
...🦋Happy Reading🦋...
"Berdiri lo Emi!!" Bentak Haruka dengan menatap tajam gadis yang sudah tersungkur di lantai. Namun tak ada pergerakan dari Emi. Gadis itu menangis sesegukan. Bajunya yang basah. Mungkin baru saja di siram oleh Haruka dan gengnya.
"EMI LO TULI!" Teriak Harukan. Sontak Emi perlahan mengangkat badannya. Yang mungkin saja sudah remuk. Karena sebelumnya Haruka sudah mendorong Emi sampai menghantam tembok yang ada di belakang Emi.
Emi berusaha keras untuk berdiri. Namun Haruka seakan tak mau menunggu dengan cepat. Haruka mencengkram lengan Emi dengan kuat. Sampai Emi meringis kesakitan.
"Kak Haruka ampun Kak." Lirih gadis itu lemah. Matanya yang merah karena menangis. Dan bibirnya yang sudah pucat.
Haruka tersenyum miring." Lo pikir kalau Lo di belain sama Hiko, gue bakal enggak buat Lo menderita? Ha?"
Haruka menarik sedikit tubuh Emi agar mendekat. Haruka arahkan wajahnya ke samping Emi tepat di telinga Emi. "Lo salah besar. Justru itu gue makin gencar ngebuat Lo menderita."
Haruka membanting tubuh gadis itu lagi sampai terbentur tembok. Alhasil gadis itu tersungkur di lantai.
"Girl kita apakan lagi dia?" Tanya Haruka.
"Kita bawa ke ruang penyesalan aja." Ujar Gadis dengan rambut sebahunya. Berada di samping kiri Haruka. Morin nama gadis itu.
"Kita hajar habis-habisa di sana gimana? Lumayan buat bahan kesenangan kita." Kini berganti dengan Zuka, gadis yang memiliki wajah yang imut sekali. Rambutnya panjang hitam legam. Pipinya cubby apa lagi badan yang tidak terlalu tinggi. Menambah keimutan gadis ini.
Brak!
Suara gebrakan salah satu pintu toilet. Mata mereka langsung mengarah ke sumber suara. Matanya tak asing buat mereka ber-empat. Bahkan mereka tak tau kalau ada seseorang dalam toilet. Gadis itu menatap tajam kearah Haruka.
"Ngapain Lo liat gue? Mau gue colok tuh mata?" Ancama terdengar dari bibir Haruka.
Reina gadis yang menjadi lawan bicara Haruka kali ini. Reina berjalan mendekati gadis yang tersungkur sedari tadi. Reina membantu Emi berdiri.
Reina menatap mata Haruka."Lepasin Dia." Pinta Reina.
Haruka tersenyum miring mendengar ucapan dari Reina." Lo siapa? Ha? Kakaknya? Bukan kan? Gue enggak ada urusan ya sama Lo."
"Kali ini aku enggak bisa diam saja Haruka. Apa yang kamu perbuat sudah kelewatan."
Haruka terdiam mendengar apa yang di ucapkan oleh Reina. Nadanya terdengar dingin.
"Lo siapa ngatur gue?" Haruka mendorong bahu Reina.
"Kamu mau nyakitin dia sampek kapan? Sampek dia mati? Sama kaya Yuri? Iya?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Reina.
Haruka yang mendengar nama Yuri sontak membelalakkan matanya. Seakan rahangnya mengeras. Matanya memerah. Haruka menatap tajam Reina.
__ADS_1
Haruka memajukan tubuhnya mencekram kerah baju Reina."Jangan pernah Lo sebut-sebut nama itu lagi. Apa lagi dari mulut kotor Lo itu. Enggak pantes nama itu di sebut dari mulut Lo."
Reina hanya tersenyum."Mau sampek kapan sih Ka? Kamu benci sama aku? Mau sampek kapan kamu nuduh aku?"
Haruka melepaskan cengkramannya. Tak menjawab apa yang diucapkan oleh Reina. Haruka diam seribu bahasa. Haruka sedikit mendorong Reina. Lalu pergi meninggalkan toilet dan di susul oleh kedua temannya.
...☁️...
Brakk
Suara gebrakan beserta hantaman yang terdengar di sebuah ruangan. Ruangan yang cukup besar. Terlihat di lantai sebuah kursi dari kayu sudah hancur. Haruka gadis itu membanting kursi kayu yang sudah usang. Mata gadis itu memerah, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat memperlihatkan guratan di tangan.
"Sial." gerutu Haruka.
"Ka kenapa sih?"Tanya Morin.
"Iya Ka Lo kenapa? Kenapa bisa gadis itu mengenal Yuri?" kini ganti Zuka yang bertanya.
Haruka diam membisa tak menanggapi pertanyaan dari kedua temannya. Bibirnya terasa Keluh. Darahnya seakan seketika berhenti. Badanya terasa kaku.
"Jawab Ka!" serka Morin.
"Kita perlu tau apa hubungannya sama Yuri temen lo itu?"
Haruka masih tak menghiraukan pertanyaan dari Morin dan Zuka. Dia segera meninggalkan mereka berdua dari ruangan. Entah kemana kali ini tujuannya. Yang pasti Morin dan Zuka tak mendapat jawaban Haruka begitu bungkam.
Teriakan mereka tak di hiraukan oleh gadis itu. Tetap berjalan keluar. Namun dengan pikiran yang kalud.
"Reina sialan." gumam Haruka.
"Brengsek!"Dengusnya.
Harukan berjalan menuju Rooftop matanya menatap langit yang biru. Bahkan ada cairan bening yang mengalir di pipinya.
Memori nya berputar mengingat kejadian dua tahun lalu. Dimana dia menyaksikan kematian sahabatnya sendiri. Dengan cara yang tak wajar.
"Selamat tinggal Harukan..."
Suara itu seakan selalu menghantui Haruka. Haruka seakan tak bisa tidur nyenyak. Haruka terus di hantu rasa bersalah. Entah bagaiman hidup gadis ini selama dua tahun. Apa mungkin bahagia? Tidak ada yang tau.
"Yuri Gue kangen sama Lo." lirih Haruka. Air matanya lolos dengan sendirinya. Bibirnya tersenyum getir menatap dirinya yang sekarang.
"Gue janji sama Lo kalau Gue bakal balas semua perbuatan cowok brengsek itu." lanjutnya.
__ADS_1
"Agghhhh...."
Haruka gadis yang dulu memiliki kelembutan dan rasa sayang. Namun kini gadis itu berubah menjadi paling pemberontak dan juga pembuat onar. Lemah lembut dan rasa sayangnya sudah tak ada lagi.
...☁️...
"Kenapa sih kamu selalu saja tidak mau bilang kalau aku ini Kakak kamu?" omel seorang laki-laki yang kini sedang mengobati luka.
"Aghhhh sakittt..."erang gadis itu kesakitan. Dahi nya mengerut karena menahan rasa sakit. Tangannya meremas rok yang dia kenakan dan yang satunya meremas pundak laki-laki yang sedang mengobatinya.
"Kan jadi kayak gini. Setiap hari kayak gini terus. Sakit kan? kamu selalu kalau kakak bantu enggak mau. Bisa enggak sihhh dengerin kakak kali ini aja."
Laki-laki itu masih saja mengobati luka si gadis. Meski agak sedikit mengomel. Tapi tetap saja mengobati dengan telaten. Gadis itu menghela nafas.
"Kakak lupa 2 tahun lalu aku bilang kalau kakak adalah kakak aku? Mereka hanya mau deketin aku buat tujuan mereka sendiri. Bahkan sampek mau nyelakain aku. Apa kakak lupa itu? Aku mau cari teman yang tulus sama aku, enggak karena kakak."
Laki-laki itu terdiam mendengar apa yang di ucapkan gadis yang ada di depannya. Meski ada sedikit kebenaran tapi tetap saja laki-laki ini tak terima jika gadisnya di sakiti oleh orang-orang yang berusaha mendekatinya.
"Tapi kayak gini dek! Aku enggak bisa ngeliat kamu kayak gini..." Belum sempat laki-laki itu melanjutkan segera dipotong oleh sang gadis.
"Kak Emi enggak papa, I'm fine. Emi ngelakuin ini karena Emi juga suka. Emi jadi tau sifat manusia dengan mudah. Mana yang tulus mana yang hanya modus. Emi tau sifat mereka tanpa susah payah mendekati mereka."
"Kakak tenang aja. Emi bakal jaga diri Emi dengan baik. Emi juga udah bilang sama mama kalau ini semua bukan salah Kakak. Bahkan Kakak adalah kakak terbaik buat Emi. Lebih baik malah."
Gadis itu tersenyum pada laki-laki yang ada di depannya. Senyuman itu yang selalu membuat tenang sang laki-laki. Senyuman yang hanya dia tampilkan pada sosok laki-laki yang berperan sebagai kakak.
Emi selalu mendapat Bully fisik. Apa pun itu akan ada luka ditubuhnya. Atau tidak baju yang dia kenakan aka lusuh atau tidak putih seperti awal. Emi memang gadis cantik. Namun kecantikan dari Emi tak di ketahui. Malah jadi bahan Bully. Itu lah kenyataan yang di hadapi Emi.
<"Kecantikan yang tidak di ketahui, Malah jadi bahan Bully.">
Hallo makasih ya udah baca.
15.13
080323
-yn
Kediri
Jawa Timur
Jangan lupa tombol bintangnya.
__ADS_1