Rahasia Ibu

Rahasia Ibu
Rasa yang terpendam


__ADS_3

15 tahun yang lalu


"dik As, maaf, boleh minta waktu?" tanya Suryo sambil mengatur nafasnya


"lahhh mas Suryo...kok lari larian lhooo, As ditimbali aja, kok sampai lari-lari gitu.." Astuti menghentikan langkahnya sambil berbalik ke arah Suryo.


Suryo Bagaskara, seorang duda beranak 1, rekan kerja Astuti. Suryo di bagian keuangan dan Astuti di bagian Umum. Suryo sudah beberapa bulan ini memendam perasaannya terhadap Astuti, tapi ditahannya, Suryo merasa minder dengan gadis di depannya. Manis, pintar dan cekatan. Sedangkan dia hanya seorang karyawan biasa, apalagi dengan statusnya duda beranak 1, keberanian mengatakan perasaan itu langsung menguap tertiup angin. Dia hanya berani mendekati hanya sebagai sahabat saja tanpa berani mengungkapkan rasa.


"dik As, mas mau minta tolong" pinta Suryo


"apa mas, monggo ngendika aja" jawab Astuti


"bisa ke ruangan saya sebentar? atau dik As sudah buru-buru mau pulang?"


"oh, mboten mas, ada apa to?"


"syukurlah...ayo ke ruangan saya sebentar"


Astuti mengikuti Suryo sambil bertanya, "ada apa to mas?"


"ini lho dik, si Yudhis, diantar ke sini sama ibu saya, ibu saya tiba-tiba ada keperluan, padahal pak Banu ngajak meeting jam 16.00 ini, bisa minta tolong temani Yudhis?"


"owalahh...ada Yudhis tooo...iyaa ga papa, mas Suryo, kirain ada apa lho... kalau temani Yudhis sih mau banget...kalau gitu saya telpon mas Purwo dulu, biar ga jemput saya"


"lho Purwo mau jemput? waduh ga enak aku dik"


"sampun, mboten susah sungkan lho mas, sama sahabat sendiri kok ga enak"


Iya, Purwo adalah sahabat Suryo, mereka berteman ketika SMA dan berpisah karena memilih tempat yang berbeda untuk kuliah. Purwo memilih ke Fakultas Kedokteran dan Suryo di Fakultas Ekonomi.


"sekedhap mas, saya telpon mas Purwo dulu"


Astuti mengambil ponselnya dan menghubungi Purwo


"hallo..mas purwo.."


"hallo...dik As, mas jemputnya agak sore ya, belum bisa keluar dari Rumah Sakit"


"mas tidak perlu jemput, saya dititipi Yudhis, putranya mas Suryo, nanti saya pulang naik taxi saja, mas"


Purwo di seberang sana hanya mengernyitkan dahinya "Suryo, aku sudah bilang, hentikan rasamu pada Astuti, aku tidak mau luka diantara kalian karena paklik Dirdjo.." batinnya, "oh ya wis ra popo, mengko ati-ati ya.."


"nggih mas"


Purwo mengetuk-ngetuk pangkal hidungnya, sudah beberapa kali dia mengingatkan teman baiknya itu, untuk tidak terlalu dekat dengan adiknya, apalagi kalau bukan karena statusnya, sayang sekali, karena sebenarnya Purwo sangat mengenal bagaimana Suryo, tapi dia pun sangat mengenal bagaimana paklik Dirdjo nya itu, bahkan paklik Dirdjo selalu terang-terangan minta bantuannya untuk mendekatkan Astuti dengan sepupu brengseknya Putra. hanya karena status ayah Putra yang keturunan bangsawan dan presdir perusahaan itu.


Setiap Purwo mengingatkan Suryo tentang itu, Suryo hanya menjawab, "Pur, aku nyaman dengan dik As, aku mencintainya, Pur, walau aku masih malu untuk mengakuinya di depan dik As"


Purwo tahu persis tentang itu. Teman baiknya itu tidak akan mengingkarinya, sudah 4 tahun teman baiknya itu sendiri, karena kematian Ratih istrinya ketika melahirkan Yudhis, dan ketika mengenal Astuti akhirnya dia merasakan kembali rasa yang sama. Bahkan Purwo yang secara tidak sengaja mengenalkan.mereka, ketika Rio mendapat undangan ulang tahun Yudhis, 3 bulan yang lalu, Purwo meminta Astuti menemani dia dan Rio ke pesta ulangtahun itu karena Emilh harus mengantar ibunya ke rumah saudara jauh mereka. di acara itulah Purwo baru menyadari bahwa Astuti dan Suryo bekerja di perusahaan yang sama.


"aku tau sobat, aku tau...aku tau tentang rasamu, mudah-mudahan As belum merasakannya"batin Purwo


"maaf dok, ada pasien datang di IGD" panggil perawat membuyarkan lamunannya dan membuatnya berlari menuju IGD kembali.

__ADS_1


kembali pada Astuti


"mas Suryo, mana Yudhis?"


"itu di meja saya"


Astuti melayangkan pandangan ke meja Suryo, diliatnya anak lelaki berpipi gembul itu sedang menggenggam pinsil warna di tangan kanan dan kripik kentang di tangan kiri.


"lho lho...si ganteng Yudhistira....mau maem apa mau gambar. kalau mau gambar, kripik kentangnya ditaruh dulu.."


"mau gambal tante..." jawab Yudhis dengan suara cadelnya sambil tetap mengunyah kripik kentangnya.


"lho...kalau mau gambar, kripik kentangya sampun dulu ya, nanti kertasnya kotor" kata Astuti sambil mengeluarkan tissu basah dari dalam tasnya.


"he em.." jawab yudhis


"Yudhis, nunggu bapak disini ditemani tante As ya, bapak masih ada rapat"


"he em" jawab Yudhis


"nurut lho, ora pareng rewel"


"he em bapaakkk, sudah lapat sanaaa aku mau gambal sama tante As" sahut Yudhis sambil merengut...


"sampun sampun mas, biar Yudhis dengan saya, sudah ditunggu pak Banu lho"


"nggih sampun, dik, titip Yudhis nggih" kata Suryo sambil berjalan mundur keluar ruangan seolah enggan meninggalkan mereka.


"nggih mas"


Suryo melangkah keluar ruangan rapat dengan langkah gontai,"haish..urusan dropping dana ke pabrik nih jan...menguras energi ku.." keluhnya dalam hati. tapi perasaan itu berubah 180° karena melihat anak kesayangannya tertidur pulas di pangkuan gadis idamannya. Gadis itu pun terlihat memejamkan mata. Hati Suryo seketika menghangat melihat mereka.


Suryo segera menghampiri mereka lalu menekuk kakinya untuk melihat Astuti dari dekat. Suryo benar benar terpana menyaksikan kelembutan wajah Astuti, alis matanya yang melengkung sempurna, hidung mungilnya, bahkan bibirnya yang mungil itu sungguh sempurna di mata Suryo. Ya Tuhan, sempurna sekali ciptaan Mu ini, batinnya. perlahan dia mengulurkan tangannya untuk merapikan anak rambut Astuti. sentuhan itu mengagetkan Astuti, seketika itu mata Astuti membulat dan pipinya pun merona karena wajah Suryo yg begitu dekat. mereka pun terpaku selama beberapa detik.


Suryo segera tersadar, memalingkan wajahya dan memundurkan badannya sambil berkata " menjaga Yudhis melelahkan ya dik"


"eh mboten mas, maaf saya ketiduran" jawab Astuti sambil terus menundukkan wajahnya untuk menjaga supaya degup jantungnya normal. "Aduh aku kenapa ini, kenapa seperti ini memandang mas Suryo?" batin Astuti.


Suryo menghilangkan rasa groginya dengan memberesi perlengkapan gambar Yudhis dan membuang bungkus kripik kentang.


"Ayo dik, saya antar pulang"


"duh, mboten mas, saya naik taxi saja" elak Astuti


"jangan dik, saya harus antar dik As, itu Yudhis saja masih angler gitu dipangku dik As"


"oh nggih sampun, mas"


Astuti pun menggendong Yudhis yang masih tertidur lelap.


Keheningan yang terjadi di dalam mobil. Astuti memalingkan muka, pura-pura melihat ke arah luar jendela, umtuk menyembunyikan rasa malu dari wajahnya.


"mau makan apa, dik" kata Suryo memecah kesunyian

__ADS_1


" mboten, mas, mboten susah repot repot."


"ah ga, dik, Yudhis ya belum makan, atau beli di drive thru aja ya"


"monggo terserah mas saja"


setelah berhenti membeli makan di drive thru, mereka melanjutkan perjalanan.


"dik, nyuwun ngapunten, ini saya antar ke rumah Purwo saja nggih"


" lho mas Suryo belum tau to, rumah saya dan rumah mas Purwo itu satu halaman"


"eh iya to?yang rumah sebelah timur itu?"


"nggih mas"


"lha saya kok ga pernah lihat dik As to?"


"ah mas aja yang ga lihat, saya selalu lihat mas kalau mas main ke rumah mas Pur, juga kalau ajak mbak Ratih, saya juga lihat" kata Astuti sambil terus berusaha menyembunyikan rona merah pipinya.


"eh apa iya, dik?"


"nggih mas"


"ya Tuhan, mengapa aku menyia-nyiakannya"sesal Suryo dalam hati.


Tak berapa lama, mereka sampai rumah Astuti dan Astuti pun pamit memasuki rumahnya.


Purwo yang menyaksikan hal tersebut dari rumahnya, segera keluar untuk mendapatkan teman baiknya itu.


"Suryo, aku kan sudah wanti wanti to..."


"Pur, seperti yang aku bilang dulu, aku minta maaf karena aku mencintai adikmu. Injinkan aku ya Pur"


"maaf Sur, aku hanya tidak mau ada perselisihan dengan kita nantinya"


"Pur, biar waktu yang menjawab"


"yo wis, kae anakmu selak kesel"


"oke Pur, aku pamit sik ya, salam nggo Emily"


" ya..ya..."


"suryo, aku tau, sobat, aku tau"


sementara itu ternyata Astuti masih dibalik pintu dan mendengar semua perkataan antara Purwo dengan Suryo, "apa betul itu, mas Suryo mencintaiku?"


"ana apa ndhuk kok ndhelik ning mburi lawang?" suara berat ayahnya mengagetkannya.


"eh mboten bapak, sampun bapak, saya ke kamar dulu" jawab Astuti sambil berlari ke kamar nya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2