Rahyang Kirana

Rahyang Kirana
Ri.. Jangan Pergi, Bisa?


__ADS_3

Baik, saatnya bercerita. Tak mungkin kusimpan lebih lama lagi hal seperti ini. Anak itu semakin besar dan tak mungkin Raziq lebih lama lagi ada dibumi gentayangan begitu. Kasihan. Aku tak tidur sampai matahari terbit


lagi dan Azria baru terbangun pukul 9 pagi.


“Morning darl’.. “_ sapanya.


“Morning beib.. no coffee ok? Kita belum tahu itu kafein ngefek apa ke debay..”_ sahutku.


“Iya.. ngga kepengen juga, ga tahu malah pengennya apa.. ‘udah gitu gue kok ngga mual mual parah ya? Well.. not that I want it..”_ tambahnya lagi.


Ahh.. aku harus bicara. Ya. Aku akan bicara sekarang, menunggu waktu yang tepat kapan waktunya? Apa juga yang jadi patokan waktu tepat atau tidak?.


“Ri.. aku mau bicara sesuatu tentang Raziq, bisa?”_ ucapku pelan, aku bersiap mendengar reaksi seperti kemarin. Histeris dan penuh drama. Tapi tidak, Azria membalikkan badan dan mengambil kursi disebelahku. Dia memegang tanganku dan memandangku teduh.


“Jadi ini yang ‘ngeganggu pikiran lo selama ini Hyangku sayang?” “Akhirnya lo ngga tahan juga ya? Haha.. lagian lo siapaaa yang ajarin main rahasia rahasiaan ke gue sih?!” intonasinya lembut dan tak tampak sedikitpun cikal bakal histeria. Umm.. Should I feel.. ok with this?_


“Lo kok tenang banget ‘Ri denger gue sebut nama Raziq?”_ malah konyol pertanyaanku ‘kan jadinya.


“Hahahaa.. Hyang, kita ini soulmate, lo itu ‘udah kayak gue yang lain, bedanya lo diem kayak batu gue cerewet kayak artis!?”_ lagi lagi dia tenang guys. Aku yang mendengar ini sedikit degdeg-an aneh.. bingung harus bersyukur atau panik?!.


“Yang benar Azria Putri!! Aku tuh susah payah loh selama ini mau menyampaikan sesuatu tentang Raziq..” separuh memelas aku sambil mataku kedip kedip ngga jelas. “Bumil ngga boleh bohong loh.. pamali!!” selorohku


lagi.

__ADS_1


“Hahahaha.. iyaaa, ngga usah ngancem juga kali!? Aduh Hyaaang.. Hyang, lo hafal seluruh jagat raya alam semesta kanan kiri atas bawah melintir 7 keliling apalah apalah tapi lo ngga hafal juga sama kebiasaan lo


meracau sambil merem hah?!”_ jawabnya panjang.


Wait.. what? Gue? Meracau sambil merem? Mengigau maksudnya?? Iya gitu? Waduh.. apa saja yang sudah dia dengar?._


“Meracau gimana ‘Ri?”_ tanyaku kepo.


“Meracau banyak, gue juga lupa sedikit, tapi setelah kemarin lo bilang ada Raziq apalah itu, gue konklusiin semua dan kayaknya gue paham deh.. diantaranyalo sebut nama Raziq dan lo minta maaf sama dia, terus


menyinggung soal ortu dan soal debay ini punya hak.. hak apa gue belum paham.. hak apa Hyang?”_ jelasnya sembari bertanya


Ok guys.. this is it. Time for the truth. Whatever that means. Sigh!!.


“Kapan iya gue shock denger gilanya lo sih?!” balasnya


“Ok.. jadi gini, waktu Raziq pergi, gue mengeluarkan emosi gue yang gue ngga tahu bakal sefatal itu Ri, demi Allah.. “_ asli deg deg-an saya!?


“Hah?? Hahahahahahaaaaa... Heh Rahyang Kirana Oncomiwatihh!! Sejak kapan manusia dikasih hak buat ‘nyabut nyawa orang?! Raziq mati karena ‘emang kontraknya aja didunia selesai, BODOH!! Hahahahaaa...” Azria tergelak


dan tak lupa menoyor kepalaku lembut. Aku terkejut sedikit dengan reaksinya, jujur. Tapi juga bersyukur dan sedikit lepas lagi beban dalam hatiku. Alhamdulillah.. Azria memang seorang malaikat. Hatinya murni sekali. Terima kasih Tuhan.


“Hahahaaa.. iya ya ‘Ri.. mungkin itu suatu kebetulan yang sial.. tapi tetap, I’m sorry for your lost ok dear? And please do not ever worried.. I will always be here for you..”_ “And about that, setealh Raziq pergi, ruh-nya datang berulang ulang dalam mimpiku Ria.. dai mengatakan dia menyesal telah bereaksi seperti itu, dan bukan maksud dia menuding aneh aneh padamu. Dia tahu persis itu anak siapa dan dia hanya ingin berpikir sejenak. Lalu, dai menitip pesan tentang anak itu. Dia ingin orang tuanya tahu tentang anak kalian.. tentang kalian, dan biar bagaimana, anak itu adalah cucu mereka yang harus dapat pengakuan. Harus dapat hak-nya. Begitu katanya ‘Ri..”- aku menunduk

__ADS_1


mengatakan ini semua dan meraih tangannya. Azria hanya balas memandang dan matanya mulai berkaca kaca dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke perut kemudian menjawabku,


“Aku tak butuh semua itu Hyang.. aku tak butuh pengakuan siapapun, bukan karena marah atau apapun.. tapi biarlah anak ini jadi milikku saja. Aku tak apa dengan Raziq yang bereaksi seperti kemarin.. memang ini satu


yang tak kami rencanakan. Satu ‘kesalahan’ .. tak apa. Lagipula, aku tak mau menambah masalah dengan mencari pengakuan. Belum tentu semudah itu urusan.. ini sudah 4 bulan berlalu, dan sepanjang kami bersama, tak satupun orang tua kami yang tahu.. menurutmu? Apa bisa kita tetiba datang dan menunjukan ini semua lalu masalah usai? Lalu akan disambut dengan pesta syukuran meriah?? Hah! Aku malas Hyang.. orangtuaku akan bereaksi apa saja aku tak athu dan aku tak mau tahu.. sekolah yang kutinggal sebulan ini sejak perutku tak bisa lagi kusembunyikan, tinggal hitungan hari sebelum papa datang dan mengamuk atas aduan pihak sekolah.. aku pusing Hyang, pusing dengan hanya membayangkan hal itu saja.. apalagi kalau harus ditambah dengan yang lain. Sudahlah.. Lahaula


Hyang.. que sera, sera.. itu saja..”_ jawabnya panjang, pelan dan sangat menahan emosi juga beban pikiran. Aku tak bisa mengatkan apa apa kagi selain memeluknya dan menyerap sedih hatinya. It’s the least thing I can do. Absorb her pain. Empath.


********************


Hari lagi lagi berjalan seperti biasa, dan ya, ayah Azria mengamuk. Dia mengusir Azria dari rumah. Mama Azria pulang dan membawa Azria pindah jauh ke tempat neneknya. Aku tak bisa menghalangi mereka dan tak punya


pilihan lebih baik. Dan sejak saat itu, rumah Azria tak pernah lagi kami datangi. Kami bubar. Aku.. kembali menjadi Hyang yang dulu. Si penghuni kamar paling sudut dilantai dua rumah orang tuaku. Aku kembali menghabiskan hari


hariku dalam diam dan sibuk dengan duniaku sendiri. Dunia yang tak dimiliki manusia lain. Jendela dunia luas manusiaku hanya melalui internet yang makin hari makin canggih. Jejaring sosial model baru bermunculan.. beberapa aku punya, beberapa tidak. Jejaring sosial yang ada teman teman yang kukenal dan beberapa jejaring berisi beragam manusia dari banyak belahan dunia.


Tanpa terasa aku sudah kelas tiga dan hanya tinggal beberapa bulan lagi lulus. Aku bisa mengejar semua ketertinggalan selama bolos dan nilaiku tinggi semua. Jadi tak ada masalah dibagian ini. Aku mengikuti beberapa


try out ujian masuk perguruan tinggi dan pilihanku jatuh di sekolah tinggi jurusan sekretaris. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Memilih jurusan yang nantinya membuatku harus berhadapan dengan banyak orang asing. Masa bodoh. Pokoknya aku kuliah, kerja dan keluar dari rumah. Ya.. mungkin itu alasan sebetulnya. Dan pekerjaan sekretaris adalah yang paling umum dan banyak tersedia didunia kerja nanti. InsyaAllah.. apalagi aku fasih berbahasa asing ‘kan? Hehe.. .


Aku rindu Azria,terselip diantara ribuan rasa dan pikiran batinku yang lain. Sudah lulus aku sekarang. Tinggal sebulan sebelum aku resmi jadi anak kuliahan. Adik bayi pasti sudah lahir dan besar sekarang.. sekitar satu tahunan mungkin. Pasti cantik seperti ibunya batinku. Aku sedang menikmati kopi dibalkon kamarku. Sekarang sudah mahasiswi kan.. boleh ala ala orang dewasa menghabiskan waktu. Senjanya cantik sekali, biru menggelap dengan semburat jingga seperti lukisan kuas dipulas kekanan kiri.


Rasanya aku meracau ya? Tulisanku sepanjang ini tak jelas kemana arahnya. Maaf. Aku rindu Azria. Teramat sangat. Dia betul betul seperti penyeimbangku dikehidupan ini. Aku tak mampu menulis lagi sepertinya. Tidak malam ini. Tidak saat rinduku membanjir seperti ini. Tidak saat aku tak bisa melacak keberadaannya seperti ini. Aku tak tahu nomor yang bisa kuhubungi. Aku tak tahu alamatnya. Aku buta total tentang Azria-ku. Maaf. Off for a while.

__ADS_1


__ADS_2