
#27 tahun yang lalu#
Aku dan Jasmine saudara kembar identik. bahkan rambut kami sama panjangnya, berwarna coklat. kami selalu memakai pakaian yang sama, asesories, sepatu bahkan kaos kaki yang kami pakai juga sama. Kami memang memiliki selera yang tidak berbeda, termasuk dalam memilih mainan.
Hari ini, hari ulang tahun kami yang ke delapan. Tidak seperti tahun lalu, dulu kami mengundang seluruh warga untuk berpesta, ibu akan menyediakan daging spesial yang sangat lezat. Tapi sekarang tidak ada perayaan. Bahkan ucapan selamat ulang tahun pun tidak. Ibu sekarang pemurung, slalu bertengkar dengan ayah.
"Aku sudah tidak tahan di Rumah ini!" seru ibu.
ayah hanya diam, tak menggubris perkataan Ibu.
"Aku ingin kita pergi dari desa terkutuk ini. rumah nista ini secepatnya!" Ibu terus berbicara, membenarkan keinginan dia, membuat kami muak.
"Atau Aku yang pergi!Aku ini seorang sarjana, kau juga bisa cari pekerjaan lain! Kenapa harus di sini. Aku tidak tahan disini, aku ingin pergi!" Kemarahan Ibu semakin menjadi.
Sementara ayah tidak membalas, dia memang suami yang sabar, padahal tingkat Ibu sudah keterlaluan, Ayah melirik kearah kami yang mengintip dibalik pintu.
"kalian main diluar ya?" Sembari menutup pintu.
***
Aku dan Jasmine hanya diam mematung.
Dari balik pintu, kami mendengar pertengkaran mereka samar-samar. Kali ini aku mendengar Ayah berteriak, sementara Ibu menangis.
"Ayo Rose, Ayah suruh kita main diluar kan." Ajak Jasmine.
❤❤❤
Kami bergandengan tangan keluar dari rumah untuk bermain di Halaman. Meski aku lahir lebih dulu lima menit sebelum saudaraku lahir, tapi Jasmine lebih dewasa dari aku. Dia yang selalu membuat aku tenang.
**
"Tidak perlu memikirkan Ayah dan ibu Rose...."
Aku menatap Jasmine, kupaksakan bibir ini merekah, agar diapun lega karena melihat simpulan bibir yang aku sematkan.
"Aku tidak mau ayah dan ibu berpisah.'
"Mereka tidak akan berpisah!"
"Apa kita akan pindah dari desa ini?"
"Tidak tau, tapi bagaimanapun nanti. Kita akan tetap bersama-sama!"
"Jasmine apapun yang terjadi aku tidak ingin berpisah darimu..."
"Aku tidak akan meninggalkanmu." Senyuman tulus itu yang selalu membuat aku kuat, trimakasih Tuhan kau kirimkan Jasmine ditengah kehidupanku.
***❤❤❤***
Dari arah timur terlihat Kakek dan tante Delima berjalan gontai, raut wajah lelah nampak jelas.
kakek smakin dekat, menatap kami dingin.
"Dimana Ayah dan Ibu kalian, Bukannya membantu keladang malah enak-enakan di Rumah!" Bentak kakek.
"Sudahlah Ayah, jangan membentak mereka." sembari tante Delima membelai rambut kami.
__ADS_1
Meskipun keras hati, tapi Kakek selalu luluh dengan perkataan Tante Delima, tanpa kata Kakek pun masuk kedalam rumah. menatap kami dengan sangat dingin. Meninggalkan kami bersama tante Delima ....
"Kalian sudah makan?" tanya tante Delima.
"Kami belum makan tante, Ayah dan Ibu bertengkar terus. Ibu belum masak dari pagi!" Ucap Jasmine.
"Mereka bertengkar lagi?"
"Iya tante, kami takut Ayah dan Ibu bercerai?"
Tante Delima berjalan kearahku. membelai kepala ini. lalu memeluk kami berdua...
"Tante akan memasakan makanan untuk kalian"
***❤❤❤***
Meski orang-orang bilang tante Delima hanyalah anak angkat di keluarga ini. Tapi tante Delima jauh lebih baik dibandingkah saudara-saudara ayah yang lain, yang entah kenapa memilih merantau dan tidak pernah kembali. Meninggalkan kakek, tidak pernah menjenguknya.
Mereka hanya datang saat ingin meminta ijin untuk menikah karena sudah jadi tradisi leluhur. Setelah itu pergi lagi, dan tidak pernah kembali.
****❤❤❤***
Hari berganti hari, saat tiba-tiba aku lihat sosok yang tidak asing dari kejauhan.
"Paman Benu?" teriak Jasmine berlari menghampiri .
Kuikuti tiap langkah Jasmine, menghampiri paman tercinta kami.
"Duo Mariye... Paman rindu kalian, lihat apa yang Paman bawa! Selamat Ulang tahun ponakanku, maaf Paman terlambat memberikannya." sambil menyerahkan dua boneka berbie yang mirip.
"Kami rindu Paman Benu?" Sembari aku dan Jasmine memeluk Paman.
****
"Kak Benu?" Sapa tante Delima yang menghampiri kami dan Paman Benu.
"Delima."
"Kakak pulang, Ayah pasti akan senang, Kakak akan tinggal disini lagi kan?"
Mendengar perkataan Tante membuat hatiku berbunga, Paman akan tinggal disini, aku dan Jasmine memimpikan hal ini cukup lama.
"Aku akan menikah, Aku kemari hanya ingin meminta Restu leluhur. Juga Ayah dan kakak!" Jawab Paman dingin, lalu Pergi begitu saja.
Paman memang tidak menyukai tante Delima, mungkin karena mereka tidak sedarah atau ada hal lain?
Rasanya sakit, mendengar pernyataan Paman Benu, kuikuti langkah Paman Benu.
"Paman tidak akan pergi lagi kan?"
Paman Benu menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah kami.
"Paman tidak akan melupakan kalian?"
Rasanya sakit mendengar ucapan Paman, apa dia akan pergi setelah ini, apa dia juga akan mengikuti jejak saudaranya. Rasanya aku enggan memikirkan ini, kulihat Jasmine berkaca-kaca. Diapun mengerti maksud Paman, sama seperti aku.
***❤❤❤***
__ADS_1
#Tengah malam di Kamar tidur#
Malam ini begitu sunyi, aku terlelap tanpa aba-aba saat tiba-tiba seseorang membangunkan aku, Jasmine terlihat pucat, bibitnya membiru, di peluknya buku usang tua yang rapuh.
"Kamu kenapa Jasmine, Kamu mimpi buruk!"
Jasmine tak berucap, sorot matanya menampakan rasa khawatir, dia memelukku sangat erat, aku tau dia ketakutan.
"Kamu ingin minum Jasmine? Aku akan ambilkan."
Aku mencoba melepas pelukan, namun Jasmine menggenggam pergelangan tangam erat.
"Jangan Keluar, Jangan kedapur. disini saja! Rose!"
****❤❤❤***
#Pagi itu#
Seperti biasa, kami sekeluarga akan menunggu anggota keluarga lain, untuk sarapan bersama. Paman tak nampak terlihat sedari tadi, sehingga hanya kurasakan suasana kaku, ayah dan kakek yang diam tanpa suara, sementara Jasmine begitu murung. Sejak pagi dia tak mau bicara padaku, apa yang dia lihat semalam?
"Rose, Jasmine ayo makan menu hari ini istimewa. sup kesukaan kalian" tante mengambilkan kami mangkuk.
"Dimana Paman Benu? Paman juga pasti lapar!"
Pertanyaanku membuat semua orang diam, aku lihat Jasmine sangat sedih.
"Paman sudah berangkat tadi pagi." Sela tante Delima.
"Paman pergi dan tidak pamit, Paman kemaren berjanji akan pamit pada kami jika pergi. Iyakan Jasmine?"
Jasmine tidak merespon. Dia cuma diam, kamu kenapa Jasmine, apa yang terjadi?
" jika disuruh makan, makan saja!"
Bentakan kakek membuatku terkejut.
****
Sudah satu pekan sejak kejadian malam itu, Jasmine juga terus menghindari aku, dia berubah, dia berbeda. Kenapa dia tidak pernah mau bercerita tentang apa yang terjadi.
Siang ini setelah membantu Tante Delima di kebun, kucoba menengok Jasmine dikamar. Terlihat dia terpekur menatap tembok. Suara gesekan pintu membuat dia tersadar akan kehadiranku.
"Jasmine... kamu baik-baik saja?"
Lagi-lagi Jasmine tidak membalas pertanyaan ini, aku coba dekati dia, tapi kali ini dia tidak menghindariku, semakin dekat langkah ini. Namun Jasmine seolah menggumamkan sesuatu.
Sambil menggerutu mengucapkan kalimat tidak jelas, dia memotong-motong boneka berbie pemberian paman Benu dengan gunting.
Senyumannya dingin, menatap kearahku, berjalan gontai mendekati, aku mundur beberapa langkah dalam keraguan, apa yang ingin Jasmine lakukan?
Lalu dia mulai menggerutu lain seolah mengucapkan mantra, sembari mengayunkan Gunting ditangannya. Aku tersungkur, terbentur tembok.
"Manusia Iblis!" teriakannya cukup keras.
Aku tersudut dalam kepasrahan, Jasmine kamu kenapa?
Bersambung
__ADS_1
****❤❤❤***