
Jika kamu benar-benar mencintaiku, izinkan aku mendaratkan satu kecupan dipipimu.
***
Qalbie menyusun pakaiannya dengan rapi di dalam koper. Jam empat sore, dia akan berangkat ke luar kota untuk mengikuti English Camp selama dua pekan.
Waktu memang berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia memulai ujian akhir semester. Dan hari ini, gadis itu sudah mulai libur.
Qalbie melalui ujian dengan baik. Walaupun pada hari-hari pertama, dia merasa sangat tegang dan tak percaya diri.
Ya. Kini tiba saatnya untuk refreshing otak setelah satu pekan berjuang menjawab soal-soal di balik meja ujian.
Lingkungan baru tambah suasana baru tambah teman baru tambah pengajar baru sama dengan pengalaman baru.
Dia sudah membayangkan semua itu. Pasti akan sangat menyenangkan, pikirnya. Dengan begitu, rasa rindunya pada Rian akan ‘sedikit’ teralihkan.
Sementara dia di luar kota, Miftah mengisi liburan akhir semester dengan kembali ke kampung halamannya.
Qalbie menyeret kopernya turun dari mobil yang memang telah disediakan oleh pihak pengelola English Camp. Jumlah participants yang bergabung dibatasi hingga dua puluh orang. Sepuluh laki-laki dan sepuluh perempuan.
Qalbie melihat sekeliling, ada banyak pohon di sekitar villa tempat dia akan dikarantina. Di depan villa itu ada beberapa buruh yang sedang mengerjakan proyek pembangunan gedung.
Tak jauh dari sana, terdapat gedung olahraga dan minimarket. Namun, tak seorangpun boleh meninggalkan halaman villa tanpa izin dari para instruktur.
Dari luar, villa itu nampak seperti bangunan tua berhantu sehingga Qalbie merasa tak nyaman dan bahkan ingin pulang saat itu juga. Namun di sisi lain, Qalbie merasa bahwa itu adalah tantangan.
Dia melangkahkan kaki dengan mantap bersama participants yang lain. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering.
Ternyata ada pesan masuk dari Miftah: Selamat berlibur saudariku, jangan lupa tersenyum. Semangat!!! :) :) :).
Qalbie tersenyum membacanya. Sesuai instruksi dari instruktur perempuan, dia masuk ke sebuah ruangan yang mirip bangsal. Di dalamnya ada banyak kasur yang berjejer rapi di atas lantai. Masing-masing dilengkapi sebuah bantal.
“Sangat sederhana, sangat bersih, dan sangat nyaman.” gumam Qalbie.
Gadis itu meletakkan kopernya di samping kasur. Dia memilih yang paling ujung karena memang hanya kasur itu yang tersisa. Setelah meletakkan barang-barangnya dengan rapi, gadis itu berjalan keluar untuk melihat-lihat.
Udaranya sangat sejuk walau tempat itu tidak sehijau kampung halamannya.
Qalbie berdiri tepat di depan pintu keluar yang terletak di samping kamarnya sementara participants lain berjalan-jalan melewati pintu utama yang terletak di bagian.
Qalbie memejamkan mata menikmati sejuknya angin yang berembus. Rasanya seluruh beban-beban pikirannya ikut beterbangan bersama angin. Tanpa sadar, gadis itu membentangkan tangannya. Hanyut dalam suasana.
Setelah puas menikmati kesejukan tempat itu, Qalbie membuka matanya perlahan.
Dia hanya bisa menundukkan kepala saat melihat seorang laki-laki berusia dua puluh empat tahun sedang tersenyum menatapnya. Kulitnya sawo matang, dan senyumnya sangat manis karena ada gigi gingsul di sebelah kanan.
Betapa malunya Qalbie, batinnya bertanya-tanya: sejak kapan laki-laki itu ada disana? Apa laki-laki itu melihatku membentangkan tangan? Apa yang dipikirkan lelaki itu saat melihatku membentangkan tangan?
Pertanyaan semacam itu terus menghujani pikiran gadis itu.
Belum sempat lelaki itu menyapa, adzan Maghrib sudah terdengar.
Qalbie mengangkat kepalanya namun lelaki itu sudah tak ada di sana. Gadis itu pun bergegas mengambil wudhu. Setelah siap, dia pergi ke Mesjid yang terletak di samping Villa, lengkap dengan mukenahnya.
Ketika sampai di Mesjid, iqamah sementara dikumandangkan. Ternyata di dalam mesjid itu hanya ada lelaki yang menatapnya tadi dan participant lain yang sedang iqamah. Makmum perempuan hanya Qalbie.
Sepi, ke mana participants yang lain?
Imam memalingkan wajah ke arah kanan-kiri sambil mengucapkan salam diikuti oleh makmumnya.
Gadis itu memulai dzikir, menadahkan tangan, memejamkan mata, lalu menundukkan kepalanya.
Dia mengadu kepada Robbnya dalam hati.
Robbiii ... berikan yang terbaik bagiku, ampuni segala dosa dan khilafku, berikan aku kekuatan dalam menghadapi ujian iman dari-Mu.
Robbiii ... aku memohon perlindungan-Mu dari bisikan-bisikan syaitan yang menyesatkan manusia, dan semoga hatiku senantiasa diliputi cahaya kasih-Mu.
Robbiii ... bantu aku berlayar ke tepian rahmat-Mu saat aku mulai terlena dalam bahtera kehidupan. Aku takut, ya Robb, aku takut ditinggalkan oleh-Mu.
Izinkan aku untuk tetap merindu pada-Mu....
Qalbie menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tak mampu membendung air matanya.
Setelah gadis itu dapat menguasai diri, dia membuka Al-Qur’an yang dibawanya, kemudian membaca dalam hati. Selain membaca huruf arab, dia juga membaca terjemahannya.
Saat asyik membaca Al-Qur’an, listriknya tiba-tiba padam. Gadis itu mengucapkan shodaqollahul-‘adziym sambil menutup Al-Qur’an kemudian ber-istighfar menenangkan diri.
Seseorang menyalakan senter. Lalu mendekat.
Ternyata dia adalah lelaki yang tadi menatapnya.
“Assalamu ‘alaikum.” sapa lelaki itu.
“Wa ‘alaikum salam wa rohmatullaahi wa barokaatuh.” jawab Qalbie.
“Perkenalkan, nama saya Rizqi. Saya instruktur di sini. Adik pasti salah satu dari participants putri yang akan join selama dua pekan ke depan.” Lelaki itu menebak dengan sopan, rupanya dia bernama Rizqi.
__ADS_1
“Betul, Kak Rizki. Nama saya Qalbie.”
“Kalau begitu, Dik Qalbie. Mari kita kembali ke villa.”
Gadis itu berjalan mengikuti Rizki dari belakang. Dia diantar hingga sampai di depan kamar.
Qalbie tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke kamar yang nampak remang karena yang jadi pelita hanya beberapa batang lilin.
Tidak lama kemudian, listrik menyala kembali.
Kini sudah waktunya makan malam.
Gadis itu mengambil jatah makan malam di ruangan sebelah. Sangat sederhana. Ada dua sendok sayur tauge dan dua potong kecil tempe goreng beserta setengah sendok sambal.
Hal ini membuat banyak participants putri mengeluh, bahkan ada beberapa yang nampak enggan memakannya.
Mereka membawa makanan masing-masing ke dalam kamar karena tak ada kursi yang disediakan di ruang makan. Sementara itu, Qalbie diajak makan bersama oleh Dini, salah satu participants putri.
Setelah selesai menyantap makan malam, Gadis itu segera bersiap untuk melaksanakan shalat Isya. Dia berangkat ke mesjid saat adzan berkumandang. Namun kali ini sudah ada Dini yang menemani.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Qalbie dan dini kembali ke villa dan bersiap mengikuti program pertama.
Alarm berbunyi pertanda program akan dimulai. Qalbie dan Dini datang ke aula di lantai dua. Para instruktur sudah stay di sana menunggu para participants berkumpul.
Ada banyak participants yang terlambat.
Saat semuanya sudah berkumpul, Rizqi segera membagikan ID Card kepada seluruh participants.
Qalbie melihat ID Card-nya, di sana tertulis breath. Gadis itu bertanya-tanya, ada apa dengan kata breath? Karena penasaran, dia melihat milik Dini, dan di sana tertulis measles.
Rizqi memegang megafon, lalu memulai pembicaraan. “Assalamu ‘alaikum and good evening everyone!”
“Wa ‘alaikum salaam warohmatullaah ... good eveniiiing!” jawab mereka serentak.
"How are you??" ucap Rizqi
Kali ini jawabannya beragam, ada yang menjawab I’m fine, ada pula yang menjawab I’m Okay. Dan entah apa lagi. Jawabannya serentak tapi berbeda sehingga artikulasi mereka menjadi tidak jelas.
“Oke! Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Rizki, salah satu instruktur yang akan bersama kalian kurang lebih dua pekan ke depan.
“Di sini ada beberapa instruktur yang akan bersama dengan kalian. Semoga selama itu kita bisa bergaul dengan baik dan dapat bekerjasama dengan baik pula.”
Rizqi berhenti sejenak dan berjalan ke arah Qalbie, dia meminta ID Card gadis itu lalu membawanya ke depan, “Baiklah, ID Card yang kalian pegang saat ini akan terus bersama kalian selama berada di tempat ini. Jika ada yang kehilangan, maka secara otomatis akan dipulangkan, tidak ada toleransi. Jadi saya harap kalian bisa menjaganya dan jangan sampai ada yang kehilangan.
“Pada ID Card yang saya pegang ini tertulis kata breath, artinya selama berada di sini nama pemilik ID Card ini berubah menjadi Ms. Breath. Jika ada yang memanggil bukan dengan nama itu, maka akan kena punishment, yaitu menghapal irregular verbs sebanyak dua puluh dalam waktu satu hari.
“Selama satu pekan ke depan, kalian masih boleh menggunakan bahasa Indonesia dengan catatan dalam satu kalimat harus ada kata berbahasa Inggris, jika tidak maka akan kena punishment dengan menghapal kosa kata sebanyak dua puluh dalam satu hari.
“Pekan depan, tidak ada seorang pun yang boleh mengunakan bahasa Indonesia walaupun hanya satu kata. Jika ada, maka akan kena punishment berupa denda sebesar lima ribu per kata. Tidak ada toleransi untuk semua aturan. Apa ada pertanyaan?” Rizqi mengembalikan ID Card milik Qalbie.
Seluruh participants nampak lesu mendengar aturan-aturan itu, tapi mereka tak ada pilihan lain selain mengikutinya.
Seorang participant putra mengangkat tangan. “Bagaimana jika kami tidak tahu kosa kata yang ingin kami katakan dalam bahasa Inggris?”
“Kalian bisa bertanya. Contohnya, excuse me Mr. Rizqi, how to say ‘duduk’ in English? Kalian cukup mengganti kata ‘duduk’ dengan kosa kata yang ingin kalian ketahui.
“Kalau misalnya kalian ingin bertanya sementara tidak ada instruktur yang bersama kalian dan teman kalian juga tidak tahu jawabannya, maka kalian boleh menggunakan bahasa isyarat agar lawan bicara kalian mengerti. Yang jelas tidak ada kata selain bahasa Inggris. Ingat ... tidak ada toleransi!” Rizqi menekankan kalimat terakhirnya.
Setelah lelaki itu menjelaskan rule, saatnya pendiri atau pemilik lembaga kursus menyampaikan kata sambutan. Setelahnya, para instruktur mulai memperkenalkan diri kemudian disusul oleh participants.
Setelah Rizqi membagikan question list, participants dipersilakan kembali ke kamar masing-masing.
Khusus malam ini, mereka mengakhiri kegiatan pada pukul 22.00 Wita dan para participants diberi tugas untuk mencari arti dari kata yang tertera pada ID Card-nya masing-masing, serta harus menghapal nama-nama participants lain.
Mulai besok, program akan dimulai pukul 07.00 Wita dan akan berakhir pada pukul 23.00 Wita. Setiap pukul 12.00 sampai pukul 14.00 Wita ada waktu untuk shalat Dzuhur, makan siang dan istirahat.
Begitu juga setiap pukul 17.45 sampai pukul 19.45.00 Wita ada waktu shalat Maghrib, makan malam dan shalat Isya. Serta setiap pukul 15.15 sampai pukul 13.45 Wita participants boleh meninggalkan aula untuk melaksanakan shalat Ashar.
***
Qalbie bergabung dengan participants yang lain. Hari pertama, banyak yang datang terlambat ke aula. Akhirnya di antara mereka banyak yang kena punishment.
Seorang instruktur membuka program pagi dengan penuh semangat, dia juga mengumumkan bahwa akan ada seorang participant lagi yang akan join dan mungkin akan tiba sekitar jam dua belas siang ini.
Program pagi berjalan sangat menyenangkan bagi Qalbie, instrukturnya santai dalam membawakan materi dan kadang pula menyelingi materi dengan candaan.
Setelah materi dipaparkan secara singkat, mereka diminta untuk menuliskan semua yang mereka dengar lalu menyampaikannya di depan participants yang lain.
Qalbie melangkah malu-malu karena kemampuan bahasa Inggrisnya masih sangat kurang. Tapi karena keramahan instruktur, lama kelamaan dia mulai santai dan percaya diri.
Program pertama selesai tepat waktu sesuai dengan apa yang diterangkan Mr. Rizqi tadi malam.
Qalbie segera bergegas ke kamar putri untuk merebahkan diri sejenak sebelum melaksanakan shalat Dzuhur.
Tak lama kemudian, Dini berlari masuk ke kamar. Gadis itu langsung melompat ke atas kasur Qalbie. “Participant baru itu sudah datang. Ayo kita keluar!” ajak Dini sambil menarik tangan gadis itu.
“Lebih baik kita istirahat saja, Din. Sebentar lagi Dzuhur. Lagipula ... kita pasti akan melihatnya saat program kedua. Oke?”
__ADS_1
“Ya, sudah ... aku juga agak letih, sih.” ujar Dini sambil merebahkan diri.
Akhirnya program kedua dimulai setelah mereka shalat Dzuhur dan makan siang.
Qalbie dan Dini duduk di depan. Kali ini program dibawakan oleh Mr. Rizqi yang baru saja masuk ke dalam aula bersama seseorang yang wajahnya sangat familiar di mata Qalbie.
Robbiii ... kenapa Kak Rian harus ada di sini?
Qalbie mendesah pelan. Pupus sudah harapannya untuk mengalihkan perhatiannya dari Rian.
Gadis itu menunduk saat lelaki kurus itu memperkenalkan diri di hadapan seluruh participants.
Rian memilih tempat duduk di dekat Qalbie. Membuat gadis itu jadi salah tingkah sepanjang program. Apalagi ketika mereka menjadi partner dalam acara conversation.
“Hello, Ms. Breath.” sapa Rian.
“Mmm ... hello, Mr. ... Fetus.”
Awalnya Qalbie merasa sulit menyesuaikan diri, namun lama kelamaan akhirnya dia mulai terbiasa dan rasa canggungnya perlahan berkurang.
Mereka bercakap dengan lancar dan sesekali saling melempar senyum.
Sejak hari itu, Rian sering mencuri pandang ke arah Qalbie. Namun tak jarang Qalbie melihatnya sedang menggoda participants lain sampai gadis itu kadang cemburu.
Setelah program usai, Mr. Rizqi meminta Qalbie membantunya, menuliskan kosa kata untuk participants di white board sementara participants lain sudah bubar. Hanya Dini yang tetap tinggal untuk menemani mereka karena permintaan Mr. Rizqi agar tak timbul fitnah di antara mereka.
Banyak participants putri yang melirik dengan tatapan iri.
“Betapa beruntungnya gadis berbingkai itu.” kata seorang participant putri yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh.
“Gadis berbingkai? Maksud kamu?” tanya salah seorang temannya.
“Kamu tidak lihat, ya? Gadis itu terbingkai oleh hijabnya! Dia sangat serasi dengan Mr. Rizqi. Aku jadi iri, betapa beruntungnya dia bisa berada di dekat Mr. Rizki yang sangat pintar, sopan dan alim.” terang gadis itu panjang lebar.
“Iya, ya. Tapi belum tentu Mr. Rizqi suka padanya.”
“Sepertinya Mr. Rizqi menyukainya, lihat saja bagaimana ekspresi Mr. Rizqi saat berhadapan atau berbicara dengan gadis itu.”
“Memangnya bagaimana ekspresi Mr. Rizqi?” tanya salah seorang istruktur yang rupanya sejak tadi sudah berada di belakang mereka. Mendengar pertanyaan itu, mereka segera meminta maaf lalu masuk ke dalam kamar.
Hari-hari berikutnya, ketika para participants semakin akrab. Qalbie pun semakin sering mencuri pandang ke arah Rian, begitu pula sebaliknya.
Rasa cintanya semakin dalam. Setiap melihat lelaki itu, rasa rindunya kian bertambah. Seperti meminum air laut, bukannya menghilang, dahaganya malah makin bertambah.
Di suatu senja, Qalbie memutuskan untuk memberitahu Rian bahwa dialah gadis yang pernah menyatakan cinta. Bagaimana pun juga gadis itu merasa bahwa dia harus jujur.
Gadis itu berusaha keras untuk memberanikan diri. Dan setelah berpikir berulang kali, akhirnya dia mengirim pesan singkat kepada Rian.
Namaku Qalbie. Aku adalah junior yang saat itu pernah berdebat dengan kakak di forum menjelang pentas seni kampus. Maafkan aku karena telah lancang menaruh perasaan kepada kakak.
***
Tak terasa dua minggu telah berlalu.
Saatnya kembali melihat dunia setelah dua minggu dikarantina.
Hari Qalbie terasa sangat sepi ketika dia kembali menginjakkan kaki di kamar kost. Ditambah lagi, Miftah belum datang dari kampung.
Malam perpisahan kemarin terasa haru biru oleh tangis-tangis kecil para instruktur dan participants.
Qalbie sendiri merasa sangat kehilangan karena selama dikarantina mereka semua terbilang akrab. Hanya satu orang yang belakangan ini membuat Qalbie semakin canggung jika saling bertemu.
Ya. Sejak Qalbie mengirim pesan singkat mengenai pengakuan jujurnya, mereka tak pernah saling menyapa. Gadis itu merasa malu atas pengakuannya sedangkan Rian sendiri merasa gengsi jika harus menyapa duluan.
Kadang Qalbie mencuri pandang ke arah Rian, namun tak pernah sekali pun dia berani menyapa atau bicara kepada lelaki itu. Kecuali dalam program.
Baru saja mereka berpisah di depan kampus, namun lagi-lagi gadis itu sudah merasa sangat rindu. Rasanya dia tak ingin berhenti melihat Rian, sosok lelaki kurus berkulit coklat kehitaman yang selalu bercahaya di mata Qalbie.
Rasa rindunya ibarat telaga yang di dalamnya terdapat mata air. Kian hari, kian bertambah. Cintanya tak pernah berkurang. Namun gadis itu sudah merasa lebih baik karena dia sudah mampu mengendalikan perasaannya.
Qalbie merebahkan diri di atas kasur seusai shalat Dzuhur, lalu membaca beberapa ayat dalam kitab suci Al-Qur’an. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Seketika wajah Qalbie berubah cerah setelah membaca pesan itu.
Tak percaya. Akhirnya dia membaca pesan itu berulang-ulang untuk meyakinkan diri kalau pesan itu benar dan dia tak salah baca.
Aku akan menjadikan kamu satu-satunya perempuan dalam hidupku mulai malam ini. Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi agar aku tahu seberapa besar rasa cinta yang kamu miliki terhadapku.
Jika kamu benar-benar mencintaiku, izinkan aku mendaratkan satu kecupan di pipimu. Aku akan menunggu kamu di depan kampus jam 8 malam, kamu harus datang dan ikut denganku.
Ini adalah kesempatan pertama dan bisa jadi adalah kesempatan terakhir.
Begitu bunyi pesan yang dibaca Qalbie. Dari Rian, lelaki yang telah berhasil merengkuh cintanya.
Qalbie tersenyum setelah membaca pesan itu. Ada rasa bahagia yang menyeruak dalam hatinya. Namun gadis itu masih bimbang.
Haruskah aku pergi?
__ADS_1
Aku mencintainya, Robb. Sungguh![]