Rahyang Kirana

Rahyang Kirana
7. Mau Murid Atau Mahasiswa, Tetap.. GILA!


__ADS_3

Akademi Sekretaris & Manajerial Jakarta. Tahun Pertama.


Ngga ‘ngekost, dikasih rumah lengkap furniture oleh papa. Rumah jatah kantor yang tidak ditempati karena mama lebih suka di Bogor. Lebih adem katanya. Whatever.


“Jaga dirimu baik baik Hyang ya.. Jangan melakukan hal hal yang akan kamu sendiri sesali dikemudian hari, biar perempuan, tapi kamu harus bisa sukses dan mapan..” Pesan papa berulang ulang.


“Ya papa.. lagipula Hyang tak berencana yang aneh aneh kok.. mau cepat selesai kuliah dan kerja” jawabku manis.


“Ya sayang.. I believe you” balas papa sembari mengecup keningku.


Papa mama sore itu beranjak dari tempat tinggalku yang baru. Mereka kembali ke Bogor dan tinggal aku sendiri disini. Rumahnya kecil, hanya ada dua kamar dan satu pekarangan depan yang cukup luas. Perfect untukku menghabiskan senja or star gazing. Langitnya tampak jelas.


Malam menjelang dan aku hendak merapikan baju baju dari koper ke lemari. Aku memilih kamar dipaviliun, paling depan dan dekat ke teras kalau malam mau kopi cantik dialam terbuka. Dan ya.. seperti biasa, para penghuni tak


kasat mata mulai berdatangan, ada yang mendekat langsung ada yang hanya memandang dari kejauhan. Beberapa penghuni lama dan beberapa pendatang yang mungkin karena merasa senasib (haha..) diijinkan untuk tinggal disitu. Satu yang sepertinya berusia separuh baya waktu meninggal mendekati, aku meliriknya


dan berkata, “Ibu, mau bantu Hyang berbenah? Boleh banget Bu kalau mau..”_ seraya tersenyum. Hantu separuh baya itu tidak menjawab. Malah beringsut menjauh. Haha.. rasanya kok yaa terbalik? Aku yang ditakuti hantu. Hahaa.. .


Berbenah selesai, aku lapar dan lumayan haus. Aku pergi ke dapur dan melihat isi kulkas. Ada ayam ungkep, bakso, sirup, keju, bumbu jadi.. ahahahh, mama terlalu bersemangat!? I mean.. come on.. ‘ngapain aku masak??


Siapa mau makan? Aku? Aku bukan penggemar nasi. Lauk juga hanya jika benar benar menarik mataku baru kumakan. Selebihnya, aku akan kenyang hanya dengan camilan. Sibuk pikiranku dengan mau makan apa, baru tersadar kemudian kalau hawa kulkas tak lagi dingin.. sedikit panas malah?! Aiiihh.. terselip diantara


ayam dan bakso dan jubelan makanan.. satu kepala besar, hitam, agak gosong malah (Ya Allah!?) menyeringai lumayan seram dengan sorot mata merah. Kaget. Sedikit. Selebihnya begitu hilang kagetku, aku malah jadi mual!?.


Iiiiiiiihhh... itu makananku looohh!! Kuman bakteri saja dihilangkan demi kesehatan dan kebersihan, ini malah kepala.. kepala setan lagi!?. SIAL!!.


“Mau apa kau?!_ kataku, naik setengah oktaf dari intonasi biasa. “Tak usah cengengesan begitu!! Aku tak takut!! Dan please.. jangan disituuuu!! Makananku ituuu!! Jadi setan punya adab dong!! Tahu aturan!?”, kataku lagi merepet seperti nenek nenek kurang piknik. Hahaa.. maaf ‘Nek.


Si setan itu menutup seringai-annya dan menghilang dari dalam kulkas untuk kemudian menyebabkan lampu dalam kulkas berkedip kedip. ‘Kan.. ‘nambah kerjaan deh!? Jadi error kan kulkasku! Setan sial!!. Well.. lebih sial karena sekarang dia berada tepat ditengah meja makanku. Mau apa sih?!.


“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku seraya duduk disalah satu kursi dan mengangkat si kepala buntung dan meletakannya diatas nampan, make it more “decent” (dohh..!?) si kepala buntung tak bergeming, hanya mata merahnya makin membesar. “Jangan melotot gitu.. bicara, bisa bicara tidak? Susah kalau tidak


bisa.. bagaimana bisa kupahami maksudmu, sedang tangan saja kau tak punya!? Bagaimana mau pakai bahasa isyarat??! sambil ucapkan ini, kepalaku diisi banyak pikiran, 1. Bagaimana cara berkomunikasi, 2. Hyang.. ‘emang lo udah gila maksimal.. setan sih diajak bicara!?, 3. Kasihaan.. orang lain having romantic dinner sama pacar or kesayangan, lo? Sama setan!?_ Hahahahaaa.. (komedi ironis, again). 

__ADS_1


“Serius tak bisa bicara? Baik.. bagaimana kalau kedip dua kali untuk jawaban tidak, satu kali untuk iya, ok?”_ I’m in a definite condition of mental madness, sigh!!.


  “Oitt.. holaa.. “_ kataku lagi sambil melambaikan tanganku pada si kepala buntung, dia masih tak bergeming. Aduh.. begini model, aku harus apa? Berpikir keras.. . eh! Dia berkedip satu kali.. ahahahaa.. alhamdulillah, bisa diajak bicara juga ternyata ‘nih setan!? (kalian teman pembacaku yang baik hati nan budiman. kalau sudah tak tahan dengan kegilaanku, lambaikan tangan ya? Hehe..).


“Kamu mau minta tolong?” tanyaku kemudian. Si kepala buntung berkedip dua kali. Tidak.. lantas mau apa?.


“Kamu punya nama?”_ dia berkedip dua kali lagi.


“Kamu, korban pembunuhan?”_ lagi lagi jawabannya kedipan dua kali. Jangan jangan matanya rusak guys.. no? Kok kedipnya dua kali terus?? Aihh.. gagal paham!?. Saat otakku berpikir keras memikirkan apa maksud si


kepala buntung, tiba tiba mataku menggelap. Pemandangan meja makan dan dapur hilang total, berganti pemandangan buram, berpasir dan berbau lembab. Yes.. sepertinya aku sudah “berpindah alam” ke.. apa ini? Tampak seperti didalam gua. Ya, gua ini. Buram, berpasir dan lembab.. bau khas tempat tak tersentuh matahari,


bau jamur atau lumut. Pertanyaan berikut, ini gua dimana? Sebentar.. kuperiksa lebih dalam.


Aaahh.. got it! Ini gua dibawah sebuah gunung didaerah Jawa Timur sana. Gua yang konon terkenal untuk pesugihannya. I see.. ok, let see apalagi yang hendak sisampaikan oleh si kepala buntung ini. Ada setitik api


diujung sana.. eh api atau apa itu?. Wait. Woooww.. banyak betul mahluk mahluk yang (aduh.. Astagfirullah, maaf) parah bangeeeeeettt bentuknyaaaa Tuhaaaann!! Astagfirullahaladzhiiiimm.. . dan makin dekat kearah titik api itu, makin busuk baunya. Innalillahi.. luar biasa keberanian para manusia serong ini Tuhan. Demi


kejayaan fana, bisa-bisanya mereka menempuh yang seperti ini. Jujur, aku saja jika bukan karena aku terbiasa melihat mahluk mahluk aneh seperti ini, pasti aku sudah pingsan dengan melihatnya saja. Semakin penasaran, aku masuk lebih dalam. Terlihat beberapa orang dengan posisi bertapa. Lalu, si kepala buntung! Dia ada disana, tetap buntung dan tampak sedang akan dilempar kedalam bara api. Didekat kaki si pemegang kepalanya, tampak sesosok tubuh, menghitam tapi tidak berbulu atau semengerikan potongan kepalanya. Terdengar sayup sayup kalimat kalimat yang sepertinya mantera. Karena doa tak berbunyi aneh begitu. Zapp! Mataku kembali melihat alam nyata, meja makan dan dapurku dan si kepala buntung yang sekarang matanya menyorotkan sinar sedih. Masih merah, tapi ekspresinya lain.


perasaaan lain yang ada disekitar. Tak ada. Hanya perasaanku dan sekelumit rasa sedih menyesal. Ok. This is definitely punya si kepala buntung.


“Kamu.. korban pesugihan?” tanyaku kemudian, dia berkedip dua kali. Bukan berarti.


“Kamu.. sugih?” tanyaku lagi dan dia berkedip sekali kemudian terdengar jeritan melengking keras memekakan telingaku.


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA..!!!”_Si kepala buntung menjerit. Mungkin dia mau menangis, tapi malah itu yang keluar.


Telingaku sakit. “JANGAN MENJERIT!! TELINGAKU SAKIT DAN PERCUMA!! ITU TIDAK MENJAWAB APAPUN!!”_ balasku tak kalah keras.


“Tenang.. akan kucoba memecahkan soal ini, penglihatan tentangmu tadi hanya separuh dan aku tak bisa mengartikannya jika kau terus menerus berkedip!? Kau harus mencoba bagaimana caranya berkomunikasi selain


dengan kedipan!? Sebentar.. biar aku berpikir,” kataku lagi, si kepala buntung menutup matanya dan secara aneh (haha.. iya deh, whatever!?) dikepalaku terbayang papan Ouija. AHAH!! Itu dia, papan Ouija. Disitu banyak huruf huruf dan si kepala buntung kan hantu, dia pasti bisa menggerakkan pointernya untukjadi satu kata bahkan jadi kalimat. Seperti jelangkung. Hehe.. ok!.

__ADS_1


Aku beranjak dari tempat duduk dan mencoba mencari dimana kutaruh itu papan bodoh. Ahh.. sial!! Itu kutinggal dikamar lamaku. Lagipula mana iya terpikir untukku membawa benda seperti itu kesini? Disini ‘kan aku mau


kuliah, mau belajar, bukan mau jadi dukun!?.


“Hey hantu bodoh! Bisa tidak kita teruskan soal ini besok? Sekarang aku lelah sekali.. aku harus tidur cepat dan besok aku harus ke kampus (semoga dia tahu apa itu kampus!?batinku) ya? Tak apa ‘kan? Kau jangan


mengikuti, cari tempat tidurmu sendiri sana!?” Tuhan.. please help. Aamiin.. . Si kepala buntung berkedip satu kali, tanda iya. Alhamdulillah.


Mari kita istirahat. Dan aku total LUPA pada laparku. By GOD!!. Tak lupa kututup meja makan dengan tudung saji. BAHH!!. Well.. semoga tidak ada tamu. Yang lapar. Dan minta makan.


Aku beranjak ketempat tidur. Berdoa dan berharap kehidupan baru sebagai mahasiswa ini tidak merepotkan. Aku rindu Azria. Dimana dan sedang apa dia sekarang Tuhan?.  Kepalaku melayanglayang ke-banyak alam sebentar, kemudian aku terlelap.


Alarm belum berbunyi tapi aku sudah bangun. Kenapa? ada suara menggelinding yang lumayan berisik. Gluduk gluduk gluduk.. gluduk gluduk.. gluduk. Ya Tuhan.. si kepala buntung!?. Dia.. gabut?? ‘Ngapain sih diaaaaaa??!!_ Ouh ya Allah.. .


“Kamu ‘ngapain sih? Glandang glinding gitu.. masa ga tahu kalau kepalamu itu bukan daaging lagi!? Tapi sudah jadi batu keras! Jadi kalau gelindingan gitu.. bunyinya seperti batu kali yang kebawa air bah!? IHH!!_ aku


menggerutu dipagi buta macam orang kurang meriah saja kehidupannya!?. Si kepala buntung berhenti menggelinding dan kemudian menggelinding lagi. Gluduk gluduk gluduk gluduk.. AAAAAAAAARGHH!!.


“STOP IT!!” lompatku dari tempat tidur dan meraih si kepala buntung. “Mau-mu itu apa?” kataku lagi sembari menempatkannya dinakas dekat tempat tidurku. Dia bergeming. Matanya menyala lagi dan memandangku dalam. Ok.. here we go again guys.. another “travelling”.


Kali ini dia membawaku ke suatu tempat dengan udara yang lebih sejuk lebih “friendly”. Tidak selembab pengap tempat pertama kemarin. Masih sama gelapnya. Hanya samar samar bisa kulihat, itupun hanya beberapa langkah


kedepan. Dan kali ini si kepala buntung ada disampingku. Lebih baik kutenteng saja dia, kasihan gelindingan begitu. Beberapa langkah kami masuk kedalam ruang, aku melihat ada sesosok bapak bapak tua tapi tidak terlalu sepuh. Dia duduk dalam posisi bersila dan mulutnya sibuk merapal sesuatu. Aku menoleh si kepala buntung, aku mau bertanya bapak itu siapa dan kami ini dimana juga, ‘ngapain?.


Bagai sambungan koneksi nirkabel provider tercanggih, tak lama begitu pertanyaan tanpa suara itu kulontarkan, jawabannya digambarkan jelas depan mataku.


Tampak barisan beberapa orang, pria dan wanita. Lalu gambar beberapa yang berpakaian mewah juga emas permata. Lalu beberapa lagi terdiri dari manusia berbagai gender pun usia yang tampak kesakitan. Beberapa mayat


dengan mata terbuka. Beberapa wajah dan sekujur tubuhnya hangus (juga berbau!! Damn!!) beberapa lagi serupa si kepala buntung. Bapak tua tadi, masih merapal mantera mantera tapi kali ini ada beberapa adegan dimana dia menerima sesuatu. Entahlah.


Ada yang berupa amplop, ada juga yang berupa seperti hantaran. Hanya hantaran itu tidak berisi kue kering atau camilan atau goodies (hahah.. glekk!!) berupa.. halus. Sehalus ruh. Satu berhasil kukenali berkat kemiripannya dengan seorang anak yang tergeletak jadi mayat dengan mata terbuka tadi. Astagfirullahaladzhim.


Itu persembahan. Ini tempat pesugihan, jelas. Pesugihan yang tumbalnya tak main main.

__ADS_1


Manusia.


__ADS_2