
<"Bolehkah aku jatuh cinta dengan salah satu ciptaan mu tuhan?">
"Kak Hiko, Kakak enggak ada niat gitu buat ngasih sesuatu sama Kak Reina?"
"Ngapain coba?"
"Ya ucapan terima kasih aja, karena dia adalah satu-satunya orang yang nolongin aku selain Kakak."
"Emang tau dia suka apa?"
"Enggak."
"Gimana coba mau ngasih kalau kamu aja enggak tau apa yang dia suka?"
"Ya kan Kakak yang mau ngasih bukan aku."
"Tapi kamu kan yang nyuruh!" Ujar laki-laki itu yang masih sibuk dengan aktifitas nya.
"Kok gitu sih? Ini dia udah nolongin aku loh kak. Nolongin adik kesayangan nya Kakak loh." Ucap Gadis itu dengan menunduk.
Laki-laki yang bernama Hiko menghela nafasnya. Menghentikan aktivitasnya menatap gadis yang sedang duduk di pinggir ranjang. Hiko menghampiri gadis kecilnya. Tersenyum tipis.
"Yaudah nanti Kakak akan kasih sesuatu buat Kak Reina."
Terlihat bibir yang sebelumnya mengerucut kini tersenyum manis. Gadis itu mendonggakkan kepalanya menatap laki-laki yang kini sudah duduk bersamanya. Gadis itu menatap matanya melihat kebohongan di dalam mata itu. Namun tak dapat menemukannya.
"Beneran Kak?"
"Iya Emi sayang, nanti Kakak cari ya." Jawab Hiko dengan mencubit hidung Emi.
"Aduhh Kak kok dicubit sihh." Ringis Emi, masih memegangi hidungnya yang sakit.
"Hehehe maaf abisnya gemes banget sihhh, pengen cubit jadinya." Hiko tertawa puas dengan apa yang di lakukan terhadap gadis kecilnya itu.
"Sekarang coba deh ceritain tentang Reina,Reina itu." pinta Hiko membenarkan posisi duduknya.
"Cie pengen tau aja tentang Kak Reina?" Goda Emi sambil menusuk-nusuk paha laki-laki itu.
Hiko mengehela nafas, menatap gadis itu malas.
"Kamu gimana sih? Kalau Kakak enggak tau tentang Reina itu. Kakak enggak bisa dong ngasih sesuatu."
__ADS_1
"Hmm gitu ternyata? Masa Kakak enggak tau sih Kak Reina kayak gimana?"
"Mana Kakak tau, taunya sih dari jauh." Ucap Hiko dengan sedikit memikirkan kejadian dia melihat dari jauh.
"Ohh jadi diam-diam memperhatikan?" goda Emi lagi. Bisa dilihat laki-laki itu menampilkan semburat malu. Namun ekspresi nya tertutup oleh wajah dinginnya.
"Tau ahhh.." Hiko merajuk. Beranjak dari ranjang dan menuju tempat sebelumnya.
"Ya elahhh ngambek segala sihh." gumam Emi.
"Kak Renia cantik, imut, Positive Vibes sekali kak orangnya. Apa lagi senyumnya Kak Reina aduhh.. Yang lihat bisa meleleh." Jelas Emi. Hiko hanya diam, meski diam dia tetap mendengar penjelasan Emi.
Apa yang di katakan Emi memang benar gadis bernama Reina itu cantik. Imut juga kalau di lihat. Apa lagi saat rambut panjangnya di cepol. Aduhh nambah cantik deh gadis satu ini. Hiko cukup kagum dengan Reina. Bisa ya ciptaan tuhan semenarik itu, sesempurna itu bagi manusia. Boleh kah aku tertarik sama gadis yang bernama Reina? Batin Hiko
Hiko beranjak pergi meninggalkan adiknya. Kembali ke aktivitasnya yang tadi. Mengambil beberapa peralatan lukisnya. Berusaha fokus dengan apa yang dia kerjakan.
"Kak Hiko dengerin enggak sih?"
"Iya Emi, dengerin Kok."
"Apa coba?"
"Hmm, tadi kamu bilang kalau Reina itu cantik, imut, senyumnya manis banget kayak gula." Jelas Hiko dengan begitu yakin. Emi mendengar hanya menahan tawanya.
"Kenapa ketawa?" Tanya Hiko yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Aku tadi enggak bilang kalau senyum Kak Reina manis kayak gula. Tapi Kak Hiko bilang gitu, Kak Hiko lagi bayangin Kak Reina ya? Well berarti dari tadi Kakak enggak merhatiin apa kata aku. Hayo lagi mikirin apa?" Goda Emi lagi.
"Apa sih Emi!! udah ahh sana belajar." Hiko mengalihkan pembicaraan. Terlihat pipinya semburat merah. Untung Emi tidak melihat, bisa berapa kalau sampai Emi melihat. Bisa-bisa aku di goda lagi sama dia batinnya.
"Apa sih Kak, orang enggak ada tugas."
"Ya enggak ada tugas tapi kan harus tetap belajar Emi. Udah sana ke kamar belajar."
"Ihhh Kak Hiko enggak asik banget sih? Padahal kan tadi Kak Hiko dulu yang ngomongin Kak Reina." Emi mengerucutkan bibirnya. Dia beranjak dari kasur keluar kamar, dengan menutup pintu begitu keras.
Keluar boleh tapi jangan rusakin pintu orang batin Hiko.
Hiko kembali ke bukunya, sekilas dia mengingat pertemuannya dengan gadis yang bernama Reina. Gadis cantik yang memiliki senyum manis menurutnya. Lucu sekali pertemuan mereka.
Flasback
__ADS_1
Brukkk
"*Aduhh." ringis seseorang yang sudah tersungkur di lantai dengan beberapa buku yang berserakan.
"Sorry-sorry gue enggak sengaja." Ucap orang lain yang tengah berdiri.
"Aduh hati-hati kalau jalan bisa kan?" ucap orang itu dengan sedikit kesal. Dia seorang gadis yang membawa beberapa buku di tangannya.
"Sekali lagi gue minta maaf. Gue bener-bener enggak sengaja. Gue tadi buru-buru." Jelas laki-laki yang kini sedang membantu merapikan buku-buku yang berserakan.
"Iya enggak papa, lain kali harus hati-hati. Untung Aku enggak papa." Ucap Gadis itu.
"Maaf ya sekali lagi." Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Pasalnya si gadis memang terlihat pendek dari si laki-laki.
"Udah jangan minta maaf mulu. Aku bilang kan enggak papa." Jelas gadis itu sembari menatap seseorang yang menabraknya.
Mata mereka bertemu, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing. Bisa laki-laki itu lihat mata hazel milik gadis ini sungguh indah. Cantik. Mata yang teduh, seakan memiliki sebuah rahasia dibalik itu. Gadis itu juga bisa pastikan mata Hazel milik laki-laki ini begitu menenangkan. Dia telusuri setiap inci wajah laki-laki yang ada di depannya. Mulai dari matanya, hidungnya, bulu mata lentiknya, alisnya, pipi mulusnya, dan yang terakhir bibir laki-laki ini. Mungkin gadis ini akan mulai suka dengan maya hazel milik laki-laki yang dia temui. Mata tajam itu, seperti mata elang yang sedang mencari mangsa. Itu yang dia suka.
"Hiko." Panggil seseorang yang langsung membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Eh iya bentar. Gue minta maaf lagi ya. Maaf gue enggak bisa ngebantu loe buat bawa nih buku." Jelas Hiko.
"Enggak papa kok." Jawab gadis itu dengan senyum manisnya*.
Lucu bukan. Hiko tidak sengaja menabrak Reina waktu itu. Tapi dia terpaksa meninggalkan gadis cantik dengan senyum manis. Karena Hiko sudah ditunggu di ruang osis. Pasalnya Hiko adalah seorang ketos.
Gadis cantik bernama Reina sudah mampu memporak-porandakan hatinya. Sejak pertemuan tak disengaja di koridor sekolah. Hiko jadi memikirkan gadisnya. Eh gadisnya? maksudnya mungkin Reina.
Hiko beruntung sekali, gadis yang membantu adik kesayangan nya adalah Reina. Dia bisa tau informasi tentang Reina lewat adiknya itu. Sudah hampir setiap hari Hiko memperhatikan Gadis yang bernama Reina. Namun tak ada yang tau tentang itu. Hiko terlalu tertutup dengan segala hal. Bahkan Emi tidak tau kalau Hiko pernah memiliki hubungan dengan orang lain. Tau-tau kabar duka yang dia dengar.
"Apa aku bisa berdekatan denganmu lagi?" gumam Hiko lalu tersenyum. Dia kembali melihat buku yang selalu dia bawa kemana-mana. Buku yang menampakkan sebuah gambaran seorang gadis.
*Hallo mohon maaf ya untuk beberapa hari lalu tidak bisa update. Karena ada kendala. Maaf banget sudah nunggu lama.
Oh iya aku ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
12.02
230323
Kediri
__ADS_1
Jawa Timur
-yn*