
"HUAAAA!"
Teriakan itu menggema di sepanjang koridor, diikuti suara gema langkah kaki cepat dari gadis mungil yang saat ini terengah dan masih terus bertahan dalam pelariannya.
Tak jauh di belakangnya, seorang pria paruh baya mengejarnya dengan tongkat kayu tipis di genggamannya. Di acungkan ke arah gadis itu. Terus saja berlari, sambil berteriak, "BERHENTI DISANA, NOURA!"
Semua yang melihat adegan itu hanya geleng-geleng sambil kembali meneruskan aktivitasnya.
Ya. Itu sudah biasa.
Kejadian itu sudah sering mereka lihat selama dua tahun di sekolah ini.
Di SMK Swasta Bangsa.
Siapa yang tidak mengenal sekolah ini?
Jika kalian tidak mengenalnya, kalian adalah orang yang paling kudet se-samudra.
Ya.
Pasalnya, sekolah ini adalah sekolah yang paling bobrok satu Indonesia. Kenapa bisa? Apa sekolah ini murid-muridnya adalah anak nakal yang tidak diterima di sekolah lain?
Eit. Tentu tidak. Sekolah ini adalah sekolah ternyaman yang ada di Indonesia. Dengan fasilitas yang serba ada dan tidak pernah kurang, SMK ini menjadi SMK terfavorit di Indonesia. Tidak seperti sekolah lain, sekolah ini juga lebih mementingkan keahlian murid daripada dalam hal ajar mengajar pelajaran.
Namun sayang, sekolah ini, banyak sekali murid-murid yang hanya memikirkan pelajaran, namun tidak mempedulikan orang lain di sekitarnya. Karena, yang mereka ketahui hanyalah belajar dan lulus dengan nilai sempurna. Semua yang pintar adalah musuh, dan yang bodoh harus dijauhi.
Karena itulah sekolah ini dianggap bobrok. Satu sekolah isinya orang-orang cuma peduli nilai semua. Masuk sekolah ini harus menggunakan yang namanya uang, uang, dan uang. Tidak ada kaum wanita yang bukan anak sosialita di sekolah ini. Semua, tanpa terkecuali, memiliki orangtua yang jelas dan dikenal oleh Indonesia.
Kecuali, satu anak yang sedang berlarian ini. Noura Maharani G. Tidak ada yang tahu jika perempuan ini adalah anak dari orang yang penting di dunia ini. Hanya dia, dan keluarganya yang tahu jika dirinya anak dari seorang Alvis dan Nadiar. Pasangan fenomenal yang katanya seperti kisah Cinderella. Ya, karena tidak banyak yang tahu jika kisah orangtua perempuan ini benar-benar rumit dan mengharukan. Karena yang mereka tahu, Alvis dan Nadiar sudah melaksanakan akad nikah sebelum resepsi yang diadakan 4 tahun kemudian. Disaat, kakak Noura sudah berumur 1 tahun.
Ah ya. Sekolah ini juga memiliki peraturan. Peraturan sekolah ini hanya satu; berbuat baik.
Siapapun yang melanggar, akan dihukum sesuai keinginan guru BK di sekolah ini.
__ADS_1
Satu orang yang pernah mengalami berbagai hukuman di sekolah ini.
Ya.
Siswi tersebut.
Gadis mungil yang masih berlari menghindari guru di belakangnya.
Noura Maharani Gideon. Siswi kelas 12 di jurusan Multimedia 2. Gadis mungil yang terkenal sebagai status pelajar pembuat onar itu sering melanggar peraturan SMK Swasta Bangsa. Hukuman demi hukuman sudah sering ia terima.
Tapi ia tidak pernah kapok dan terus melakukan pelanggaran. Dia adalah murid dengan rangking abadi. Yaitu, 200.
Ia tidak pernah mencoba untuk menaikan rangkingnya. Toh, yang ia pikirkan hanya kebebasan saja.
Noura masih berlari. Napasnya sudah tidak beraturan dan kakinnya sudah pegal.
Ia berhenti dan menengok kebelakang. Pak Rusel—guru yang sedari tadi mengejarnya—tidak ada di belakangnya. Noura mengembuskan napas lega dan mulai mengatur napasnya.
Baru saja ia akan menengok kedepan, ujung kayu menempel di dahinya dan pelakunya adalah Pak Rusel.
Noura membeku.
Noura menelan ludahnya, lalu nyengir. "Pak, beneran deh. Yang ngerusakin speaker kelas bukan cuma saya. Saya cuma sekali—"
"Tapi kamu yang memulai melempari speaker dengan sepatumu, kan?"
Noura kembali menelan ludahnya. "Enggak Pak! Eng—adududuh."
Elakan Noura terpotong karena tiba-tiba telinganya di jewer oleh tangan Pak Rusel. Noura mendongak dan dapat melihat salah satu temannya yang sedang menatap Noura dengan iba. Noura melotot, lalu menunjuk temannya itu dengan telunjuknya. "Itu, Pak! Dia, Pak! Dia!"
Teman Noura sontak panik saat Noura menunjuknya. Pak Rusel menoleh ke belakang, dan saat itulah cubitan Pak Rusel yang ada ditelinganya terasa melonggar. Noura bergegas melepaskan diri, dan saat Pak Rusel menoleh padanya, Noura memberikan cengiran dan mundur saat Pak Rusel akan kembali menjewernya. "Bye Pak!" serunya, kemudian berbalik dan, "LARI!!" melangkah cepat sambil berseru seperti itu.
Noura bisa mendengar suara Pak Rusel yang berlari dibelakangnya. Noura menatap ke depan, dan tatapanya bertemu dengan seorang lelaki berkacamata yang sedang menatap Noura datar. Hah, si dingin itu! Harus, ya, pakai kacamata disaat lelaki itu bahkan tidak membaca?
Pandangan mereka bertemu, dan Noura menyeringai sambil menunjukkan jari tengahnya. Mulutnya bergerak pelan, mengatakan, "**** you, Snowman!"
__ADS_1
Lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Noura terus berlari tanpa memperhatikan jalanan. Dan saat akan melewati lelaki berkacamata itu—
BRUKK!
"*******!" umpat Noura saat lututnya menabrak lantai dengan sangat keras. Dengan marah, Noura mendongak untuk menatap lelaki yang baru saja menjegal kakinya. "BRENGSEK! LO SENGAJA, KAN?!"
Melvin Savaro, namanya. Lelaki berkacamata itu menunduk, menatap Noura, kemudian sepatunya sendiri. Badan Malvin membungkuk sedikit, kemudian menepuk-nepuk sepatunya sendiri seolah baru saja ada kotoran di sana.
Mulut Noura menganga lebar. Noura menatap lelaki yang sudah berdiri tegak itu dengan tatapan tidak percayanya. "Lo—!!"
"Gausah lari-lari," potong Melvin dengan datar dan wajah tanpa ekspresinya. "Kayak anak SD."
"WHAT THE ****?!" pekik Noura penuh kekesalan, kemudian berdiri dan langsung mendorong dada Melvin. "Eh, ********! Lo buta atau apa? Lo yang jegal kaki gue, dan lo malah nyalahin gue?"
Mata Melvin yang berada dibalik kacamata itu memincing tajam. Matanya terfokus menatap mata kemarahan Noura yang ditujukan padanya, tidak memperhatikan bahwa mereka—lagi-lagi—menjadi tontonan. "Truble maker." ucapnya datar.
Noura tersenyum sinis. "Snowman!"
Mata Melvin masih membalas tatapan Noura. Mereka tenggelam beberapa menit dalam kemarahan mereka, menunggu siapa yang akan kalah dan mengalihkan pandangan. "Pergi." ucap Melvin dingin.
Noura mengangkat sebelah alisnya sambil bersidekap dada. "Lo gak bisa ngusir gue. Gue nggak mau kalah tatap-tatapan sama lo!"
Melvin mengedikan bahunya sekilas. "Gue udah peringatin."
"Ya, dan kalo lo kedip, lo kal—ADAW! ADAW! ADAW!" ucapan Noura terpotong saat ia merasakan sebuah jeweran di telinganya. Mata Noura berkedip-kedip saat melihat sang penjewer yang ternyata adalah Pak Rusel.
"Mau kemana kamu?" tanya Pak Rusel sambil menyeringai.
"BAPAK!! AAAHHH!! GARA-GARA BAPAK SAYA KALAH MAIN TATAP-TATAPAN!!"
Kerumunan tertawa melihat penderitaan Noura saat digiring dengan telinga yang masih dijewer oleh Pak Rusel, kecuali Melvin yang hanya menatap datar, kemudian meneruskan langkahnya yang tadi tertunda akibat ulah Noura.
Bismillahirohmanirohim.
Agak gugup. Udah lama meninggalkan teenfict, jadi takut mengecewakan.😅😅😅
__ADS_1
Instagram: shifa.lee
Blogger: nurshifasf.blogspot.com