
Merapatkan tubuhnya mungkin adalah hal yang benar agar sedikit hangat. Namun cara itu tak berhasil. Gadis itu berusaha menggosokkan kedua tangannya, dan beberapa kali meniup tangan itu. Mengusap-usap lengannya. Tak dia ketahui, ada sebuah jaket yang bertengger menyelimuti tubuh kecilnya. Gadis itu menoleh kearah samping. Siapa lagi yang memberikan jaket itu kalau bukan laki-laki Famous di sekolah.
"Kenapa ngeliatin gitu? udah pake aja, gue tau kok loe kedinginan." Ucao laki-laki itu tanpa menoleh.
"Tapi kamu gimana? Enggak kedinginan?"Tanya gadis itu.
"Udah deh jangan bawel, tinggal pake aja apa susahnya sih." nada dingin terdengar jelas di telinga gadis itu.
"Makasih." Jawab si gadis tanpa pikir panjang. Dia tidak mau lanjut mendengar nada dingin dari laki-laki yang dipuja-puja oleh satu sekolah.
Mereka hanya berdiam-diam. Karena mereka juga tak saling kenal. Apa yang di pikiran laki-laki itu tentang gadis yang ada di sampingnya. Mungkin laki-laki itu akan menganggap gadis itu sangatlah cantik. Tapi memang benar bukan. Gadis itu sangat cantik.
Laki-laki itu cukup terpesona dengan gadis yang ada di sampingnya. Kenapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Apa rasanya ini?
Setelah menunggu beberapa jam di halte. Hujan yang turun mulai reda. Mungkin saja bis yang mereka tumpangi akan terlambat. Pasalnya hujan terlalu deras. Tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan berjalan.
"Bisa gila aku memikirkan gadis itu. Pasalnya aku tak mengenalnya." gumam laki-laki yang kini tengah duduk di kursi.
"Kak Hiko kenapa sih?" Tanya seorang dari arah belakang. terdengar suara wanita.
"Enggak papa." Ucap Hiko dengan gugup.
"Dihh enggak mau ngaku lagi!"
"Ngaku apa.an?"
"Pasti tadi lagi mikirin Kak Reina ya." Tebak gadis itu lagi. yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Enggak ya. Kamu jangan sembarangan asal nuduh." serka Hiko.
"Halah aku enggak percaya, sama mulunya laki-laki."
"He! apa kamu bilang?" nada Hiko menjadi dingin setelah mendengar hal itu dari adiknya.
"Hehehe enggak." Emi tersenyum mendengar suara dingin dari Hiko. Langsung dia meninggalkan kamar kakaknya.
______
Mentari muncul begitu indahnya. Pagi ini begitu sangat menyenangkan. Kini seorang gadis masih berkutat pada selimut tebalnya. Padahal sang mentari sudah menunjukkan sinarnya. Apa gadis itu tak mau beranjak dari kasur empuknya.
"Reina sayang bangun nak" Panggil seseorang dari balik pintu.
"Reina."
"Reina."
Namun tak ada sahutan dari sang punya nama. Pintu terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya. Berjalan menghampiri kasur. Duduk di pinggir kasur, menyentuh bahu gadis yang sedang tertidur pulas.
"Reina Sayang bangun Nak." Ucapnya dengan lembut. Sambil mengusap punggung gadis itu.
__ADS_1
"Hmm." Sahutnya.
"Ayo nak kamu enggak kerja emang? Bukannya hari ini masuk pagi ya?" Ucap wanita itu lagi.
"Iya Mah bentar lagi." Ucap Reina dengan masih memejamkan matanya."
"Ayo sayang udah jam set 8 loh ini!."
Sontak gadis itu membelalakkan matanya. Kaget dengan apa yang baru saja Mamanya ucapkan. Dia beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
"Aduh Mama kenapa enggak bangunin sih?" Tanya gadis itu tergesa-gesa menuju Kamar mandi.
"Mama udah bangunin kamu. Tapi kamu selalu bilang 5 menit lagi Ma." sindir Mama.
"Aduh bisa dimarahin sama kak gita nih." gumamnya.
Setelah acara mandi selesai, Reina turun dari atas. Menuju dapur, mengambil satu kotak susu rasa coklat. Meminumnya sedikit terburu-buru. Reina jarang sekali terlambat entah dalam soal pekerjaan ataupun sekolah. Namun entah kenapa kemarin malam dia tidak bisa tidur dengan pulas. Pasalnya banyak sekali yang dia pikirkan. Sudah hampir satu minggu ini orang yang selalu di cari tak muncul lagi di sekolah. Dari teman-temannya saja dia tak bisa dapat informasi. Seakan mereka bungkam.
Gadis itu melajukan sepedahnya. Menuju sebuah cafe yang cukup terkenal di daerahnya. Dia bekerja hanya untuk meluangkan waktunya. Karena terlalu bosan dirumah.
Sesampainya di tempat itu. Gadis yang memakai sepeda sudah disambut oleh seorang gadis cantik menurutnya. Siapa lagi kalau bukan Kak Gita.
"Eh Kak Gita, selamat pagi kak." sapanya dengan penuh senyum.
"Pagi." Kenapa nada bicara kak gita begitu dingin sih? mampus aku.
"Kenapa telat?" Tanya kak Gita.
"Hmm kali ini kamu saya maafkan. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya. Untung Miss jutek belum dateng." Jelas Kak Gita.
"Miss Jutek?" beo Reina.
"Iya nanti juga kamu tau sendiri. Jarang juga kesini sih."
"Yaudah sekarang kamu segera ganti baju dan ikut bantu-bantu." Lanjut Kak Gita. Sebelum Reina melangkah kakinya. Gadis itu memberikan sendwich kepada Kak Gina. Mungkin sogokan. Agar gadis itu tak marah lagi. pasalnya Kak Gita suka sekali dengan Sandwich yang selalu Reina bawa.
Hari yang begitu cerah sekali. Cafe lumayan ramai.Munhkin karena hari weekend juga. Semua orang beristirahat dan menghilangkan lelah sejenak. Karena 6 hari sudah menjalani aktivitas kerja,sekolah dan sebagainya.
"Rein kamu istirahat dulu gih gantian." Ujar Kak Gita.
"Hmm bentar Kak, nih nanggung. "
"Udah nanti biar yang lain terusin."
"Tapi Kak.." Belum sempat Reina melanjutkan kata-katanya. Kak Gita sudah memotong ucapannya.
"Udah Rein, istirahat." nada dingin Kak Gita keluar dari mulutnya.
"Iya Kak." Reina tak mau bertambah buruk lagi. Apa lagi Kak Gita sudah mengeluarkan kata-kata dingin itu.
__ADS_1
Reian meninggalkan pekerjaannya. Menuju belakang mendudukkan pantatnya di sebuah kursi yang sudah di sediakan oleh karyawan. Terlihat dari wajah gadis itu. kalau dia benar-benar lelah saat ini. Reina memejamkan matanya sebentar. Menikmati duduknya dengan sendiri.
"Mau sampai kapan kamu bersembunyi? Apa kurang 3 tahun untukmu bersembunyi?" batin Reina.
"Nih." Ucap seseorang. Reina membuka matanya. Di depan mata itu terdapat botol minum. Mata Reina mengarah kepada siapa yang memberinya.
"Kak Gita." Ujarnya.
"Kenapa? enggak mau."
"Eh bukan gitu Kak. Mau kok."
"Dasar sukanya gratisan." cibir Kak Gita.
Reina hanya tersenyum kecut. Salah lagi kan, maunya apa sih sebenernya.
"Kak, boleh tanya?"
"Hm Tanya apa?"
"Miss jutek itu siapa sih kak?" Tanya Reina.
"Nanti juga loe tau sendiri. Katanya nanti dia mau kesini sih."
"Ha? beneran Kak?" Tanya Reina memastikan
"Iya liat aja entar."
"Kayaknya kalian seumuran deh kalau di lihat!" Ucap Kak Gita
"Sama siapa kak?"
"Ya sama Miss Jutek itu."
"Emang iya?" Kak Gita hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah berbicara cukup panjang Kami berkutat pada pikiran masing-masing. Saling diam. Reina yang sedari tadi memikirkan sesuatu yang tak seharusnya dia pikirkan.
"Samudra bukanya kau begitu luas? biasakah aku mengelilingimu? Izinkan aku ya untuk tau tentang luasnya dirimu."
-Reina-
hallo selamat membaca see you
makasih banget ya.
22.19
020423
__ADS_1
Kediri
ynervina_