Rahasia Ibu

Rahasia Ibu
Awal cerita


__ADS_3

Cerita setelah part ini flash back dari 13- 14 tahun yg lalu


ngaturaken sugeng maos


Sore yang indah di sudut pegunungan Tawangmangu, di salah satu villa milik Tumenggung Hadiwijaya.


"Sebenarnya apa yang pikirkan, dear, dari tadi diam saja, katanya ajak aku & Andrew menghirup udara segar, kok diam saja" kata Michelle sambil menggendong Andrew yang tertidur setelah kenyang menyusu.


"Hai, boy, kok malah merem..hmm, mau diajak daddy lihat air terjun lho" sahut Putra sambil mengelus lembut pucuk kepala Andrew.


"hmmm...kok lain yang dibicarakan"


Michelle yang warga Australia fasih berbahasa Indonesia karena Ibu nya Jawa Madura yang sudah menjadi warga Australia. Dia sendiri sangat aktif di perkumpulan mahasiswa Indonesia di Australia, bahkan menjadi jurnalis untuk surat kabar perkumpulan. Di perkumpulan itulah dia berjumpa Putra Abimanyu, pemuda Jawa ningrat yang mempelajari Bisnis Inovasi di MU salah satu universitas di Australia. Pemuda Indonesia yang dingin terhadap teman-teman gadisnya yang lain namun hangat jika bersama teman-teman Indonesia nya, bahkan Putra bersedia menampung dia yang ditinggal kekasihnya karena setelah tahu dia hamil. Mereka pun sudah tinggal bersama lebih setahun ini, dan kedatangan nya di Indonesia ini sebenarnya untuk meminta restu kepada orang tua Putra untuk melegalkan ikatan mereka.


Tapi lalu disinilah mereka, di villa keluarga Putra, di daerah pegunungan bernama Tawangmangu jauh di timur Kota Solo, karena orang tua Putra yang tidak menerima Michelle dan Andrew bahkan tidak mengijinkannya tinggal di rumah Menggungan. Apalagi alasannya kalau bukan statusnya yang tidak jelas, gadis bukan tapi sudah ada Andrew.


"ada apa.. mmm..?"


"apakah kau menerima apa yang akan aku ceritakan?"


"ya...cerita saja"


"Aku...dijodohkan...dan harus menerimanya, dan harus menikahi gadis itu 3 bulan lagi" sahut Putra pelan sambil terua menatap sungai yang jauh di bawahnya.


Michelle terdiam dan menggeser letak duduk nya, tangannya sibuk membenarkan letak topi Andrew untuk menutupi kekagetannya. "Mm..apakah karena..mm statusku?" tanyanya.


Michelle berfikir pasti yang dijodohkan adalah anak dari sesama pemilik industri batik atau sesama ningrat, yang statusnya jauh dari dirinya.


"Mm..gadis itu bernama Astuti, dia teman mainku waktu kecil, ibunya adik dari Pakdhe Hendro, ayah mas Purwo, ibuku adik dari Budhe Hendro, jadi ya kami sebenarnya masih saudara, orang jawa menyebutnya kadang katut , saudara karena hubungan ipar. Gadis itu sebenarnya juga sudah memiliki kekasih, aku bahkan mengenal Suryo, kekasihnya, seorang duda beranak 1, sudah bekerja, mapan dan baik juga seiman, kami bertemu di mall bahkan kami makan siang bersama, waktu itu ketika aku pulang diam-diam untuk menemui mas Purwo beberapa bulan yang lalu, mereka sedang berjalan-jalan bertiga.....lalu.." Putra menghela nafas sambil menyugar rambut tebalnya.


"Orang tuanya tidak menyetujui hubungan itu dan begitu juga orang tua mu...tidak menyetujui hubungan kita.." sambung Michelle sambil menatap Putra. Dipandangnya lelaki itu, lelaki Indonesia yang menaklukan hatinya karena kelembutannya, dia heran, benarkah dulu lelaki ini sebrengsek yang pernah diceritakan, sepertinya tidak, dia lembut luar biasa, bahkan terhadap Andrew yang bukan anaknya.


"Lalu....mereka sepakat untuk menjodohkan kalian, untuk menjauhkan kami dan juga Suryo dan anaknya?" sambung Michelle lagi.


"Dan orang tua mu memaksa karena status Ayahmu yang...mm...Tumenggung itu..dan kamu sulit menolak karena kamu anak mereka satu-satunya yang harus mmm...menjaga keturunan yang...mmm.." sambung Michelle lagi. Putra memandang heran kepada Michelle..bagaimana dia bisa tau semua batin Putra


"Yah...seperti itulah...aku..harus bagaimana Michelle.." Putra mengusap wajahnya kasar sambil membuang muka.

__ADS_1


(Playlist..."Waktu Tersisa" oleh Kla)


Sayup sayup terdengar suara Katon Bagaskara menyanyikan "Waktu Tersisa". Rupanya ada pemuda yang menyalakan aplikasi musik sambil mencari rumput.


Adakah...waktu tersisa..


Menyanggah segala prasangka punya mereka...Ketika norma peradatan terpilih menjadi alasan...Mereka ciptakan jurang antara kita....


Sampai saat akhir nanti...Kita berusaha bertahan...Karena cinta datang untuk menolak perbedaan....


"Aku harus bagaimana, Michelle, kamu tau sendiri, begitu brengseknya aku di masa remaja, aku bertekat untuk menuruti kata Rama, bahkan bersekolah di Australia mengambil Inovasi Bisnis juga untuk bisnis Rama, karena dulu sebenarnya cita-citaku masa remaja adalah menjadi drummer..., Astuti sendiri tidak ingin ada perjodohan ini, dia pun menentang kuat, kami sedari kecil bersama, kami memang saling menyayangi, tp ya ga trus dijodohkan seperti ini, Suryo sebenarnya sudah mapan, seiman, duda nya juga karena ditinggal meninggal istrinya, anaknya juga sudah lekat dengan Astuti...trus aku kudu piye (lalu aku harus bagaimana) " sahut Putra sambil menerawang...


drrttt....drtt....


"Dear, ada yang menghubungi, diangkat dulu..." potong Michelle..


"mmm..Astuti, dear" kata Putra memperlihatkan telepon genggamnya


" ya diterima aja, dear" sahut Michelle, " tapi kau tetap disini" sahut Putra sambil menggeser ke terima dan me loudspeaker nya..


"hallo..mas Putra...sedang dimana?"


"oh nggih, wonten Tawangmangu nggih saya dengar dari Mbok Ti (Mbok Ti adalah pengasuh Astuti yang merupakan adik dari Mbok Jum yang merupakan pengasuh Putra...yah gitu reader...pengasuhnya pun harus yang udah kenal deket) Mas Putra sowan Pakdhe Kanjeng (mengunjugi Ayah) dengan Michelle"


"iya...ini Michelle dan Andrew dengan saya"


"mm..ini Mas loudspeaker ?"


"..iya..piye dik, ora popo to nek di speaker ?" (bagaimana, dik, tidak apa apa kan kalau di speaker?)


" mboten nopo-nopo, mas, malah keleresan , (tidak apa-apa, mas, malah kebetulan) mbk Michelle hi, nice to meet you"


"salam kenal mbak As, saya bisa berbahasa Indonesia kok"


"lho..bisa bahasa Indonesia?"


"Iya, mbk As, ibu saya Jawa Madura, ayah saya Australia" jelas Michelle.

__ADS_1


" oh ya..mas Putra, sepertinya kita harus bertemu karena, anu...budhe Hadi & pakdhe Kanjeng memaksa kita untuk bertemu dan sudah mem booking kan tempat."


"Ck...kok ya sudah booking tempat segala..."


"maaf nggih mbk Michelle, itu sebenarnya...." kata Astuti


"mm ya... saya sdh tau ceritanya.." potong Michelle


" oh..nggih.."


" trus, ning endi kapan dik? " tanya Putra


" o nggih di cafe Atria, dekat Mangkunegaran, lantai 2, besok malam jam 7"


"oh ya sesuk wengi (besok malam ya)...oke"


"nggih mas, bidhal piyambak piyambak mawon nggih (berangkat sendiri-sendiri saja ya) "


"oh arep budhal karo Suryo? ( oh mau berangkat dengan Suryo) "


" mboten mas, perkawis mas Suryo, mbenjang dalem matur mas (tidak mas, terkait mas Suryo, besok saya bicara dengan mas)"


" oh ya wis ( ya sudah) sampai besok"


" nggih mas, sampai besok, monggo mbk Michelle"


"nggih, monggo mbk As"


Putra menutup pembicaraan lalu menyimpan dalam saku, sambil menghela nafas kasar. Dia mengulurkan tangannya mengambil Andrew dan menimangnya sambil berjalan kesana kemari. Michelle hanya bisa menunduk tidak tahu apa yang harus dikerjakan, apalagi tiga bulan ke depan, setelah perhelatan besar itu, apa yang terjadi dengan mereka.


" mmm..makan siang nya sudah siap, dear, tadi Mbok Nah nitip pesen gitu "


mbok Nah adalah adik dari mbok Jum juga ya gaiss...


" oh ya..."


" mmm..nanti kita bicarakan lagi, sekarang makan dan istirahat" hanya itu yang bisa terucap dari mulut Michelle..

__ADS_1


" oh ya.."


nengga malih tutugipun nggih...


__ADS_2