
Pak Rusel mendengus mendengar ucapan Noura yang masih keukeuh pada pendiriannya. "Terserah kamu. Yang pasti, pembelaan kamu gak masuk akal. Lain kali, mikir alasan yang logis buat--enggak, saya harap, kamu gak bikin ulah lagi biar saya gak harus dengar alasan yang kamu buat. Ngerti?" ujarnya panjang lebar.
"Ngerti, Pak. Kapan sih, saya gak ngertiin bapak?" ujar Noura sambil cemberut. Ia kemudian berdiri, lalu merenggangkan otot di pinggulnya. Terpaksa, ia tetap membiarkan Pak Rusel percaya bahwa Noura adalah si penembak Melvin di lapangan.
"Ya sudah. Masuk ke kelas. Jangan sampe ada laporan kamu bolos dari kelas."
Noura berdecak. "Iya, Pak. Kan saya sehari sekali di hukumnya."
"Halah, biasanya juga 3 kali aja nggak cukup."
Noura hanya nyengir lebar. "Gapapa. Yang penting bebas," balasnya, lalu mencium tangan Pak Rusel, kemudian berbalik dan melangkah pergi ke kelasnya.
Sambil berpikir, tentang jantungnya yang terus saja memompa kencang saat Melvin menembaknya. Yah, walaupun Melvin itu bukan pertama yang Noura tolak, namun, tetap saja. Siapa sih, yang tidak gugup saat di tembak orang? Di tengah lapangan, lagi. Dan dilihat oleh seluruh murid disana.
Namun kadang, hidup tidak seperti dalam drama Korea. Belum juga Noura memberikan jawaban, Pak Rusel tiba-tiba datang dan menjadi penghancur momen tersebut. Walaupun, momennya benar-benar tidak ada unsur romantis sama sekali.
Kedatangan Noura ke dalam kelas di sambut dengan tatapan penasaran dari teman sekelasnya, dan cengiran dari kelima sahabatnya.
"Oi, Ra! Rekor, nih. Lo gak bikin onar hari ini," suara Salsa menyambut Noura. Cewek itu duduk di atas meja sambil nyengir lebar.
Noura berdecak sebal, lalu duduk di kursinya yang sudah dikelilingi sahabatnya. "Iya, masa gue di fitnah nembak Melvin, sih?! Gak ada yang lebih elitan, apa?!"
Vabian tertawa. Ia menepuk pundak Noura sekali. Bukan tepukan menyuruh sabar atau apalah. Tapi, tepukan itu bermaksud mengejek. "Sabarin aja. Kapan lagi idup trouble maker dibuat onar? Kali-kali, lo juga harus kena, Ra."
"Minta mati, ya?" Noura membalas jengah. Ia menjitak kesal kepala Vabian, lalu menempeleng kepala cowok itu dengan sadis. "Lu yang paling seneng, kan, kalo gue di fitnah kayak gini?"
"So PASTI!"
"Anjing! Minta dibunuh, ya?"
__ADS_1
Vabian hanya tertawa, lalu menjauhi Noura yang mendelik kesal.
"Tapi, btw," Yasmin membuka suara. Cewek itu duduk di samping Noura sambil menggenggam pulpen berwarna pink miliknya. "Si Melvin beneran nembak lo, kan, tadi?"
Noura mendengus sebal. "Tau, deh. Yang pasti, kalo dia muncul lagi, gue bakal kempesin badan dia sampe se-tipis kertas, trus gue bejek-bejek dan buang ke tong sampah."
Samuel tertawa mendengarnya. "Sadis!"
"Emang bisa, ya, Ra?" Dengan polosnya, Yasmin bertanya sambil memandang heran pada Noura, membuat orang-orang disana berdecak sebal.
"Diem, ya! Sekali lagi kalian ganggu, gue gak segan buat bunuh kalian!"
Memang hanya sebuah candaan, namun teman-temannya hanya tertawa dan tidak lagi mengganggu Noura.
Ya, mereka sadar situasi dan kondisi. Jika sudah kesal begini, Noura tidak akan benar jika di ajak bercanda.
Masalahnya, ini benar-benar tidak adil!
Mengingatnya, Noura mendengus. Kelas hening. Dan bersamaan dengan itu, sebuah bunga terulur di hadapan Noura, membuatnya mendongak untuk melihat sang pengulur bunga. Dan view wajah Melvin yang tanpa ekspresi, membuat mulut Noura menganga setengah.
"Sekarang, jadi pacar gue, ya?" Melvin bertanya datar sambil melempar bunga tersebut di atas meja. "Gue udah ngasih lo bunga."
Mata Noura mengedip beberapa kali. Ia menelan ludahnya saat perasaan gondok melingkupi dirinya. Menghela napas panjang dan berlebihan, Noura kemudian berdiri sambil kembali mengedip beberapa kali. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
BRAK!
"LU MAU MATI, YA?" Noura berteriak setelah memukul meja dengan kencang. Kelas makin hening, namun bukannya membuat Noura tenang, malah membuat suasana hatinya kian panas membara.
Orang yang diteriaki hanya menggeleng. "Gue maunya, elo jadi cewek gue."
Mulut Noura menganga lebar, bersamaan dengan matanya yang terus berkedip beberapa kali.
__ADS_1
Noura tidak percaya ini. Mengapa ia harus di kejar oleh cowok dingin yang seringkali Noura jahili? Apa balas dendam pada Noura? Atau memang Melvin sengaja membuat Noura kesal dan di hukum padahal Noura tidak berulah?
Memikirkannya, membuat Noura makin naik darah. Ia mengambil bunga tersebut, lalu berjalan keluar bangku untuk menghampiri Melvin dengan aura hitam yang melingkupi tubuh Noura.
Seolah tahu Noura akan mengamuk, kawan-kawannya menahan tubuh Noura agar tidak membunuh Melvin di tempat.
Noura memberontak. Ia mendorong kasar pada siapapun yang berani menghalanginya. Namun tetap saja, Noura kalah melawan 5 sahabatnya. "LEPASIN! LEPASIN GUE! BISA-BISANYA KALIAN NGELINDUNGIN ORANG YANG NGASIH GUE BUNGA KAMBOJA?! HEH! LU DO'AIN GUE MATI, YA?! LU SENGAJA BELIIN GUE BUNGA KAMBOJA BIAR GUE CEPET-CEPET MASUK KUBURAN, GITU?!"
Yang diteriaki hanya diam saja dengan ekspresi datar. "Gue gak beli. Gue metik di kuburan deket sekolah."
Hening. Semua yang ada disana terdiam bersamaan dengan tubuh Noura yang tak lagi memberontak. Namun, tak lama kemudian Noura kembali memberontak sambil melemparkan bunga kamboja itu ke sembarang tempat. "LEPASIN GUE! GUE PENGEN BUNUH TUH ORANG SEKARANG! MANA ADA NGAJAK PACARAN YANG BIKIN GUE NAIK DARAH GINI?!"
"RA ISTIGFAR!"
"NOURA SADAR, RA! KITA SAHABAT LO!"
"RA, NYEBUT!"
"GUE KAGAK KESURUPAN!!!"
"BACA DO'A BERSAMA, KAWAN!"
"AIR MANA AIR?! NOURA HARUS DI SEMBUR!"
"BUKA SEPATUNYA! JEMPOL KAKINYA HARUS DI TEKEN!"
Sementara orang-orang sibuk menidurkan Noura di lantai sambil di pegangi tangan dan kakinya, Melvin hanya diam saja memandang Noura yang balas menatapnya dengan sorot murka. "Jadi gimana? Lo udah jadi cewek gue, belum?"
"LU MINTA DI BUNUH, YA?!"
Instagram: shifa.lee
__ADS_1
Blogger: nurshifasf.blogspot.com