temannya!”
“Siapa bilang, kalau ini dari teman Kak Rian?”
“Kak Rian sendiri yang bilang, makanya aku cuekin. Awalnya, aku juga mengira seperti itu, tapi ternyata bukan. Ambil saja kalau kamu mau.”
“Kamu serius aku boleh ambil ini? Di amplop ini ada nama pengirimnya, loh!”
"Siapa?"
“Kasitau nggak, ya?” Miftah tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya, “Mau tahu aja, atau mau tau banget?”
“Ya, sudah kalau tidak mau.” Qalbie menutupi wajah dengan bantal.
“Namanya adalah ... jreng ... jreng ... jreeenggg ... Riiaaaann Hiiidaaayatt!”
Qalbie melompat mengambilnya. Dia menatap Miftah, memastikan kalau gadis itu tak sedang menggoda.
Qalbie tersenyum lebar setelah membaca amplopnya. Dia memeluk kedua benda itu seraya bersyukur dalam hati.
Amat bahagia melihat nama pengirimnya memang Rian.
Apa yang ingin disampaikan Kak Rian?
Qalbie duduk kembali
Miftah mendekat, namun gadis itu menghindarinya.
Miftah... jangan sekaraaang. Aku malu tauuu.... Pipi Qalbie bersemu merah.
Miftah bisa membaca gelagat sahabatnya. Beberapa saat kemudian, dia bergegas keluar dengan alasan ingin memungut jemuran di halaman belakang.
Qalbie menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya sebelum membuka amplop itu. Hatinya bergetar saat merobek bagian atas amplop.
Dear,
Qalbie Nur Fatih.
Aku telah sampai pada titik jenuhku.
Aku telah menutup lembaran lamaku sebagai Rian Hidayat yang bandel, yang narsis, yang nggak sopan, yang nggak pernah mikirin perasaan orang lain.
Karena kemarin, tiba-tiba saja aku merasa lelah menjalani hidup seperti itu. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa selama ini terlalu banyak waktu yang telah kubuang sia-sia. Tiba-tiba saja aku ingin menjadi orang yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Aku bertemu dengan seorang lelaki yang mirip denganmu, Qalbie. Dia kakak sepupuku yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Bandung. Aku belajar banyak hal darinya. Dari sikapnya, tutur katanya dan juga ketaatannya sebagai hamba.
Sejujurnya, aku sangat bahagia ketika kamu mengungkap rasa. Karena sejak awal memang ada rasa kagum ketika pertama kali melihatmu. Namun aku merasa sangat-sangat tidak pantas.
Aku merasa bahwa orang sepertiku, bahkan tidak pantas mengagumimu. Aku takut Qalbie, aku takut rasa itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kagum. Dan ternyata, hal yang kutakutkan benar-benar terjadi.
Tapi kemarin jua, tiba-tiba saja aku berani menatapmu. Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa aku bisa berusaha menjadi orang yang pantas untukmu. Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa aku berhak jatuh cinta Qalbie. Aku berhak jatuh cinta kepadamu.
Saat aku bertanya atau tiba-tiba datang, atau tiba-tiba duduk di sampingmu, bahkan ketika aku ikut English Camp. Ketahuilah, saat aku melakukan semua itu, sejujurnya... aku sedang merindukanmu.
Maaf atas apa yang telah kuminta malam itu.
Kamu tahu? Tidak ada satu hari pun yang aku lewatkan tanpa rasa menyesal. Aku tahu, bahkan mengucapkan seribu maaf tidak akan cukup. Aku tahu. Dan aku ingin kamu tahu, bahwa aku sangat menyesal.
Qalbie .. aku menulis surat ini untuk menyampaikan bahwa aku telah sampai.
Aku telah sampai pada titik jenuhku.
Tertanda,
Rian Hidayat
Qalbie melonjak girang diikuti Miftah, mereka berpegangan tangan dan melompat di atas lantai. Air mata haru menetes dari kelopak mata Qalbie.
Miftah ikut menitikkan air mata. Turut bahagia melihat perkembangan hubungan mereka.
Terima kasih, yaa Allah! Perjuangan Qalbie, akhirnya berbuah juga.
Ya. Mereka tak menyangka bahwa saat-saat seperti itu pada akhirnya datang. Saat yang sangat dinantikan oleh Qalbie.
“Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu sedang mengambil jemuran?” Qalbie baru sadar akan kemunculan sahabatnya yang tiba-tiba.
“Maaf, tadi aku ngintip sedikit.”
“Ngintip itu kan, dilarang?”
“Aku janji, ini yang pertama, juga yang terakhir.”
__ADS_1
“Alhamdulillaaahhh....” Qalbie tersenyum lagi. Gadis itu amat bersyukur, sampai tak tahu harus mengekspresikannya dengan cara apa.
Mereka kembali berpegangan, melanjutkan perayaan yang tertunda dengan melompat riang.[]