Rahyang Kirana

Rahyang Kirana
Titip cinta dari lain dunia, Raziq_ part 2


__ADS_3

Si bumil lanjut menikmati es batu siram siropnya, aku berdiam disebelahnya dan membulatkan hati untuk mengatakan semuanya. Bukan soal tak tahan dengan tekanan rasa bersalah saja, tapi juga ada anak yang harus


diperjuangkan hak hidupnya. Papa Mama Ria saja jelasnya sudah tahu atau belum aku tak tahu.


“Ri.. tentang adik bayimu, Papa Mama sudah tahu kah? I mean.. have you told them? Orang tua Raziq? Did they know? Do you want to tell them? Umm.. maaf, bukan kepo or mau ikut campur gur ‘Ri..”_ dalam sekali hembusan nafas kuhabiskan pertanyaan pertanyaan yang kusiapkan sejak entah kapan. Tanggung, mumpung ada keberaniannya.. eh, waktunya.. eh.. aduh apalah! terserah.


“Satu satu kalau tanya Hyang.. diam diam diam, sekalinya tanya macam petasan merepet ‘gitu!? Mana kedengeran?!”_ lanjut makan es.


“Ish! Gue kepenuhan kepalanya taukk!! Jadi gitu.. makanya merepet! Gue dari kapan tahu pengen ‘nanya ke lo. Tapi ‘nunggu moment pas.. . Bokap ma nyokap dah tahu ‘Ri?”


“Bodo’ amat! Ngga gue pikirin Hyang.. mereka mau tahu apa soal gue? Selama laporan si Mbak gue masih ‘idup, mereka ngga akan peduli yang lain!”_ jawabnya acuh, esnya sudah habis, ditaruhnya mangkuk bekas ditempat


cuci piring dan beranjak menuju kamarnya. Aku manut mengikuti.


“Kalau Ortu-nya Raziq?”_ tanyaku lagi begitu kami sampai dikasur dan kubantu dia betulkan bantal sandarannya. Dia dengan lemas sandarkan punggungnya sambil mengelus perut.


“Belum.. memang harus aku beritahu Hyang? Mereka tahu keberadaanku saja mungkin tidak.. selama gue pacaran sama Raziq, ngga sekalipun dia bahas soal ortu, sama kayak gue”_


_Aduh.. sulit ini guys!?_ “Umm.. anu loh ‘Ri.. itu.. umm..”_ bingung saya pemirsa\, ASLI!! ‘gimana cara kasih tahu orang tua Raziq soal beginian sementara hubungan yang jadi asal muasalnya plus orang orang yang


terlibatnya saja mereka tidak tahu?_


Ruh Raziq datang. Jauh lebih bersih sekarang. Matanya yang kosong menatap kekasihnya yang sekarang perutnya mulai terlihat. Meski lurus tanpa ekspresi, aku bisa merasakan “emosi” raziq. Antara rindu, penuh kasih dan


sedih yang campur jadi saru emosi luar biasa yang belum pernah kurasakan di manusia hidup manapun. Well.. not the ones that I’ve met sih.. mereka rata rata manusia yang isinya hanya ego. No heart nor gentle feelings attached.


Aku menatap Raziq dan Azria bergantian, aku yang terhanyut dimomen romantis ini. Sampai.. “Aduh!!.. Dede kok tendang mommy?!_ Azria berseru sambil mengelus perutnya. Sontak Raziq dan aku bergerak mendekati. Kami


kompak juga mengelus perut Azria.


“Dia gerak Hyang!! ‘emang ade bayi umur berapa sih bisa tendang tendang gitu?! Eh.. lo ‘kan belum pernah hamil ya, mana lo paham?! Hahahahahaaaa.. maaaappp!!”_ gantian dia merepet tapi bahagianya begitu terasa. The excitement of a mother. Wajahnya serius makin cantik saat matanya bersinar bahagia begitu. Aku suka. Raziq pun aku yakin suka. Wajah hantunya jadi sedikit berkurang menakutkan. Haha.. not that I’m scared of him. Wajah wajah hantu bagiku tak ada yang menakutkan. Saat mereka muncul pun paling banter aku kaget saja. Wajar kan?.


“Hyang.. bengong lagi!”


“Ah-hah-iya-apa-“Ri?”_ glegepan jadinya kan..


“Tadi mau tanya apa?” Ruh Raziq ikut menoleh kepadaku. Wajahnya mencerminkan suruhan untuk bercerita tentang mimpi dan wasiatnya. Ouh.. C’mon Raziq!! help me a little!! bukannya ikut ikutan 'nodong gitu!?


“RAHYANG!! Lo lagi ‘ngapain sih? Bengong lo beda deh.. disini ada hantu?? WHAT??!! Dimana hyang dimanaaaaa.. MANA ITU BAWANG PUTIH?! MANA ITU TASBIH?? Aduuhh.. amit amit jabang bayiii.. sabar ya ‘nak, sabar.. Mommy cari dulu itu protection!”_ aku yang sedang sibuk dengan alamku sendiri tambah sibuk


lihat si bumil yang tetiba merepet panik ngga jelas dan wara wiri keliling kamar. Bawang putih? Memang ada vampir? (‘Emang lo takut bawang putih ‘Ziq??) hah? Tasbih? Aduuuhh.. ngapain sih ‘nih bumil satu?!.

__ADS_1


“Ria.. ‘Ri, Ria!! Woii.. Ngapain sih lo? Aduuhh.. pelan pelan dong jalannya!? RIA!!” ikut merepet kan?!. “AZRIA PUTRI ROMANSYAH!!” gemas jadinya dia malah semakin kencang jempalitan lirik lirik setiap sudut kamarnya


entah apa yang dicari!?.


“Tunggu dulu Hyang, mana itu bawang putih yang dipeniti ituuu??! Kata si Mbak, kalau lagi hamil harus bawa ‘gituan, biar aman dari setan dan kawan kawan!!”_ balas Azria tanpa menoleh padaku.


Wait.. WHAT??.


“Hahahahahahahahaaaaaaaa... hahahahahaahaaaaa.. aduh ‘Riiiiiiii!! Siapa yang ajarin hal super konyol


begituuuu??!! Hahhahahahahaaaa.. memang pikirmu Raziq bakal ‘nyingkir dengan ditusuk bawang hidungnya tuh?! aku lupa.


Aku menunjuk ke arah ruh Raziq. Ok. Azria berhenti wara wiri dan melihat ke arahku sekarang dan tajam. Ok guys.. Ackward sekaligus takut gue lihat  pelototan matanya yang kok yaa.. perasaan jadi hitam semua sih kayak mata Valak??!! Aduh!!


“Aaa-pa Hyang? Rah-ziq? Ra..ziq?? A-aa-da Raziq? Raziq-ku?? Mana Hyang?? Dimana dia?? Tunjuk Hyang TUNJUKAN!! Azria histeris. “Mana Hyangh? Tunjukan.. gue mohon!!” pekiknya lagi disela hamburan tangis. Tangannya memegang perutnya dan detak jantung mereka berdua sedemikian kencang terdengar sekarang berupa


dentam genderang bertubi tubi. Bercampur meriah dengan tangisan Azria.


“Tenang ‘Ri.. tenang sayang.. tenang dulu, jangan ‘nangis dulu.. iya iya.. gue tunjukin dimana Raziq, ya? Tenang ya? Sini ‘yo.. sini duduk sini.. minum dulu,”_ kusodorkan gelas padanya, dia hanya memegangnya dan


tak meminum seteguk pun. Alih alih dia malah menoleh padaku masih sambil dengan airmatanya yang sepertinya sulit dihentikan. Aku menoleh pada Raziq yang sekarang ikut duduk disebelah Azria dan mengusap usap punggungnya. Sekilas terasa harapannya untuk terasa juga oleh Azria gesture menenangkan itu. Ahh..


“Aduh.. si ade’ nendang lagi.. Hyang, hahah.. kenapa ‘nakku, kenapa sayang..”_ Azria teralihkan oleh tendangan si kecil yang mungkin karena merasakan sentuhan sang ayah jadi ber-Euphoria didalam sana. Manisnya . Aku hanya


bisa menonton adegan manis getir itu dan tanpa terasa aku ikut meneteskan airmata. Sakit hatiku berlipat ratusan kali. Karena aku dan kesembronoanku jadinya begini. Ahh.. jahatnya kau Hyang!!.


Aku pamit ke toilet, aku tinggal mereka dikamar. Aku turun kebawah dan mencari sudut. Tak ada. Semua ruang berisi. Tak mungkin aku menumpahkan semua isi hatiku ditempat terbuka seperti ini. Dalam kalut aku


meraih kunci mobilku dan melaju pergi. Kemana? Entah.. belum kuputuskan. Jelasnya aku hanya ingin ke tempat sepi dan meraung sejadi jadinya. Aku mau jawaban. Aku akan meminta semesta membantuku atasi semua kalut ini. Aku tak sanggup lagi.


Aku tiba diujung satu desa yang kutemukan setelah sembarang aku ambil belokan masuk mengarah ke satu tempat yang bahkan nama atau ini dimana saja aku sudah tak tahu lagi. Langit mulai gelap. Aku memacu mobilku


terus dan berujung disatu tempat dimana tak ada seorang pun kecuali aku dan pepohonan tinggi. Desa tadi sudah tak terlihat lagi. Good. Great spot. Aku matikan mobil dan hendak menghirup udara diluar sana, sebelum ujung mataku menangkap sesosok kakek berjanggut putih panjang dan memakai gamis panjang yang juga putih. Aku menoleh penuh padanya dan urung turun mobil. Aku memandanginya. Kakek ini wangi, seperti wangi cendana dan pinus jadi satu. Ada sedikit hawa dingin terhirup hidungku yang entah milik si kakek atau sisa AC tadi. Jelasnya wangi dan.. dingin.


Kakek itu tidak menoleh balik padaku, mulutnya seirama dengan hentak pelan pada tasbih ditangannya. Lalu suaranya yang cukup berat dan bergema terdengar.


“Mau kemana kau anak?”


Aku berkedip dan menelan ludah. Entah kenapa kali ini aku merinding bertemu mahluk halus. Tersekat sedikit. Dan alih alih menjawab, aku malah menangis kencang. Terus menangis dan menangis. Kakek itu diam dan meneruskan


dzikirnya, membiarkan aku menangis. Setelah kering airmataku, baru kudengar lagi suara kakek itu. Katanya;

__ADS_1


“Aki paham bingung anak.. tapi sanes kitu carana (dia berbahasa Sunda halus, artinya bukan seperti itu caranya) sanes kitu nyanghareupan dunia teh.. sanes kitu narimakeun nu jadi takdir anak. Malik


sagala ka Gusti Allah.. serenkeun  ku pidua, ku Istigfar, ku shalat. Kudu taat, tawakal, ikhlas kana sagala rupi


jajalan takdir. Regepkeun sagala nu katempo, regepkeun sagala nu dirasa jeung dilampah. Muntang ka Allah nu Maha suci. Ulah sok pok baledog nanaon teh..”


(_Kakek paham bingungmu, tapi bukan begitu caranya. Bukan begitu cara menghadapi dunia.. serahkan semua pada Tuhan, iringi dengan doa, Istigfar, shalat. Taat, tawakal, ikhlas akan segala apapun yang


menjadi jalan takdirmu. Diresapi/ditelaah apapun yang terlihat, terasa dan terlaku-kan. Berpegang hanya kepada Tuhan Yang Maha Suci. Jangan main hantam saja apa apa itu.._ arti ucapan si kakek)  


Aku masih sesenggukan dan masih memandangi si kakek. Aku belum sepenuhnya paham apa maksud ucapannya, karena pikirku, aku ‘kan belum bertanya apapun dan bukan itu pertanyaanku. Tapi karena sudah menangis mungkin tadi aku tak lagi sekacau sebelum kesini tadi dan hari hari kemarin. Kepalaku mulai “ringan”. Aku bisa berpikir, sedikit.


“Kek.. aku merasa aku sudah membunuh seseorang kek..” aku mencoba meraih tangan si kakek dengan harapan dia mau menoleh padaku dan kita bisa berkomunikasi dengan gesture yang tepat. Tangannya tak bisa kugengam dan dia tak bergeming, tetap memandang lurus dan berdzikir. Hanya hawa ditanganku


yang berubah sedikit. Antara hangat dan dingin. Tapi rasanya damai. Jadi kupertahankan tanganku “diatas” tangan si kakek. Kulanjutkan pertanyaanku. “Aku ini punya banyak keanehan ‘Kek.. selain bisa melihat ruh ruh dan para halus lainnya seperti kakek ini, aku juga bisa mengutuk orang ‘Kek.. dan itu kulakukan bukan


baru sekali. Setiap aku marah, aku selalu lepas kendali dan mulai berserapah. Banyak hal aneh kemudian terjadi.. tapi tak pernah seperti kemarin saat Raziq..” aku mulai menangis lagi. Kelebat bayang wajah Raziq dan Azria juga detak jantung mungil yang kusuka itu bersliweran. Aku menangis lagi dan berulang ulang istigfar juga meminta maaf. Kakek itu kali ini mengalihkan tangannya ke kepalaku dan seperti mengelus penuh kasih. Ucapnya;


“Istigfar nu seeur.. dzikirkeun nak.. ulah pernah hilap atanapi salip ti Gusti nu Maha Suci, keun nu atos kajantenan mah, nyungken dihampuran ka Gusti Allah, teras jalankeun naon naon nu janten amanah.. ulah


dibawa ka setan naon naon nu digaduhan ku anak..”.


(_Istighfar yang banyak, jangan pernah lupa atau selip dari Tuhan Yang


Maha Suci. Biar yang sudah terjadi, minta pengampunan pada Tuhan, lanjutkan


jalan apapun yang sudah menjadi jalanmu, amanahmu. Jangan sekali kali pun


dibawa ke jalan setan apapun yang kamu miliki_)


Usai katakan ini, kakek itu menghilang. Aku ditinggal begitu saja. Tapi tidak seperti kedatangannya tadi yang tanpa aku sadari, aku melihatnya pergi kali ini. Or at least I can feel it by the way his “thickness” to “thinning”,


woosh poof.. slowly to the thin air. Aku namai dia Kakek Janggut. Terima kasih sudah menemani aku kakek.. . Sisanya akan kupikirkan nanti kalau sudah dirumah.. atau selama perjalanan pulang ini. Entah. Hatiku sedikit tenang dan rasanya aku siap berbicara pada Azria. Akan seaneh apa ekspresi atau respon dia nanti, Lillahi Ta’ala. Aamiin..


Aku mengarahkan mobilku kerumah Azria. Sedikit kulirik jam dimobil.. aduh!? JAM SATU PAGI GUYS!!_ Injak gas.. jalan pantas sepi –dohh.. ‘norot nganaa Hyaangg??!!-


Doakan gerbang komplek belum ditutup guys..


 


P.S: ternyata aku tadi berkendara sampai hampir Puncak Pass guys.. dari bogor!? Astagfirullah.. and what’s make it worst, sekarang berasa dingin!! Jaket entah dimana, bajuku juga baju rumah kan tadi tuh.._ Episode berikut besok yaa.. Sepet mata!?. Stay safe all.

__ADS_1


__ADS_2