Rahyang Kirana

Rahyang Kirana
Titip cinta dari lain dunia, Raziq_


__ADS_3

Jelang kelas 3, Azria punya pacar. Hehe.. dan mulai sedikit lupa padaku sepertinya. Tidak juga sih.. hanya lebih banyak kruntelan sama pacarnya daripada aku. Until one day. Seharian ini aku sibuk menajamkan pendengaran dan mencoba fokus lebih dari biasa, ada detak jantung halus baru dirumah ini. Sedikit bau darah.. detaknya halus seperti jantung burung pipit. Sesekali terdengar lalu hilang.Terdengar lagi.


“Hyang.. lo ketumbenan banyak diemnya, sakit perut lo?”_ujar Azria seraya mengambil segelas air. Dia meminumnya. Bunyi air masuk perutnya.. bunyi jantungnya.. OO!! Wait.. detaknya ada dua. Astagfirullah.. Ya! Dua. Satu punya Azria dan satu, satu si detak jantung burung pipit. Oh my.. . si Oncom hamiiiiiiiiiiiiillll!!!. Yaaa Tuhaaaaaann!! Reflek aku terbangun dari kursi dan menghambur memeluknya.


“Riaaaaaa!! Ebeeeeppp.. LO HAMIL??!!”_ suaraku membludak penuh kejut dan bahagia.


“Uhukk!! Ngomong apa sih lo Hyang?! ***** ‘dihh!! Iya kali gw hamil!? matanya melotot, tambah cantik


yang ada dia. Sedetik kemudian dia seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu, “Menstruasi gue ‘emang ngga berarturan sih Hyang, ngga tiap bulan kayak lo rutin gitu. Dan gue ga pernah berasa apa apa, periksa juga ngga. Hanya saja.. umm.. itu, anu loh Hyang.. ahh ga jadi deh!?


“Dihh.. siapa sih yang ngajarin lw rahasia rahasiaan ‘Ri? Sejak kapan pulak?!”


“Bukaaaan.. bukan rahasiaan Hyang, tapi gue masih ragu.. sebab mana tahu benar mana tahu ngga..” wajahnya malah polos tersesat dialam pikirnya sendiri. Dan aku baru ingat tentang status kami yang masih pelajar. Tentang usia kami yang baru belasan. WADUHH!!


Kami terdiam. Meski alam pikiran berbeda tapi intinya sama. Azria jelas tak memikirkan soal sekolah dan usia tadi, malah sekelebat terdengar gumamnya tentang Mama Papanya yang pasti senang mau punya cucu (wait.. WHAT?! Kalau aku pasti sudah dibunuh ditempat sama Mama) aiiihh.. aku mau punya ponakan!! Lupakan hal hal buruk! Seorang bayi. BAYI pamiersaahh!! Yahoooww!! Berkat berkat berkat!! Terima kasih Tuhan. Alhamdulillah. Wait a minute.. bayi ‘kan cuma ada kalau manusia ber.. umm.. ber.. anu.. itu looohh!! Aduh!? Berarti Azria? Waaaahh.. (no further comments everybody).


“Gue akan bilang Raziq, wait!” _ditaruhnya gelas dan pergi dia kekamarnya mencari Raziq si pacar. Well.. good luck Ri, karena sepertinya dia takkan sebahagia kamu dengar berita ini. Benar saja, tak lama terdengar tangis azria dan suara bantingan entah apa. Lalu Raziq yang bergegas keluar dengan ekspresi sekusut jemuran kering. Berlipat liuk dan ngga karuan.


Aku memutuskan untuk bersama Azria yang kudapati masih menangis dikamarnya. “It’s ok love.. everything is going to be ok..”_ seraya kupeluk dia.


“Masalah ngomong ke nyokap bokap sih gue ga khawatir Hyang.. yang bikin sakit itu muka Raziq tadi dan ucapannya yang seenaknya bilang ini bukan anak dia lah salah lah apa lah! pikir dia gue cewek macem apaan?!”_ tangisnya kembali kencang. Dasar laki laki gila, batinku.


Awas saja. Tunggu kau Raziq.. kau buat Azriaku menangis hah?? berani?? MATI KAU!! Aku marah dan kelepasan ucap. Saking emosi lihat Azria-ku menangis begitu.. aku mengutuk Raziq. Aku khilaf. Maaf. Malam itu ditutup

__ADS_1


dengan berita mobil yang dikendarai Raziq terbalik di tol. Raziq meninggal ditempat. Wallahuallam.. entah takdirNya, atau kutukanku. Maaf.


Selepas kejadian Raziq, aku mulai merasa bersalah. Aku dihantui pertanyaan pertanyaan benarkah kematiannya aku yang sebabkan? Benarkah aku mengutuk Raziq dan akhirnya itu yang terjadi. Biar bagaimana Raziq adalah


pria kesayangan sahabat terbaikku, ayah calon bayi dirahimnya, anak seseorang yang pasti orangtua dan keluarganya merasa sakit kehilangan. Ya Tuhan.. apa yang telah kulakukan? Meski benar ini adalah juga garisanMu, tetap saja, mengingat banyak kejadian buruk yang terjadi saat aku emosi terutama marah. Ini


yang paling fatal. Jika benar itu adalah “perbuatanku” .. maka aku telah tanpa sengaja “membunuh” seorang manusia. Fatal.  Malam malam berikutnya lagi, aku tak bisa tidur. Mimpi buruk terus. Raziq berkali kali datang. Dari mulai wajahnya yang bersimbah darah hingga dia terduduk sedih hilang harap. Samar yang kudengar,


_ “gue bukan ngga mau anak itu, tapi.. apa bisa gue tanggung jawab? Katakan bisa, tapi apa gue ngga bakal jadi bokap kayak bokap gue?? Yang tahunya ‘ngasih harta doang. Pertanyaan tiap gue balik rumah bukan darimana


atau ‘ngapain, bokap cuma nanya duit lo ‘udah ‘abis makanya balik?_ pertanyaan macam apa gitu? Gue ini anaknya, bukan karyawan hotelnya!.. lagian gue cuma kaget, itu doang.. tentang bahasa yang kasar, gue ngga pernah dapat bahasa halus dimanapun. Semua bicara dengan nada sinis atau beringas kalau ke gue Hyang.. baru Azria yang bisa halus ‘gitu ke gue. Dan sekarang.. gue ga bisa lagi bersama dia..titip anak gue ya Hyang, jagain. Bantu my Riri bilang itu ke bokap gue, biar dikasih hak gue ke anak itu. Dan tenang.. bukan salah lo ko’..


gue yang matanya labur sama airmata.. hangover lagi guenya haha!!”_


BISA APA KAU HYANG?!!


Hari hari berikutnya, rasanya aku yang lebih tak ingin menghadapi matahari dibanding Azria yang ngidam. Aku lebih tak bisa menghadapi hari hari tanpa Raziq dibanding dia. Bayang wajah Raziq, wasiatnya tentang anak


dalam kandungan Azria, tentang rasaku yang begitu marah pada ucapan terakhir Raziq yang kemudian membuatku lepas kendali dan aku mengutuk Raziq. Tuhan.. I’m guilty, punished me, please. For the first time in my life, I admit, I’m a MONSTER.


“Lo kok beberapa lama belakangan ini jadi pendiam Hyang? Jauuuuuuuhhh lebih diam dari lo biasanya, and sometimes I feel like you’re avoiding me, why Hyang?”_ tanya Azria disatu sore waktu kami duduk dan menonton TV yang mati (what? Tak ada larangan toh?) Azria melingkarkan tangannya ke pinggangku dan


aku balas memeluknya. Susah menahan airmata. Susah sembunyikan apapun darinya. Si

__ADS_1


mungil dari dalam macam mengerti saja kami diluar sini sedang bicara, detak jantung pipitnya lebih cepat sekarang seperti Hummingbird (what is Hummingbird in Indonesia? Sorry lupa, malas buka translater).


“Hyang.. malah makin sih lo.. ada masalah apa? Cerita lah.. gue ‘kan cuma hamil, bukan kena serangan jantung!?”_ selorohnya lagi.


“Ngga ada apa apa ‘Ri.. gue cuma lagi seneng ‘aja deketan bumil”_ balasku asal, aku tak bisa berpikir, kepalaku bingung dan lebih semrawut dari biasanya. Aku tak tahu bagaiman memulainya. Darimana memulai


ceritanya, dari pertama aku marah dan kelepasan kah atau dari mimpi berisi Raziq. Aku tahu aku tak mungkin menyimpannya lebih lama, sudah hampir empat bulan dari kematian Raziq dan belum sepatah kata pun aku sampaikan. Belum satu baris pun aku terbuka pada Azria, pada pihak pihak yang seharusnya terlibat. Orang


tua Azria pun belum tahu, Ibunya belum pulang dari luar negeri, Ayahnya makin ngga karuan kapn pulang atau sedang dimana. Anak anak nongkrong juga makin sini makin sedikit. Entah karena mulai sangat dekat dengan ujian atau karena rasanya kematian mulai terlalu banyak dianggota kami. Hari ini saja hanya ada Boma dan


Tule. Yang lain entah kemana. Beberapa hari ini aku menginap dirumah Azria, alasan ke mama adalah aku sedang ujian yang mengharuskan aku datang amat sangat pagi dan rumah Azria lebih dekat kesekolahku. Dia percaya atau tidak, masa bodoh. Aku mulai amat renggang dengan ibuku beberapa waktu belakang ini, well..


sejak kejadian rukiah rukiah sial itu ‘deng!?.


Aku malas berbicara atau bahkan sekadar berpapasan dengan beliau dirumah. Lagipula caranya memandangku sekarang rasanya jauh berbeda. Lain kalau papa sedang dirumah, dia akan manis ‘ngalahin gula. Hihh!!. Maaf Tuhan. Tapi memang benar kok.. satu rumah yang sama sekali tidak berubah hanya papa. Tak peduli semakin


tingkat dewa aneh bin ajaibnya aku. Baginya aku tetap Rahyang Kirana. Anak gadisnya yang utuh dan normal.


“RAHYANG KIRANA!! Dihh.. malah bengong!? Aduh.. mau makan es batu disiram sirop melon..” Azria bangkit dari duduknya dan menuju dapur. Aku yang memang “bengong” makin bengong lihat perubahan tema bicara Azria yang hanya berjarak satu spasi. ‘Ngomel terus ngidam mau kletukin es batu!? ‘Gimana sih bumil nih?!.


Aku mengikutinya ke dapur dan membantunya memecah kubik kubik es. Kupandangi diam diam. Yang terasa olehku justru hatiku sendiri. Terbayang jika aku diposisinya. Dengan segala pukulan kehilangan yang terjadi, dengan yang harus dia pikul sekarang, dengan sandaran yang hanya ada aku, sandaran paling


rapuh dan bodoh. Inilah Azria tapi.. one strong lady, sejak pertama kukenal, dia tak berubah. Selalu kuat dan “tabah”. Seperti matahari. Azria-ku, Matahari-ku. Azria bagiku cantiknya tak ada saingan. Luar dalam CANTIK. No guys.. I’m straight, I’m normal on this “terms’ ok?_ Masih doyan laki ciyntt.. apa sih Hyang?! Maaf.. aku meracau. Kepalaku semrawut dibilang!!.

__ADS_1


__ADS_2