Rainy Memories (Revisi)

Rainy Memories (Revisi)
Jodoh Atau Kematian


__ADS_3

Langit begitu cerah siang ini. Cahaya matahari seakan menembus kulit. Namun seakan gadis yang berada di Rooftop tidak menghiraukan panasnya matahari. Gadis itu tetap tertunduk lemas dengan tangan yang masih membawa amplop. Gadis berambut panjang dengan hitam legam ini, masih saja menangis. Tangisan yang terlihat seperti merintih kesedihan yang dalam. Tangisan yang belum sempat dia tuangkan 3 tahun lalu.


"Kenapa Ri kamu ninggalin aku? Aku salah apa sama kamu? Sampek kamu ninggalin aku dengan memberi luka?" gumam gadis ini.


Gadis yang sudah hampir 1 jam di tempat itu. Tanpa memperdulikan panasnya matahari yang menembus kulit. Gadis yang sedari tadi menatap amplop, tanpa ingin membukanya.


"Haruka, Haruka, Haruka..." Panggil seseorang yang seakan mendekat. Benar panggilan itu mendekat ke arah gadis yang sedang terduduk diam.


Pintu yang berada di depannya terbuka lebar. Menampilkan dua sosok gadis cantik yang terlihat ngos-ngosan. Wajahnya menampilkan kekhawatiran. Bisa di lihat dari guratan di wajah itu.


"HARUKA." Teriak mereka berdua. Terkejut pasti. Melihat sahabatnya yang duduk bersumpuh dengan menangis.


Kedua gadis itu menghampiri Haruka. Menenangkannya, Memberikan dekapan hangat kepada gadis itu. Menyalurkan kekuatan untuk Haruka. Mengelus punggung gadis berambut panjang itu. Ya siapa lagi kalau bukan Morin dan juga Zuka.


"Hutttssss,,, udah tenang ya." Ujar lembut gadis imut yang bernama Zuka itu. Pelukan Zuka cukup membuat Haruka tenang.


"Cewek sialan itu ya, yang udah ngelakuin kayak gini?" Tanya Morin dengan nada dinginnya. Haruka hanya diam membisu. Bukan sepenuhnya salah Reina. Namun bukan semua juga salah Haruka.


Morin terlihat marah, wajahnya yang berubah serius. Mata tajam yang dia tampilkan. Tangannya mengepal kuat. Sampai uratnya terlihat. Morin hendak pergi dari dapan mereka namun ada tangan yang mencekal pergelangna Morin. Siapa lagi kalau bukan Haruka.


"Lepasin Ka, gue mau buat perhitungan sama gadis sialan itu. Gue enggak terima loe di giniin. Gue janji sama loe buat hajar habis-habisan dia. Gue juga pastikan gadis itu tidak akan betah di sekolah ini." Ucap Morin penuh emosi. Tangannya yang semakin mengepal kuat.


"Jangan Rin, gue mohon jangan. Sekarang gue minta kalian berdua anterin gue pulang kerumah. Gue mau istirahat."


"Tapi Ka, dia udah buat loe kayak gini."


"Jangan ya Rin please gue enggak papa. Bukan salah dia juga Rin."


Morin menatap tulus mata Haruka. Seakan mata itu mengatakan jangan untuk melakukan. Atau nanti menyesal. Mata teduh yang Haruka perlihatkan, mungkin belum pernah di perlihat kepada mereka berdua. Morin bisa pastikan kalau mata teduh itu banyak menyimpan luka dan bahagia secara bersama.


Morin diam sesaat untuk memastikan gadis yang ada di depannya baik-baik saja. Baru Morin mau mengantarkan pulang gadis itu.


"Anterin aku pulang ya Rin, Ka." Morin dan Zuka hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju. Kalau Haruka sudah memakai kata aku, dia pasti sedang terluka. Bisa Morin dan Zuka pastikan. Setiap kali gadis berambut panjang itu terluka pasti dia sudah berbeda. Meminta dengan lembut. Dia akan memakai aku kamu. Itu lah dia, luka tak bisa dia sembunyikan rapat lagi. Karena sudah cukup penuh luka dalam dirinya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


["Bukan perpisahan yang aku sesali namun pertemuan yang paling aku sesali saat ini."]


Di dalam mobil mereka bertiga hanya diam membisu. Tanpa mengeluarkan kata-kata juga tak membahas apa yang terjadi di Rooftop. Morin yang menyetir sedangkan Harukan dan Zuka berada di belakang. Haruka tidur di pangkuan Zuka. Dan Zuka mengelus lembut rambut gadis itu. Memberikan rasa nyaman pada si gadis.


Sudah seperti kebiasaan, kalau Haruka terlalu menangis dia akan jatuh sakit. Badannya akan panas dan menggigil. Maka dari itu kedua teman Haruka sebisa mungkin tak membuat gadis itu menangis. Apa lagi kalau soal patah hati.


Kini Haruka sudah berada di dalam kamar. Berbaring dan memejamkan matanya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Namun sekarang pikirannya begitu kalut. Tak tau harus memikirkan apa dan yang mana. Di samping gadis itu terlihat secarik kertas. Entah apa isinya. Namun bisa di pastikan Haruka pusing karena hal itu.


Apa yang di katakan Reina tadi benar-benar membuat Haruka berfikir. Apa mungkin itu benar. Dia tak bisa menerima kenyataan. Kenyataan lebih sakit ternyata Batin Haruka. Kertas yang kini membuat hatinya bimbang. Apa kebencian yang dia tanam selama ini salah?


Kenangan yang dulu terlintas dipikiran Haruka. Kenangan yang menurut dia indah, tapi dulu. Namun Kenangan itu bagi dia hanya goresan kecil yang semakin membesar. Goresan yang mungkin tak terasa perih saat kecil namun saat sudah besar mungkin akan terasa perihnya.


"*Nanti kita bertiga kesini ya, Kata orang danau nya bagus loh." Ujar gadis dengan tubuh mungilnya. Dengan menunjukkan benda pipi kepada kedua orang yang ada di depannya. Mereka berdua menoleh kearah gadis itu. Mengerutkan kedua alisnya seakan berkata mau ngapain ke Kuil?


"Kita kesana ya berdoa, biar dapet restu aja. Semoga di lancarkan segala urusannya. Dan yang pasti di beri umur panjang. Kita kan udah janji buat sama-sama terus sampai tua. Jangan sampai berpisah kecuali dengan kematian." Gadis bertubuh mungil itu seakan memberi tanda bahwa dia tidak akan lama. Namun kedua gadis yang di depannya seakan menepis pikiran itu


"Kalian juga harus janji sama aku. Apapun kondisinya entah aku ada atau tidak ada, kalian tetep jadi sahabat." Ucapnya lagi dengan penuh senyum.

__ADS_1


"Kenapa ngomongnya gitu sih? serem amat?" kini gadis yang berambut panjang dengan mata biru terangnya sedang berbicara.


"Ya kan emang bener, kita enggak tau yang akan hadir di hidup kita itu apa? Jodoh atau malah kematian yang dulu." Ucap Gadis bertubuh mungil itu.


"Kamu memang benar, dan sekarang udah pintar ngomong ya. Cerewet sekali gadis kecil ini." Dia mencubit ke dua pipi gadis itu. Gadis yang di cubit mengerucutkan bibirnya. tanda dia sedang merajuk. Bukan gadis yang berambut panjang bermata biru tapi kini gadis yang mencepol rambutnya acak. terlihat pas dengan wajah ayunya.


Mereka berdua berhasil menjahili gadis ini. Tertawa bersama meski yang satu sedang merajuk. Namun wajah ayu nya masih terlihat jelas. Mata coklatnya yang teduh membuat semua orang akan terbawa oleh dia. Senyumnya apa lagi. Manis kalau kata mereka berdua. Madu dan gula aja kalah sama senyum dia. Pipi Cubby ya, bibir tipisnya, mata sipitnya. Begitu luar biasa jika dilihat. Pahatan yang di berikan sang pencipta sangat sempurna batin mereka berdua. Bahkan mereka berdua iri dengan kecantikan gadis satu ini. Meski pada dasarnya mereka berdua juga memiliki wajah yang cantik*.


Gadis itu kini menangis, luka yang tak terlihat kini terbuka kembali. Entah siapa yang membukanya. Dirinya sendiri atau malah kenyataan. Sesak di dada dia rasakan. Rasa sakit yang 3 tahun lalu dia rasakan kini kembali lagi. Pasalnya begitu sakit seperti teriris pisau yang begitu tajam dalam hati. Kenangan itu muncul lagi. Trauma itu muncul lagi.


"*Selamat tinggal Haruka, Reina."


"YURI*."


Kejadian itu terlintas lagi di kepala Haruka. Sebongkah peristiwa yang memberi luka yang cukup dalam bagi dia. Luka yang sulit untuk disembuhkan. Trauma yang begitu mendalam. Kematian yang dia selalu takutkan.


"Bukan perpisahan yang aku sesali namun pertemuan yang paling aku sesali saat ini." monolognya.


Cukup lama gadis itu menangis sampai mata indahnya menjadi sebam. Di dalam kamar gadis itu masih berada. Masih merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya.


Tok tok tok


"Sayang ini Mama nak, makan dulu ya dari tadi pulang sekolah belum makan loh." Ucap seseorang dari balik pintu. Ya dia Mama Haruka.


Memang sedari tadi Haruka hanya berdiam diri di kamar. Seakan pikirannya begitu kalut. Tak menyangkan akan seperti ini saja. Pikirnya setelah 3 tahun lalu dia tak akan pernah bertemu lagi dengan masa lalu itu. Namun salah, justru dia di ombang ambingkan oleh masa lalunya sendiri.


Pintu kamar terbuka, wanita paruh baya yang ada di ambang pintu. Dia membawa napan dengan berisi makanan dan juga minuman tak luput ada beberapa obat. Pasalnya gadis yang sekarang ada di dalam kamar sedang sakit. Wanita menghampiri gadis kecilnya. Mengusap rambut hitamnya. Sedikit merasakan sakit dalam dirinya. Melihat putri kecilnya terluka lagi.


"Sayang ayo nak, makan dulu ya." pinta yang Mama. Gadis itu masih dengan posisi yang sama.


Haruka yang mendengar itu merubah posisinya menjadi duduk menyender tembok kamarnya. Mencari posisi yang nyaman. Wajah pucatnya masih terlihat cantik. Namun mata teduh itu kini sebam.


"Maksud Mama?"


"Mama tau, kamu dan Reina gimana. Sebelum kita pergi dari sana, Reina sempat kerumah. Reina sudah menjelaskan semuanya. Sebenarnya Mama mau ngasih tau kamu, tapi Papa melarang. Yang berhak buat jelasin itu Reina bukan kita. Setelah melihat keadaan kamu dengan Reina. Papa yakin Reina belum cerita apa-apa___ ucapan Mama terhenti menghela nafas sebentar. Menatap putri kecilnya itu. Dengan senyum yang tulus ___Papa akan menceritakan semuanya saat kamu sembuh nanti." lanjutnya


"Kenapa harus nunggu aku sembuh dulu?"


"Kesehatan kamu yang utama sayang."


"Kalau kamu mau tau jawabannya, kamu harus sembuh dulu. Atau Papa kamu tidak akan memberi tahu semuanya."


"Haruka udah enggak sakit lagi kok Ma, udah sehat malah. Dimana sekarang Papa?" dengan semangat gadis itu ingin beranjak dari kasurnya namun di tahan sang Mama. Dengan menggelengakan kepalanya, seakan berkata bukan sekarang Haruka, tapi nanti. Kamu tidak akan mendapatkan jawab dari Papamu.


Haruka diam tak ingin berdebat dengan sang Mama. Dia tau bahwa dia akan kalah dengan sang Mama. Apa lagi tubuhnya yang lemah untuk sekarang. Gadis itu duduk kembali, menerima suapan dari sang Mama. Meski cukup pusing karena memikirkan jawab atas pertanyaannya selama ini.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Sudah hampir 3 hari gadis bernama Haruka tak masuk sekolah. Memang gadis itu saat sakit, ya akan lama. Mungkin karena penyakitnya yang menumpuk. Bagi orang yang menjadi mangsa the geng Cool Blood adalah suatu anugerah. Morin dan juga Zuka seakan enggan untuk melakukan hal itu. Mereka terlalu fokus dengan keadaan Haruka. Haruka gadis yang tidak masuk selama 3 hari dan tidak mau menemui siapa pun kecuali orang tuanya.


Kedua gadis itu, sedang duduk di taman. Wajahnya terlihat sedikit melamun entah apa yang mereka lamunkan. Semilir angin menerpa mereka. Rambut mereka berterbangan kesembarang arah. Jarang sekali kedua gadis itu diam membisu. Namun sekarang apa? The geng Cool Blood seakan menghilang di telah bumi dalam waktu 3 hari. Kejadian yang begitu singkat dan sekejap. Membuat mereka benar-benar jauh. Entah dari mana namu memang kenyataannya seperti itu.


Kedua gadis itu mendongak menatap seseorang yang ada di depannya. Seorang gadis yang kini berdiri tegak menatap mereka. Mata mereka seakan memerah, wajah mereka menahan emosi melihat gadis yang ada di depannya.

__ADS_1


"Ngapain loe kesini?"Suara dingin Morin keluar.


"Sorry kalau gue ganggu. Gue cuma mau tau kabar Haruka aja. Kenapa selama 3 hari ini dia enggak ada ke sekolah." Tanya lembut Si gadis itu.


"Ngapain loe tanya kabar dia? Loe enggak perlu tau kabar dia, loe udah nyakitin dia kan? Loe belum puas?" nada ketus keluar dari mulut Morin. Terlihat jelas Morin sedang menahan emosinya. Tangan Morin juga terlihat sedang di genggam oleh gadis yang di sampingnya siapa lagi kalau bukan Zuka. Gadis imut dan cantik.


"Gue sama sekali enggak pernah ada niat buat nyakitin Haruka. Please Rin kasih tau gue kenapa Haruka enggak masuk 3 hari ini?"


Morin terlihat menghela nafas kasar.


"Dia sakit, itu semua gara-gara loe. Loe orang yang buat dia sakit." Morin terlihat sedang menahan air mata. Dia cukup sakit melihat sahabatnya di sakiti.


"Rin gue minta maaf. Zuka gue minta maaf." Gadis yang berdiri kini bersimpuh di depan mereka berdua. Cairan bening yang dia tahan kini kekuar. Entah kenapa dia bisa menangis.


"Lebih baik loe pergi dari sini, gue udah muak ngeliat muka loe."perintah Morin dengan begitu dingin. Mata tajamnya benar-benar menusuk.


Zuka gadis imut itu hanya diam membisu. Dia begitu takut dengan wajah Morin saat ini. Zuka hanya bisa menenangkan Morin. Suara dingin Morin begitu menusuk eluh hati buat lawan bicaranya.


"Mending loe pergi sekarang. Gue enggak mau salah satu dari kalian terluka." bukan, bukan Morin yang bicara namun Zuka. gadis itu tak ingin mereka bertengkar. Pasalnya Morin bisa bela diri apa lagi Reina. Zuka sudah mencari informasi dari gadis ini. Reina gadis ceria, ramah, dan juga humbel ini ternyata bisa bela diri. Meski terlihat anggun tapi bela diri Reina tak bisa dipungkiri lagi.


Ya gadis yang tadi adalah Reina. Reina tak mendapatkan kabar tentang Haruka. Reina pikir dia akan mendapatkannya dari kedua sahabat Haruka. Namun pikirannya salah. Justru dia di usir oleh Morin.


Di sisi lain banyak siswa yang senang karena hal itu. Melihat sang Queen tidak masuk sekolah. Banyak pembicaraan tentang hal itu. Banyak yang mengatakan itu adakah ancaman bagi orang yang menantang anak donatur. Namun seakan telinga Reina tuli.


Reina tetap berjalan menuju kelasnya. Setelah kejadian Nana 4 hari lalu. Nana juga tidak masuk sekolah di karenanya sakit. Reina juga sudah menjenguk Nana. Rasa bersalah Reina terhadap Nana masih saja menghantui. Andai saja dia tidak ikut campur. Mungkin Nana sekarang baik-baik saja.


"Kak Reina."Panggil seseorang dari arah belakang. Reina menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Terdapat gadis cantik dengan pipi Cubby nya. Reina tersenyum melihat gadis itu. Gadis itu juga menampakkan senyum manisnya.


Gadis itu menghampiri Reina, dengan membawa sesuatu yang ada di tangan kanannya.


"Hallo Kak Reina."sapanya lagi.


"Ehh hay, gimana kabar kamu?"Tanya Reina pada gadis yang berada di depannya itu.


"Baik kok Kak, Kakak sendiri gimana?"


"Kakak juga baik kok. Luka kamu udah enggak papa?" Tanya Reina. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Kak Reina ini dari kakak aku ya. Katanya ucapan terima kasih." Gadis itu menyodorkan bingkisan yang di bawa.


"Enggak usah Emi, makasih. Kakak ikhlas kok bantuin Emi."Ucap Reina dengan suara lembut. Gadis itu Emi, dia yang di bantu Reina waktu mendapat Bully an dari Haruka.


"Kata Kakaknya Emi harus terima. Kalau enggak Emi bakal marah." Suara lucu Emi keluar. Lihatlah pipi Cubby nya benar-benar menggemaskan batin Reina. Tak ingin gadis itu bersedih akhirnya dia menerima pemberian gadis itu. Emi tersenyum senang.


Reina tak mengerti kenapa Emi bisa semenggemaskan seperti ini. Pasalnya gadis seusia dia terlihat biasa saja. Namun Emi berbeda gadis dengan gaya sederhana, senyum manisnya. Dan tak luput pipi Cubby yang selalu dia tampilkan. Mungkin kalau bisa Reina akan mencubit pipi gadis itu. Sangking gemasnya.


**Hallo ketemu lagi, hehehe makasih ya udah mua mampir dan baca.


13.18


100323


Kediri

__ADS_1


-yn


See youu**


__ADS_2