
Sebelum menikah dikeluargaku memiliki sebuah tradisi, meminta restu pada leluhur, kerabat, kakek juga nenek yang sudah meninggal, dengan mengunjungi makam mereka. Yang paling berat aku harus ke desa tua itu lagi, menghampiri makan saudara kembarku Jasmine Mariye, kematiannya 27 tahun lalu menyisakan luka.
Ladang demi ladang aku lewati mobil yang aku naiki melaju, aku rasa desa kelahiranku kini tlah berkembang. Tapi tetap saja masih desa paling terpencil.
Terlihat orang-orang desa terheran melihat mobil mewah melaju di desa mereka. Bangunan megah satu-satunya termegah didesa ini tlah Nampak. Sangat berat untuk kesini lagi, aku membuka Gawai, sebuah pesan aku terima.
[sayang, sudah sampaikah?maaf tidak bisa ikut denganmu....kau tau pekerjaan sebagai CEO tidaklah mudah jika sudah sampai balas pesanku.. i miss u]
Pria itu calon suamiku, pria yang sangat aku cintai. Tidak disangka aku berjodoh dengannya, seorang Ceo kaya raya muda yang entah kenapa menjatuhkan hatinya padaku. Beruntung, benar sekali. Aku hanya wanita berusia 35 tahun yang sudah pesimis mendapatkan jodoh,tiba-tiba seorang lelaki muda berumur 27 tahun menyatakan cinta padaku.
Meski didesa ini keluargaku cukup terpandang, kakek memiliki ladang berhektar-hektar namun setelah beliau wafat harta habis tak tersisa hanya tersisa rumah dan satu ladang kecil yang kini dirawat adik Ayah. Sementara anak-anak yang lain termasuk Ayah merantau ke kota lain.
"Sudah sampe nyonya."
Ucap supir yang ditugaskan calon suami untuk mengantar.
Udara cukup sejuk dan angin berhembus cukup kencang, tante menyambut dengan senyuman.
"Ponakan tante sayang...." dia memeluk,
"Dimana ayah dan ibu?" yang aku tau mereka sudah kemari lebih dulu sehari yang lalu.
" Mereka sedang pergi, mungkin nanti malam baru datang, biasalah nostalgia ketetangga mengabarkan kamu akan menikah."
"Kan bisa nyuruh orang tante, ibu ma ayah dah tua nanti capek."
"Biar silaturahmi kok, ayo masuk istirahat."
Tante tersenyum dipandangnya ujung kaki sampai ujung kepala,
"Sekarang makin cantik ya Mariye?"
tidak aku jawab pertanyaan tidak penting dari tante.
"Tante? supir yang mengantar juga perlu istirahat."
"Iya kamar sini kan banyak, nanti tante siapkan kamar untuk supir. Kamu mau tidur dikamarmu dulu?"
Deg, detak jantung ini seakan berhenti, kamarku. kamar tidur dengan Jasmine....
"Mariye... Rose Mariye?"
Tante memanggil berkali-kali cukup memecah lamunan.
"Iya tante..."
__ADS_1
"Tante sudah membersihkan kamarnya, kamu bisa istirahat sambil nostalgia..."
Aku tersenyum, sekarang aku berdiri tepat didepan kamar. Kubuka pintu pelan, aroma wangi melati teramat menyengat, mungkin tante habis menyemprotnya dengan pewangi ruangan, jendela kamar terbuka lebar disamping jendela terlihat cermin itu, lagi. Aku meraba meja rias mengenang masalalu kini aku bercermin, aku sangat mirip dengan Jasmine, dulu jika tidak meninggal harusnya Jasmine seperti aku sekarang menikmati masa muda, menikah.
Aku terdiam menatap cermin, tapi kulihat cermin itu tersenyum menatap. Senyumnya semakin lebar, kini giginya terlihat tambah menganga hampir melewati telinga. aku berdiam tegak tidak bisa teriak tidak bisa berlari. aku takut, tante tolong aku.
"Rose Mariye?" suara tante membuat bayangan itu hilang, kini kembali normal kulihat wajah panik ini dicermin.
"Tante?" aku berlari memeluk tante
"Kenapa Mariye?"
"cermin itu menakutkan."
Tante menatap cermin.
"Aku tidak mau dikamar ini tante, bisa carikan kamar lain?"
*****❤❤❤***
Tante mengantar aku kekamar lain,
"Ini dulu kamar anak tante?"
Ku terdiam, bingung.
"Kamu mana tau?sejak pindah dari desa ini, kamu dan orang tuamu tidak pernah lagi datang kesini."
Iya aku ingat dulu saat aku pindah dari tempat ini, tante dalam keadaan hamil, tapi tante belum menikah waktu itu.
"Dimana sekarang anak tante?"
Tante tersenyum, "anak tante bekerja diluar kota sibuk sekali jarang pulang!"
"Siapa namanya tante?"
"Wildan..."
"Wildan?" seperti nama calon suamiku. " calon suamiku juga bernama wildan." lanjutku.
"Oh ya?tapi tidak setampan anak tante."
Kami tertawa, sejenak melupakan kejadian tadi. Aku memasuki kamar, seperti inikah kamar seorang pria.
"Kamu kenapa tadi?" tante menanyakan kejadian tadi.
__ADS_1
haruskah aku cerita....
atau....
"Tidak apa tante. Aku hanya teringat masa lalu, kehilangan Jasmine sesuatu yang slalu aku sesali?"
Tante menatap, memegang pipi, mengecup kening dan memeluk.
"Tante mengerti!"
*** ❤❤❤***
Malam ini, hujan mengguyur. aku menunggu ayah dan ibu sampai ketiduran.
Terdengar suara langkah kaki berjalan di koridor. mungkin tante... atau supir Wildan ntahlah... terdengar ketukan dari pintu jendela suaranya berbisik "Rose" suara bisikan itu membuat bulu kudu merinding,
"Rose...cari aku."
Suara itu mirip suara Jasmine?
Aku buka korden jendela, terlihat sekilas sesosok gadis kecil berlalu, ku naiki jendela dan melompat. Aku ikuti, ya dia Jasmine.
Dia mengarahkan aku kesuatu tempat.
"Tolong aku Rose."
Jasmine menunjuk makam dia menyuruhku membongkar makan itu.
Aku ikuti perintah saudaraku, sampai bercucuran keringat, semakin dalam, sebenarnya aku cukup takut jika yang kudapat nanti sebuah tulang dan tengkorak tapi ini permintaam Jasmine....
Semakin dalam aku gali tapi tidak tercium aroma mayat. saat tersadar cangkul yang aku pakai tersangkut pada kain usang, ini mayat Jasmine.
dari atas lubang jasmine tersenyum,
"Lihatlah Rose... dia bukan aku!"
Aku balikan kain yang kulihat hanya batang pisang berbalut kain. dimana jasad Jasmine...
"Knapa kamu tinggalkan aku Rose!" teriak Jasmine mulutnya melebar matanya membesar. tanah yang aku pijak berguncang, tanah galian mengubur diri ini.
"Tidak!!!!" Aku terbangun, Teriakanku sangat keras. Keringat bercucuran, aku ambil obat di dalam tas, meminum dengan segelas air yang sudah aku letakkan di meja sudut. Obat ini bisa membantu aku menghindari kecemasan. Obat yang slalu aku minum bertahun-tahun. aku duduk menutup mata, tidak terasa buliran bening mengalir.
Aku menangis, Teringat kejadian itu 27 tahun yang lalu.....
Bersambung....
__ADS_1
****❤❤❤***