
...Diskriminasi....
...-School 2k17-...
Pak Rusel mengulum bibirnya. Tongkatnya ia gerakan untuk memukul telapak tangannya sendiri, namun matanya tak lepas dari Noura dan teman-temannya yang menatap Pak Rusel dengan tatapan biasa. Mereka berbaris di lapangan setelah Pak Rusel menangkap mereka saat membolos. Pak Rusel menghela napas panjang, lalu berdecak kesal. Tongkat Pak Rusel mengarah pada Noura. "Kamu lagi yang mulai?"
Noura hanya nyengir tanpa dosa. "Bapak tau aja."
Pak Rusel menghela napas panjang, lalu menatap teman-teman Noura yang lain. "Semuanya, kembali ke kelas kecuali Noura."
Hening sejenak, membuat Noura menghela napas panjang. Pasti, setiap mereka yang melakukan kesalahan, hanya Noura lah yang diberikan hukuman. Itu sudah biasa, dan Noura sudah terbiasa.
"NGGAK BISA GITU, PAK!"
"IYA PAK! GAK BISA GITU! KITA KAN BANDEL BARENG NOURA!"
"IYA PAK! GAK BOLEH PILIH KASIH!"
"KALAU MAU HUKUM NOURA, HUKUM KITA JUGA!"
"IYA! BENER!"
"JANGAN CUMA HUKUM YURA MENTANG-MENTANG NOURA ANAK GAK JELAS!"
Pak Rusel diam saat teriakan-teriakan itu menghujam gendang telinganya. Ia mengedarkan pandangannya pada murid-murid yang barusan tidak ingin selamat dari hukuman, lalu menghela napas panjang. "Sebaiknya, kalian menuruti apa kata saya, sebelum saya makin menghukum Noura."
"NGGAK BISA GITU, PAK!"
"KALO BAPAK NGEHUKUM NOURA, HUKUM KITA JUGA!"
"IYA PAK! JANGAN BEDAIN KITA HANYA KARNA KITA ANAK ORANG KAYA!"
__ADS_1
"IYA!"
"BENER!"
"HUKUM KITA JUGA!"
Teriakan itu kembali terdengar seisi lapangan outdoor. Beberapa kelas yang tidak ada gurunya berbondong-bondong menatap ke arah lapangan untuk melihat kejadian tersebut.
Noura menghela napas panjang, kemudian menoleh ke belakangnya. "Guys, plis. Gue gak papa. Kalian ke kelas aja."
"Gak mau, Ra! Ini nggak adil!" seru Salsa sambil melotot marah pada Noura. "Mentang-mentang lo anak orang gak jelas, lo pantes buat diginiin, gitu? Enggak! Ini gak adil buat lo!"
"Bener!" Samuel ikutan membalas sambil berteriak marah. "Mana yang katanya, HUKUM TIDAK MEMANDANG KASTA?!" serunya, lalu tersenyum sinis. "Cih, ini yang bikin negara kita ancur. Warganya tukang diskriminasi semua!"
Noura tertegun, menatap wajah wajah teman-temannya yang terlihat marah hanya karena Noura yang dihukum oleh Pak Rusel, sementara mereka di bebaskan.
Farrel melangkah maju sambil menatap tajam pada Pak Rusel. Ia bersisian dengan Noura, dan tangannya menggenggam erat tangan Noura. "Ini yang katanya bhineka tunggal ika? Berbeda-beda tapi satu? Yang katanya tidak membedakan yang kaya dan miskin, ras dan agama?" tanyanya, lalu tersenyum sinis. "Bapak terlalu meninggi untuk jadi manusia penganut bhineka tunggal ika. Mana yang katanya guru dipergunakan untuk mengajari muridnya? Yang saya lihat, penganut diskriminasi yang ada di sekolah ini."
Vabian ikut maju, lalu menggenggam tangan Noura yang satunya lagi. "Bener, Pak! Apapun yang bapak perintahkan, akan kami turuti. Kecuali, meninggalkan teman kami yang dihukum sendirian, padahal kami juga sudah berbuat kesalahan yang sama."
Hening. Noura mengembangkan senyumnya menatap Vabian. Walaupun Vabian adalah lelaki yang selalu mengejeknya paling parah, namun Vabian jugalah yang rela untuk maju ke barisan terdepan saat Noura dalam masalah.
Pak Rusel mengangguk, seolah mengerti. "Baiklah. Kalau gitu, kalian di hukum lari sekeliling lapangan," ucapnya, membuat mereka tersenyum senang karena berhasil memprovokasi Pak Rusel. "Tapi untuk Noura," jeda, Pak Rusel memberikan senyum miringnya. "Kamu lari 10 keliling lapangan, lalu membersihkan perpustakaan."
Semua yang mendengarnya melongo, begitu juga dengan Noura. "Bapak!! Kenapa banyak banget?!" pekik Noura tidak terima.
"Iya, Pak! Ini gak-"
"Sekali lagi kalian bilang tentang diskriminasi dan keadilan ...," ucap Pak Rusel memotong perkataan Yasmin. "Noura, akan saya hukum lebih berat."
Semua diam, kecuali Noura yang hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
Pak Rusel lalu mengetuk kepala Noura dengan pelan menggunakan tongkatnya. "Ayo! Kerjakan, Noura!"
Noura berdecak. "Yaudah! Bapak sono dulu!"
Pak Rusel mengangguk, lalu pergi dari lapangan.
Noura merasakan sebuah pelukan dari belakangnya, lalu suara Yasmin menyusul pelukan tersebut. "AAAHH, NOURA MAAFIN GUE!!"
Farrel menghela napas, lalu menepuk pundak Noura pelan. "Maafin kita, Ra. Kita buat lo makin di hukum."
Noura tersenyum, kemudian menggeleng dan langsung merangkul Yasmin dan Salsa dengan kedua tangannya. "Gapapa! Gue gak masalah, kok. Buat apa trouble maker disini kalo bukan buat di hukum?"
Vabian mendengus geli, lalu menjitak kepala Noura pelan. "Yang sabar, ya, Ra."
Noura tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Gue udah biasa. Justru, gue berterima kasih sama kalian karna udah bela gue mati-matian di depan Pak Rusel," ucapnya sambil tersenyum tulus. Ia melepaskan rangkulannya, kemudian bertepuk tangan 2 kali. "Nah, ayo kita laksanakan hukuman kita!"
Wajah mereka terlihat malas. Suara desahan lelah terdengar dari keenam orang itu. "Laksanakan!" ucap mereka dengan nada malas yang serempak.
***
Melvin berjalan pelan menyusuri rak-rak perpustakaan, lalu menyimpan buku yang ia pegang di tempat kosong pada rak tersebut. Setelah itu, Melvin mengambil salah satu buku ensiklopedi di sana, kemudian membacanya sambil berjalan. Melvin mendudukan tubuhnya di kursi perpustakaan, di samping tubuh tertidur seorang perempuan yang wajahnya tertutupi buku.
Melvin tetap membaca buku ensiklopedinya dengan serius. Matanya memincing menatap deretan kata yang tertera disana, dan menyimpannya dalam memori ingatannya. Membaca sekali lagi, Melvin sudah hafal setiap kalimat yang ada di sana. Jari lentik Melvin membuka halaman berikutnya. Saat itulah, pergerkan di sampingnya terasa dan membuat Melvin menoleh ke samping. Kepala perempuan yang sedang tidur itu bergerak pelan, membuat buku yang berada di wajahnya turun dan memperlihatkan muka tertidur seorang perempuan yang sangat dikenalinya.
"Noura?" ucap Melvin spontan. Melvin terdiam menatap wajah polos Noura yang terlihat kelelahan dan tenang dalam tidurnya. Tanpa sadar, Melvin menatap Noura lekat, mengingat bagaimana perempuan itu bisa sampai di perpustakaan, padahal tidak pernah membaca buku. Melvin memincingkan matanya saat melihat sesuatu berkilau di sudut bibir Noura. Sebuah dengusan geli keluar dari Melvin. "Jorok."
Melvin terkekeh kecil di tempatnya, lalu terdiam saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Melvin menghela napas panjang. Ia menyimpan tangannya di meja, lalu menidurkan kepalanya dengan posisi menyamping ke arah Noura. Entah dorongan darimana, Melvin mendekatkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya menatap Noura dari dekat. "Jorok, tapi cantik."
Melvin tersenyum. Tangannya terulur untuk memegang rambut Noura dan menyingkirkan helaian rambut yang membandel dan membuat wajah Noura menjadi tidak terlihat. Namun, tangan Melvin terhenti di udara saat ia menyadari sesuatu. Senyum Melvin perlahan menghilang. Melvin menjauhkan tangannya, wajahnya, kemudian tubuhnya. Ia berdiri, lalu menatap Noura yang masih terlelap di tempatnya. "Gak seharusnya, lo satu sekolah sama gue, Noura."
Setelah mengucap kalimat itu entah pada siapa, Melvin keluar dari perpustakaan dengan perasaan yang berkecamuk. Melvin harus menjauhi Noura dan menahan dirinya yang menginginkan berada di dekat Noura. Ya, Melvin harus. Karena dekat dengan Noura, adalah sebuah kesalahan bagi Melvin.
__ADS_1
Kesalahan karena telah berdekatan dengan anak dari seorang pembunuh.