RaVin: Troublemaker & Snowman

RaVin: Troublemaker & Snowman
5 - Curhat


__ADS_3


Noura memasuki rumah mewah itu dengan kaki di hentak, kemudian membuang tas miliknya ke sembarang arah. Matanya nyalang menatap sekitaran. "MAMI!! PAPI!! WHERE ARE YOU NOW THAT I NEED YOU?!"


"Berisik!"


Bukan dua orang yang datang menghampiri Noura saat ini, melainkan perempuan cuek yang berjalan dengan gelas di tangannya. Perempuan itu menatap Noura malas, kemudian duduk di sofa ruang televisi. Noura segera mendekati kakaknya dan duduk di samping sang kakak. "Mana Mami ama Papi?"


Austina Putri Gideon. Perempuan yang merupakan kakak perempuan Noura hanya mengedikan bahu acuh, mengambil remot, kemudian memindahkan channel televisi. "Gak tau. Mungkin, mereka lagi romantis-romantisan."


"Trus, kenapa lo gak romantis-romantisan sama Kak Ashton?"


Austina tersedak oleh minumnya, kemudian kembali meneguk air dalam gelasnya banyak-banyak. Ia menatap Noura dengan pandangan tidak percaya. "Gue masih kecil, Ra. Nggak boleh romantis-romantisan."


Noura membuang napasnya dengan kasar. "Kadang, gue ngerasa kalo gue udah jauh lebih dewasa daripada lo, Na."


"Hah?" tanya Austina heran sambil menatap bingung pada Noura.


Noura membetulkan duduknya sambil menghadap pada kakak perempuan yang berbeda 1 tahun darinya itu. "Jujur sama gue, apa lo bahkan pernah nonton bokep?"


Mata Austina melotot menatap adiknya. Tangan Austina terulur dan menjitak kepala Noura dengan kencang. "Lo cewek! Jaga omongan lo!"


"Aduh!" seru Noura kesakitan sambil mengusap bekas pukulan Austina di kepalanya. Noura berdecak, kemudian menatap tidak percaya pada Austina. "Lo aneh! Bukan cuma kaum cowok yang boleh nonton bikap, Na!"


"Noura!"


"Lo coba belajar, deh. Enak tau nonton bikap."


"Noura! Stop!"


"Gue punya stok di laptop kalo lo mau."


Austina menatap tidak percaya pada Noura. "Lo nonton? Lo gak tau berapa sel otak yang bakal berkurang kalo lo nonton hal begituan?"


Austina dan segala pengetahuannya tentang tubuh. Noura berdecak, memutar bola matanya kesal, kemudian duduk dengan bersidekap dada di sofa. "Terserah, jir. Gue berasa ngobrol sama anak 5 tahun."


"Bukannya lo yang anak 5 tahun? Kenapa tuh badan nggak tinggi-tinggi, dek?"

__ADS_1


Noura melotot, lalu cemberut pada kakaknya.


Saat sedang cemberut menatap iklan di TV, mata Noura tertutupi oleh suatu tangan besar. Noura mendengus di tempatnya. "Aku tau ini Papi."


"Ra, kalo lo Papi, apa yang nutupin mata gue ini tangan Mami?" tanya Austina, yang sepertinya sedang ditutup juga matanya. Suara desahan lelah terdengar dari Austina. "Stop kayak anak kecil gini, Ma, Pa."


Suara decakan menyertai saat tangan itu tak lagi menutupi mata keduanya. Mereka kompak berbalik ke belakang dan melihat bahwa Papi berada di belakang tubuh Austina, dan Mami berada di belakang tubuh Noura.


"Kamu ini! Selalu aja bilang kalo kita anak kecil!" gerutu Alvis dengan tangan yang mengacak rambut Austina. "Udah ngerjain PR belum?"


Austina hanya nyengir lebar. "Papi tau pasti jawaban Tina apaan."


Nadiar berdecak dan menjewer anak pertamanya. "Mami udah tau jawabannya pas kamu nyengir barusan."


Noura langsung melompat di sofa, membuat perhatian kedua orang itu teralih. "Papi! Mami! Noura mau curhat!"


Alvis, sang Ayah berdecak jengah. "Kamu mau curhat tentang apa? Tentang hukuman yang kamu jalani saat kamu membuat onar?"


Noura menggeleng.


Nadiar, sang Ibunda mengerenyit heran. "Trus apa? Kamu punya hal lain yang kamu lakuin di sekolah?"


Noura melotot menatap Austina. "Gue cuma mau ngikutin lo yang bebas ngapain aja di sekolah, tau!"


"Gak boleh ngomong gitu ke kakak kamu!" seru Mami pada Noura. "Yang sopan ngomongnya!"


Noura cemberut, lalu bersidekap dada. "Tadi, ada yang nembak aku!"


"Apa?"


"What?!"


"Udah biasa."


"Tapi ini beda, Na—eh, Kak!" seru Noura pada Austina yang menjawab di akhir. "Masa waktu dia nembak, malah aku yang disangka nembak dia? Gak elit banget, elah!"


Austina mendengus geli. "Bagus, dong. Jarang, kan, pembuat onar yang dibikin onar sama orang lain?"

__ADS_1


Noura menggeram marah, kemudian menatap Mami dan Papinya dengan kesal. "Mami! Papi! Kak Tina jahat!"


"Anak kecil."


"MAMI!! PAPI!!"


Nadiar langsung membekap anak keduanya. "Berisik! Anak siapa sih, ini? Cerewet banget."


Noura melotot pada Nadiar.


Nadiar balas melotot.


Austina dan Papi hanya tertawa melihatnya.


***


Melvin baru saja akan menaiki tangga rumahnya saat suara lain dari arah sampingnya membuat langkah Melvin terhenti.


"Ayah sudah mendapatkan informasi tentang siapa anak dari Gideon yang berada di sekolah kamu itu."


Melvin diam dengan wajah tanpa ekspresinya. Ayahnya menghampiri Melvin, lalu melempar sebuah map yang langsung Melvin tangkap. "Baca itu, dan ingat-ingat rupa wajahnya."


Melvin membuka map tersebut, meneliti data awal tentang profil diri disana, kemudian mengerenyit bingung saat nama yang sangat familier itu tertera di sana. Untuk pertama kalinya, Melvin mendapati diri jika ia sedang panik. Matanya menatap kertas tersebut, dan Ayahnya bergantian. Buru-buru, Melvin membuka lembar demi lembar kertas di sana, dan terbelalak saat melihat banyaknya foto yang tertera di sana. "Ayah! Ini—"


"Iya, itu adalah dia," potong laki-laki itu cepat sambil menatap Melvin datar. "Dia sudah remaja, sekarang. Sentuh dia. Karna itu adalah hal yang mudah yang bisa kamu lakukan pada mereka. Kita memang tidak bisa menyentuh bagian hidupnya, yaitu isterinya. Namun, kita bisa menyentuh anaknya. Dan itu, hanya dapat dilakukan oleh kamu."


Melvin menelan ludahnya. Ia menatap Ayahnya dengan kebingungan. "Tap-tapi Yah—"


"Tidak usah menggunakan tapi, Melvin," potong Ayahnya cepat. "Ayah dari perempuan itu telah membunuh kakakmu, dan membuat ibumu gila. Kamu harus membunuh anaknya, untuk membuat ayahnya gila."


Melvin menelan ludahnya lagi. Matanya menatap sendu dan memelas pada Ayahnya yang tetap saja berdiri tegap sambil menatap lurus-lurus pada Melvin. "Tapi, Yah. Melvin ..., terlalu dini buat masuk penjara. Melvin ..., masih anak sekolahan dan Melvin belum berani buat bunuh orang, apalagi—"


"Semua itu tidak penting, Melvin. Ayah bisa membebaskan kamu!" potong ayahnya lagi dengan kalimat yang sama. Kebebasan. "Ayah akan bertanggung jawab akan semuanya! Kita bukan rakyat kecil dan miskin. Ayah jamin pemerintah lebih membutuhkan pajak dari orang yang berpenghasilan banyak!"


"A-ayah ...," pinta Melvin memelas, namun percuma. Melvin menunduk, menghela napasnya panjang, kemudian kembali mendongak dan menatap ayahnya datar. "Kasih Melvin waktu. Melvin butuh mempersiapkan segalanya."


Ayah menganggukan kepalanya pelan. "Ayah kasih kamu waktu sebulan untuk membalas dendam," ucapnya tajam. "Kamu, harus ingat jika keluarga kita hancur karna Alvis Lucifer Gideon."

__ADS_1


Melvin hanya mengangguk, lalu berjalan tenang meniti anak tangga. Walaupun dalam hati, Melvin merasa resah dan tidak menyangka.


Bahwa Noura Maharani adalah puteri dari seorang Gideon.


__ADS_2