Qalbie

Qalbie
Part 3


__ADS_3

Aku mulai ragu atas apa yang aku yakini selama ini. Aku mulai berpikir bahwa aku mencintainya. 


***


Gadis itu masih bertanya-tanya karena hal seperti itu baru pertama baginya. Di saat yang sama, dia terus menafikkan perasaan itu. Berusaha memahaminya sebagai nafsu.


Dia meyakinkan dirinya, bahwa semua itu hanya ilusi yang dimainkan syaitan. Musuh yang benar-benar tekun membisikkan kesesatan.


Gadis itu yakin kalau perasaannya akan hilang perlahan-lahan. Mungkin satu atau dua pekan.


Dengan senyum manis, Qalbie berjalan memasuki gerbang kampus. Hari ini dia berharap tak akan melihat Rian.


Memang, karena sudah semester lima, lelaki kurus itu hanya kuliah dua kali dalam satu pekan. Jadi dia tak terlalu khawatir akan melihatnya setiap hari.


Seperti biasa, Qalbie mengikuti pelajaran Farmakologi yang biasanya dimulai jam delapan pagi.


Sudah pukul 08.20 Wita, namun dosennya belum juga datang.


Setelah jarum menunjuk pukul 08.37 Wita dosennya baru datang dan segera mengisi kelas.


Di awal pertemuan, dosen itu meminta maaf atas keterlambatannya karena ada beberapa hal yang harus dia urus di rumah sakit.


Qalbie dan teman-temannya pun paham.


Tentu saja tak semua alasan dapat diterima.


Pernah juga dia mendengar cerita teman kostnya bahwa di kampus temannya itu ada dosen yang selalu membawa anak datang mengajar dan anak itu bukan main rewelnya sehingga seringkali dosen itu hanya memberikan tugas diskusi sementara dia sibuk mengurusi anaknya. Akhirnya diskusi berjalan tanpa ada yang mengawasi.


Tentu saja pembelajaran seperti ini sangat tidak efektif karena ketika mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang keliru, tak ada yang bisa meluruskannya. Alhasil, pemahaman seluruh mahasiswa dalam ruangan itu akan keliru.


Beruntunglah Qalbie karena di kampusnya tidak ada dosen yang seperti itu.


Qalbie dan teman kelompoknya membahas tentang obat analgetik atau anti nyeri. Mereka diberi tugas untuk membuat materi presentasi dalam bentuk majalah dinding.


Untunglah buku-buku di perpustakaannya sangat lengkap dan merupakan terbitan lima tahun terakhir. Kenyataan ini sangat berbeda dengan perpustakaan di kampus sepupunya yang sering mengeluh bahwa kebanyakan buku-buku di perpustakaan kampusnya sudah ‘kadaluarsa’ sementara dosen selalu menuntut agar dalam pembuatan tugas, literaturnya harus dari buku terbitan lima tahun terakhir.


“Sebenarnya kami bisa saja membeli buku, tapi kebanyakan buku isinya tidak lengkap dan mata kuliah bukan hanya satu sementara tidak semua mahasiswa berkemampuan untuk membeli buku.” Begitulah kata sepupunya waktu itu.


Tak terasa pelajaran telah berakhir.


Qalbie dan teman kelompoknya sudah mendapatkan empat buku literatur. Sedang majalah dindingnya akan dipresentasikan pekan depan.

__ADS_1


Kini giliran dosen selanjutnya yang harus masuk mengisi ruangan.


Kali ini Qalbie belajar tentang kebutuhan dasar manusia. Dan metode yang digunakan oleh dosen adalah metode ceramah diselingi tanya jawab.


Di sela-sela proses pembelajaran, tanpa sadar Qalbie sering memandang dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya.


“Qalbiii ... Qalbiii....” teman yang duduk di samping mengguncang bahunya.


Ternyata sejak tadi dosen memerhatikan. Dia yang biasanya aktif bertanya dan selalu mendengarkan penuh perhatian, kini sedang melamun.


Qalbie segera sadar dari lamunannya dan berusaha mengmbalikan konsentrasinya untuk mendengarkan materi kuliah. Namun kali ini dia benar-benar tak bisa.


Seperti biasa, dia selalu menatap wajah dosen yang menjelaskan agar cepat paham. Tapi ternyata, bayangan yang dia tangkap justru tak biasa.


Secara perlahan wajah dosennya berubah bentuk menjadi wajah Rian. Padahal dosen yang mengajar adalah dosen perempuan.


Detak jantungnya meningkat, suara-suara bising disekitarnya mulai tak terdengar.


Tinggallah Qalbie dengan volume detak jantungnya yang meninggi, menatap wajah manis Rian.


Hal ini berlangsung beberapa detik lamanya sebelum dia menggelengkan kepala dan kembali ber-istighfar.


***


“Miftah, apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Qalbie.


“Mmmm ... kalau menyukai seseorang, sih, pernah. Tapi kalau jatuh cinta, sepertinya belum pernah. Memangnya kenapa?” Mimik wajah Miftah sangat serius sementara Qalbie nampak bingung mendengar pertanyaan itu.


“Jangan bilang kamu sedang jatuh cinta?”  tebak sahabatnya.


“Mmmm....” Qalbie memikirkan jawabannya sementara Miftah nampak tak sabar.


“Jawab dong, Qalbiii....”


“Aku tidak tahu persis Miftah. Wajahnya kerap terbayang. Dan irama jantungku meningkat seiring munculnya bayangan itu. Katanya, ketika kita menatap ke dalam mata orang yang kita cintai, akan ada getaran aneh yang terasa sampai ke lubuk hati.”


“Cieeee … siapa dia?” Miftah semakin penasaran.


"Kak Rian"


“Oooh, kak Rian yang sok keren dan berantakan itu? Apa!?” Miftah terperangah saat menyadari bahwa lelaki yang membuat sahabatnya tak dapat berkonsentrasi adalah Rian.

__ADS_1


Bagai jatuh dari langit, semangat untuk mendengarkan cerita Qalbie langsung runtuh.


Awalnya Miftah menduga bahwa lelaki itu adalah lelaki lain yang nampak bersih, rapi dan sholeh. Lelaki yang menjadi idaman setiap perempuan. Tapi kenyataannya malah berbalik seratus delapan puluh derajat.


Miftah memukul bahu Qalbie seperti seorang kakak yang sedang memarahi adiknya.


“Aduh ... sakit! Miftah.” Qalbie meringis mengelus bahunya.


“Maaf  Qalbie ... aku benar-benar tidak menyangka!” Miftah nampak kecewa.


“Aku juga bingung. Tidak pernah aku bayangkan sedikit pun untuk memiliki perasaan seperti ini pada Kak Rian.”


“Hati-hati Qalbie. Bisa saja ini hanya ilusi syaitan untuk menjerat kamu dalam penjara kenistaan. Menurut aku, Kak Rian bukan laki-laki yang baik!”


“Miftah, aku pun merasa getaran ini bukan cinta, melainkan nafsu. Tapi ... kamu tidak bisa menentukan baik-buruknya karakter orang lain. Mungkin kak Rian memang terlihat berantakan dan suka berbicara seenaknya. Tapi tak ada orang yang pernah masuk ke dalam hati dan pikirannya untuk melihat baik buruknya karakter Kak Rian. Bukankah ada kata-kata bijak yang menyatakan bahwa; bahkan waktu 1000 tahun tidak akan cukup untuk mengenal bagaimana karakter seseorang?”


“Iya, deh, iyaaa … aku mengerti. Tapi Qalbie, jangan hiraukan perasaan itu. Bahkan kalau bisa kamu harus berusaha melawannya. Aku yakin kalau kamu terus berusaha, mungkin dalam waktu satu pekan kamu sudah bisa melupakannya. Fighting!” Miftah menyemangati sahabatnya sementara Qalbie hanya bisa tersenyum lesu.


***


Qalbie sibuk membolak-balik halaman bukunya. Kelopak matanya hanya berkedip sekali-kali. Sudah hampir satu jam dia melakukan hal yang sama. Miftah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gadis itu.


Beberapa saat kemudian, Qalbie tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah pintu, seperti mencari sesuatu.


Miftah memperhatikan sikap sahabatnya dengan saksama.


Qalbie berjalan ke luar ruangan dengan cepat sementara Miftah mengikutinya dari belakang.


Gadis itu mendapati Qalbie sedang mematung di depan kelas, menatap Rian yang sedang sibuk berbicara dengan temannya di ujung koridor.


Miftah memegang pundak sahabatnya, “Qalbie….”


“Ya?” Mata Qalbie tertuju pada Rian. Tak berkedip sama sekali.


Miftah berdiri tepat di hadapan Qalbie.


Membuat gadis itu segera menunduk lalu duduk di depan kelas.


“Aku tidak bisa Miftah. Ini sudah lebih dari dua bulan tapi aku masih terus mengingatnya. Kamu tahu kenapa aku bisa tahu Kak Rian ada di sana? Itu karena aku mendengar suaranya. Aku bisa merasakan ketika Kak Rian ada di sekitarku. Aku mulai ragu atas apa yang aku yakini selama ini Miftah. Aku mulai berpikir bahwa aku mencintainya.”


Miftah kehilangan kata-kata mendengar gadis itu. Ketika menatap matanya, dia bisa merasakan betapa tersiksanya Qalbie yang tertawan perasaannya sendiri.[]

__ADS_1


__ADS_2