
...🦋Happy Reading🦋...
Merapatkan tubuhnya mungkin adalah hal yang benar agar sedikit hangat. Namun cara itu tak berhasil. Gadis itu berusaha menggosokkan kedua tangannya, dan beberapa kali meniup tangan itu. Mengusap-usap lengannya. Tak dia ketahui, ada sebuah jaket yang bertengger menyelimuti tubuh kecilnya. Gadis itu menoleh kearah samping. Siapa lagi yang memberikan jaket itu kalau bukan laki-laki Famous di sekolah.
"Kenapa ngeliatin gitu? udah pake aja, gue tau kok loe kedinginan." Ucap Hiko itu tanpa menoleh.
"Tapi kamu gimana? Enggak kedinginan?"Tanya Reina
"Udah deh jangan bawel, tinggal pake aja apa susahnya sih." nada dingin terdengar jelas di telinga Reina
"Makasih." Jawab Reina tanpa pikir panjang. Dia tidak mau lanjut mendengar nada dingin dari laki-laki yang dipuja-puja oleh satu sekolah.
Mereka hanya berdiam-diam. Karena mereka juga tak saling kenal. Apa yang di pikiran laki-laki itu tentang gadis yang ada di sampingnya. Mungkin laki-laki itu akan menganggap gadis itu sangatlah cantik. Tapi memang benar bukan. Gadis itu sangat cantik.
Laki-laki itu cukup terpesona dengan gadis yang ada di sampingnya. Kenapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Apa rasanya ini?
Setelah menunggu beberapa jam di halte. Hujan yang turun mulai reda. Mungkin saja bus yang mereka tumpangi akan terlambat. Pasalnya hujan terlalu deras. Tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan berjalan.
"Bisa gila aku memikirkan gadis itu. Pasalnya aku tak mengenalnya." gumam laki-laki
Tak membutuhkan waktu lama Bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam Bus yang sama. Namun tidak duduk di kursi yang sama juga. Pasalnya Reina duduk di sebelah kanan dan Hiko duduk di sebelah kiri. Tak ada suara di antara mereka. Reina dengan masih menggunakan jaket yang diberikan Hiko padanya.
Bisa Reina lihat dari ekor mata, Hiko tengah mendengarkan sebuah musik. Karena terdapat headphone yang bertengger di kedua telinganya. Hiko memejamkan matanya. Menikmati setiap alunan musik yang dia putar.
Meski terlihat hanya dari ekor mata. Reina dapat pastikan kalau wajah Hiko sangatlah tampan. Belum pernah gadis ini melihat laki-laki tampan selain ayahnya sendiri. Laki-laki yang setia hari meluangka wwaktu ituknya. Laki-laki yang selalu ada untuknya. Begitupun sosok ibu, orang yang selalu memberikan kasih sayang padanya. Sesuatu yang tidak di dapat oleh teman-temannya dia dapatkan di kedua orang tua itu. Apa lagi Reina mempunya seorang Kakak perempuan yang selalu ada untuknya. Sungguh keluarga cemara sekali ya.
Bus yang ditumpangi pun berhenti di sebuah halte berikutnya. Reina turun dan disusul oleh Hiko. Reina berpikir mungkin rumahnya sama.
Hiko mengerutkan keningnya melihat Reina duduk di halte bukannya pulang."Lo kok malah duduk disini sih?" tanya Hiko
Reina mendongakkan kepalanya."Apa kamu tidak lihta?" ujarnya dengan menunjuk tepat di depannya. Kepala Hiko mengikuti arah tangan Reina. Memang suasana masih hujan sat itu.
"Yaudah bareng Gue aja, Lo pergi kesana kan?" tawar Hiko.
Reina masih berpikir belum memberikan jawaban pada laki-laki itu.
"Mau enggak? Kalau enggak mau enggak papa sih?" Hiko berjalan meninggalkan Reina. Namun langkahnya terhenti saat pergelangannya dicekal oleh seseorang siapa lagi kalua bukan Reina.
"Aku ikut." ujarnya.
Reina berjalan disamping Hiko. Langkah mereka sama. Suasana dingin menyelimuti mereka berdua. Hati Reina seakan seketika terhenti. Aliran darahnya seakan berjalan begitu cepat. Apa lagi jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Bibirnya seakan keluh. Reina bisa mencium aroma dari tubuh laki-laki itu. Lavender. Aroma yang begitu menyeruak di indra penciuman Reina. Aromanya begitu memabukkan. Aroma itu juga menenangkan bagi Reina.
"Rumah Lo yang mana?" suara lembut dari Hiko terdengar di telinga Reina.
__ADS_1
Sontak Reina tersadar dari lamunannya. Di cukup pandai menyembunyikan kegugupan."Ha? Apa?"
"Rumah Lo yang mana?" ulang Hiko.
"Di depan belok kanan. Rumah berwarna hijau."
"Lo ngapain pindah sekolah?"
Reina menoleh sekilah kesamping dan mendonggakan kepalanya."Enggak papa, Ayah emang kebetulan dipindah tugaskan."
"Lo kok bisa masuk di pertengahan ajaran kayak gini?"
"Ayah kenal salah satu donatur di sekolah itu. Dan dibantu."
"Oh pantesan."
"Kenapa?"
Hiko mengerutkan keningnya."Kenapa apanya?"
"Ya kenapa tanya soal itu?"
"Oh, pengen tau aja."
Hening kembali menyelimuti keduanya. Setelah percakapan yang hampir panjan itu berlangsung.
"Makasih ya udah nganterin sampek rumah."
Dengan anggukan kepala Hiko berkata."Sama-sama"
"Gue pergi dulu." pamit Hiko.
Hiko melangkah pergi dari hadapan Reina. Reina terus memandang punggung laki-laki itu sampai hilang di belokan. Bibirnya tersenyum tipis. Bisa-bisanya gadis itu di antar oleh sosok Hiko.
Reina membuka pintunya namun ingatannya pada sesuatu yang masih bertengger di badannya dengan sempurna. Apa laki kalau bukan jaket dari sosok laki-laki itu.
"Yah jaketnya lupa!" sesalnya.
Mata Reina terpejam tak kala menghirup aroma jaket yang dia kenakan. Aroma Lavender kembali meyeruak di hidung kecilnya.
"Aromanya menenangkan." gumam Reina.
<<<>>>
__ADS_1
Kini Reina duduk di sofa dengan menonton tv. Namun mata gadis itu malah fokus ke benda pipih yang di tangannya.
"REINA." teriakan dari seorang kakak terdengar di telinga Reina. Sampai benda pipih itu hilang dari tangan Reina karena jatuh.
Reina Akiara sosok Kakak dan juga Ibu kedua buat Reina. Reina sangat menyayangi sang kakak. Meski selalu ada pertengkaran antara mereka. Namun rasa sayang Reina terhadap Kiara bener-bener besar.
"Astaga Kak Kiara bikin kaget aja sih!" keluh Reina. Menampilkan wajah cemberutnya.
"Kamu ini mau nonton TV atau main Hp?" pertanyaan yang seketika membuat Reina menampakkan senyum lebarnya pada sang Kakak tercinta nya.
"Kenapa sangat mirip dengan Mama sih Kak? Sama-sama Cerewet sekali." batin Reina.
"Dua-dua nya Kak." jawah Reina masih dengan memberikan senyum termanisnya pada sang Kakak
"Kamu pikir listrik enggak bayar?" tanya Kiara geram pada adik satu-satunya itu.
"Ayah kan kaya Kak!" ujar Reina dengan santai.
"Yang kaya itu Bapakmu Reina bukan kamu."
"Bapakku Bapakmu juga lo Kak." Ujar Reina lagi.
"Kakak enggak mau tau pokoknya uang jajan kamu, Kakak potong buat bayar tagihan listrik." lanjut sang mama.
Reina membelalakkan matanya tak percaya."Kok gitu sih Kak?, enggak adil kalau kayak gitu." protesnya.
"Kakak enggak mau tau ya pokoknya uang jajan kamu tetep Kakak potong. Sampai Mama pulang" kekeh wanita itu dengan tegasnya.
Memang selama Mama mereka pergi menengok nenek. Kiara adalah orang yang menjadi ibu sementara bagi mereka. Kiara yang memenuhi kebutuhan sang adik dan Ayahnya.
"Ada apa sih kalian kok ribut?"
Suara sosok laki-laki terdengan menghampiri perdebatan antara sang anak bungsu dan anak sulungnya. Suara bising itu bisa dia dengarkan setiap hari. Apa lagi putri bungsunya benar-benar sangat manja pada mereka.
"Yah ini loh Kak Kiara potong uang jajan Reina buat bayar tagihan listrik." keluh gadis itu dengan menghampiri sang ayah. Sambil memeluknya dengan manja.
"Mulai deh ngadu." gumam Kiara.
"Bagaimana langit? kamu sudah siap untuk aku jelajahi?"
-Reina di halte-
Terima Kasih udah mau baca see you next time☁️
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen yaa:)
-yn