Rahasia Si Kembar

Rahasia Si Kembar
Part 3. Malam Terkutuk


__ADS_3

"Manusia Iblis!" teriakannya cukup keras.


Aku tersudut dalam kepasrahan, Jasmine kamu kenapa?


Aku pejamkan mata, aku menerima apa yang akan terjadi, namun tak terjadi peristiwa apapun yang mengancam jiwa.


kres kres


Jasmine memotong rambutnya sendiri.


"Mariye? Tolong aku..." Lalu dia menjatuhkan diri duduk bersimpuh, menangis begitu keras.


Rasa iba menggerogoti, Jasmine tidak mungkin menyakiti aku, kenapa aku harus berfikir dia akan melukai diri ini. Aku dekati dia, tanpa ragu, Ku belai poni yang menutupi sebagian wajahnya ....


"Ada apa Jasmine, aku akan membantumu?"


Jasmine tak berucap, tangisannya juga terhenti. Dia memandang diri ini dengan tatapan dingin, matanya merah.


Dia mendorong tubuh ini, hingga tersungkur, menduduki tubuhku. membenturkan kepalaku, Lalu mengarahkan gunting kearah netra.


Jasmine, sadarlah!


Aku menahan dengan kedua tangan, gunting yang hampir mencongkel mata. Jasmine terus menggerutu tidak jelas. seakan mengucapkan mantra.


"Jasmine sadarlah!"


Dalam kepasrahan dan tubuh yang semakin melemah, aku terus berteriak meski sadar semua takkan terhindar.


Apa ini akan jadi akhir hidupku.


Namun terdengar suara orang berlari di koridor.


Ayah segera menarik Jasmine, memeluk Jasmine erat.


Jasmine mencoba melukai ayah, menancapkan gunting ke tangannya, saat bersamaan tante Delima merebut gunting itu. memegang pergelangan tangan Jasmine.


" Manusia Iblis!" Jasmine terus berteriak sambil menatap aku, Jasmine sadarlah.


Buliran bening tak dapat aku tahan, airmata tak terbendung kala Ibu mendekap erat tubuh ini, mereka membawa Jasmine dari kamar.


Sadarlah Jasmine. Hanya itu yang ada dalam pikiranku, aku ingin Jasmine sadar.


***❤❤❤***


#Malam hari#


Sudah seharian, aku tidak melihat Jasmine... Ibu menyuruhku tetap dikamar. Bahkan makan malam kali ini dia antar ke kamarku.


Gesekan daun pintu cukup mengagetkan, Jasmine masuk, dia terlihat letih, Ibu merangkul tubuh dia yang lemah. Entah apa yang Ayah dan kakek lakukan, tapi yang kulihat Jasmine baik-baik saja.


"Maafkan aku Rose..." Sembari Jasmine duduk bersanding disampingku.


Aku Langsung memeluknya, aku tidak takut pada Jasmine, aku percaya dia tidak akan melukaiku.


***


Ibu mengatakan semua baik-baik saja, lalu menutup pintu.


"Katakan padaku apa yang terjadi?"


Jasmine bergeming,


" Aku lelah Rose, aku ingin tidur."


Dia langsung berbaring, membalikan badan dan menarik selimut.


***


Sedikit ragu untuk tidur di samping Jasmine, tapi aku harus percaya padanya, dia tidak akan melukaiku. Aku coba berbaring disamping Jasmine, sembari memejamkan mata namun sulit....


"Rose?" terdengar panggilan Jasmine,


"Iya Jasmine?"


"Aku merindukan Paman ...."


"Aku juga Jasmine?"


"Tapi Paman sudah pergi!"


"Paman suatu hari nanti akan kemari, membawakan sepupu lucu dan bibi yang cantik!"


"Paman tidak akan kembali lagi kesini..."


Jasmine lalu mematikan lampu meja di sudut kamar, aku tidak mengerti apa maksudnya.


"Jasmine? kamu sudah tidur?"


Tidak ada jawaban, aku hanya ingin tau apa yang terjadi pada dia.... Kenapa Jasmine sekarang pendiam.

__ADS_1


***


Malam semakin larut, tapi pikiran ini masih bergelayut pada kejadian tadi, Aku lihat Jasmine nampak terlelap, meski dia memunggungiku.


Namun Jasmine tiba-tiba terbangun, aku pura-pura tertidur agar dia tidak curiga. Kudengar suara daun pintu yang dibuka, Jasmine keluar kamar.


Aku harus mengikuti dia,


Seluruh ruangan tampak remang, koridor yang hanya diterangi sedikit cahaya. Jasmine terus melangkah, Kuikuti setiap langkah Jasmine. Tak sedikitpun Jasmine curiga, aku membuntutinya ... meski sedikit dia menoleh.


Dia pergi kearah gudang penyimpanan makanan.


Mau apa dia?


Gudang makanan tidak jauh dari dapur utama, tapi ibu dan semua keluarga selalu melarang kami memasuki ruangan itu.


Jasmine terlihat berjalan dengan tenang, membuka pintu gudang.


Namun saat tikungan Jasmine menghilang, hanya nampak karung beras, peti telur, dan bahan makanan lain. Kemana Jasmine, apa dia tau aku mengikutinya?


Aku memasuki ruangan lain penyimpanan daging. ada satu meja besar yang bercecer darah. Aku melangkah mendekati, saat aku lihat seseorang disana, langkahku terhenti, tidak nampak jelas siapa dia, orang itu memakai sepatu boot dan jas hujan, wajahnya tertutup masker. aku mengintip dari balik lemari, sesuatu menggelinding kearahku.


Tidak! ini kepala paman Benu, Waktu aku ingin berteriak seseorang membekap mulutku. menarik kebelakang, Sementara langkah kaki dari orang yang sedang memotongi daging mendekat...


"Ssttt!" aku menatap, Jasmine!


Dia meletakan jarinya di ujung bibir menyuruh diam.


Orang itu mengambil kepala paman. lalu berlalu, Jasmine menarik tangan mengajak pergi, kami berjalan mengendap. kami keluar dari ruangan tadi. lalu keluar dapur. Jasmine terus menarik, membawa aku kekamar, menghidupkan lampu dan mengunci kamar.


Kami saling bertatapan, mulutku bergetar.


"Rose?"


Satu panggilan Jasmine memecah lamunan ini.


tidak sadar aku meneteskan air mata, apa yang aku lihat tadi. Aku hanya anak kecil dan aku melihat kepala paman kesayanganku menggelinding tepat didepan mata.


"Jasmine?"


Jasmine mengangguk, kami saling mengerti ada sesuatu yang tidak beres di keluarga ini. seseorang menghabisi paman kami. dia ada dirumah ini, ada diantara keluarga kami. orang itu tinggal disini.


***❤❤❤***


** Kejadian sebelum paman meninggal***


saat itu, Jasmine tidak bisa tidur ... hatinya resah. Dia terus memikirkan Paman. Kata dia aku sudah terlelap, dia coba membangunkan aku tetapi aku nampak pulas. Jasmine pun pergi menuju kamar Paman Benu kala itu, Terlihat pintu kamar Benu sedikit terbuka, dia membuka pelan dan melihat Paman Benu sedang membereskan beberapa barang miliknya.


Jasmine bilang, Paman sangat gugup kala itu.


"Mariye Kamu belum tidur?"


"Aku terus memikirkan paman. Paman benar-benar akan pergi besok?"


Anggukan Paman, membuat hati Jasmine seketika patah.


"Paman tidak menyayangi kami!"


"Dengar Mariye... Paman sangat menyanyangi kalian, suatu hari jika kalian dewasa kalian akan mengerti kenapa paman pergi!"


Paman terus merapikan semua barang miliknya, tidak sadar sebuah buku usang terjatuh dari sela baju.


Jasmine mengambil dan mencoba untuk membuka lembar pertama. Namun Paman segera merebut buku tadi.


"Jangan di baca!"


Sebuah ketukan, mengalihkan perhatian kami. kemudian dengan terburu-buru Paman memasukan buku tadi dalam sela baju.


Seseorang membuka pintu.


"Benu? ayah ingin bicara padamu?" Tanpa permisi Ibu datang dengan wajah kekhawatiran.


Tanpa kata, Paman segera beranjak dari kamar .... Kini Ibu menatap Jasmine, sembari mengerutkan dahi.


"Dan kamu. Knapa belum tidur! Cepat kembali kekamarmu dan tidurlah" tegas Ibu.


Jasmine mengangguk,


Ibupun segera pergi mengikuti langkah Paman.


"Mariye jangan buka buku itu!" Paman kembali untuk mengucapkan hal itu saat Ibu telah pergi dari daun pintu.


.


.


.


Jasmine enggan menuruti perintah Ibu, dia tetap menunggu Paman kembali, bagi dia, jika memang Paman harus pergi, setidaknya dia akan menghabiskan sedikit waktu tersisa untuk bersama Paman malam itu.

__ADS_1


Namun, sudah hampir 30 menit, paman belum juga kembali.


Dalam kebosanan, Jasmine teringat buku usang tadi, dia mengambil dari sela baju, Paman tidak akan marah walau dia melanggar perintahnya ....


Jasmine membuka lembar perlembar, tanpa tau arti dan makna, dia mengucapkan kalimat dalam buku itu. Buku apa ini, setiap lembar hanya berisi tulisan kadang disertai gambar menyeramkan dengan tanduk ....


.


.


.


Sebuah dobrakan pintu, cukup mengejutkan dia. Paman datang dengan penuh kecemasan dan mengunci pintu kamar, lalu mengganjal dengan meja.


"Paman kenapa?"


Paman benu mengerutkan dahi, berjalan gusar kearah Jasmine.


" Ma ...af Paman, aku membuka buku ini tapi ...."


"Mariye dengar Paman, simpan buku ini jangan beritahu tentang buku ini pada siapapun! sembunyikan lalu hancurkan buku ini." Sela Paman.


" Tapi kenapa Paman?"


" Ssttt ...."


Paman membekap mulut Jasmine, menyuruh Jasmine bersembunyi di bawah kolong tempat tidur saat terdengar pintu yang di dobrak paksa.


"Jangan berteriak apapun yang terjadi."


Jasminepun mencoba menutup mulutnya, menatap dari balik kolong tempat tidur.


Terlihat langkah kaki orang lain saat pintu terbuka, Paman mengerang kesakitan, seseorang mengucapkan kalimat sama seperti yang tertulis dibuku, Paman juga menggumamkan kalimat yang sama, saat seketika Paman justru berteriak kesakitan.


Orang itu mengangkat tubuh Paman, terlihat kaki paman yang mengambang, lalu melempar dia, Paman jatuh menghadap kolong meja dengan wajah membiru dan mata melotot. Ingin Jasmine berteriak, dia bekap mulutnya sendiri sementara buliran bening terus mengalir.


Orang itu menyeret tubuh Paman dengan segera,membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Jasmine ingat, orang itu memakai sepatu boot warna biru, tapi suaranya tidak terlalu jelah, suaranya seperti dua suara yang menjadi satu dengan suara serak.


Siapa orang itu? Orang yang membunuh Paman.


****


Jasmine keluar dari tempat persembunyian. Air mata masih menetes, namun bibir beku tak sanggup berkata, menyaksikan kematian pamannya yang tragis, membuat jiwanya ikut meronta. Meski begitu, rasa penasaran masing menggerogoti, dia ingin tau siapa yang melakukannya.


Jasmine mengikuti jejak darah menuju gudang makanan.


Namun apa yang dia lihat lebih menyeramkan dari apa yang dia bayangkan.


Dia segera berlari menuju kamar tidur... membangunkan Aku.


Aku ingat malam itu, dia terlihat pucat, bibirnya membiru, di peluknya buku usang tua yang rapuh ....


***❤❤❤***


Jasmine menghentikan ceritanya, seolah tak sanggup memberitahu semua hal yang dia lihat.


" Maafkan aku Jasmine,"


Aku peluk dia, berharap bisa menenangkannya.


" Maaf untuk apa Rose?"


" Karena tidak ada disampingmu malam itu, membiarkanmu menanggung beban ini sendiri?"


" Tidak apa Rose, aku lega sudah bercerita padamu, trimakasih Rose selalu jadi yang terbaik buatku."


"Lalu kenapa kamu bertingkah aneh tadi?"


Jasmine menggeleng tidak mengerti.


Jasmine mengeluarkan buku usang dari bawah bantal miliknya,


" Paman menyuruhku untuk tidak memberitahu siapapun, tapi kamu saudaraku kamu perlu tau semua. Berjanjilah ini akan jadi rahasia kita?"


"Buku ini, aku membacanya berulang kali, namun setiap kalimat yang aku ingat di otak, membuatku seakan kealam dunia lain, aku melihat paman tergencet rumah kita. Paman bilang tolong aku ... Jasmine, tolong." Jasmine menerangkan banyak hal, tapi aku tidak mengerti.


" buku ini membuatmu tidak sadarkan diri Jasmine, kamu bahkan ingin melukaiku dengan gunting tadi?"


" Maafkan aku Rose, tapi setelah membaca setiap mantra dalam buku ini aku merasa puas!"


Rasa kepedihan itu seakan lenyap dari netranya, senyuman yang tersungging di bibir membuat bulu kuduk ini merinding. Buku itu mempengaruhi pikiran Jasmine!


tiba-tiba dia menunjukan sesuatu,


Sesuatu yang membuat rasa mual tak tertahan.


Potongan tangan seseorang, dia ulurkan padaku!


Apa Jasmine sudah kehilangan akal? sekali lagi Jasmine membuatku berhenti bernafas, dia sangat menakutkan.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2