Raka Arkana

Raka Arkana
Satu Minggu kemudian


__ADS_3

Meskipun sudah beberapa kali Raka mengantar Divia pulang, Miranti tidak pernah tahu, dengan wajah Raka yang sudah berubah, dan Miranti tidak pernah tahu, jika pria itu adalah Raka mantan suami Divia.


"Terimakasih!" ucap Divia, yang baru saja turun dari mobil Raka, karena penasaran akhirnya Miranti menunggu Divia di depan rumah.


"Divia, kenapa tidak di suruh mampir dulu teman nya " seru Miranti, yang menghampiri Divia di samping mobil Raka.


"Ma, kami baru kembali dari meeting dengan klien, bos pasti butuh waktu istirahat, biarkan bos pulang sekarang " Divia mengajak ibu nya untuk masuk, Raka langsung pergi meninggalkan kediaman Divia.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21:00, malam. Miranti sengaja tidak tidur lebih dulu, agar bisa bertemu dengan pria yang selalu mengantar Divia saat ada meeting.


"Siapa pria itu? apa pacar baru mu?"


Mendengar pertanyaan sang ibu, Divia langsung menoleh, dan tersenyum.


"Kami hanya sebatas Bos dan Karyawan, dan tidak penting soal kekasih, Divia belum memikirkan itu, Divia sedang ingin membahagiakan Mama" ungkap Divia yang mengambil minuman di kulkas, Miranti menatap sang anak penuh dengan kecurigaan.


"Sampai kapan kamu akan hidup sendiri, kamu sudah seharusnya memikirkan masa depan mu, jika ada pria baik, langsung terima saja, tidak penting kaya atau miskin, yang penting dia bertanggung jawab" pungkas Miranti, Divia hanya menghela nafas, lalu pergi meninggalkan Miranti di dapur.


Di kediaman Purna. . .


Rani membuka pintu untuk Raka, dia selalu menunggu pria itu kalau pulang larut malam, dan takut jika Raka tidak sempat makan di luar.


"Tuan, sudah makan?" tanya Rani,


"Sudah Bi, Bibi langsung tidur saja, aku sudah makan waktu meeting tadi, kebetulan meeting nya di restoran "


"Baik lah" Rani pun beranjak ke kamar nya, begitu juga dengan Raka, dia kembali ke kamar, yang dulu sering di tempati oleh Divia dan juga dengan Arkana, tapi bayang-bayangan itu sudah mulai di hapus Raka dari ingatan nya.


Semenjak Arkana memutus untuk meninggalkan rumah Purna, Raka akhirnya sadar, jika diri nya yang bersalah atas kejadian itu, jika saja dia tidak meminta Arkana untuk mengantikan dirinya, hal seperti ini tidak akan terjadi.


Sudah lama, Raka tidak mendapat kabar Arkana, Lois atau pun Mentari, saat ini Raka rindu akan mereka semua, kini hanya tinggal dia sendiri dan juga terpisah dari Divia, Raka harus bisa mengambil hati Divia seperti dulu lagi, agar cinta nya kembali seperti semula.


...***...


Sekitar jam 04:00, pagi. Arkana baru saja kembali dari kediaman rumah utama, milik keluarga Alex.


Meskipun Alex sudah lama meninggal, Arkana masih menganggap keluarga itu adalah bagian dari keluarga nya. Masih ada Al dan Aisyah yang tinggal disana, meskipun anak-anak mereka memilih tinggal di tempat yang lain.


"Selamat malam Tuan..." sapa pelayan, saat Arkana singgah di sebuah restoran yang tak jauh dari apartemen nya. Arkana berjalan ke arah meja yang telah di pesan 'kan oleh seseorang.

__ADS_1


Entah kenapa jantung Arkana berdegup kencang, sudah satu tahun lebih, tidak ada seorang pun yang mengirim pesan kepada nya, dan mengajak pria ini untuk bertemu.


"Arkana!" panggil seseorang yang sudah berada di belakang Arka, pria ini langsung menoleh, dan terkejut melihat Bara dan Kejora adalah orang yang mengajak untuk bertemu dengan dirinya.


"Tante, Om" Arka langsung berdiri, dan bersalaman dengan dua orang itu.


"Berdua saja Om?" lanjut Arka, Bara dan Kejora tersenyum.


"Tidak kami bertiga" jawab kejora, lalu Bara dan Kejora memisah, sehingga terlihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam restoran, dengan menggunakan jas mantel, serta syal di leher nya, rambut nya yang terurai, membuat Arkana tidak memindahkan pandangan nya.


Bara dan Kejora memperhatikan Arkana, orang yang sedang berjalan ke arah mereka bertiga, tengah sibuk memeriksa ponsel yang ada di tangan nya, lalu sampai lah ke hadapan mereka.


"Maaf, menunggu lama" seru Mentari, lalu mengulurkan tangan ke arah Arkana, "Apa kabar?"


"Baik" ke dua nya berjabat tangan, lalu mereka segera duduk di tempat yang sebelumnya di duduk oleh Arkana.


Mereka berempat memesan makanan dan minuman, dan setelah menikmati hidangan tersebut, baru lah mereka mengobrol banyak.


Bara dan Kejora, sudah lama tidak pulang ke Indonesia, sementara Arkana baru setahun tidak kembali ke Indonesia.


"Bagaimana kondisi Raka?" tanya Bara,


"Baik, sama seperti aku Om "


"Om dengar Raka telah melakukan operasi terhadap wajah nya ?"


"Benar Om" jawab Arkana dengan singkat, itu terbukti kalau Arkana tidak ingin membahas masa lalu itu lagi.


"Jadi Arkana, Tante dengar kamu sekarang memimpin cabang Purna yang ada di disini, bagaimana kemajuan nya apa lancar- lancar saja?" tanya Kejora, yang penasaran, saat ini masih ada seseorang yang terus memperhatikan Arkana dengan begitu intens.


"Alhamdulillah lancar, ada Kak Al dan yang lain, yang sering membantu juga, ternyata menjalani bisnis disini lebih sulit dari di Indonesia, disini jika tidak memiliki klien yang besar dan berpengaruh akan sulit berkembang suatu perusahaan, untung saja Xander dan king ada di dalam purna, jika tidak mungkin sudah sejak dulu Arkana gulung tikar om" mereka bertiga tertawa kecil, mendengar penjelasan Arkana.


"Kamu bisa saja" Bara pun melanjut menikmati makanan penutup yang sudah di hidang.


"Jadi bagaimana dengan kamu Mentari ? apa kamu mendapatkan pria bule?" goda Arkana, Mentari hanya tersenyum tipis, mendengar godaan Arkana.


"Tidak usah yang bule, pria Indonesia saja kadang dia belum mampu menggoda nya" cibir Kejora,


"Mama. Mama apa - apaan sih" Mentari langsung cemberut mendengar cibiran Kejora.

__ADS_1


Bara dan Kejora kembali tertawa saat melihat Mentari yang malu.


"Jadi apa yang membawa Tante dan Om datang ke NY?" baru lah Arkana bertanya akan tujuan Bara dan Kejora.


"Om mendapat kabar, kalau kamu akan menikah, jadi om langsung terbang kesini untuk memastikan itu" pungkas Bara, Mentari langsung mengerutkan dahi nya, tapi yang disampaikan Bara kepada Mentari bukan itu, melainkan mengatakan jika Pria ini sakit, dan meminta mereka untuk berkunjung.


"Menikah? dengan siapa? dan siapa yang memberitahu Om? " Arkana sendiri bingung, dengan pernyataan Bara.


"Tentu saja kamu yang akan menikah, jika kami tidak datang, kamu tidak akan menikah bukan?" sahut Kejora, disitu lah Arkana baru menyadari maksud perkataan Bara barusan.


Dan di waktu yang sama, Mentari berhenti mencicipi cake yang ada di depan nya, lalu sama - sama menatap Bara dan Kejora.


"Jadi...?" Arkana melirik ke arah Mentari.


"Iya, anggap saja Aku sebagai orang lain, yang datang melamar mu, dan seharunya itu kamu yang lakukan, Om tahu, kamu tidak akan melakukan ini jika bukan Om yang bertindak"


Arkana terdiam mendengar penuturan Bara, bagaimana bisa Bara melakukan itu, sementara disini Arkana yang sebagai pria yang seharusnya mengambil tindakan itu.


"Om, seharusnya Om tidak melakukan itu" Arkana bangkit dari tempat duduk nya, membuat membuat Bara, Kejora dan Mentari ikut kaget.


Mentari sendiri tidak tahu apa yang di maksud oleh ke dua orang tua nya, sementara Arkana telah mengerti sejak awal ke datangan mereka.


"Mentari..." lirih Arkana, wanita ini langsung menoleh dengan rasa takut di hati nya, karena melihat raut wajah Arkana yang begitu serius.


"Will you marry me..." Arkana berlutut di depan Mentari, sembari mengeluarkan cincin dalam saku jas nya. Tentu saja membuat Mentari kaget bukan main, tidak pernah berinteraksi selama setahun, bahkan hilang kabar sejak saat itu.


Namun, tiba - tiba di ajak bertemu oleh orang tua nya, dan itu membuat Mentari senang, tapi siapa sangka, pertemuan ini telah di atur oleh mereka bertiga, dan ternyata sejak dulu Arkana sudah ingin melamar mentari, namun ia ragu dengan perasan nya, Arkana takut kalau dia akan menganggap cinta nya kepada Mentari hanya pelarian oleh sebab itu, dia menunda untuk melamar wanita itu.


"Jangan main - main" tukas Mentari yang masih syok,


"Aku serius" Arkana menyakinkan Mentari, Kejora menyuruh Mentari untuk menerima lamaran Arkana, karena Arkana sendiri sudah yakin akan cinta nya untuk Mentari.


Tanpa menjawab, Mentari mengulurkan tangan nya ke arah Arkana, dan pria itu langsung memasangkan cincin yang ada di tangan nya.


Arkana reflek memeluk Mentari, membuat wanita ini terkejut.


"Terimakasih!" ucap Arkana,


"Eh, apa - apaan ini, belum sah, main peluk - peluk aja" seru Bara, sembari menarik bahu Arkana, dan mereka berempat malah tertawa, akhirnya Arkana dan Mentari bisa bersatu juga.

__ADS_1


__ADS_2