
Diatas motor, tidak ada salah satu dari kami yang membuka topik pembicaraan terlebih dahulu. Yang terdengar hanyalah deru laju kendaraan.
Sebenarnya, aku sangat sekali ingin bertanya padanya. Bahkan sekarang isi kepalaku hanyalah pertanyaan - pertanyaan yang cuman bisa aku simpan, karena walaupun aku menyakannya jawabanya pasti tetap sama Raka lebih memilih diam.
Perjalanan yang kami tempuh sangat jauh dan panjang, sesekali Raka melihat ku dari balik kaca spion motor milik nya. Akhirnya daripada hanya bisa diam mematung aku memilih untu bertanya.
"Kak Raka kalau kamu ajak aku pergi, lalu ayahmu pulang pakai apa?" tanyaku penasaran
"Panggilnya Raka saja. Kalo pakai kak saya merasa tua"
"Jadi pakai apa?"
"nanti pak Rohman supir ayahku yang akan menjemputnya"
"Terus sekarang hari semaki sore. Nanti bila ayah dan ibu khawatir denganku bagaimana?"
"Saya sudah izin sebelumnya. Jadi tenang saja"
Gimana mau tenang coba dari tadi tempat yang dituju gak nyampe - nyampe. Mana makin lama suhunya makin dingin lagi.
Raka melihatku lewa kaca spion, lalu dia menarik tanganku dan menempalkan nya keatas tubuhnya.
"biar gak dingin sekalian biar gak jatoh nanti waktu kamu gak sengaja ketiduran"
Seperti dugaan ku dia memperhatikan ku. Buktinya dia tahu bahwa dari tadi aku sudah beberapa kali mau jatuh karena tertidur.
...
Setelah perjalanan panjang yang penuh drama, akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Ternyata dia mengantarkan ku ke salah satu tempat camping yang ada di ranca upas, tentu saja aku bingung kenapa dia membawaku kemari? apa tujuannya?
Kami masuk kedalam, disana pemandanganya indah sekali banyak bintang yang bertaburan di atas tapi angingnya dingin sekali saat itu. Sehingga aku tidak bisa nyaman memandangi pemndangannya.
"minum ini supaya tubuhmu hangat" ucapnya sambil membawakan segelas bajigur.
"Raka..." panggil ku sambil memegang segelas bajigur
"kenapa mel?"
"makasih" jawabku sambil menatap pemandangan kota Ciwidey pada malam hari
"sama-sama"
Saat sedang asyik menatap pemandangan juga langit malam saat itu yang dipenuhi bintang - bintang. Tiba - tiba saja aku tersadar bahwa hari semakin larut, bahkan jam yang ada di tanganku sudah menunjuk kan pukul 22:00 WIB.
Tentu saja hal itu yang membuat ku khawatir sekaligus bingung harus bagaimana. Raka yang melihat diriku kebingunan, ikut - ikutan berdiri lalu bertanya.
"Kenapa?" tanya nya
"pulang yuk!" ajak ku tergesa - gesa
"ada yang kelupaan?"
__ADS_1
"kamu ini gimana sih?! ini udah jam sepuluh malem terus nanti kalo orang tuan aku nyari gimana?"
Lalu dengan santai dia menjawab
"kamu tahu waktu saya memutuskan mengajak kamu kesini, sebelumnya saya sudah izin pada ayah juga ibu mu"
"Terus sekarang kita tidur dimana?"
Sambil mencoba menenangkan, diriku dia menjawab
"kamu tidak lihat? disekeliling mu di penuhi tenda" sambil menujuk sekeliling
"terus kemah ku yang mana?"
"yang ini"
Dia membawaku pada tenda berwarna orange tapi ada gradasi hijau.
"Terus tendamu?"
"tepat di sebelahmu" sambil menunjukkan tenda berwarna biru muda yang berada tepat disamping tendaku
Dan saat waktu tidur tiba, kami masuk ke dalam tenda masing - masing. Didalam tenda sebelum tidur aku sempat senyam - senyum sendiri waktu mengingat - ngingat bagaimana awal mula kami berdua bertemu.
...
"APA?!" sahutku keras, sampai - sampai semua orang yang ada disana. Langsung melihat ke arah kami
"Kenapa?! kamu yang harusnya aku tanya kenapa?! Gimana aku gak sewot, waktu kamu bilang mau ngajak aku naik gunung"
"kamu gak suka?"
"GAK AKU GAK SUKA. Nanti orang tua aku khawatir gimana?
Lagi - lagi dengan caranya sendiri dia mampu membuatku nurut dan patuh pada perintahnya. Entah dia dapat ilmu dari mana? sampai bisa membuat seorang Amel yang sangat benci di suruh - suruh apalagi, di larang - larang bisa tunduk pada perintah nya.
"terus kalo naik gunung kan harus bawa peralatan nya, sedangkan kita gak bawa. Jadi batal dong pergi ke gunungnya" tanyaku masih berusaha untuk menang
"nanti juga ada. Udah yuk! nanti keburu siang"
Ihk...apa - apaan bukanya jawab dulu kek yang bener ini malah langsung ngajak - ngajak gak jelas lagi.
Diatas motor aku hanya cemberut saja. Masih belum bisa menerima bahwa perdepatan tadi dimenangkan oleh seorang Raka, yang tidak sengaja ku temui di sebuah toko buku.
Mungkin karena melihatku yang sendari tadi hanya cemberut saja. Raka memberhentikan motornya disebuah Warteg yang ada di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanyaku heran
"kalo mau naik gunung perlu banyak tenaga, jadi kita makan dulu" jawabnya
Didalam Warteg terdapat banyak sekali makanan rumah yang kelihatan nya sangat lezat, juga mengunggah selera.
__ADS_1
"bu saya pesen tempe orek pake sayur. Terus.." dia memberikan kode padaku
"ah, samain aja"
"yaudah bu, tempe orek sama sayur nya 2"
Si ibu langsung membuat pesanan yang tadi di pesan. Sembari menunggu makanannya datang, aku sempat mengobrol dengan Raka sebentar.
"Raka, kamu yang teraktir kan?" tanyaku
"Bayar sendiri - sendiri" jawabnya jail
"kalo gitu aku gak jadi makan"
"kenapa?"
"aku gak bawa uang Raka..."
Lalu dia tersenyum jail padaku. Sambil menerima makanan yang tadi di pesan.
"Yasudah, saya yang bayar semuanya. Tapi jangan lupa balas budinya"
"nah gitu dong..."
Makan satu meja dengannya mungkin adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Rasanya ingin sekali menawar pada tuhan, untuk memberhentikan waktu saat itu juga. Agar aku bisa memandang nya lebih lama.
Raka dan aku sampai disebuah tempat penyewaan alat - alat untuk mendaki gunung. Banyak sekali alat - alat yang belum pernah aku liat sebelumnya, kecuali tas, sepatu, dan sarung tangan.
"Yuk!" ajaknya
"hah udah? sebentar banget"
"karena saya sudah pesan sebelumnya"
Lalu kami berdua kembali berboncengan diatas motor. Dan akhirnya kami sampai disebuah tempat pendakian, lalu disana Raka mengenalkan ku dengan salah satu temanya yang akan menuntun kami berdua untuk mendaki gunung Burangrang.
Sebelum mendaki kami berdua diberi arahan terlebih dahulu, juga peraturan - peraturan yang harus kami patuhi. Pendakian pun dimulai, awalnya seru karena trek pendakiannya tidak terlalu sulit, namun semakin naik keatas ternyata jalanan yang kami lalui semakin bermacam - macam.
Mulai dari jalanan yang berbatu, curam dan lain - lain. Raka berada di belakangku, jaga - jaga jika aku jatuh atau tergelincir dia bisa menjaga sekaligus mengawasi ku dari belakang.
Lalu kami sampai di pos 1. Disana kami semua berhenti sebentar untuk beristirah, atau hanya sekedar untu minum.
"kamu kenapa ngajaknya ke gunung?" tanyaku penasaran
"karena kamu kurang olah raga" jawabnya cuek
Entah apa maksud dari jawabannya, namun sepertinya dia sedang menyindir badanku yang akhir - akhir ini memang agak berisi.
...
Saat kami semua hampir mencapai puncak tiba - tiba saja "RAKA!" teriak ku
__ADS_1