Rakamel

Rakamel
Bagian 6


__ADS_3

Setelah melalui berbagai macam rintangan juga drama. Akhirnya sebentar lagi, kami akan segera sampai di puncak gunung. Raka tetap di belakang ku, jaga - jaga jika nanti aku tergelincir atau jatuh.


Saat melewati jalan yang agak berbatu juga licin, dari arah belakang aku mendengar seperti ada yang jatuh. Dan benar, saat aku menoleh ke belakang. Disaat itu pula kedua mataku melihat Raka yang tergelincir dan terperosok ke bawah.


Tentu saja aku panik. Sampai - sampai aku teriak memanggil namanya "RAKA!" Tanpa pikir panjang, aku kembali turun dengan tergesa - gesa. Hanya untuk memastikan bahwa dia, baik - baik saja.


Lalu ku lontar kan padanya sebuah pertanyaan bodoh. Yang seharusnya tidak perlu ku tanyakan pada saat itu.


"Kamu gak papa? ada yang lecet?"


"saya gak papa, tapi kaki saya sepertinya lecet"


Mataku langsung tertuju pada luka gores yang terus mengeluarkan darah.


"kita turun aja yuk!" ajak ku khawatir


"kenapa? kan sebentar lagi sampai"


"kamu kenapa sih? susah banget di bilangin"


Dia tersenyum lalu berdiri dengan satu kaki.


"Lihat. Saya baik - baik saja"


Pandangan ku terus tertuju pada luka gores yang terus mengeluarkan darah. Dan sekarang tetes demi tetes darahnya mulai jatuh ke tanah, tentu aku tahu keadaan-nya sedang tidak baik - baik saja namun dia memaksa.


"kamu kalo tetap mau lanjut, kaki mu biar aku obati dulu. Setidaknya di perban dulu supaya darahnya tidak terus menetes"


Dia setuju. Lalu dengan berbekal kotak P3K yang ku bawa, ku baluti lukanya dengan perban.


...


Akhirnya perjalanan panjang nan melelahkan terbayar ketika kami semua sampai di puncak gunung. Rasa lelah yang kami rasakan sebelum-nya terbayar dengan keindahan alam yang di suguh kan.


Untuk beberapa saat aku terpesona dengan indahnya pemandangan dari atas puncak gunung. Sampai akhirnya aku sadar harus memabangung tenda untuk bermalam nanti.

__ADS_1


Ku lihat Asep yang sedang sibuk merakit tenda sendirian, lalu aku menawarkan diri untuk membantunya, walau sebenarnya yang ku lakukan hanya merecoh dan terus bertanya pada Asep. Untung-nya, Asep adalah orang yang sabar, jadi dia tidak merasa keberatan jika aku terus bertanya.


Disisi lain ada Raka yang tengah sibuk mencari kayu untuk membuat api unggun. Raka berjalan hanya menggunakan satu kaki, dan itu yang menyebabkan dirinya harus melompat - lompat seperti kangguru.


Aku yang sendari tadi terus memperhatikan Raka merasa kasihan padanya. Dan setelah selesai mendirikam tenda, ku hampiri Raka yang sendari tadi tengah sibuk mencari kayu sendirian.


Raka tersenyum, saat dia melihat diriku membantunya mengumpul kan kayu. Aku menyadarinya namun aku enggan bertanya padanya kenapa dia senyam - senyum sendiri, karena aku masih sedikit kesal padanya.


Menjelang malam kami semua menikmati senja dari atas puncak gunung. Sungguh, itu adalah momen terindah dalam hidupku. Cahaya senja yang sedikit demi sedikit menghilang, digantikan dengan lagit gelap berhias bintang - bintang.


...


Asep tengah sibuk membuat api, sedang kan aku sibuk menyiap kan makanan yang akan dimasak. Makan malam hari itu adalah sosis panggang dan sereal, karena jujur perbekalan yang kami bawa sangatlah terbatas.


Ku lihat Raka yang tengah duduk beralaskan tanah sedang melamun sambil memandangi langit malam. Ku hampiri dia, lalu ku beritahu bahwa makanan-nya sudah matang.


"Raka...makanan-nya sudah matang" ucap ku


dia menoleh sebentar lalu kembali memandangi langit. Aku yang penasaran ikut menemani-nya memandangi langit.


"ada apa dengan langit malam Raka?" tanyaku


"jika kamu tidak ingin memberitahu, itu tidak masalah. Tapi setidaknya beritahu aku kenapa kamu mengajak ku ke sini"


"itu karena ibu mu"


Mendengar itu, aku kembali bertanya dengan tatapan serius.


"ibu yang menyuruh mu?" tanyaku heran


"iya"


"kenapa? jelaskan padaku"


"ibu mu cerita pada saya. Bahwa sudah 3 bulan terakhir kamu tidak punya waktu untuk bersenang - senang karena sibuk mempersiap kan diri untuk ikut lomba. Dia juga bilang bahwa kamu tidak pernah mau hangout bersama teman - teman mu karena tidak ada yang cocok"

__ADS_1


Aku hanya bisa diam mendengar hal itu lalu Raka kembali melanjutkan ceritanya.


"Sebenarnya dia hanya khawatir jika nanti kamu tidak mengetahui alam luar. Karena itu saya mengajak mu kemari agar kamu tahu bahwa bumi itu luas tidak hanya terpaku dengan lingkungan yang kamu tinggali"


"ibu sudah lama mengenal mu?"


"sebenarnya sudah hampir 2 tahun saya mengenal ibumu, namun selama itu pula saya belum pernah bertemu dengan sosok wanita bernama Amel yang selalu di ceritakan-nya"


"dan sekarang bagaimana sosok nya?"


"ternyata Amel yang saya bayangkan dengan yang saya temui sangatlah jauh berbeda. Amel yang ada di bayangan saya adalah sosok gadis pendiam dan anti sosial, namun kenyataan-nya tidak demikian. Amel yang sebenarnya adalah sosok wanita yang sangat bertanggung jawab dan yang membuat saya terkejut adalah dia memiliki mata yang indah seperti bulan yang sedang bersinar malam ini, begitu indah"


Setelah itu dia menatap ku dengan tatapan yang amat dalam. Aku tidak membalas tatapan-nya yang ku pikirkan saat itu adalah kenapa tuhan mengirim dia padaku?


Raka berdiri lalu sambil menatap lurus ke depan dia bilang padaku


"sebenarnya hidup itu tidak harus selalu mengejar angka dan target. Tak ada salahnya jika sesekali kita menikmati indahnya alam semesta"


Lalu Raka kembali menatap ku


"Mel...sesekali cobalah untuk keluar dari zona nyaman mu. Mencoba hal baru, tantangan baru itu tidak ada salahnya"


Aku hanya bisa diam dan membenarkan semua yang di ucapkan olehnya.


"Terimakasih" ucapku


"kamu tidak perlu berterimakasih, jika bukan karena cerita ibumu. Mungkin sekarang kamu tidak sedang berada disini, yang duduk beralaskan tanah dan jauh dari rumah"


Ucapan Raka semuanya benar, selama ini aku tidak pernah memberi kesempatan untuk diriku sendiri beristirahat, yang ku pedulikan hanyalah target dan target.


....


Paginya kami semua kembali turun dari atas puncak gunung, meninggalkan semua peristiwa yang terjadi semalam.


Aku berjalan di belakang Raka, melihat dia yang sekarang sudah bisa berjalan menggunakan kedua kakinya, walau sedikit pincang.

__ADS_1


Namun, melihat dia sudah bisa kembali berjalan menggunakan kedua kakinya. Seperti ada kebahagian tersendiri bagiku, entah apa yang membuatku bahagia meliahatnya. Namun intinya aku merasa senang.


Dalam hati ku ajukan sebuah permohonan pada tuhan agar dia bisa selalu ada di sampingku saat suka maupun duka.


__ADS_2