
...🦋Happy Reading 🦋...
Ini cerita tentang aku dan dia. Laki-laki yang membuat ku mengenal kata cinta. Setelah cinta orang tua untuk anaknya. Dia sosok laki-laki yang menjadi cinta pertama ku. Laki-laki yang ku temui di bawah air hujan. Laki-laki yang memberikan aku kebahagian yang singkat.
Dia adalah Takehiko Noboru laki-laki yang memiliki senyum yang manis. Laki-laki yang menjadi famous di sekolah. Hiko laki-laki yang memiliki citra tersendiri. Sosoknya yang misterius membuat semua orang penasaran. Apa lagi dengan pahatan wajah yang begitu tampan. Memiliki postur tubuh yang tinggi. Senyumnya yang menawan, matanya yang indah.
Aku kini berjalan sendiri. Menyusuri jalan yang dulu pernah aku lalui. Sejak kejadian 2 tahun lalu aku seakan tak pernah menginjakkan kaki lagi di sini. Aku tersenyum getir, mengingat bagaimana aku bahagia berjalan di jalan ini. Jalanan yang setiap hari aku lalui. Jalan yang menjadi kenangan antara aku dan dia. Menjadi saksi kisah persahabatan, percintaan kita selama itu. Tak terasa cairan bening membasahi pipiku. Sungguh itu adalah hal yang membuatku sakit. Seakan aku sedang di tampar oleh kenyataan. Namun aku tak bisa menerima.
"Aku kangen sama kamu." Lirihku. Aku meremas tanganku sendiri. Menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhku. Setiap detik, setiap menit, setiap jam kenangan itu seakan berputar terus-menerus.
Langit kala itu begitu sangat mendung. Mungkin akan hujan pikirnya. Tak membutuhkan waktu lama air turun dari langit. Aku berlari kecil, menuju sebuah halte sekolah. Yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku bisa meningat itu pertama kalinya aku bertemu dengan laki-laki yang bernama Hiko.
Aku cukup tak percaya, bisa sedekat ini dengan Hiko. Pasalnya waktu pertama kali bertemu. Laki-laki itu diam seribu bahasa. Laki-laki pendiam di kelas. Namun di balik pemdiamnya laki-laki itu menjadi Famous di sekolah. Bisa di bilang hampir semua kaum wanita tertarik dengan laki-laki ini. Bukan hanya menjadi ketua kelas, dia juga menjadi ketua osis di sekolah. Laki-laki yang mempunyai prestasi yang baik juga di sekolah.
Aku sedikit tersentak tak kalah seorang menepuk pundakku. Ternyata sedari tadi aku melamun. Segera aku usap pipiku yang basah. Aku menoleh dan tersenyum tipis. Sosok gadis yang aku rindukan hadir di sampingku. Wajahnya begitu aku rindukan. Senyum cerianya apa lagi. Kini dia sudah beranjak dewasa. Bukan seperti sebelumnya. Terlihat masih seperti anak kecil.
Gadis itu segera memelukku. Seakan begitu rindu dengan diriku. Air matanya tak bisa bohong. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Kak Reina kemana aja sih? Emi kangen sama Kak Reina. Kenapa Kak Reina ninggalin Emi sama seperti Kak Hiko. Emi sedih Kak. Hiks.. Hiks... Hiks." Cerewet gadis yang bernama Emi itu.
Aku tersenyum tipis, mengelus kepalanya dengan begitu lembut. Menyalurkan seluruh rinduku kepada gadis ini.
"Maaf in Kak Reina ya. Kak Reina minta maaf. Enggak bisa nemenin Emi." Ujarku dengan lirih. Dengan masih mengeluh rambutnya.
"Kak Reina tau, setiap hari Emi datang di halte ini. Emi pikir akan ketemu Kak Reina. Namun Emi salah Kak. Emi justru enggak pernah ketemu Kak Reina. Sampai detik ini Emi baru ketemu Kak Reina." Jelas Emi yang terus memeluk dan menangis di pelukan Reina.
Aku tau betapa hancurnya gadis ini. Saat sang kakak meninggalkan dia. Dan begitu juga Aku telah berani meninggalkan dia. Betapa rapuhnya gadis ini.
"Emi sayang, dengar Kak Reina. Kak Reina enggak pernah pergi meninggalkan Emi. Kak Reina selalu bersama Emi. Di mana pun Emi pergi Kak Reina selalu ada." Jelas Ku.
__ADS_1
"Tapi kenapa Kak Reina tak pernah muncul? Emi kangen Kak."
Aku melepaskan pelukannya menatap gadis itu dalam. Tersenyum pada Emi. Mengusap pipinya yang basah dengan punggung tanganku. Aku mengarahkan Emi untuk duduk di bangku. Bajunya sedikit basah, mungkin dia berlari menembus air hujan. Aku melepas jaket yang aku kenakkan. Menutupi tubuhnya yang kecil. Emi tertunduk menatap kelantai. Aku tersenyum melihatnya.
"Katanya kangen kok yang di lihat lantainya sih?" Sindirku. Sontak di mendonggakkan kepalanya. Aku tersenyum jahil kepada gadis ini. Selalu sama batinku. Emi memberikan pukulan pada lengaku mungkin tak berasa. Gadis ini selalu menjadi adik perempuanku. Bibirnya cemberut.
"Aku kangen Kak sama Kak Hiko." Celetuk Emi. Aku menoleh kepada gadis itu dan tersenyum.
"Kak Reina juga kangen." Ujarku. Emi menatapku seakan tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Matanya berair lagi. Aku segera memeluk gadis ini dari samping. Menguatkan nya.
"Kak Reina jahat."Keluh Emi dengan memukul lenganku.
"Maaf Emi, enggak bermaksud buat jahat sama kamu kok." jelaku
Emi melepas pelukannya lalu menatapku dengan lekat. Ia berkata. "Kak Reina kemana aja?"
"Kak Reina ada kok, cuman enggak di sini aja."
"Kak.."
"Hmm."
"Kak Reina..."
Aku menatap heran ke arah Emi. Emi terdiam seketika. Terlihat dari wajahnya gelisah. Seakan gadis itu mau menanyakan sesuatu kepadaku. Aku yang menyadari itu mengusap rambutnya. Memberikan kenyamanan untuk dia berbicara.
"Kenapa Emi? Mau tanya apa?" tanyaku
"Emi takut Kak Reina marah sama Emi." gugup Emi.
__ADS_1
"Kenapa harus marah?"
Emi menundukkan kepalanya."Ya Emi takut aja kalau setelah ini Emi tanya Kak Reina bakal pergi lagi!"
Aku tersenyum. Mengarahkan tanganku menyentuh dagunya. Agar dia menataku." Kak Reina janji enggak akan marah."
"Beneran Kak?" Aku jawab dengan anggukan.
"Kak Reina udah berhasil melupakan Kak Hiko?" Tanya Emi dengan hati-hati.
Aku seketika terdiam. Senyum yang tadi menggembang pudar seketika. Bohong jika aku melupakan laki-laki itu. Bohong jika aku ikhlas atas kematiannya. Bohong juga jika aku tak menderita selama ini. Semua kehidupan yang aku lalui setelah kepergian dia itu sungguh membuat aku menderita. Kebahagian yang selalu terpancar di wajahku itu juga Bohong semata.
Aku kali ini cukup sadar akan semua yang aku lakukan. Aku juga sadar semua salah harus segera di akhiri. Seperti hujan yang mengajarkan akan ada terang saat dia berhenti. Dia juga sama mengajarkan keikhlasan saat hujan tak hadir setiap hari.
Kamu mengajarkan ku apa artinya pergi dan apa artinya terlibat dalam hal kembali. Pergi untuk selamanya dan kembali kepada masa lalu.
< "hujan aku tau turunmu tak semua tentang luka. Tapi ada bahagia di setiap sisinya." >
Terima Kasih udah mau baca see you next time☁️
17.42
070323
Kediri
Jawa Timur
-yn
__ADS_1