Rahyang Kirana

Rahyang Kirana
Rahyang, being HUMAN


__ADS_3

Bersikap normal. Seperti apa?


Berbicara. Mulai percakapan dengan kawan disekolah. Tanya hal hal umum. Jangan tanya kenapa Ibu rambut panjang suara nyanyiannya serupatangis meringis tahan rasa sakit atau kenapa bantal guling bisa lompat lompat!


Jangan sibuk dengan duniamu yang tak satu manusia pun lihat dan yang terpenting Rahyang, JANGAN TANYA TAHUN BERAPA ORANG ITU MATI!! Juga jangan bilang kalau lawan bicaramu itu besok mati. Ya Rahyang? Iya papa.


Tuhan.. ajari cara normal. Percakapan normal itu apa? Hai.. aku Rahyang, aku 11 tahun, kepalamu polos.. tidak sesibuk kepala orang dewasa. Hah? Aduh entahlah. Cukup tersita dengan pemikiran jangan sampai terlewat halte


untuk turun dekat sekolah.


Sekolah baru. Kelas baru. Ibu guru baru. Teman teman baru, yang manusia betulan juga bukan.. hahah. Sepertinya akan jadi hari hari baru, dengan rutinitas NORMAL. Apapun artinya normal.


*******************************


"Rahyang Kirana!"


"Saya!" (suara siapa itu? Arahnya dari depan kelas.. tapi didepan sana yang perempuan hanya Bu henny, wali kelas 1B SMPN 11, sekolah baruku)


"Kedepan sini nak\, perkenalkan dirimu"\, panggil Bu Henny lembut _Tuhan\, memang luas kelas ini berapa kilometer? Kenapa mata mata itu melihatku semua? Aku kan pakai baju rapi! Duuuuhh.. jauhnyaaaa podium didepan situ_


"Aku Rahyang Kirana, aku sebelas tahun, aku normal. Kenapa badan


kakek bau sekali?!" Meledak tawa satu kelas, lupakan normal Aku SAH gagal normal.


**************


Hari hari berikut,masih kelas 1B_


Aku tetap sendiri, karena jauh lebih sulit memulai percakapan dengan manusia manusia sebayaku ini ketimbang mendengar dari kejauhan apa yang kepala mereka katakan. Yang bukan manusia disini lebih beragam daripada yang dikamarku atau dirumah. Disini, aku juga tidak menyapa mereka, disini.. aku normal, hanya amat sangat


pendiam.


Jam pertama sekolah usai, waktunya ke kantin atau kebun belakang. Aku tak suka ke kantin, ada bocah gendut jorok yang meludah sembarang tempat bahkan jajanan yang siap santap. Sayang yang melihat hanya aku, dan tak


mungkin sebagai normal ini aku mengatakannya pada anak anak yang antri menunggu giliran untuk beli dan makan. Hihi.. maaf. Aku bawa bekal dan kumakan dikebun belakang saja, ditemani bapak penyapu yang kesal karena saat pagi atau saat sekolah ramai penuh manusia dia tak bisa bebenah. Yaa Pak.. nanti kalau sapunya


gerak sendiri, bisa ditutup sekolah ini ya ‘kan?.


Hari ini bekalku roti isi. Bosan. Tapi daripada gorengan rasa mudah bocah gendut? Hehee. Senyum sendiri bayangkan kawan kawan makan gorengan tahu isi "bersaus" ludah. iiiiyuuuhhh.. well, mereka tak bisa lihat si gendut jorok, mungkin tak masalah. Mungkin. Entahlah.


“Heyy!! Aku Azria, 1D. Boleh minta rotinya? Namamu siapa?” comot


roti dan happ, belum sempat jawab apapun separuh rotiku sudah dimulutnya


“Hhh..hey?! aku Rahyang, 1B” (kaget sumpah!!) “silahkan..”


(mataku sibuk telaah ini anak manusia bukan?) tangannya yang hangat waktu menyalamiku mengatakan Azria ini ras manusia. Baik.


“Namamu aneh, Rahyang, kamu Hindu? Kamu orang Bali? Kok


matamu sipit? Kulitmu juga putih kemerahan.. kamu wangi bayi! Hehehe.. aku beli


air jeruk, mau? Tuker rotimu tadi, Rahyang.. Hyang.. Rah.. aaahh panggilnya


susah!? Kamu biasa dipanggil apa yang pendek? Biar gampang..” kamu CEREWET!! Mirip nenek disudut loteng rumahku!? Siapa


namamu tadi? Azria?


”panggil Hyang saja.. tak apa” lupa pertanyaan lain, dadaku


terlalu berdegup karena ADA MANUSIA AJAK AKU BICARA!! YEAAAYY!! Atau.. harusnya


aku panik?


“Ooooo.. baik, Hyang! Aku Ria, panggil saja begitu. Aku 1D,


kelas kita seberangan lohh..” (dan dia terus berceloteh sementara aku masih


terjebak rasa haru karena disapa manusia)


Jam pulang berdering kencang sekali, suara lantang Bu Henny jadi samar katakan jangan lupa halaman 10 dikerjakan ditulis tangan dan kumpulkan.. apa lagi entah, makin tak terdengar karena anak anak riuh bersorak


pulang. Dunia itu berisik Tuhaaan.. manusia juga. Aku rindu sekali dengan pojok kamarku dan tumpukan bantal lepek dilantai. Aku mau pulang dan kalau boleh, aku mau sekolah dari rumah saja. Uuugh.. mimpi!! Yang terjadi pahamu biru biru habis dicubit mama Hyang!? Tapi aku pusing.. terlalu banyak manusianya.


”HYAAAAAAAAANGG!!


Oooooiii!! Sebelah sini!!” ( mau pingsan boleh?) dipojok gerbang anak bernama


Azria kelas 1D sibuk lompat dan melambai.


“Hyang! Pulang kerumahku yuk? Ngga jauh ko.. diseberang rel


kereta ini. Yuk..”


“Ngga bisa ria, aku belum ijin mama, besok ya?”


“Uuuhh.. payah! Oke.. see you tomorrow hyang!”


“See you tomorrow Ria!” _ada degup baru yang aneh dalam hati\, apa ya? Sepertinya besok aku balik lagi ke sekolah ini\, hehe.._ cerahnya azria\, buat aku berarti banyak. Berisik manusia yang untuk pertama kali\, aku suka.


*****************


Aneh.. jujur, si cerah Azria tadi bisa buat degupku tak berhenti. Ternyata tak terlalu menakutkan dunia itu. Dan ya, mau kupungkiri sampai mana pun.. aku ini manusia juga. Well.. agak aneh, sedikit.. atau banyak, entahlah. Pokoknya, normal mungkin boleh juga.


“Assalamu alaikuumm.. moooommm! I’m hooooome!! Hellooooo..


anyone??!”


Satu lagi anehku, bahasaku belang belang dalam arti saat berkomunikasi, bukan hal yang kusengaja kalau bahasaku separuh Indonesia separuh Inggris. Dan aku fasih berbahasa Inggris sejak balita, bahkan bahasa


pertamaku kata mama papa adalah bahasa Inggris. Pertama dikira mereka aku yang cadel ala bayi pada umumnya hanya meracau, sampai satu ketika disebuah toko, aku dengan jelas mengatakan, “I want that cheese ball chips mom”.


Jangan mama papa, aku sebagai pemeran utama dari hidupku saja tak paham dari mana aku dapat kefasihan berbahasa Inggris ini, tanpa kursus tanpa guru dan kenapa hanya bahasa Inggris.. hahah. Dan ya, tidak sekali pun


niatku casciscus adalah karena sombong atau sok keren apalagi sok pintar. Murni lebih ke karena sudah begitu keluarnya dari mulutku apa yang otakku katakan\, Keluar dalam bahasa Inggris campur rata dengan bahasa Indonesia _yang jujur\, lagi\, ini pun karena mamaku ngambek bilang kamu itu anak Indonesia\, turunan orang sunda!! Jangan lupa kulit!!_ jadilah aku “memaksa” diri untuk berbicara bahasa Indonesia yang akhirnya jadi belang belang ini.


"Assalamu alaikum mooooooommm.." _ masih sepi jawaban. Sudahlah.. langsung naik ke kamar ganti baju dan tutup kuping saja. Makan nanti lagi, masih gerah dan bising angkutan umum tadi dengan pikiran pikiran orang dewasa yang memikirkan cicilan. Gantung seragam, teguk air putih sisa dibotol bekal, Putar tape musik jaman ayahku masih sekolah dasar.


Siang lumayan terik, jadi anak usia sebelas beranjak ini lumayan juga. Apalagi hari ini lumayan menyenangkan. Besok bisa jadi lebih, ada si cerah Azria. Semoga dia tak keberatan punya kawan yang tak hanya namanya


yang aneh, tapi juga hampir semuanya aneh. Well.. semoga. Mata memberat, tidur Tak terelakkan.


“Hyaaaaangg!! Bangun.. mandi! anak perawan bau matahari


begini.. habis mandi turun dan makan, juga bawa Iqra mu, Bu Ustadz sebentar


lagi datang”.


“Iya nyonyaa.. sebentar turun”.


Sore jelang maghrib, sama saja dengan jam jam lain dihari ku. Tak suka berbincang panjang pun berceloteh dengan adik adik adu cerita film atau sekolah atau mainan atau apapun. Juga tak suka televisi, kotak aneh yang


melulu berisik. Bu Ustadz datang, mengaji kami dua halaman selesai dan tinggal tunggu adzhan. Shalat berjamaah lalu kabur balik masuk kamar sampai besok pagi. Emak (panggilanku pada nenek) lagi diBandung, dirumah uwak. Tak  ada alasan menyenangkan untuk keluar kamar dan manja minta digaruk punggung sembari dengar dongengnya tentang masa peperangan atau sejarah para Nabi.


Karena kenyang tidur tadi siang, ditambah basuhan air wudhu Isya tadi, rasanya malam ini akan lama. Ambil pena, tulis sesuatu. Teman teman tanda kutip juga entah kemana semua malam ini. Tulis apa?

__ADS_1


*****************


Senja, kenapa merah?


Dan kenapa hanya sebentar untuk berada sebagai pengantar. Senja, kenapa bukan


biru? Apa karena hanya sekadar aku yang menyukai warna itu? Atau nanti beranjak


malam pun akan membiru? Biar bulan terlihat cantiknya, benar begitu?


xtnv, besok mau ku senjanya hanya untukku.


******************


Pagi ini sedikit lebih dingin dari biasanya, tapi aku bersemangat. Punya kawan baru, MANUSIA. Berisiknya menyenangkan pula.. hehe. Ok.. angkutan umum, antar aku sekolah.


“tempe\, tomat\, kangkung\, bayam..”_“belum sarapan.. ngga sempat ngopi..”_“Pasar anyar!! Pasar anyar!!’


Akunya diam duduk manis dipojokan, itu adalah suara kepala dari bapak ibu teman seangkutan umum pagi ini. Dikota Bogor ini satu hal yangkusuka, hujannya. Sedikit berharap pagi ini hujan, biar tak berisik kepalaku dengan suara suara manusia tergantikan gemuruh jutaan rintik menenangkan. Kadang berpikir aku ini sombong betul jadi manusia, tak suka manusia.. hahah.  Bukan tak suka, hanya saja acapkali aku kewalahan hadapi isi kepala dan emosi emosi mereka yang tertangkap kepala dan hatiku sendiri. Aku bingung. Aku ‘kan baru sebelas tahun. Pemberhentianku. “kiri Pak!”


Masih harus berjalan beberapa meter menuju gerbang masuk sekolahku, dikejauhan sudah bisa kudengar si cerewet Azria 1D. Hahaa.. aku suka memanggilnya lengkap begitu, well, hampir semua sih yang kunamai sesuai dengan kali pertama aku mengenali mereka atau mereka perkenalkan diri. Ibu rambut panjang, guling lompat, kucing besar, nenek pojok loteng., dan banyak lagi.


“Hyang! Hyaaaang!! Disini!!” (nah kan.. Azria 1D)


“Oitt.. Coming Azria 1D!”


“Panjang amat nama gue Hyang, panggil aja Ria,” seraya lengannya menggandeng lenganku. “Nanti jam istirahat kita ke kebun belakang lagi ya Hyang, hari ini bekal apa?” “bekal nasi goreng” “Asik.. gue minta ya? Tukeran sama jeruk oke?!”_ ku jawab dengan anggukan dan senyum saja. Makin suka aku sama si cerewet ini, rasanya hangat dekat dia.. seperti berdekatan dengan cahaya matahari tapi lembut dan kulitku tak berbontol merah merah gatal (aku alergi matahari, jika lebih dari satu jam terpapar panas langsung matahari,


kulitku merah merah gatal.. freak, yeah.. I know). Pelajaran jam pertama usai pun kedua, Istirahat. Ku ambil kotak bekal, botol minum, bergegas ke kebun belakang.


“HYANGG!! BOO!! Aahahahaa.. ko ngga kaget sih?”


Kalau kujawab aku bisa mencium baumu dari kejauhan, kamu kabur tidak RI? Batinku. “Ngga lah.. bayanganmu kepantul jendela itu” asal tunjuk saja yang penting rahasia penciumanku yang tajam terjaga, hehee. Jam istirahat yang hanya satu jam itu berlalu cepat dengan penuh celoteh Azria. Dia bercerita mulai dari dia yang anak tunggal hingga dia yang punya banyak koleksi minuman keras hasil sitaan ayahnya yang seorang aparat dan bawa pulang beberapa botol untuk “hiasan” lemari kaca. Juga tentang ibunya yang seorang direktur perusahaan textil. Azria menghabiskan kesehariannya dengan pembantu juga kakak  sepupunya yang seorang anak band kelas komplek katanya, hahaa. Tangan Azria berbulu juga kakinya, dia keturunan timur tengah, bau kulitnya khas. Semakin aku habiskan waktu berdekatan dengan  dia, semakin hafal aku tiap jengkal dia pun baunya. Jarak sekian puluh meter saja mah mudah bagiku mengenali kehadiran dia meski dia berada ditengah kerumunan pasar.


Entah ini bagian dari sekian keanehanku atau bukan, tapi ya, aku bisa mengenali bahkan mengetahui keberadaan seseorang dari bau kulit mereka, bukan parfum  tapi bau kulitnya. Tiap manusia pun yang bukan, bau kulit mereka berbeda beda bahkan saudara sekandung pun yang notabene satu ayah satu ibu, bau kulitnya lain lain. Semakin


dekat aku dengan seseorang atau sesuatu, semakin banyak “alat pendeteksi keberadaan” dari mereka yang bisa kupakai. Seperti bau darahnya atau bunyi detak jantungnya. Seperti papa, mama, adik adikku dan nenek, aku hafal diluar kepala bau kulit, bau darah dan irama detak jantungnya. Bau tanah, rasa air dan angin.. aku hafal beberapa darimana mereka berasal. Akibat dari seringnya aku menyendiri mungkin jadi diwaktu isolasiku kuhabiskan dengan merasakan tiap tiap hal, benda hidup atau mati. Aku terdengar gila ya? Hahahaa.. mungkin. Tapi beginilah aku, Rahyang Kirana yang aneh. Agak gila. Sedikit.


*********************


Masa SMP yang tak terasa sudah satu tahun kulewati, teman manusiaku makin banyak tidak hanya Azria, tapi juga banyak teman sekelas atau satu klub ekstrakulikuler. Tapi yang paling dekat tetap Azria, dan dikelas dua


ini aku sekelas bahkan sebangku dengannya. Semakin akrab kami jelas, bahkan jadi partner in crime.. hehe. Azria yang kesepian secara harafiah karena tak seorang pun menunggunya dirumah dan aku yang sulit sekali membaur. Dari anak baru yang imut nan lugu, sekarang kami kakak kelas yang punya pamor. Kami geng geng-an, berkelompok “sosial”. Geng aku, hanya berdua Azria, tapi karena dia cerewet lucunya tak hilang hilang, jadilah dia si anak gaul yang terkenal dibanyak geng sekolah. Baik teman seangkatan atau berbeda. Dikelas dua ini,


kami mulai naksir naksiran, mulai galau galauan khas ABG dan mulai berulah nakal. Kami membolos, kami coba coba hal yang tak seharusnya kami coba seperti merokok dan meminum sedikit dari koleksi botol minuman penghias lemari kaca ayah Azria. (I’ve talked too much!?). Lanjut.


Satu siang, dikelas ekstrakulikuler PMR, ada satu anak berkulit pucat sedikit berbintik. Rambutnya kemerahan hampir seperti peranakan blasteran. Entah ada apa dengan anak ini, tapi dia “menarik” mataku. Tapi ya.. dengan sifat tertutup dan malas berkenalan dan tak suka manusia-ku (masih) aku tak mendekatinya apalagi ajak kenalan. Aku tahu namanya Arlene dari seseorang yang memanggilnya begitu dan dia menyahuti. Ada apa dengan anak pucat ini ya? Hmm.. entahlah. Tapi pasti sooner or later aku tahu. Jelasnya, anak pucat ini“menarik” perhatianku.


“HAHAHAHHAAHAHAHAAAAAA... HAHAHAHAHAAAAA...!!”


Ledakan tawa kencang nan renyah menarik perhatianku, aku menoleh langsung ke arah suara, ohh.. hanya sesosok anak laki laki tinggi kurus berkulit cokelat gelap. Tapi wait.. tawanya begitu captivating (apa captivating


in Bahasa sih? Menyita perhatian? No! Menawan? Ah ya, Menawan) Tawa si kurus tinggi cokelat ini begitu menawan. Siapa dia? Ah.. MASA BODOH!! Memang penting untuk tahu siapa dia? Tidak. Maaf.


“Hyang.. ngelamun jorok lu ya?” gara gara si anak pucat dan si kurus tinggi cokelat fokusku lumayan tersita. Tak kusadari hadirnya Azria yang tahu tahu sudah duduk disamping dan sodorkan es teh miliknya. “Minum!!


Biar ngga bontolan lu kepanasan!” aku manut, kusedot es tehnya yang ternyata tinggal satu sedot tandas. Hah!!.


“Ngga ngelamun gue, tapi tuh cowok ketawa kenceng banget! Kaget gue jadinya..”


“Mana?”


“Iiitu.. di.. “ _kemana itu anak cokelat? “dah hilang dia, "kabur” jawabku asal. Tapi kepalaku mencarinya.


buatku yang tak suka bising. Disini bisingnya lain, hihi.. rumah Azria dikelilingi pemakaman (paham kan yang bising apa? Eh.. siapa? Hehe) tapi aku tak mengajak mereka berbincang seperti kalau dikamarku, disini ada Azria dan


dia penakut. Bisa pingsan dia kalau tahu aku bicara sama mahluk halus.


Seusai membersihkan badan dan makan malam, kami ke kamar Azria. Dia sibuk dengan koleksi kutek warna warni milik ibunya, aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Hingga disatu titik, ada sosok berkelebat menembus dinding


pintu kamar. Siapa itu? Sosoknya seperti manusia pada umumnya dan hawanya sedikit hangat. Tapi kok ‘nembus pintu? Aku reflek bangkit dari kasur dan mengikutinya keluar. Dia melesat sedikit terlalu cepat tapi karena rumah ini


tidak besar, aku bisa langsung menemuinya didepan kamar mandi. Ku datangi lebih dekat dan ku tatap selidik. Iya betul hantu. Tapi kok hawanya hangat? Penasaran kutanya dia. “hey.. kamu! Iya aku dapat melihatmu, sedang apa disini? Dan kenapa kamu hantu kok hangat seperti manusia?” hantu itu hanya menoleh dan tak


menjawab, sedikit kaget jujur karena ternyata wajahnya bersimbah darah. Aku tak lari kabur,  malah makin dekat dan ikuti dia masuk ke kamr mandi. Dia membasuh wajah. Jelas darahnya takkan terbasuh. Orang dia sudah lain alam (sigh) “hey.. kamu takkan basah oleh air itu, kamu sudah mati. Percuma cuci muka” hantu itu


menoleh lagi.. kali ini tertangkap dengan sangat jelas dan menusuk jantungku rasa sakit yang amat sangat. Kepalaku juga berdenyut sakit bukan main. Sekejap rasanya aku mau pingsan tapi tidak. Ini ‘kan perasaan si hantu, bukan aku.


Hantu itu beranjak keluar kamar mandi, dia menuju ruang makan dan duduk disalah satu kursi. Aku coba dekati lagi.


“hey.. kamu siapa? Iya.. aku bisa melihatmu dan kalau kamu mau bicara, aku bisa mendengarkanmu” ucapku


spontan mencoba menggapai tangannya yang juga berlumur darah. Hantu itu berreaksi dengan menoleh mengarah ke satu titik dimeja pajangan sudut ruang. Ada rentetan pigura foto disitu. Kusambangi dan.. pahit lidahku sudah. Hantu itu ada disalah satu foto. Bukan orang tua Azria, tapi kakak sepupunya. Si anak band kelas komplek. Oh ya Tuhan!! Boleh aku pingsan sekarang?? Bagaimana kusampaikan ini pada Azria? Aku kembali pada si hantu dan kutanya lagi, “kamu, Gema?” hantu itu mengangguk. Ah ya Tuhan. Fix.


Aku kembali kekamar separuh berlari, bukan takut tapi rasanya ingin lekas memeluk Azria dan beri dukungan moril atau apalah, jantungku sakit sekali. Kepalaku rasanya berputar. Begitu berhadapan, kupeluk dia dan bilang sabar ya Ria.. dia bingung tapi balas memeluk.


“Sabar kenapa Hyang? Are you ok?” dia malah balik bertanya dan menatapku cemas. Situasi aneh


beberapa menit dan dibuyarkan oleh bunyi telepon. Riiiing.. riiing...


“halo.. iya Tuan, non Ria ada Tuan.. Innalillahi waina Ilahi


Rajiuun.. Tuan Gema!!”


Kami yang jelas mendengar percakapan menghambur keluar._“siapa bi? Siapa nelepon?? Apa katanya bi??” raung Azria


“Tuan papa non.. katanya Tuan Gema kecelakaan non, meninggal..”


Azria pingsan. Aku panik. Bibi juga panik bergegas ambil air


minum.


“Riaa.. riii.. Riaa.. bangun sayang, bangun!” ucapku


gemetaran tepuk pipinya. “Ria.. rii!! Bangun..”_ Azria siuman.


“AAAABANG GEMAAAAAAAA!!! ABAAAAAAAANG... JANGAN TINGGALIN RIAAA


ABAAAAAAAANGG!!”_ Azria meraung menangis kalap dan susah payah kupeluk dia. Sebisaku menenangkannya. Kami terus bertangis tangisan dan berpelukan hingga sayup terdengar suara ambulance. Entah sudah berapa jam berlalu sejak telepon itu dan kami masih disini, dilantai, menangis dan berpelukan. Jam berapa ini pun entah. Samar kulihat si bibi membenahi ruang keluarga dan ruang tamu juga arah pintu masuk dibukanya lebar. Dia menggeser meja dan menggelar karpet dibantu dua orang laki laki, satu bapak bapak dan satu lagi anak seusia kami. Mungkin suami dan anak bibi itu. Entah. Hantu.. ah bukan, terlalu kasar rasanya kusebut hantu kakak sepupu tersayang sahabatku ini. Ruh. Ya.. ruh saja. Ruh Gema masih disini, darah diwajahnya tampak hilang hanya belahan lukanya sekarang terlihat jelas. Mungkin dia sudah dimandikan raganya dirumah sakit. Entah. Nanti lihat kalau jasadnya sudah sampai rumah. Gema mondar mandir antara pintu depan dan kami. Seperti bingung. Bingung atas apa yang terjadi atau bingung kenapa dia “lain” sekarang. Entah.


Ambulance tiba. Pertama turun kulihat petugas rumah sakit dan mereka sigap menurunkan jasad Gema yang sudah terbujur kaku namun rapi terbungkus kain putih. Tak lama ayah ibu Azria turun dan memasuki rumah. Mata


mereka bengkak. Mereka tidak pedulikan kami. Ayah Azria sibuk menghubungi keluarga lain. Ibu Azria sibuk memerintah si bibi siapkan ini itu. Kami bergeser ke kamar dan melanjutkan peluk tangis kami. Kami tertidur.


“Ria.. sayang, bangun.. Hyang.. nak, ayo bangun”_ tepukan halus dipaha kami terasa dan bangunkan kami. Ibu Azria. Meminta kami mandi dan sarapan untuk kemudian lanjut ke ruang keluarga dimana sudah ada beberapa orang yang duduk mengelilingi jenazah Gema dan berdoa. Kami ke kamar mandi berdua dan hanya sikat gigi membasuh muka, kami tak siap mandi. Dingin dan kepala kami pusing. Mata kami sipit dan bengkak. Kami menangis semalaman rupanya.


Usai ganti baju dengan gamis putih yang sudah tersedia dikasur juga kerudung berwarna sama, kami meraih buku doa yang juga sudah disediakan dan meneguk susu yang bibi siapkan dimeja belajar Azria. Kami tak makan rotinya. Kepala kami berdenyut denyut. Jemari kami saling menggenggam dan melangkah pelan berbarengan menuju ruang keluarga. Kami tak berbicara sepatah kata pun. Hanya aku yang menangkap suara isi kepala Azria yang berkecamuk hebat. Juga isi kepala orang orang satu ruangan itu. Ruh Gema ada didekat kepala jenazahnya, menatap satu per satu orang yang berdoa mengelilingi dia. Lalu dia menatap Azria. Lalu kudengar satu suara asing, pelan tapi jelas, nanar dan serak sedih.


“Ria.. de’, abang pamit ya? Ade jangan nakal.. abang ga bisa


jaga belain ade lagi. Jangan nakal, biar ga dipukul papa lagi. Ya sayang ya..


janji abang (jarinya membentuk formasi cantelan kelingking).. maafin abang ya..”_tangisku buyar. Tak bisa lagi kutahan. Azria juga ikut meraung. Doa doa terhenti, Ibu Azria memeluk kami dan meminta kami berhenti menangis.


“kasihan abang Gema nya nak kalau ditangisin, ikhlas ya..

__ADS_1


ikhlas..”


Hari ini lambat yang cepat. Terasa lama sekaligus mengejutkan karena diluar sudah gelap lagi. Aku telepon mama minta dijemput pulang. Besok harus sekolah. Hari ini sudah bolos. Hatiku sakit. Ruh Gema ternyata ruh


pertamaku. Ruh manusia yang berpamitan. Hantu hantu yang sudah lama meninggalkan dunia ini ternyata lain dengan ruh atau arwah yang baru pergi. Masih “segar”. Dan entah karena kata kata pamitnya atau karena aku juga


mengenal Gema, rasanya kepergian Gema sakit. Sesakit aku ditinggal orang orang pribadiku. Selamat jalan Gema. Aku pasti jaga Azria.


Seminggu setelah kepergian Gema. Azria sudah kembali ke sekolah, tidak secerah sebelumnya tapi juga tak redup. Dia tetap Azria yang menyapa siapapun yang ditemuinya, tetap bagi tawa dan berbicara. Hanya kurang


cetar.. hahaha.


“Ri.. are you ok?” jadi pertanyaan langgananku sejak kepergian Gema. Dia kadang jawab dengan intonasi cerah kadang pelan sekadar menjawab, “I’m ok Hyang..”_


Mendekati ujian semester. Kami lumayan tersita waktu untuk belajar, buat tugas ini itu untuk tambahan nilai nanti dan menjadi kakak pembimbing regu dikelas ekstrakulikuler. Si anak cowok berkulit cokelat kurus


tinggi tak pernah kulihat lagi, kecuali beberapa kali dia datang dalam mimpi.  Itu pun kadang aku ngeh itu dia atau tidak. Arlene juga, si kulit pucat, hanya beberapa kali berpapasan denganku dilorong sekolah atau


kelas PMR. Mulai saling tukar senyum kadang, seringnya sama sama pura pura tidak melihat. Tapi “koneksi” tak berubah. Tetap aku merasa ada sesuatu dengan si kulit pucat ini. Apa itu.. entahlah.


Satu hari dikebun belakang “ Hyang.. gue kangen bang Gema..” gerak reflekku adalah memeluk sahabat terbaikku ini ‘kan “AHH!! Sakit!?..” kulepas pelukan. Ku telaah Azria dari atas hingga bawah.. dan itu


dia! Lengan kanannya ada goresan berbintik sedikit lebam membiru.


“Apa ini Ri??!!”_ sontak kugenggam tangannya, kuperiksa. “Kenapa biru dan goresan bekas apa ini??!!” _Tangis Azria meledak. Menghambur memelukku. Kubiarkan dia tumpahkan semua. Nanti kalau sudah reda pasti dia


cerita.


Diantara senggukan dia bercerita dengan nada pelan. Dia cerita kenapa badannya sakit. Lengannya tergores dan membiru. Juga kenapa almarhum Gema tinggal bersamanya. Ayah Azria. Ya.. Ayah Azria. Ringan tangan. Apalagi kalau dalam keadaan stress karena pekerjaaan. Makin menjadi. Takkan dilihatnya lagi siapa yang dihadapi atau apa masalahnya. Dihantamnya dengan cambuk dari ekor ikan pari miliknya atau dengan tangan besarnya. Ibu Azria yang tak kalah sibuk, memilih “menitipkan” anak semata wayangnya pada asisten rumah tangga dan keponakannya, almarhum Gema. Gema selalu ada dirumah bersamai Azria, menemani menjaga dan melindungi adik sepupunya dari ancaman gila-nya seorang ayah.


Sekarang tak ada Gema. Sekarang aku paham pesan ruh Gema terakhir kali itu. Ya Tuhan.. jantungku sakit. Sumpah sakit!!. Aku bisa apa??. Tolong sahabatku Tuhan.. please.


Sejak cerita itu, tanpa kusadari aku makin protektif pada Azria. Jika sebelumnya aku hanya ingin melindunginya dari sedih dan kesepian, kali ini ekstra pengawasan, kulihat dan “lihat” dia meski kami sedang tak


bersama. Kurasakan detaknya, kudengar alam pikirannya dan kurasai hatinya. Tak jarang ku telepon juga dari rumah, sehari bisa berkali kali apalagi saat hari libur.. sekadar bertanya sedang apa atau sudah makan belum. Haha. Mama sampai mengira anak gadisnya mulai puber. Teleponan dan tanya hal hal “sok manis”.


Disekolah dan saat kami bersama malah lebih intens, sampai pernah membuat seorang kawan bertanya, “kalian.. lesbi?!’_ hahahhahahahaaa... gilanya, kami berdua menggangguk dan malah pererat genggaman. Hahaha. Tapi


betul dan asli, aku sayang Azria. Matahari pribadiku.


Tahun terakhir sekolah menengah pertama. Teman teman dan kegiatan tak banyak yang berubah kecuali tingkat kenakalan. Hahaha. Sekarang kami berani membolos. Kami berani “culik” mobil ayah Azria dan pakai keliling


kota di jam sekolah. Kami pergi ke pegunungan atau perkampungan sepi untuk main main dan merokok. Ya. MEROKOK. Nakal? Itu baru sebagian kecil. Kami melakukan banyak hal lain yang lumayan ekstrem untuk anak seusia kami.


membuatku belajar dari pengalaman ini, saat kutulis cerita ini usiaku sudah 39 tahun. Ini kisah


hidupku yang kubukukan. Mengingat masa remajaku yang normal dan tidak, memahami bahwa diusia ini kami memang sedang dalam masa peralihan kanak kanak ke dewasa. Usia dimana semakin diajari apalagi dengan cara kasar dan paksa, takkan mempan buat kami. Justru membuat kami menjauh dan menutup diri. Bahkan benci orang


tua. Untuk bisa mengendalikan kami, justru harus bisa jadi seusia kami. Rebel. Pemberontak aturan dan norma. Harus paham cara berbicara dengan kami agar kami dengar. Jangan digurui apalagi kasar. Jadilah seusia kami, jadilah TEMAN, pasti kami dengar. Kami MANUT sama ORANG ORANG ASIK


******************


Semakin bertambah usiaku selain kebisaan ilmu buku dan sekolah, kebisaan lain pun bertambah. Jika awal dulu aku adalah bayi yang bisa berbahasa asing kemudian beranjak tumbuh bersosial baik dengan bukan manusia, bisa


mendeteksi keberadaan seseorang pun sesuatu dengan pikiranku, sekarang aku bisa merasakan gerakan bumi. Ya, bumi. Aku bisa merasakan secara harafiah jika bumi bergerak. Aku melihat kejadian kejadian masa depan tanpa harus menutup mata dan berkonsentrasi mencoba menerawang atau apapun itu. Jika akan terjadi bencana,


dimanapun  itu, bumi akan memberi sinyal padaku. Tempat yang kupijak atau kududuki akan “bergeser” pelan dan hanya aku yang merasakan. Kemudian, apapun siapapun yang sedang kuhadapi saat itu, kasat


mataku takkanlagi melihat itu. Pandanganku akan tertutup oleh “pemandangan” lain. Penampakan kejadian dimasa depan. Entah gempa, banjir, angin beliung.. apa saja. Pokoknya kejadian bencana saja.


Aku ini buta arah (hahah.. apa nama kerennya? Geographic dyslexia? Nah.. itu!) parah ngga sih? Aku


bisa merasakan bahkan melihat kejadian dialam pikiranku tapi aku tak tahu itu arah mana!?. Hehe.. maaf. Kutebus itu dengan mulai mempelajari peta. Merengek papa minta dibelikan bola dunia dan atlas berbentuk seperti lukisan dinding hampir sebesar dinding kamarku. Jadi bertambah lagi kegiatanku sekarang, meraba


dan menelusuri peta. Kurasakan dan ku ikuti intuisi dimana kira kira gambaran kejadian itu terjadi. Ajaibnya, jari jariku tahu dimana harus berhenti untuk menunjuk lokasi tepatnya. Aneh? No! Gila? I dont think so!. Karena berkali kali yang kutunjuk dan kulingkari dipeta itu, tinggal menunggu hari saja, besok lusa


pasti nongol  diberita televisi atau koran. Kalau pun meleset, hanya beberapa kilometer saja titik bencananya. Kota, pulau atau negaranya, tepat. Tidak pernah meleset.


Aku jadi seperti orang dengan banyak kepribadian. Aku yang anak remaja usia belasan. Aku yang cenayang (aiihh.. KEREN! Tsahh..) Aku yang normal dan bersosial. Aku yang aneh dan anti-sosial. Duniaku saja ada dua, dunia luar bin normal dan pada umumnya, duniaku yang bersistem privasi tinggi binti ngga mungkin orang normal


PAHAM!!. Hahaha.. weww. Entahlah.. pokoknya begitu.


Aku bisa “melihat” kejadian sebelum itu terjadi, aku juga bisa “membuat” satu kejadian terjadi. Ya. BISA. Cukup fokuskan pikiranku pada satu emosi yang kuat, semisal marah. Dikeadaan yang amat marah, aku cukup fokus


dan katakan dalam hati, jatuh kau!!, maka orang yang membuatku marah akan sekonyong konyong jatuh. Ya, jatuh.. begitu saja. Bisa terpeleset atau terjungkal dari tempatnya duduk. Hahaa.. apa sebenarnya aku ini Tuhan?.


 


 


*****************


“Hyang.. sebentar lagi kita pisah lohh..”_ “Gue takut Hyang..”


“Takut apa?”


“Takut rindu!? Hahahahhahahaaaa...”


“Yikes!! Ngedadak mual gw Ri!! Hahhahahahaa..”_ kami tertawa tapi aku yakin  hati kami sama sama mencelos. Sama sama takut. Sama sama sakit. Aku yang paling sakit sih, tiga tahun menjadi anak normal ini kulalui dengan baik karena Azria, tiga tahun yang luar biasa. Luar biasa karena ternyata aku salah, ternyata tak semua manusia menyebalkan atau menakutkan. Azria yang jabat tanganku, rangkul aku dan tak sejejak pun tinggalkan aku dibelakang. Dibawanya aku ke dunia normal dengan kepastian, menjadi biasa atau normal itu tak apa.. bagus malah, menyenangkan.


Semakin dekat hari H ujian akhir, semakin dekat kami satu sama lain. Entahlah. Perasaan bersiap katakan selamat tinggal? Uji coba rasa kehilangan? Apa? Lebih ke bahagia yang sendu.. aneh.


“Lo masuk SMU mana Hyang?’


“SMKK..”


“Lo mau jadi chef? Waaaaahh.. bikinin gue kue yang banyak ya Hyang.. gue suka kue, lo tau kan?”


“Iya.. apa yang ngga buat lo sih..”


“Hyang.. kenapa lo ngga ikut gue sih ke SMU biasa? Nanti acara sekolah kita pasti beda, jadwal juga, rumah kita jauhan.. kapan kita bisa samaannya? Lo pengen gue mati sedih ya?” Matamu Ri.. matamu  yang tak pernah secerah sebelum Gema meninggal, makin redup waktu bilang ini. It’s killing me.. truly


“Ya ‘kan kita masih satu kota, masih punya hari minggu juga hari libur lain Ri.. gue pasti cari lo dihari hari kayak gitu, you are my sister, gimana bisa gue ngga ada lo? Makin kek kuburan dunia gue!? Bisa bagai bumi tanpa matahari wahai sayangku Azria.. oh!!” kugenggam dada bak seorangpuitis picisan dengan raut wajah memelas sedih.


“NAJIS!! Hahahahahahahaaaa... “ menghambur meraupku dia katakan ini.


Aku tertawa keras juga, balas meraupnya, tapi hatiku sedih. Sesak. Seperti yakin, inilah hari hari terakhirku sama Azria. Semoga jangan. Ahh.. tapi, tiga tahun sudah kulalui dengan baik. Selain Azria, aku juga punya banyak kawan lain. Jadi pasti bisa nanti disekolah baru punya kawan baru. Atau jika tidak pun, toh aku sudah jauh lebih lama hidup tanpa kawan manusia, toh aku masih punya Azria.


LULUS. Nem 45, 09. Rata rata 9. Iya, aku ini lumayan cerdas. IQ 142. Haha.. sombong. Hari wisuda, didandani tipis (tetap saja rasanya wajahku seperti ditempeli adonan kue dan berkerak, GATAL! GA BETAH!! Tolong..)


belum konde cepol yang hanya sebesar cangkir teh mama saja ini rasanya buat kepalaku tambah berat sepuluh kilo!?. Azria yang memang sudah cantik, makin cantik dengan kebaya hitam pilihannya. Kami bergandengan terus selama acara. Sekilas terpikir olehku si anak pucat Arlene dan si kurus tinggi cokelat. Kemana mereka? Akan satu sekolah lagi kah kami atau tidak.. akan bertemu lagi kah kami atau tidak. Oh iya, nama anak cowok kurus tinggi berkulit coklat itu, Rayi. Aku tahu dari Aldi, ketua team PMR-ku.


Sebelum menaiki mobil papa, kupandangi sekolahku, seperti merekam gambar gambar untuk kubawa sampai tua nanti. Sekolah yang ajari aku banyak hal. Bawakan aku banyak hal. Sekolah dimana manusia itu NORMAL. Aku manusia, dan NORMAL, lumayan. Selama aku bisa menutupi kemampuanku, takkan ada yang tahu aku ini “ajaib”. Lagipula, berkat Azria, aku tahu sekarang caranya bergaul dan membawa diri. Juga seiring usiaku bertambah, aku mulai bisa menguasai alam pikiranku dalam arti, mana yang mau kudengar atau kulihat atau kurasakan. Longstory short, aku mahir sekarang jadi manusia “normal”.


Jalan panjang menuju rumah, Papa memutar lagu lagu kesukaan kami berdua sepanjang jalan. Papaku orang yang juga tidak terlalu banyak bicara, sesekali saja. Sekarang pun dia lebih banyak menggumamkan beberapa bait lagu


sesekali naik mengikuti reff. Suaranya bagus. Besar berat tapi panjang nafasnya untuk nada nada tinggi. Papa sangat pria dimataku. Tinggi besar tegap, kulitnya yang putih kemerahan jadi kanvas baik  untuk menonjolkan tattoo tattoonya. Favoritku yang berbentuk jangkar. Dipadu ulir mawar dan sesosok perempuan ditengah, seperti disalib. Dan pembawaannya yang lembut juga jeniusnya dia membuatku sangat look up dan mengidolakan papa. Sampai tertanam dalam hati, jika suatu hari kelak aku punya pasangan, aku maunya seperti papa, PERFECT INSIDE OUT. Atau benar adanya kata bijak yang kubaca, Ayah adalah cinta pertama putrinya.


****************


SMKK Negeri 1, jurusan Tata Boga. Dengan mudah aku masuk sekolah kejuruan dengn NEM-ku yang tinggi. Bahkan aku ditanya kenapa tidak masuk sekolah umum saja. Jawabku singkat, mau jago masak dan punya


restoran. Padahal mungkin aslinya aku suka makan, haha.


Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sekolah menengah atas ini, runs flat. Mungkin karena sebagian besar muridnya adalah perempuan dan cenderung baik-baik atau lagi lagi aku yang malas buka hati untuk bergaul. Tak ada  yang istimewa kecuali aku sering bolos dan menemui Azria yang juga bolos dan memilih “nongkrong” dirumah dia bersama beberapa kawan lama dari SMP. Dan beberapa kawan baru, anak satu sekolah dengan Azria. Dia masuk SMUN 2, sekolah umum biasa. Yang luar biasa murid muridnya yang sebagian besar seperti Azria, anak anak broken home yang mencari bahagia ditempat lain selain dirumah pun disekolah.

__ADS_1


__ADS_2