
Aku terpaku kala gundukan tanah mengubur peti tempat peristirahatan Jasmine.
[Seandainya aku tidak meninggalkan Jasmine apa Jasmine masih berada disini, disampingku.]
Ibu terus menangis mendekap bahu ayah,
[Aku seharusnya menurut kata Ibu, jika bukan karena aku, Jasmine masih hidup.]
Rasa penyesalan itu, terus menggerogoti hati. Tapi Ibu bilang aku tidak boleh terus begini, aku harus Sekolah melanjutkan hidup.
Tiga hari setelah kejadian berdarah, tante Delima pulang.
Tanpa airmata Tante Delima hanya termenung kala Ayah memberitahu tragedi ini.
Tante memelukku, mengatakan semua akan baik-baik saja.
Kami sekeluarga memutuskan menutup aib ini, Ibu dan Ayah memindahkan cermin terkutuk itu di kamarku, mereka mengunci rapat kamar Aku dan Jasmine.
[Kita lupakan semua kejadian ini] Begitu kata Ibu kala itu, meski berat namun aku enggan melupakannya. Aku akan terus mengingatnya, aku tak mau melupakan Jasmine. Dia saudaraku.
Malam itu aku berjalan menyusuri lorong, dari balik pintu kamar aku mendengar seseorang bercakap.
" Aku tidak akan meninggalkanmu, kita akan selalu bersama ...."
Suara itu tidak asing, bahkan aku mengenali nada suaranya.
Aku mengintip dari lubang pintu, Gadis berambut pendek menyematkan bibir.
" Dia Jasmine!"
"Rose, jangan tinggalkan aku disini!" Jasmine berteriak kala makluk dalam cermin, menarik tubuhnya.
Aku mencoba mendobrak kamar yang telah terkunci, namun gagal.
" Jasmine!" Aku terus menggedor pintu, membuat kegaduhan ... Ibu datang memelukku dari belakang.
"Rose, ini Ibu." Ibu membelai punggung,
" Lupakan Jasmine."
Kini netra kami saling memandang tanpa sepatah katapun.
" Aku tidak akan melupakan Jasmine!"
***❤❤❤***
#Dalam Kamar#
Rose, Ibu sudah menyiapkan baju dan semua perlengkapan Sekolahmu. Besok pagi kamu berangkat ke Asrama.
Aku menggeleng,
" Bagaimana dengan Jasmine, kita harus membebaskan dia!"
"Rose ...."
" Ibu tidak perduli pada Jasmine, dia sendirian, dia ketakutan!"
" Rose, Jasmine sudah meninggal dia sudah tenang!"
" Jasmine belum tenang Ibu, makluk itu membawa raganya, dia akan terus kesakitan!"
" Rose, hentikan!"
Ibu mulai kesal, dia akan marah-marah tidak jelas, Ibu selalu begitu ... tiba-tiba marah lalu akan memukul. Aku tertegun tak berani berucap, hanya buliran bening yang bisa menggambarkan betapa menderitanya hidupku, tanpa Jasmine.
" Kamu pikir, Ibu rela kehilangan Jasmine Rose!"
[Kenapa? kenapa harus Jasmine yang meninggal, kenapa Bukan Ibu saja! ]
" Jawab Ibu Rose, Ibu lakukan ini karena tidak mau kehilanganmu!"
" Tapi Ibu Jasmine, minta tolong ...."
" Lupakan semua Rose, dan tidurlah. Besok kamu harus ke asrama."
***❤❤❤***
#Pagi hari dalam mobil#
" Ayah aku tidak ingin ke asrama, aku ingin di Rumah."
" Rose, dengar. Lakukan apa yang Ibumu mau, Ibu sangat menyanyangimu,"
Ayah membantuku membawa koper, lalu meninggalkan aku sendiri depan Asrama.
" Aku tidak biasa tanpa Jasmine Ayah!"
" Kamu akan terbiasa nanti." Segera Ayah melajukan kendaraaan. Enam bulan lagi kami baru akan bertemu.
[Semua tidak akan baik-baik saja, tanpa Jasmine Ayah!]
__ADS_1
Dari arah kejauhan, Naura memanggilku,
" Rose, kemarilah."
Aku melangkah tidak pasti,
" Aku turut sedih dengan apa yang menimpa Jasmine ...."
***❤❤❤***
Enam bulan telah berlalu, aku kembali ke Rumah, Ayah dan Ibu menjemputku. Mereka sedikit bercakap dengan para wali murid lain, tak aku hiraukan. Aku hanya ingin segera kembali, aku ingin ke makan Jasmine, aku sangat merindukannya.
" Rose Ibu punya hadiah untukmu,"
" Ohya, hadiah apa?"
"Kejutan di Rumah. Ohya Rose, siapa nama temanmu yang menghilang, kasian sekali sudah satu minggu tidak diketemukan."
" Dia, Naura ...."
" Naura?"Sela Ayah.
" Kasian sekali orang tuanya, mereka sudah lapor polisi, pihak Asrama juga sudah mencari kesana kemari, tapi dia belum juga ketemu."
Aku hanya memandang tetesan hujan dari balik jendela mobil, yang ada dalam pikiranku, hanya makam Jasmine.
***
Sesampai di Rumah aku lihat Tante Delima sedang menyapu halaman, perutnya besar, sepertinya tante kebanyakan makan.
" Hai Rose, "
" Kenapa perut tante?"
Tante hanya tertunduk saat Ibu keluar mobil dengan tatapan sinis.
" Rose, kita masuk saja!" Ibu menarik tangan ini segera.
Aku hempas tangan Ibu kala melewati depan kamarku.
" Jasmine!"
Ibu terhenti membalikan badan kearah sini.
" Sudah berbulan-bulan lupakanlah Rose."
Aku mengangguk meski hati enggak tunduk.
" Tidak akan Ibu ijinkan!"
" Aku bermimpi setiap malam, Jasmine menangis dia meminta tolong, aku lihat dia menopang sesuatu yang berat, dia kesakitan Ibu."
Kini Ibu taklagi berucap, air mata justru menetes. Berlalu,
Ayah bilang Ibu terus menangis setiap malam teringat Jasmine. Ayah memintaku untuk tidak membahas ini lagi, Ibu hanya takut kehilanganku juga ... Aku mengerti, meski hati meronta.
Jasmine maafkan aku, tapi jika kau berada diposisi aku saat ini, kamupun akan melakukan hal sama.
Saat itu juga aku memutuskan melupakan Jasmine.
***❤❤❤***
Liburan Sekolah hampir usai, tapi Ayah bilang akan memindahkanku ke Sekolah lain, mungkin Ayah takut aku hilang seperti Naura, rumornya Naura di culik.
Akupun sedikit terkejut saat Ayah dan Ibu memutuskan pindah rumah. Ayah bilang dia diterima disebuah perusahaan milik teman kuliahnya dulu, kami akan pindah ke kota jauh dari desa terpencil ini.
.
.
.
"Tante akan baik saja kan?"
Tante delima mengangguk, airmata membasahi pipi.
"Akan banyak orang membantu disini..."
"Aku akan merindukan Tante..."
"Tante juga..."
" Kenapa Tante tidak ikut kami saja?"
" Tante harus tetap disini, menjaga rumah kakek dan nenekmu!"
" Tante tidak perlu melakukannya, ikutlah bersama kami."
Tak ada kata, Tante melirik Ayah dan Ibu, Ibu segera menarikku masuk mobil.
.
__ADS_1
.
.
Haruskan begini, meninggalkan Tante Delima ....
Laju mobil semakin meninggalkanku jauh dari kampung halaman.
Semua tidak tau rahasia kecil ini, buku tua yang aku sembunyikan dan rahasia kecil yang tidak diketahui banyak orang ....
****************************************
Lamunan ini membuat air mata mengalir, maafkan aku Jasmine meninggalkanmu?
maafkan aku Jasmine mencoba melupakanmu?
Aku ambil gawai yang aku letakkan di dekat tempat tidur, pukul sembilan malam.
Sebuah pesan mengejutkanku.
Wildan!
[sudah sampai sayang?]
sepertinya pesan ini dari tadi sore, mungkin baru masuk.
[susah dapat sinyal, akan sulit menghubungi. Aku mimpi buruk lagi, jujur aku butuh kamu!]
Satu pesan aku kirimkan, Aku buka tutup layar tidak ada tanda pesan terkirim. Suara ketukan pintu cukup mengagetkan.
"Rose ...."
Suara Tante.
aku beranjak dan memutar kunci lalu membuka daun pintu.
" Iya Tante."
"Tante khawatir dari sore kamu belum juga keluar kamar, Tante sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Kamu baik-baik saja?"
"Iya tante, aku hanya sangat lelah... oh ya tante supir yang bersamaku dia sudah makan?"
"Iya sudah tante suruh makan 3 jam yang lalu, sepertinya lelah jadi dia langsung tidur."
Kuikuti langkah kaki Tante Delima, menyusuri tiap lorong.
Aku lihat kursi di meja makan masih kosong,
"Dimana Ayah dan Ibu?"
"Mereka belum pulang."
"Dari tadi belum pulang?"
"Hujan belum berhenti mungkin mereka masih berteduh...."
"Aku khawatir...."
"Semua akan baik-baik saja Rose, duduklah!"
Menu kali ini adalah sup daging.
"Tante masakkan khusus buat kamu..." Sambil Tante beranjak dari kursi mengambil sesuatu didapur.
[ Sup daging?] Sup ini mengingatkan ku kejadian kala itu, tapi aku yakin ini bukanlah daging manusia seperti waktu itu, bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti apa yang terjadi di keluarga ini kala itu. Menumbalkan keluarganya sendiri, sungguh gila.
"Rose... knapa tidak dimakan?"
Suara tante, lagi-lagi memecah lamunan. Dibawanya dua gelas air. Dia letakkan satu disampingku ....
" tidak Tante, hanya teringat sesuatu saja."
Aku memegang sendok siap mengaduk sup, saat seseorang menarik -narik baju yang aku kenakan.
"Sstttt... " tubuhnya biru rambutnya pendek memakai gaun yang sama saat kejadian berdarah itu.
Aku membelalak tidak dapat berucap.
Dia Jasmine.
bersambung....
***❤❤❤***
Rose selalu merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Jasmine.
Kira-kira apa ya yang mau Jasmine tunjukan pada Rose.
" Masalalu belum selesai Rose, terimalah kenyataan ini."
Jasmine Mariye.
__ADS_1
Nama tinta : Reswara Gemani