Rakamel

Rakamel
Bagian 7


__ADS_3

"yaudah yuk!" ajaknya


"kamu yakin?" tanyaku ragu


"memangnya kenapa?"


"Raka, kaki kamu belum sembuh total. Jalan mu saja masih belum benar, lebih baik kita pulang naik kereta aja ya!"


Raka cuman diam sambil memegang dagunya. Seolah dia sedang memikirkan sesuatu.


"Sep, sep sini sep" panggilnya


"ada apa?" tanya Asep


"saya pulang nebeng sama kamu ya! cuman sampai stasiun kereta aja. Nanti saya pulang ke Jakartanya naik kereta"


"boleh, terus nanti motornya?"


"Nanti biar saya suruh orang aja"


Perjalanan dari kaki gunung Burangrang menuju stasiun kereta, memang terbilang cukup lumayan jauh. Dan mungkin karena kelelahan Raka tanpa sadar tidur tepat di bahu ku.


Sempat ada niat untuk memindahkan posisi tidur Raka jadi bersandar pada kaca mobil. Namun, melihatnya tidur begitu pulas membuatku memilih untuk tidak memindahkan-nya.


Dia tidur begitu pulas di bahu ku. Dan itu yang menjadikan diriku memiliki kesempatan untuk memandangi wajahnya, ternyata jika ku perhatikan Raka memiliki bibir tipis yang kecil. Selain itu dia memiliki banyak sekali tahi lalat di wajahnya.


Sampai akhirnya aku harus membangungkan dia dari tidurnya.


"Raka..." panggil ku

__ADS_1


Raka bangung dari tidurnya lalu melihat ke arah kaca jendela mobil. Lalu setelah itu dia langsung turun.


"Terimakasih ya Sep. Maaf nih jadi ngerepotin"


"ah iya gak papa Ka. Hati - hati ya di jalan, saya pergi dulu"


Mobil Asep pergi menjauh meninggalkan kami berdua. Raka memandangi wajahku dengan senyuman-nya yang sangat sekali ingin ku bawa pulang. Lalu setelah itu dia genggam tangan ku seolah sangat takut aku pergi atau hilang.


Didalam kereta kami duduk saling berhadapan. Raka terus memandang ke luar selama perjalanan, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun selama kereta melaju.


Hal itu yang membuat diriku penasaran, karena jika ku perhatikan ini seolah seperti pengalaman pertamanya menaiki kereta.


"kamu naik kereta udah berapa kali?"


"baru 2 kali"


"yang pertama sama siapa?"


"ooh...tapi kenapa kayaknya kamu seperti orang yang baru pertamakali naik kereta?"


"saya senang karena bisa naik kereta bersamamu mel...itu yang membuat saya merasa nyaman"


...


Di luar stasiun sudah ada ibu, ayah dan orang tuanya Raka. Mereka sepertinya sudah menunggu cukup lama, ibu yang melihat aku keluar dari stasiun langsung memeluk ku dengan pelukan yang hangat seolah tidak bertemu bertahun - tahun.


Setelah itu kami berdua harus terpisah karena ada rumah yang kami rindukan. Sebelum pergi Raka menghampiriku, lalu sambil tersenyum dia bilang


"cobalah untuk membuka diri" setelah itu dia masuk kedalam mobil dan pergi.

__ADS_1


Sesampainya dirumah kutanyakan banyak sekali pertanyaan pada ibu. Seperti kenapa ibu bisa kenal sama Raka?, apa saja yang ibu ceritakan tentang diriku padanya? dan banyak pertanyaan lain.


Tapi ibu tidak menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang aku harapkan, dia malah menjawab.


"kamu mandi dulu, setelah itu makan. Nanti setelah keadaan-nya sudah nyaman baru ibu cerita"


Sungguh jawaban yang paling aku benci, kenapa? karena jawaban seperti itu yang selalu bisa membuat diriku di buat penasaran setengah mati.


Malamnya tepat nya di teras rumah, ku hampiri ibu yang tengah asik membaca majalah. Aku duduk tepat disampingnya, lalu tanpa basa - basi aku langsung menagih janjinya.


"bu jadi seperti apa dia? bagaimana bisa ibu akrab dengan dia?"


Ibu menyimpan majalahnya lalu menghela nafas.


"begini, ibu dan orang tuanya Raka sudah kenal sejak lama begitupun dengan ayah. Dan Raka adalah anak yang mudah bergaul juga mudah untuk akrab dengan orang baru, hal itu yang membuat ibu nyaman menceritakan kamu pada Raka"


"menurut ibu dia bagaimana?"


"Raka anak yang baik juga sopan, dia selalu menghargai pendapat orang lain. Walaupun anaknya sedikit dingin tapi, kalau sudah sangat dekat. Banyak sekali cerita yang dengan senang hati dia bagikan"


Menurutku cerita ibu tadi sudah cukup menjawab rasa penasaranku tentang sosoknya. Akhirnya setelah perbincangan itu aku memilih untuk masuk ke kamar, lalu ku ambil buku harian yang ada diatas meja belajar ku.


Senyuman mu adalah hal paling terindah di dunia ini yang sangat ingin sekali ku bawa pulang. Namun aku tak bisa karena kau belum menjadi milik ku seutuhnya.


Berada disamping mu adalah kenyamanan yang ku cari selama ini. Rasanya seolah memiliki tempat untuk berlindung dikala badai menerpa.


Ku harap kau adalah rumah yang selama ini kucari, ku harap kau adalah tempat berilindung paling aman. Ku ingin terus selalu tinggal di rumah nyaman itu.


Dan semoga semesta tidak menukar rumah nyaman itu dengan rumah yang lebih baik. Karena aku terlanjur jatuh hati pada rumah yang banyak sekali memiliki ke kurangan itu.

__ADS_1


Jakarta 10 Mei 2020


__ADS_2