Rainy Memories (Revisi)

Rainy Memories (Revisi)
Pertemuan Pertama


__ADS_3

...🦋Happy Reading 🦋...


Di halte sekolah terdapat seorang gadis yang sedang menunggu jemputan. Lagit kala itu begitu gelap. Seperti akan hujan siang ini. Ternyata benar saja hujan memenuhi area sekolah yang begitu sepi. Mungkin masih ada beberapa orang yang ada disana. Mobil dan motor berlalu lalang kesana kemari. Meski hujan deras, suasana jalanan masih sangat ramai.


Kini terdapat seorang laki-laki yang tengah menunggu sebuah bis di halte. Tangan kanannya menyambut air hujan yang turun dari atas melalui atap halte. Laki-laki itu memejamkan matanya seakan menikmati percikan air hujan yang menghantam wajah tampannya. Terlihat bibir kecil itu tersenyum. Namun sedikit samar.


Saat menikmati suasana hujan yang begitu tenang. Laki-laki ini sedikit terkejut dengan hadirnya seorang gadis yang baru datang di halte. Rambutnya yang sedikit basah karena air hujan. Memiliki kulit yang begitu putih bersih. Tubuhnya ramping, namun pipinya begitu Cubby. Gadis itu tidak terlalu tinggi dibandingkan laki-laki yang sudah dulu di halte.


Beberapa buku yang dia pegang di tangannya mungkin cukup basah.


"Kamu suka hujan?" Tanya gadis itu dengan meletakkan tangannya sama persis dengan laki-laki itu. Namun tidak ada jawaban dari si laki-laki.


"Kalau aku suka. Suka sekali sama hujan. Hujan bagiku begitu menenangkan. Namun aku tak suka saat petir datang. Rasanya begitu sangat menyesakkan." Ujarnya lagi. Raut wajah yang semula bahagia saat hujan datang. Kini berganti dengan kegelisahan.


Laki-laki itu tetap saja diam, tanpa merespon sekali pun. Tetap fokus pada hujan yang jatuh di tangannya. Menikmati suasana hujan saat ini.


"Kok kamu diam aja sih? Dari tadi aku ajak bicara loh? Hello disini ada orang ya. Di kira patung apa?" cerocos gadis itu.


"Serah kamu deh, bodo amat juga. Lebih baik nikmati ujan." Lanjut gadis itu. Terlihat di wajah ayunya begitu kesal.


Gadis itu menikmati percikan air hujan yang menetes di tangan kanannya. Dengan menutup mata menikmati setiap percikan itu. Saat menikmati air hujan tiba-tiba ada cahaya yang berkelebat dengan cepat di langit. Dengan disusul sebuah dentuman keras. Ya suara petir yang begitu keras. Sontak gadis itu kaget dan memeluk lengan seseorang yang ada di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang sedari tadi menikmati hujan.


Gadis yang memiliki pipi Cubby itu terlihat ketakutan. Dengan menutup matanya, tubuhnya yang bergetar. Raut wajah yang begitu ketakutan. Gadis ini seperti sedang menghadapi kejadian yang membuat dia trauma. Cengkraman di lengan laki-laki itu begitu kuat. Mungkin bisa saja lengan laki-laki itu akan terluka, bisa di lihat dari kuku gadis ini begitu panjang.


"Loe tenang ya oke, gue tau loe takut petir tapi loe tenang oke." Ujar laki-laki itu menepuk bahu di gadis. Mencoba menenangkan agar dia cukup tenang.


"Tenang oke gue disini. Loe harus percaya sama gue. Tenang sekarang, gue janji enggak bakal kemana-mana kok." Lanjut laki-laki itu dengan masih berusaha menenangkan si gadis. Terlihat raut wajah si laki-laki begitu khawatir dengan si gadis. Bingung harus bagaimana menenangkan si gadis.

__ADS_1


Si gadis cukup tenang, cengkraman yang semula begitu kuat kini kian melonggar. Getaran di tubuhnya juga kian mereda. Namun gadis itu masih saja menutup matanya, seakan takut petir akan kembali lagi.


"Duduk dulu yuk, biar loe tenang." ajak si laki-laki, dengan di beri anggukan oleh gadis itu.


Mereka duduk bersandingan, dengan posisi yang sama. Lengan laki-laki itu masih di cengkram.


"Gimana udah tenang?" Tanya si laki-laki. Namun hanya anggukan yang dia dapat.


"Nih minum." Ujarnya dengan menyerahkan minuman.


"Makasih ya. Maaf banget." Ucap Gadis itu dengan sedikit menunduk.


"Enggak papa kok. Loe takut banget ya sama petir?"


"Iya."


"Loe tadi tanya kan gue suka hujan atau enggak. Jawaban gue, gue suka banget sama hujan. Kalau soal petir gue juga takut. Tapi menurut gue saat petir datang itu tandanya, kita harus menikmati hujan. Tanpa beraktivitas, menikmati gemerciknya air hujan yang turun dari langit melalui atap rumah. Bukankah aromanya begitu menenangkan. Gue justru suka saat itu." Lanjut laki-laki itu.


Gadis yang sedari tadi mendengarkan apa yang di ucapkan si laki-laki. Cukup terkejut pasalnya gadis itu tau bahwa sosok laki-laki ini, jarang sekali berbicara. Ya bicara seperlunya. Mungkin ini adalah kata-kata terpanjang yang dia dengar dari mulut laki-laki ini.


"Yang mereka nilai ternyata salah. Katanya jarang ngomong ehh ini malah nyerocos." Batin gadis itu.


Dengan pikiran yang sama, apa benar dia laki-laki primadona sekolah yang katanya jarang berbicara panjang. Apa lagi sama orang baru. Pasalnya gadis itu adalah orang baru. Atau mungkin hanya menghibur? biar dianggap ramah. Mungkin.


"Hello gue ngomong sama loe!" Ucap laki-laki itu membuyarkan lamunan si gadis.


"Ehh maaf, maaf."

__ADS_1


"Lain kali jangan ngelamun kalau di ajak bicara sama orang." Ucapnya sedikit ketus.


"Dengerin, kalau enggak bisa jadi pendengar yang baik setidaknya menghargai." lanjutnya tak kalau ketus dari yang tadi.


Gadis itu hanya menundukkan kepalanya. Tak tau mau menjawab apa. Namun dia sadar apa yang dia lakukan salah. Seharusnya dia mendengarkan bukan malah melamun.


"Hmm maaf, karena tidak mendengarkanmu. Bukan maksudku mengabaikan kamu." Ucap Gadis itu masih dengan menunduk.


"Loe sebenernya ngomong sama siapa sih? gue di samping loe bukan di bawah kaki loe." nada dinginnya keluar dari mulut laki-laki ini.


"Kalau mau ngomong tuh lihat orangnya enggak malah nunduk kayak gitu." Lanjut laki-laki itu. Dengan membuka buku yang sudah dia keluarkan dari dalam tas.


"Salah lagi kan. Nih orang maunya apa sih? Aku jadi bingung." batin Gadis itu.


Gadis itu masih dengan posisi yang sama. Menundukkan kepalanya. Tak berani melihat laki-laki itu. Gadis itu tau bahwa laki-laki itu sedang dalam mode kesal dengan nya. Duduk diam, dengan meremas rok nya. Hawa dingin menerpa kulit putihnya sejak tadi, namun dia tahan. Kenapa gadis ini bisa lupa membawa jaketnya. Apa lagi seragam sekolah yang begitu pendek menurutnya.


Merapatkan tubuhnya mungkin adalah hal yang benar agar sedikit hangat. Namun cara itu tak berhasil. Gadis itu berusaha menggosokkan kedua tangannya, dan beberapa kali meniup tangan itu. Mengusap-usap lengannya. Tak dia ketahui, ada sebuah jaket yang bertengger menyelimuti tubuh kecilnya. Gadis itu menoleh kearah samping. Siapa lagi yang memberikan jaket itu kalau bukan laki-laki Famous di sekolah.


<"Aku takut kepadamu, cahaya yang berkelebat di langit. Namun aku sangat menyukaimu, air yang turun di bumi dengan begitu derasnya. Bukan tak menyukai, hanya takut.">


Terima Kasih udah mau baca see you next time☁️


Di komen dan Vote yaa makasih


*Jangan lupa follow akun ini


ynervina*_

__ADS_1


__ADS_2