Rakamel

Rakamel
Bagian 4


__ADS_3

Lapangan sekolah sudah dipenuhi oleh kerumunan siswa - siswi. Lalu mereka berbaris sesuai kelas masing - masing setelah sekiranya semua siswa berkumpul. Maka ini adalah saat yang tepat untuk kepala sekolah menyampaikan pengumuman.


"Selamat pagi semuanya" ucap kepala sekolah


"Pagi" jawab semua siswa dan siswi


"Baik, pada kesempatan ini saya selaku kepala sekolah di SMP ini. Merasa bangga atas pencapaian juga perjuangan yang dilakukan oleh siswa - siswi disini.


Setiap kali kepala sekolah menyampaikan pidato atau sambutannya, sudah bisa ditebak tidak semua murid mendengarkan dengan sungguh - sungguh.


Tak jarang saat kepala sekolah sedang menyampaikan pidato, selalu saja ada murid yang lebih memilih mengobrol dengan orang disebelahnya, dibanding mendengarkan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah.


"Dan untuk siswa atau siswi yang namanya dipanggil silahkan maju kedepan. Natasha raulia juara ke-3 dalam lomba puisi tingkat nasional, Zahra Monita juara pertama dalam lomba OSN tingkat provinsi"


Saat nama Zahra dipanggil semua murid kelas 8K heboh bersorak juga memberikan tepuk tangan untuknya. Memang sudah bukan menjadi rahasia lagi jika kelas 8K adalah kelas paling heboh sekaligus paling solid diantara kelas - kelas yang lain.


...


Sekarang sudah memasuki jam pelajaran ke-3 dan semua murid sudah sangat terlihat kelelahan, bahkan sebagian ada yang lebih memilih tidur dikelas secara diam - diam agar tidak ketahuan. Sambil menunggu bel istirahat berbunyi.


kringgg...kringgg...


Akhirnya setelah menunggu selama 10 menit bel istirahat berbunyi juga. Seketika murid - murid kelas berbondong - bondong pergi ke kantin, sedangkan aku. Sudah tidak perlu ditanya aku akan pergi kemana sudah pasti aku akan pergi ke perpus untuk mengembalikan buku yang waktu itu aku pinjam.


"Mau ke perpus ya mel? bareng yuk!" ajak Dodit


"ehm...okey" jawabku


Sebenarnya tidak ada masalah jika aku pergi ke perpus bersama dengannya. Namun yang menjadikan ku tidak nyaman saat berada didekatnya adalah, tanpa ia sadari bola matanya selalu saja mengarah padaku.


Memang sudah banyak sekali orang bilang padaku bahwa Dodit memang benar menyukaiku. Awalnya aku tidak percaya tentang itu dan kuanggap itu hanya bahan bercandaan anak - anak tukang gosip.


Namun seiring waktu. Kabar burung itu sepertinya memang benar, karena perlakuan Dodit padaku semakin hari semakin membuatku tidak nyaman.


Seperti setiap pagi selalu saja ada gelas air putih yang dibawah gelasnya, ada secarik surat bertuliskan airnya diminum yah...


dan masih banyak hal lain yang tidak bisa ku beritahu disini. Karena aku sangat jijik jika harus mengingat hal itu.


"bu aku mau mengembalikan buku" ucapku


"dengan nama siapa?"


"Amel, Amelia Melodika kelas 8K"


"Oke. Tunggu sebentar, iya sudah dapat dikembalikan bukunya Amel"

__ADS_1


"baik bu ini terimakasih"


"Dit! aku langsung balik ke kelas lagi yah!"


Dodit yang tadinya sedang asik mencari - cari buku. Seketika dia berhenti lalu menatapku dengan tatapan tajam setelah itu dia bilang


"Mel...mau gak temenin aku nyari buku?"


Kalian pasti sudah tahu aku akan menjawab apa. Dan akhirnya aku keluar dari perpus dengan berlari supaya tidak Dodit tidak dapat mengikutiku.


Aku sampai di kantin sekolah. Disana aku melihat Tina dan Zahra sedang makan bakso, tanpa fikir panjang aku langsung menghampiri mereka berdua lalu bersembunyi diantara mereka.


"Kalo Dodit nanya jawab aja gak tahu" ucapku


"Sip" jawab mereka berdua sambil mengancungkan jempol.


Dan seperti perkiraan ku Dodit mengikutiku. Lalu seperti tebakan ku, dia langsung pergi kearah Zahra dan Tina lalu bertanya


"kalian liat Amel?"


Tentu saja Zahra dan Tina kompak menjawab "gak tahu"


Setelah itu tak lama Dodit pun pergi.


"Kenapa Mel?"


"Biasa lah....kurang sasajen" jawab ku ngawur


Tentu saja jawaban ku itu membuat Zahra dan Tina tertawa terbahak - bahak


"hahaha...Amel...Amel tu benerkan apa gue bilang" ucap Tina


Waktu itu aku cuman bisa diam, membenarkan apa yang mereka katakan padaku.


...


Sepulang sekolah pak satpam memanggilku. Ini tidak seperti biasanya, lalu aku menghampirinya.


"Nak Amel..." Sahut pak satpam


"iya pak ada apa?"


"ini tadi anak laki - laki ngasih surat ke bapak, katanya tolong berikan surat ini kepada siswi bernama Amel"


Tentu saja aku langsung dapat menebak bahwa yang memberikan surat ini sudah pasti dia. Orang yang baru saja ku kenal, namun rasanya seperti sudah lama berteman.

__ADS_1


...


Saat tiba dirumah aku langsung masuk ke kamar, lalu mebuka surat yang diberikan oleh makhluk aneh itu. Didalam surat itu hanya bertuliskan


Tunggu aku...


Jujur, waktu baca itu aku bingung. Bingung dengan apa yang mau Raka sampaikan padaku, dan akhirnya aku hanya bisa memilih untuk tidak peduli.


Sore harinya ada seorang pria datang boncengan diatas motor. Pada saat itu aku tidak peduli, dalam fikiranku mungkin hanya rekan kerja ayah di kantor.


Ayah mengajak dua pria tadi untuk masuk lalu mengantarkan mereka ke ruang tamu. Lalu aku yang tidak sengaja ber pas - pasan dengan dia, sontak saja membuat diri Ku kaget.


Ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa dia, adalah anak teman satu kantornya ayahku. Sempet bingung antara mau nyapa atau jangan, tapi akhirnya dia yang menyapa duluan.


"hai"


"ehm..iya"


"jadi kau sudah tidak perlu bingung dengan surat yang saya berikan benar kan? Karena sekarang kamu. Sudah tahu jawabannya"


Aku cuman bisa diam dan membenarkannya.


Dan bertemu dengannya mungkin adalah suatu penyesalan, sekaligus kebahagiaan yang pernah ku alami seumur hidup. Dia lalu menghampiri ayahnya juga ayahku entah apa yang sedang di bicarakan oleh keduanya, aku tidak peduli.


"Yuk!" ajaknya


Tentu saja aku bingung, dengan ajakannya itu.


"Hah? gimana - gimana?"


Dia tidak memberiku jawaban atas pertanyaan ku. Melainkan dia lebih memilih aku kebingungan lalu menarik tanganku.


"Nih pake" ucapnya sambil menyodorkan helm padaku


"kita mau kemana? kok gak bilang - bilang dulu?"


Untuk ke dua kalinya dia memilih diam, dan untuk kesekian kalinya aku di buat bingung oleh dia. Aku masih enggan memakai helm, karena takut di culik olehnya.


Dan mungkin sedari tadi Raka memperhatikan ku. yang dari tadi cuman melamun ke bingungan, Lalu tanpa izin terlebih dahulu dia memakaikan ku helm dan jaket yang dibawa olehnya.


Lalu seolah tahu aku sedang kebingungan degan tingkah lakunya. Akhirnya dia memberiku sedikit pencerahan yang menurutku tidak sama sekali menjawab pertanyaan ku sebelumnya.


"Helm nya dipake, jaketnya juga nanti kedenginan. Karena kita akan pergi ke tempat yang suhu nya agak dingin"


Tunggu - tunggu tempat yang dinging maksudnya apa?

__ADS_1


__ADS_2