Raka Arkana

Raka Arkana
Wajah Baru


__ADS_3

Seminggu kemudian . . .


Arkana dan juga Lois,telah tiba di rumah sakit purna,bahkan ia melihat Mentari yang berada di luar ruangan.


Sudah seminggu mereka menunggu setelah operasi wajah Raka,dan mereka berharap semua nya sempurna sesuai dengan keinginan Raka.


"Bagaimana ?"tanya Arka mendekat,


"Alhamdulillah,semua nya.Sesuai keinginan Raka,kami melakukan yang terbaik untuk nya!"


"Kapan kami bisa melihat nya?"


"Tunggu setelah dua hari lagi,kita baru bisa membuka perban nya!"ujar Mentari,


"Kalau begitu,aku akan kembali ke kantor.Mentari,bisa kah aku menitip Raka padamu?"


"Kenapa enggak,aku bisa merawat nya,aku seorang dokter,dan aku teman nya!"ungkap Mentari,sembari tersenyum ke arah Arkana.


"Kalau kamu menganggap nya lebih juga tidak masalah,aku tidak keberatan"


"Maksud nya?"Mentari menoleh ke arah Arka,sembari satu alis ikut naik.


"Lupakan,aku akan kembali ke kantor,ayo Lois!"


"Eeem"Lois melambaikan tangan ke arah sepupunya.


Arka dan Lois pergi meninggalkan Mentari di depan ruangan Raka,yang masih terlihat bingung memikirkan ucapan Arka barusan.


Di tempat parkir di dalam mobil,kali ini Lois yang menyetir karena Arka menumpang di mobil Lois sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.


"Ada apa? kenapa kamu terus saja menatap ku?"tanya Arka,saat melihat Lois yang tidak memindahkan pandangan nya dari Arka.


"Eemmm,apa kamu tidak pernah tertarik sama Mentari?"Lois menatap Arka,pria ini langsung memindahkan pandangan nya ke arah lain.


"Tertarik yang bagaimana maksud mu?"Arka malah berbalik bertanya kepada Lois,


"Ya maksud nya ..."Lois mengantungkan ucapan nya saat melihat Arka yang terus menatap nya menunggu jawaban darinya,yang sempat terpotong.


"Sudahlah,lupakan saja!"Lois langsung menyalakan mesin mobil nya,dan pergi mengantar Arkana ke kantor Purna.


Di kediaman Divia. . .


Sudah dari kemarin,Divia tidak keluar kamar,disaat Miranti datang menghampiri nya,Divia langsung mengusir Miranti,padahal Miranti hanya memanggil nya untuk makan.

__ADS_1


Tok ! Tok ! Tok !


"Sayang,ayo makan bersama,Mama sudah masak makanan kesukaan mu,kalau ada masalah cerita lah sama Mama Divia jangan di pendam sendiri!"seru Miranti dari luar kamar,


Ceklek!


Divia membuka pintu kamar,


"Sayang,apa yang terjadi,kamu sudah mengurung diri sejak kemarin.Ceritalah sama Mama,Mama akan mendengar 'kan nya!"tukas Miranti,kini memegang tangan Divia.Miranti dapat melihat mata Divia yang sembab karena baru saja selesai menangis.


"Divia baik-baik saja ma,ayo kita makan"


Divia langsung pergi meninggalkan Miranti di depan kamar Divia.Lalu,melihat anak nya sudah berjalan ke arah meja makan,Miranti pun menyusul nya.


Divia melihat banyak hidangan di atas meja,Miranti tersenyum ke arah Divia saat melihat anak nya itu memperhatikan masakan nya.


"Kenapa banyak sekali?"tanya Divia,dia menarik kursi untuk duduk.


"Mama memasak lebih,kalau kamu ingin pulang hari ini ke rumah Purna,kamu boleh membawa sisa nya,kebutulan mama memasak banyak,untuk kamu bawa pulang!"pungkas Miranti,sembari mengambil nasi yang ada di depan Divia.


Divia terdiam mendengar ucapan Miranti,karena Miranti belum tahu apa yang telah terjadi antara Divia dan Raka.


"Hiks Hiks"


"Sayang,apa yang terjadi?"Miranti segera bangkit dari tempat duduk nya dan menghampiri Divia.


Divia pun segera memeluk Miranti,dengan erat.Mengetahui ada yang tidak beres dengan Divia,Miranti pun tidak tinggal diam.


"Kamu berantem sama Raka?"


Divia menggelengkan kepala,


"Jadi,apa yang membuat kamu menangis,dan ini sudah dua hari kamu tinggal di tempat Mama,apa semua baik-baik saja?"


Divia kembali menggelengkan kepala,


"Divia liat mama,apa yang salah? kenapa Kau terus menangis!"Miranti pun kesal dengan sikap anak nya yang hanya memilih diam dan menangis,


Tok ! Tok ! Tok !


Suara ketukan pintu mengagetkan Miranti dan Divia,wanita ini segera berjalan ke arah pintu utama.


Ceklek !

__ADS_1


"Bapak cari siapa?"tanya Miranti,


"Benar,rumah saudari Divia?"


"Benar,ada apa ya pak?"


"Saya pengacara keluarga Purna,kedatangan saya kemari untuk mengirim surat yang di tutup Tuan Raka kepada Anak Anda!"


"Masuk dulu Pak,kita bicarakan di dalam"perasaan Miranti sudah tidak enak,saat melihat pengacara keluarga purna yang tiba-tiba datang ke rumah.


Pengacara itu pun masuk,dan duduk di ruang tamu,Miranti memanggil Divia di ruang makan,terlihat Divia yang menyeka air mata nya,lalu pergi bertemu dengan pengacara keluarga purna di ruang tamu.


Pengacara itu pun mengeluarkan surat dari dalam tas nya,lalu meletakkan nya di atas meja sofa.Surat yang ada di dalam amplop coklat,membuat Miranti tak tenang bila ia tidak membuka dan melihat isi nya.


Disaat Miranti ingin menyambar surat itu,Divia langsung mengambil nya.


"Bisa anda tanda tangan segera?"tanya pengacara,


"Surat apa ini Divia? kenapa harus segera di tanda tangan,dan di mana Raka,kemana dia tidak datang kesini?"tanya Miranti panjang lebar,


"Pak,bisa kah saya bertanda tangan nanti saya,Saya akan mengantar sendiri surat ini kepada orang nya langsung !"


"Tapi Tuan Raka,meminta saya agar segera membawa surat ini Kembali hari ini juga!"tegas Pengacara itu,mau tidak mau,Divia pun menuruti keinginan pengacara tersebut,dan langsung bertanda tangan.


"Tunggu!"Miranti menghentikan tangan Divia yang ingin bertanda tangan di atas kertas putih bertulisan surat perceraian antara Divia dan Raka.


"Apa ini Divia,kenapa ini jadi surat cerai? sebenarnya apa masalah kalian berdua? kenapa kamu hanya diam saja,kenapa tidak menceritakan nya kepada mama?"


"Kalau mama terus bertanya kapan aku bisa menjawab nya!"teriak Divia yang kini berdiri di samping Miranti.


Miranti mendongakkan kepala nya menatap sang anak yang terus menangis,dan Miranti melihat kehancuran dalam diri Divia cukup berat ketimbang dengan pertanyaan yang ia berikan barusan.


"Sayang maaf,mama tidak akan bertanya lagi,jadi apa keputusan mu"Miranti ikut berdiri dan memegang tangan Divia,


"Aku akan memilih berpisah,seperti yang di inginkan Raka, ma!"


"Heeemmm"Miranti menghela nafas nya,lalu ia pergi meninggalkan ruang tamu.


Divia dapat melihat kekecewaan dalam diri Miranti,bagaimana pun Divia adalah anak satu-satu nya Miranti,dan Miranti tidak menyangka pernikahan Divia harus kandas di tengah jalan.


'Maaf 'kan Divia ma,Divia gagal dalam membina rumah tangga '


Divia kembali duduk,dan langsung bertanda tangan di atas surat itu,dan kini Raka dan Divia telah resmi bercerai.

__ADS_1


Pengacara itu pun memasukkan kembali surat ke dalam amplop coklat,dan ia berpamitan dengan Divia,setelah pengacara itu pergi,Divia terduduk di sofa,dengan isak tangis yang tak bisa ia sembunyikan lagi.


__ADS_2