Rahasia Ibu

Rahasia Ibu
Mengapa ibu diam saja?


__ADS_3

Lintang dan Bintang berlarian mengikuti kasur dorong rumah sakit sambil sesekali mengusap air mata mereka. Mereka masih bertanya-tanya dalam hati..ada apa dengan ibu...mengapa ibu jatuh...mengapa kakung uti begitu khawatir.


"Uti, ibu kenapa?" tanya Lintang


Bu Dirdjo, nenek Lintang hanya diam. Dipandanginya suaminya meminta persetujuan. Pak Dirdjo hanya menggelengkan kepalanya.


"Kung, ada apa to?" tanya Bintang


"Kene, ndhuk, lungguh jejer Kakung kene" sahut Pak Dirdjo dengan pelan dan sedih


Pak Dirdjo memandang cucu kembarnya yang beranjak remaja itu dengan sedih. Darimana dia harus menceritakan kisah putrinya yang memilukan dan semua karena kesalahan dia, setidaknya itulah menurutnya, semua yang terjadi pada putri tunggalnya itu karena kesalahannya.


"Ndhuk kembar, nunggu apa ngendikane pakdhe dokter ya"


Bintang dan Lintang saling pandang dan hanya bisa menyahut bersama "Nggih, Kung"


Sementara itu Bu Dirdjo berjalan meninggalkan mereka, mendatangi Dokter Purwo, putra kakak lelakinya yang masih memeriksa Astuti, "piye adimu, le?" tanya nya kuatir.


"Bulik, sebenarnya apa yang terjadi, kok Astuti begini lagi. Sudah lama dia tidak seperti ini. Datang kemari dengan mulut dan ujung jari sudah membiru begini. Untung saja segera kemari. Sinten ingkang ngonangi, bulik?" tanya Purwo yang sudah lama menjadi dokter keluarga mereka.


"Ndhuk kembar, entah Lintang entah Bintang. Mereka hanya bilang menemukan ibunya sudah di lantai kamar tidak sadarkan diri" kata Bu Dirdjo.


"Nuwun sewu, apakah bulik pirsa, kalau dik Putra pulang Indonesia?" tanya Purwo. Dia langsung menduga kalau adik sepupunya ini pasti ada hubungannya dengan keadaan Astuti saat ini.


Putra Abimanyu, adik sepupu dari Dokter Purwo Handoko, anak satu-satunya dari adik bungsu ibunya, bulik Lestari, yang bersuamikan Hadiwijaya, Presdir sebuah perusahaan batik besar yang menguasai pasar batik Indonesia dan seorang keturunan bangsawan Jawa bergelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung.


"Ora, le, bulik ora pirsa, As ora matur apa-apa kalau bapaknya kembar datang lagi. Sik to apa Putra datang dengan perempuan itu?" tanya Bu Dirdjo.

__ADS_1


"nggih, bulik"


"mmm coba bulik tanya kembar dulu"


"Bulik, nuwun sewu, Purwo saja yang tanya ke anak-anak" Purwo mendatangi keponakan kembarnya itu diikuti buliknya.


Purwo menekuk kakinya supaya sejajar dengan si kembar, "ndhuk, pakdhe mau tanya, siapa tadi yang ngonangi ibu pingsan?" tanyanya dengan memberi senyum tipis, supaya dua remaja tanggung itu mau cerita."ayo matur pakdhe, ora popo" bujuknya lagi.


"Dalem, pakdhe" sahut Lintang


"oohh Lintang, coba cerita pakdhe, kejadiane piye?" tanya Purwo lagi


"Tadi kami tiduran di depan TV habis pergi makan siang bareng-bareng, trus ibu masuk kamar, lamaaaa, lha saya tadinya mau ambil buku, tapi malah liat ibu sudah seperti itu." kata Lintang


"Oh...tadi pergi maem sama ibu?" tanya Purwo


"ayo dik, cerita aja" desak Bintang


"Ono opo? ayo matur" desak Bu dirdjo


"bulik, biar anak-anak cerita, jangan didesak" sahut Purwo, " ayo, ndhuk matur ke pakdhe lagi"


"Jadi pakdhe, tadi siang kami janjian makan siang dengan ibu di Kusuma Sari. Kami ketemu bapak di sana. Bapak dengan Tante Michelle dan ada cowok bule kira-kira umurnya di atas kami. Adik kih nek matur pakdhe sing lengkap" jelas Bintang


"lho tapi kan ibu ngendika kita ora pareng matur kakung uti dan pakdhe kalau ketemu bapak, mbak..eh" kata Lintang sambil menutup mulutnya kaget.


Purwo terkejut mendengar cerita keponakannya itu. Jadi benar adiknya kembali ke kota ini lagi dengan keluarganya dari Australia itu. " Lha apa bapak pirsa kalau ada kalian di situ?" desaknya kepada Lintang dan Bintang.

__ADS_1


"pirsa, pakdhe, malah ngendika ke ibu begini apa kalian mengikuti kami sampai di sini. Tapi ibu diam saja, malah Bintang yang bilang Bapak kok gitu, trus malah bapak mirsani Bintang tapi diem saja seperti marah."


"mbak Bintang, ibu kan sudah ngendika, kita jangan matur pakdhe..."sahut Lintang


" wisben dik, aku anyel kok sama bapak. Pakdhe, bapak tadi ngendika ke ibu lagi, jangan ada di sekitar kami, aku sudah bahagia kembali ke Michelle dan Andrew, isih kurang sing aku kirim nggo kembar biyen? ibu trus ngajak kami keluar dari Kusuma Sari trus ngajak kami menyeberang ke McD, padahal kami kan pingin makan spaghetty & kroket Kusuma Sari ya dik, jadinya makan hamburger" jelas Bintang lagi.


"mbak Bintang, ibu wis ngendika lhoo, ora pareng matur pakdhe kalau ketemu bapak..." sahut Lintang lagi.


"wis wis ora pareng geger, coba ndhuk Lintang matur pakdhe, bacute piye critane?" tanya Purwo pelan.


"pakdhe, tadi waktu pindah restoran ibu tidak nangis, hanya menggenggam tangan kami erat-erat dan diem saja. Lintang sudah matur ke ibu, mengapa ibu diem saja. Bapak ngendika seperti itu mengapa ibu diem saja" jelas Lintang.


Pak Dirdjo hanya terdiam sambil memeluk cucu kembarnya itu. "maafkan kakung, ndhuk, maafkan kakung" batinya perih.


Purwo hanya terdiam mendengar penjelasan keponakannya itu. Dalam hatinya dia malu terhadap keluarga buliknya itu, sedikit banyak, perkenalan keduanya juga karena dirinya.


Astuti Dewani Saraswati, adalah adik sepupu satu-satunya dari ayahnya karena ayahnya dan bulik Suni hanya dua bersaudara dan mereka sama-sama anak tunggal, jadi Purwo sudah menganggap Astuti seperti adik sendiri. Astuti adalah gadis yang ceria dan lembut, tidak pernah bisa berkata tidak bila ada orang yang membutuhkan pertolongannya sampai Purwo sering mengingatkan : "Dik, sesekali berhentilah memikirkan orang lain, pikirkanlah dirimu sendiri, ingat dengan keadaan fisikmu, jangan sampai lelah" ya, sejak lahir Astuti sudah mengidap kelainan jantung bawaan karena ketika dalam kandungan, buliknya harus bekerja keras karena kecerobohan pakliknya yang mengakibatkan buliknya itu harus tinggal dengan mereka sampai akhirnya bu dirdjo memaafkan pak dirdjo ketika Astuti berusia 1 tahun. Purwa melihat semua itu karena dia sudah berusia 8 tahun waktu itu dan menyaksikan pakliknya berlutut di depan buliknya saat itu. Keadaan Astuti seperti itulah yang memacu Purwo untuk menjadi dokter spesialis jantung.


Purwo meninggalkan si kembar dan mendatangi adiknya di tempat tidurnya.dipandanginya adiknya dengan selang yang melekat di sana sini. "As, kenapa kamu begini, sudahlah, Putra sudah meninggalkanmu kembali ke keluarganya. Maafkan masmu ini yang membuat fisikmu tidak semakin baik malah semakin buruk." sesalnya lagi. Purwo mengambil ponselnya dan menghubungi Emily istrinya.


Setelah beberapa menit, Purwo mendatangi keluarga buliknya itu.


"bulik, paklik, saya akan tanggungjawab, ikut mengurus kedua anak ini kalau ada apa-apa dengan dik As, biarlah mereka ikut saya dengan Emily dan Rio. ndhuk kembar, selama ibu mu sakit, kalian ndherek pakdhe, budhe dan mas Rio ya?" tegas Purwo.


"Aja le, bulik dan paklik sudah banyak merepotkan kalian karena keadaan fisik Astuti" cegah bu Dirdjo.


" mboten nopo-nopo, bulik, dik As adik sepupu saya dari bapak, dik Putra adik sepupu saya dari ibu, permasalahan ini harus ada saya di situ. Akan saya desak Putra untuk ikut memperbaiki keadaan ini"

__ADS_1


Novel pertama saya. semoga berkenan


__ADS_2