Rahasia Ibu

Rahasia Ibu
Episode 5 Titipan


__ADS_3

Mendung menggelayut di atas Kapel St Maria. Kapel adalah sebuah gedung kecil yang menjadi tempat persekutuan komunitas kristiani. Kapel St Maria adalah salah satu kapel yang ada di kota S, yang dibangun  oleh Suster Elisabeth beserta komunitas nya dan berada satu lokasi dengan Panti Asuhan Keluarga Kudus.


Para biarawati saat ini tampak sibuk menata bunga baik di dalam peti jenazah Astuti, di atas meja altar, maupun di depan pintu kapel. Purwo dan Suster Elisabeth tampak berbincang mengenai ibadah untuk pelepasan jenazah nanti. Kembar hanya bisa duduk menangis dalam diam sambil memeluk uti nya. Tampak pula Putra, ayah mereka duduk di belakang mereka. Putra menunggu Purwo untuk membicarakan tentang acara pelepasa jenazah nanti.


Ketika Purwo sudah selesai berbincang dengan Suster Elisabeth, Putra berdiri mendatangi kakak sepupunya itu.


"mas Pur.."panggil Putra kepada kakak sepupunya.


"ya...gimana?"


"maaf, mas, saya mau titip dana untuk diberikan kepada Komunitas, untuk biaya semua acara Pelepasan Jenazah ini"


"maksudnya?"

__ADS_1


"ini mas" sahut Putra sambil memberikan amplop coklat kepada Purwo,"Ini uang saya pribadi, bukan uang Bapak, bukan juga uang perusahaan. Ijinkan saya ikut bertanggung jawab, mas, bagaimanapun juga dik As masih istri saya"


"ya wis, oke, uang ini aku terima dan langsung aku berikan Suster Elisabeth untuk kelancaran acara hari ini. oh ya, Suster Elisabeth berpesan, Romo Emanuel meminta ketemu nanti sebelum pemberkatan pelepasan jenazah "


"nggih mas"


"ingat....ada yang harus kita bicarakan nanti setelah pemakaman"


"nggih mas" sahut Putra, dia selalu mematuhi kakaknya ini, karena dia anak tunggal dan Purwo adalah satu-satunya saudara laki-laki terdekatnya, hanya pada Purwo, Putra tidak bisa memperlihatkan wajah dingin dan datarnya. Putra kembali duduk di belakang anak-anaknya sambil memandang peti jenazah Astuti, wanita yang 13 tahun lalu dijodohkan oleh ayahnya ketika dia sudah memiliki hubungan tanpa status dengan Michelle di negeri orang, seorang janda yang memiliki 1 anak laki-laki, Andrew, yang saat itu berusia 1 tahun. Putra sendiri masih belum bisa memahami, apa perasaannya kepada Astuti, yang dia yakini hanyalah Astuti adalah ibu dari anak-anaknya, Hanya itu.


"mboten saged, Bapak, saya tidak mencintai astuti, dia kan adik sepupu mas Purwo, dan saya tau dia mempunyai kekasih yag dia cintai dan saya juga sudah mempunyai Michelle" sanggah Putra ketika mendengar ayahnya akan menjodohkan dia dengan Astuti.


"ck...sudah berani bantah ya kamu.....disekolahke bapak adoh-adoh malah bali nggawa randha anak 1...ora bisa...lepaskan dia dan menikah dengan Astuti, yang sudah jelas bobot bibit bebet nya"

__ADS_1


dan...memang terjadilah Putra menikah dengan Astuti, dengan pernikahan adat jawa yang lengkap dan pesta resepsi yang meriah dan mewah, namun di dalam hati kedua pengantin itu tidak ada kebahagiaan walau setitik, dan senyuman yang ada hanya senyuman yang dipaksakan, karena mereka masing-masing harus berpisah dengan kekasih hati masing-masing demi sebuah kalimat : "menjaga kehormatan keluarga dan kemurnian darah keluarga"


flashback end


"Maaf apakah anda suami ibu Astuti?" tanya Romo Emanuel memecahkan lamunan Putra


"ya, saya Putra, suami Astuti" sahut Putra sambil menyodorkan tangannya pada Romo Emanuel


"Bapak Putra, secara pribadi saya mengucapkan turut bela sungkawa yang sebesar-besarnya, saya sendiri merasa kehilangan dengan kepergian ibu Astuti. dan secara kebetulan, entah mungkin firasat beliau, seminggu yang lalu beliau datang kepada saya untuk konsultasi dan meminta Sakramen Pengampunan. Saya mengerti yang terjadi dengan anda berdua dan beliau menitipkan surat ini kepada saya untuk anda" Putra terkejut mendapatkan amplop putih dari Romo Emanuel, "bacalah nanti di rumah saja, ibu Astuti juga berpesan supaya ketika anda membaca, anda sedang tidak dengan keluarga anda" kata Romo Emanuel sambil berbisik dan memandang Michelle dan Andrew, keluarga baru Putra, yang saat itu disamping Putra dan masih sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Baik romo, saya bisa mengerti, terima kasih banyak" sahutnya sambil memasukkan amplop itu ke dalam saku nya.


"Permisi, bapak, saya menyiapkan diri untuk misa pelepasan jenazah dulu"

__ADS_1


"oh ya silahkan Romo"


__ADS_2