
Tanggal 20 Oktober 2006, akan ada acara pementasan seni.
Dua hari sebelum acara, gadis itu sempat bersitegang dengan salah satu senior yang merupakan anggota organisasi penanggung jawab acara.
Acara pementasan seni oleh organisasi di kampus ini memang selalu melibatkan mahasiswa baru sebagai panitia dalam kegiatan. Dan Qalbie ikut mengambil bagian di dalamnya.
Gadis itu tidak suka dengan argumen seniornya saat menentukan harga tiket untuk pementasan seni. Namanya Rian, badannya tinggi kurus dengan kulit coklat kehitaman. Sejak awal, ia memang agak risih melihat tingkah laku pemuda itu.
Selain sok keren dan memiliki sifat semau gue, Rian kerap memperdebatkan hal-hal sepele. Sama seperti hari itu. Rian mematok harga tiket yang terlalu tinggi. Sedang menurut Qalbie, harga tiket harus disesuaikan dengan isi saku mahasiswa.
“Keuntungan tidak selamanya didapatkan dari harga yang tinggi, tapi bisa juga dari jumlah pelanggan. Lebih baik murah tambah laku sama dengan untung, daripada mahal tambah kurang laku sama dengan rugi.” Begitu rumus yang disampaikan Qalbie.
Saat gadis itu sedang menyampaikan pendapat, tanpa angkat tangan Rian berseloroh. “Angka itu enggak mahal, karena enggak sampai jual diri, kok!”
Meski menurut Rian itu biasa, tapi menurut Qalbie itu kata-kata yang luar biasa. Wajahnya semerah tomat matang, namun Rian hanya membalasnya dengan senyum simpul—entah apa yang ia pikirkan.
Mereka sempat berdebat. Namun untuk mencegah perdebatan lebih lanjut, ketua panitia mengambil alih dan berusaha mencairkan suasana dengan candaan-candaan lucu. Mereka memutuskan kalau pentas akan dilaksanakan tepat pada malam ahad dan Qalbie diberi tugas untuk bertanggung jawab di bagian penjualan tiket.
Orang yang datang untuk menyaksikan acara pementasan lumayan banyak, mulai dari teman kampus sampai mahasiswa dari kampus lain. Para dosen dan staf kampus pun tidak mau ketinggalan menyaksikan pertunjukan anak didik mereka.
Qalbie duduk di dekat pintu utama. Di sana ada banyak mahasiswa yang merokok, temasuk Rian. Ia rajanya. Rokoknya tidak putus-putus bagai kereta api yang saling bersambung antara gerbong satu dengan gerbong lainnya. Ironis. Mereka adalah calon petugas kesehatan. Mereka tahu merokok berbahaya bagi kesehatan—tapi tetap melakukannya.
__ADS_1
Qalbie paham bahwa ini adalah perbedaan sifat antara pencipta dan ciptaan-Nya. Kesempurnaan sifat hanya milik Allah.
Pementasan selesai sekitar pukul 12.49 Wita. Malam sudah cukup larut untuk ukuran gadis kampung seperti Qalbie. Ia berdiam diri di depan pintu utama gedung karena saat itu sudah banyak panitia yang pulang. Hanya beberapa teman yang tersisa. Ditambah lagi tak ada angkutan umum di sekitar tempat itu.
Panitia laki-laki yang memiliki kendaraan segera berunding dan memutuskan untuk mengantar mereka pulang. Rian mendekati Qalbie dan menanyakan alamat, ingin mengantar gadis itu pulang.
Ya. Qalbie tahu maksud Rian baik. Namun setelah melihat motor besarnya yang nampak keren namun terlalu tinggi dan agak susah jika harus duduk menyamping, dia beralih ke ketua panitia.
Keesokan harinya, gadis itu merasa sangat lelah karena harus mencuci pakaian dan membersihkan kost bersama teman-temannya.
Setelah shalat Ashar, dia tertidur pulas dan baru bangun menjelang Maghrib.
“Astahfirullaahal ‘adziiimm ... apa yang aku lakukan?”
Gadis itu terlentang, menatap langit-langit kamar. Lagi-lagi wajah itu nampak membayang, lebih nyata dari sebelumnya.
Qalbie tersihir beberapa saat lamanya, lalu kembali sadar. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan ber-istighfar.
Astaghfirullaahal ‘adziiimm ... kamu tidak boleh seperti itu Qalbie. Tidak boleh! Makanya, lain kali kamu jangan tidur sore lagi. Bangun-bangun pikiranmu jadi aneh begini, kan?
Gadis itu beranjak dari tempat tidur, berwudhu, lalu membaca Al-Qur’an.
__ADS_1
Malam harinya, dia dapat tidur dengan tenang. Dalam tidurnya, dia berjumpa dengan lelaki itu.
***
Qalbie terbangun untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Gadis itu nampak ayu dalam balutan mukenah.
Setelah kewajibannya usai, gadis itu menadahkan tangan, menundukkan kepala, lalu mengiba.
Robbiii ... apa yang salah denganku? Wajahnya terukir jelas dalam mataku.
Robbiii ... apakah aku telah tergelincir dalam bisikan syaitan? Atau ini adalah fitrah-Mu?
Jika ini nafsu dan khilafku, jangan biarkan aku tertatih di dalamnya.
Robbiii ... jika ini cinta, mengapa harus dia?
Mengapa harus Kak Rian?
Qalbie menangis tak terima
Jika ini cinta yang merupakan fitrah dari Sang Khaliq, mengapa orang yang pertama membuatnya jatuh cinta harus Rian? Seorang lelaki yang menurut Qalbie sangat jauh dari kata sholeh. Bahkan lelaki itu tak melaksanakan shalat Jumat yang hanya dilaksanakan satu kali dalam satu pekan.[]
__ADS_1