
"Ora bisaa...." teriak Pak Hadiwijaya sambil menggebrak meja, "Astuti masih terhitung menantu ku, jenazahnya harus dibawa ke joglo nDalem Menggungan dan harruss dimakamkan di makam keluarga kami..!"
"Bapak, mbok sampun to, tidak teriak-teriak di RS seperti ini, malu, pak" kata Bu Hadi mengingatkan.
"Lestari, aja melu-melu" teriak pak Hadi lagi.
Bu Hadiwijaya tertegun, karena pak Hadiwijaya memanggil nama kecilnya, tanda dia benar-benar marah. Sama seperti ketika Putra mengatakan akan mengembalikan Astuti ke keluarganya.
"Nyuwun ngapunten, mboten saged, Kamas Kanjeng" sanggah Pak Dirdjo, "Astuti sudah berpisah dengan Putra secara Hukum, walau pembatalan dari gereja belum turun, jadi ya tetap harus dibawa ke rumah kami"
"eh...Dimas Dirdjo, jangan sembarangan ya, Astuti tetep menantuku, walau Putra pulang membawa Michelle. tapi tetep Astuti itu masih istri Putra" sanggah pak Hadiwijaya lagi sambil kembali menggebrak meja.
"Sekali lagi, mboten saged Kamas Kanjeng....mereka sudah berpisah!!" teriak Pak Dirdjo lagi
"Ora bisa Dimas, mosok menantu Tumenggung Hadiwijaya kok ora disemayamke ning nDalem Menggungan"
Kembar hanya bisa menunduk menangis sambil berpegangan tangan melihat kedua kakeknya berseteru berebut untuk dapat menyemayamkan ibunya. Mereka sudah lemas menangis sejak tadi sambil memeluk uti nya. Rio yang melihat itu segera mengajak mereka untuk menghindar dari keributan itu.
__ADS_1
Sementara itu di bagian administrasi
tap...tap....
terlihat seorang dokter paruh baya usia 50 an berjalan tergesa-gesa mencari Purwo. Dia adalah Prof. Danu, Kepala RS itu
"Dokter Purwo...dok...dokter..." panggil Prof Danu.
"Oh nggih Prof, bagaimana?" tanya Purwo
"Haduuhhh itu keluarga muuu ribut di depan ruang jenazah, rebutan membawa pulang adikmu, sebenarnya sudah ditangani security, tapi mengingat paklikmu itu...anu...masih ningrat, mereka tidak berani...tolong lah dok, dikondisikan paklik-paklikmu itu. Ini Rumah Sakit. ajak keluar dulu, bicara di luar." Pinta Prof Danu.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka berbincang, tampak seorang biarawati mencuri dengar perbincangan itu.
"Mohon maaf, pak purwo ya?" tanya biarawati itu
"oh Suster Elisabeth...iya suster" jawab Purwo
__ADS_1
"Maaf, saya tadi kebetulan lewat dan mendengar, maaf apakah benar perkiraan saya kalau bu As meninggal, karena tadi kok Prof Danu berkata adik dokter."
"ah iya, Suster, sebenarnya dia baru dirawat 2 hari, tapi ternyata tidak bisa saya pertahankan" jawabnya sendih
"aduhhh padahal ini saya dengan teman-teman komunitas mau jenguk beliau, kami sudah tau kalau Bu As dirawat, dari daftar pasien yang harus dilawat, aduhh Bu As sangat perhatian dengan komunitas kami, beliau setiap Senin Kamis selalu datang untuk mengikuti acara Doa Bersama dan merupakan salah satu donatur untuk Panti Asuhan Putri kami, bahkan beberapa kali membawa dik kembar mengunjungi panti asuhan kami, bahkan ada teman komunitas selalu menganggap beliau sebagai salah satu anggota, maaf, karena status sendirinya" jawab Suster elisabaeth.
"Ahhh...saya ada ide untuk mengkondisikan paklik-paklikmu itu, dok" kata Prof Danu
"bagaimana, prof" tanya Purwo
"Begini saja, bagaimana kalau jenazah adikmu itu disemayamkan di Kapel komunitas Suster-Suster?toh mereka sudah menganggap adikmu sebagai saudara, ya too, tapi cobalah dulu membujuk, kapel suster elisabeth sebagai alternatif terakhir, bagaimana setuju?suster juga setuju?"
"Baik Prof, jangan kuatir, untuk tempat dan segala keperluannya akan saya aturkan dengan teman-teman komunitas. Saya segera dikabari saja, pak purwo" jawab Suster Elisabeth.
"Baiklah, Prof"
Purwo berjalan cepat ke ruang jenazah sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk keluarga besarnya. Dan benar saja, keluarga paklik-pakliknya berseteru di depan ruang jenazah. duuhh pikirnya, mengapa paklik-paklik inii
__ADS_1
Setelah perdebatan yang membuat Purwo naik darah, akhirnya disepakati kalau jenazah Astuti disemayamkan di Kapel Komunitas Biarawati dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kristiani di Kota S itu.Itu pun juga karena si kembar sudah ikut marah karena kedua kakeknya memperebutkan jenazah ibu mereka.