
Kembali saat sekarang
"Bagaimana, ndhuk kembar, ndherek pakdhe budhe nggih?" tanya Purwo lagi kepada si kembar.
"Mboten mawon, pakdhe, kami bersama kakung uti saja" Jawab Bintang
"Nggih pakdhe, beberapa hari ini kami sudah menginap di rumah Uti, di kamar ibu yang lama" sahut Lintang kemudian
"o nggih to, bulik?"
"Iya le, beberapa hari ini, kembar karo ibune menginap di rumah bulik. Bulik baru kepikiran tumben mereka menginap lama, padahal kembar sekolah. Baru rencana nanya kamu, Pur, menawa adimu cerita-cerita"
"Mboten cerita napa-napa, bulik"
"Untung pas kejadian di rumah kakung ya ndhuk, jadi kalian ora bingung" sahut pak dirdjo sambil mengusap pucuk kepala Bintang
"Pakdhe, sebetulnya ibu kenapa?" tanya Lintang lagi
"wis wis, kembar pulang dengan kakung uti dulu, istirahat, besok sekolah biar diantar budhe" perintah Purwo kepada kembar, "Bulik, paklik, kondur kemawon, istirahat, biar saya yang menjaga dik As"
"iyo, le, titip adimu ya, wis sesuk bocah-bocah diantar pak jo saja" sahut pak dirdjo
"o iya, apa emily sudah dikabari?"
"sampun, bulik"
"ya wis, ya wis, bulik kondur sik ya, ana apa-apa gek ndang ngabari"
"nggih bulik"
-
-
di dalam ruang perawatan
Purwo memandang lekat-lekat wajah adiknya yang pucat itu "dik, apa lagi ini, kenapa seperti ini lagi, kamu sudah lama tidak seperti ini, apa pengobatanmu sudah tidak kamu teruskan? apa Putra yang menyebabkan seperti ini?"gumamnya
"mas" terdengar suara wanita yang disayanginya di belakangnya
"mil, kok mrene?rio karo sapa?kok ditinggal?" tanya Purwo kepada istrinya.
"mboten nopo-nopo, mas, rio di rumah bulik, lha kembar pundi?"
__ADS_1
"pulang ke rumah uti nya. oh iya, paklik tadi ngendika, besok anak-anak biar berangkat sekolah dengan pak jo aja, rio biar sekalian" sahutnya lagi
"nggih mas. lha kok ga ketemu ya tadi?"
"lha nembe wae kok mulihe"
"oh pantesan. pripun dik as, mas? wong sudah sejak kembar lahir mboten sakit, kok sakit malih to mas?"
"lha iyo kuwi, dik, apa pengobatannya tidak dilanjutkan ya? duh aku kok ya ga ngecek di Fahmi lho" sahut Purwo sambil memegang pangkal hidungnya. dr Fahmi adalah salah satu dokter ahli spesialis jantung di kota mereka dan merupakan teman Purwo di fakultas kedokteran.
" lha nggih to, pripun to mas, kok nggih mboten ngendikan kalih mas fahmi" kata Emily lagi.
"sik sik, tak telpon Fahmi" kata Purwo sambil mengambil ponselnya.
"sampun mas, mbenjing mawon"cegah emily"kan sudah ditangani di sini to, besok pagi-pagi mas Fahmi ditelpon. Ini mas, saya bawakan kopi di termos" kata Emily sambil memberikan termos kecil kepada suaminya.
"oh ya dik, ditaruh meja dulu. Titip sebentar ya, mas ke kamar mandi dulu"
"nggih mas"
-
-
si rumah keluarga pak dirdjo
"lho rio disini?" bu dirdjo keheranan melihat Rio terkantuk kantuk di sofa
"nggih uti, ibu nusul bapak ke rumah sakit nunggu bulik as"
"oh ya wis, tidur di sini, le?"
"nggih uti"
"ya wis, bobok bareng kembar purun?"
"ah mboten mawon, uti, saya di depan tv aja" tolak Rio
"nggih uti, kami kan sudah besar, mosok tidur bareng mas Rio" tambah Bintang
"Oh gini aja uti, saya pakai karpet di depan kamarnya kembar aja uti, siapa yang jaga mereka kalau bukan saya mas nya kembar sing nggantheng dewe" sahut Rio sambil menepuk dadanya
"hilihhhh gayaaaa" kata Lintang sambil menepuk pundak mas nya
__ADS_1
"eh uwis uwis...iki lho kok ga ada yang bantu kakung, ngangkat tas" kata pak dirdjo sambil mengangkat tas plastik isi makanan kecil persiapan untuk jaga di rumah sakit besok
"o nggih, kung, mana kung saya bawakan" kata Rio
"hmm...ini hati-hati" kata pak dirdjo sambil memberikan plastik besar ke Rio
"oh ya, pak Jo, pulang dulu saja, istirahat sik, besok datang agak pagi ya, antar anak-anak sekolah" perintah pak dirdjo kepada pak jo sopirnya.
"nggih, ndoro, lha nopo ibunipun lare-lare besok saya ajak ke sini, biar bisa giliran nunggu di rumah sakit" kata pak.jo
"oh gitu juga boleh pak jo. wah nuwun banget lho pak jo"
"nggih ndoro, ini kunci mobilnya, ndoro, garasi juga sudah saya kunci, pareng rumiyin"
"ya ya. oh iya, aja lali pagar depan di kunci"
"nggih, ndoro, pareng" pamit pak jo
"hmm" gumam pak dirdjo
"pak jo, matur nuwun ya, aja lali sesuk rada esuk ya, ngati ati ning ndalan" sahut bu dirdjo dari dalam rumah.
"nggih, ndoro putri, dalem pareng rumiyin" pamit pak jo lagi cepat-cepat, kalau tidak cepat-cepat bisa-bisa ada tambahan pesanan lagi dari ndoro putrinya ini.
di dalam kamar
"mmm..mbk Bintang" panggil Lintang
"ya? eh lhaaa kok nangis.." kata Bintang sambil mendatangi adiknya. " gimana.."
"nek umpama, ibu ada apa-apa gimana dengan kita?" tanya Lintang sambil menangis pelan
"huss jangan gitu, kita percaya saja, ibu sudah ditangani pakdhe dan teman-temannya. Kalau pun...kalau punn..." kata Bintang sambil menghembuskan nafas berat, "kalau pun ibu ada apa-apa, kita berdua saling menguatkan ya"
"iya mbak..." jawab Lintang sambil memeluk kakaknya dan sambil menangis.
"sudah jangan nangis terus, nanti uti dengar, sudah sudah.."
tanpa mereka sadari Rio mendengar pembicaraan itu " heitss apa iki kok nangis nangis...sttt...nanti didengar uti, uti sudah nangis terus dari tadi, tenang aja ada mas Rio..." kata Rio menenangkan mereka.
"sudah dik kembar sekarang tidur dulu, besok sekolah, mas Rio tidur di depan pintu kalian, kalau ada apa-apa bilang ya"
"nggih mas" sahut kembar bersamaan.
__ADS_1
"sudah dik Lintang, yang penting kita berdua saling menguatkan" kata Bintang lagi setelah Rio keluar.
"tenang aja dik, mas akan menjaga kalian" batin Rio di luar kamar sambil menata karpet tidurnya.