
Hari ini adalah hari pertama Divia berkerja di kantor Purna. Tentu saja dia akan lebih sering bertemu dengan mantan suami nya Raka.
"Selamat pagi Pak!" sapa karyawan yang lalu lalang di lobi, Raka hanya menanggapi nya dengan senyuman, lalu ia berjalan ke arah ke arah ruangan nya.
"Pak Raka hari ini terlihat lebih bersemangat ya?" bisik Karyawan yang lain, saat Raka telah berlalu pergi. Divia baru saja tiba di kantor Purna, dia ragu untuk masuk, Divia melihat seluruh isi lobi kantor Purna, tidak ada yang berubah, masih sama seperti satu tahun yang lalu.
Namun, yang berubah hanya lah status nya, dulu dia seorang Nyonya muda, kini hanya sekretaris biasa di kantor Purna.
Divia memang sudah hafal di mana ruangan Raka, dia pun langsung pergi menuju ruangan mantan suami nya.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk!"
Ceklek !
"Permisi pak!" ucap Divia, setelah pintu di buka, Raka langsung menghentikan aktivitas
nya dan menatap Divia yang berdiri di ambang pintu.
Lama sekali Raka memandangi Divia, dan tanpa berkedip, bahkan Raka belum memperlihatkan Divia untuk duduk.
"Maaf, silahkan duduk" dan pada Akhirnya mereka di pertemukan lagi sebagai bos dan karyawan.
"Tugas mu ada disini, dan ini sudah di catat semua oleh Tante Anita, kamu hanya mempelajari nya pelan-pelan"
Divia mengambil map yang di berikan Raka, pria itu belum memeriksa nya, dan langsung memberikan itu kepada Divia.
"Maaf Pak, kenapa disini, selama kontrak saya tidak boleh menikah?" tanya Divia, Raka langsung menaikan alis nya, karena Raka memang tidak tahu akan hal itu, yang mengurus itu semua Anita, mantan sekretaris Satria dulu, Papa nya Raka.
"Jika, kamu tidak setuju, boleh hilang 'kan karena yang membuat peraturan ini Tante Anita, bukan saya"
"Baiklah, tidak apa-apa" Divia pun bertanda tangan di atas surat kontrak yang ia terima, kita Divia sudah resmi menjadi sekretaris Raka.
"Selamat bergabung, semoga betah, dan menjadi rekan kerja yang baik" Raka mengulurkan tangan nya ke arah Divia, awalnya Divia ragu untuk berjabat tangan, namun ia pun mengalah dan mau berbaikan dengan Raka, yang akan menjadi bos nya.
"Sama-sama"
"Ruangan mu ada di sebelah, dulu di tempati Tante Anita, kamu boleh langsung bekerja"
"Bak pak, saya permisi dulu"
"Silahkan "
__ADS_1
Divia keluar dari ruangan Raka, dan Raka masih menatap kepergian Divia dari ruangan nya, berharap mereka dapat kembali bersatu seperti dulu lagi.
Setelah pertemuan Raka dan Divia tadi pagi, terlihat ke duanya sudah dekat seperti sebelumnya, bahkan Divia juga bekerja seperti biasa, karena dia takut status nya saat ini dengan Raka, hanya lah bos dan karyawan, tidak lebih.
Jam 16:30, sudah waktu nya pulang, sebagian ada yang memilih untuk lembur, mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk!"
Ceklek !
"Pak, ini berkas meeting besok pagi, dan semua nya telah saya periksa, tidak ada yang salah atau kurang"
"Letakkan di atas meja" titah Raka, tanpa menoleh ke arah Divia, pria ini sedang mempersiapkan presentasi nya untuk besok pagi, dan berencana untuk menyelesaikan sore ini juga.
Setelah meletakkan berkas tersebut, Divia berpamitan untuk pergi, dan Raka menghentikan Divia.
"Tunggu"
Divia kembali menoleh, saat Raka memanggil nya.
"Kamu pulang dengan siapa?"
"Hari ini saya bawa mobil Pak, dan akan pulang sendiri" ujar Divia, Raka tersenyum,
Lama sekali Divia berpikir, dan membuat Raka sedikit sungkan.
"Kalau tidak bisa, tidak masalah, kita pergi lagi waktu" Raka menutup laptop nya.
"Bisa kok Pak, kebetulan saya hari ini tidak sibuk"
"Baiklah, tunggu sebentar, saya beres 'kan ini sebentar"
"Baik Pak!"
Karena melihat Raka, yang sibuk membereskan meja kerja nya, Divia sang sekretaris pun ikut membantu.
Di luar kantor, tepat nya di tempat parkiran, Divia yang ingin masuk ke mobil, di hentikan Raka.
"Kenapa enggak satu mobil saja? tujuan kita sama bukan?"
"Tapi bagaimana dengan mobil saya?"
__ADS_1
"Biarkan di kirim sopir ke rumah kamu, aku akan meminta sopir untuk mengantar mobil mu ke sana "
"Apa aman Pak?"
"Tentu saja aman. Panggil nama saja, bukan kah, kita seumuran "
"Tapi ini masih di kantor, dan anda adalah Bos saya, tidak sopan jika saya memanggil Anda dengan sebutan nama"
Raka hanya mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil untuk Divia.
Seketika jam 20:00, malam. Raka mengantar Divia pulang, dan Miranti sudah menunggu Divia di depan teras, karena mobil Divia di antar oleh sopir. Divia tidak memberitahu sang ibu, tentang ia bekerja di tempat Raka, karena tidak ingin kesehatan Miranti semakin memburuk.
"Terimakasih" ucap Divia, setelah dia turun dari mobil Raka, Pria ini hanya tersenyum melihat Divia yang mulai menerima nya kembali, meskipun hanya sengaja bos nya, tapi itu membuat Raka senang.
Begitu mobil Raka, pergi meninggalkan tempat itu, Divia langsung masuk dan terkejut melihat sang ibu sudah menunggu di teras rumah.
"Loh, Mama belum tidur?"
"Mama nunggu kamu. Di antar siapa kamu?"
"Di antar teman kerja ma, ayo kita masuk, mama harus banyak-banyak istirahat ya ma"
Divia membawa Miranti masuk ke dalam rumah, dan mengantar nya ke kamar Miranti yang tak jauh dari ruang tamu.
Divia juga membantu menyelimuti tubuh Miranti yang sudah berbaring di ranjang.
"Divia, Mama boleh bertanya?"
"Eeemmm, mama mau nanya apa?"
"Apa kamu tidak berencana untuk menikah lagi?" pertanyaan itu membuat Divia terkejut, bagaimana pun, dia baru berpisah satu tahun dengan Raka, dan dia masih menyimpan rasa cinta untuk mantan suami nya.
"Kamu juga butuh pendamping hidup, kalau pun Mama pergi, kamu tidak akan kesepian" ujar Miranti, Divia duduk di tepi ranjang, dan memegang tangan Miranti.
"Mama tidur ya, soal ini kita bahas besok lagi"
"Apa kamu masih mencintai Raka?"
Divia tidak menjawab, dia memilih untuk diam , karena Divia tahu, jika Miranti masih marah kepada Raka, yang menceraikan Divia tanpa alasan, padahal itu semua salah Raka dan rencana yang di buat Raka, membuat semua nya berantakan dan pada akhirnya Raka memilih untuk menceraikan Divia.
"Mama, aku capek, mama harus tidur, aku pun akan segera pergi tidur"
Divia pun beranjak dari kamar Miranti, dan meninggalkan wanita itu di depan kamar nya.
__ADS_1
Blam!
Divia menutup rapat pintu kamar Miranti, dan ia berjalan ke arah kamar nya setelah mematikan seluruh lampu yang terdapat di dalam rumah.