RaVin: Troublemaker & Snowman

RaVin: Troublemaker & Snowman
3 - Bukan Saya, Bapak!


__ADS_3


"Gue mau, lo jadi pacar gue."


Orang di depannya melotot, lalu disusul dengan tarikan napas kaget dari orang-orang yang melihat kejadian tersebut.


Melvin mengabaikan. Ia tetap menatap fokus pada wajah Noura yang nampak mengartikan bahwa ia sedang melihat hantu didepannya. "Gue gak nerima penolakan." Melvin kembali berkata dengan datar. Karena memang, niatnya harus menjadikan Noura pacar.


Noura mengerutkan alisnya dengan mata melotot. Ia melihat ke sekeliling lapangan, dan semua pasang mata disana hanya menatap pada Melvin dan Noura, membuat cewek itu berdecak. "Gue gak akan nolak, gak akan juga nerima. Terserah lu mau ngomong apaan. Peduli setan sama orang kesurupan yang tiba-tiba narik gue keluar dari kelas dan nembak gue dengan gak jelas gini," Noura berujar panjang lebar, kemudian berdecak kesal. "Tapi, JANGAN PERNAH LU GANTIIN GUE BUAT JADI TROUBLE MAKER! NGERTI?"


Wajah Melvin masih saja tanpa ekspresi saat menjawab, "Gue gak ada niatan buat gantiin posisi lo."


Noura memandang sengit pada Melvin. "Lu sebenernya niat, gak, sih, jadiin gue pacar?"


Melvin mengangguk, namun wajahnya tetap pada ekspresi datar. "Niat."


Noura mencebik. "Gaada romantis-romantisnya, *****. Lo pernah nembak cewek, gak, sih?! Kreatif, dong! Bawa bunga, kek. Atau apalah," gerutunya, lalu menggenggam kedua tangan Melvin. "Atau pengang tangannya kayak gini, trus bilang, gue suka sama lo. Mau gak, jadi, pacar gue? Trus senyum," Noura mempraktekan perkataannya sambil tersenyum lebar.


Melvin mengerjap, lalu mencoba menggenggam tangan Noura.


"NOURA!!!"


Noura berjengit.


Melvin yang baru saja akan meniru apa yang Noura lakukan hanya mengalihkan pandangannya pada sumber suara.


Pak Rusel berdiri di depan kerumunan orang dengan sebuah tongkat di tangannya sambil tersenyum menyeramkan.


Melvin mengalihkan tatapannya pada Noura saat mendengar suara decakan dari cewek itu. "Lu bener. Walaupun lo niat gantiin posisi gue sebagai trouble maker, lo gak akan bisa."


Melvin sebenarnya tidak mengerti apa maksudnya. Namun, saat Pak Rusel tiba diantara mereka dan langsung menjewer Noura, Melvin tahu apa yang Noura maksudkan.


"Adududuh, Pak! Sakit, Pak! Kasar banget, sih, ama cewek!" seru Noura sambil berdecak, lalu mendelik sebal.


"Saya gak akan kasar sama kamu kalo kamu gak bikin masalah! Dan kamu yakin kalo kamu cewek? Mana ada cewek yang nembak cowok di depan banyak orang gini?!" Pak Rusel berteriak gemas, membuat orang-orang yang menonton aksi Pak Rusel tertawa. Kecuali Melvin, tentunya.


"WHAT?!" pekik Noura sambil memelototi Pak Rusel dengan horror. "Seenaknya banget bapak fitnah-fitnah! Cewek se-cantik saya mana mungkin nembak cowok, pak?! Yang ada, semua cowok saya tolakin!" jelasnya, lalu beralih memelototi Melvin. "Termasuk lo! Lo gue tolak, titik!"


"Mana ada yang nembak yang nolak jadian?!" seru Pak Rusel, masih menjewer Noura.


"Bukan saya, bapak!"

__ADS_1


"Alah, jangan bohong kamu! Saya denger jelas banget kamu nembak Melvin."


"SAYA CUMA PRAKTEKIN GIMANA CARA NEMBAK YANG BAIK DAN BENAR!" Noura kini berteriak. Mungkin, terlalu sebal karena dianggap menjadi si-pengajak-jadian oleh Pak Rusel.


"Tetep aja! Yang saya liat, kamu yang nembak Melvin!" Pak Rusel berkata sambil berjalan dengan telinga Noura yang masih di jewer.


"Adududuh, Pak! Mau kemana, sih?! Lepasin dulu telinga saya! Tar kalo copot, kan, berabe."


"Ikut saya! Hari ini, kamu akan mendapat hukuman membersihkan WC."


"WHAT THE ****!"


"Tambah bending! Kamu ngomong kasar di depan saya."


"ASTAGA DRAGON, BAPAK KENAPA SENENG BANGET NYIKSA SAYA?!"


"Berisik, Noura! Sadar diri dikit dong kalo suara kamu cempreng!"


Dan Melvin tetap diam. Ia menatap Noura dan Pak Rusel yang kian menjauh dari pandangannya. Sebenarnya, Melvin memang menembak Noura karena menyukai cewek itu.


Alasan Melvin klise. Ia hanya ingin memiliki Noura untuk mendapat kebebasan. Kalian akan mengerti jika terus mengikuti jalan pikiran Melvin.


"Sembilan!"


Noura meloncat ke atas sekali, lalu mendarat dengan berjongkok di tanah. Ia kemudian mendelik, mengingat betapa kejamnya Pak Rusel barusan. Saat membersihkan toilet pun, Noura di awasi oleh gurunya.


"Sembilan!"


Noura meloncat sekali lagi. Sadar angka yang di teriakan sudah terucap oleh Pak Rusel, Noura memelototi gurunya. "Kan tadi sembilan, Pak!"


Pak Rusel mengangkat sebelah alisnya, lalu mengetuk ringan kepala Noura menggunakan tongkat. "Sembilan!"


Noura mendengus, lalu meloncat sekali lagi.


"Sembilan!"


"Bapak!!"


"Apa? Mau minta di tambah?"


Noura mendengus, lalu meloncat sekali lagi. Jika saja Pak Rusel bukan Guru BK, Noura akan dengan senang hati menghukum balik Pak Rusel dengan kejamnya. Caranya? Mudah saja, tinggal ambil tongkatnya dan patahkan. Itu akan sangat memuaskan bagi Noura.

__ADS_1


"Sembilan!"


Noura menggertakan giginya, lalu kembali meloncat lagi. Napasnya kini terengah. Hitungan 5 saja Noura sudah merasa lelah, lalu Pak Rusel dengan kejamnya menunda-nunda angka 10 di akhir?! Noura berdecak memikirkannya. "Pak, bapak kok seneng banget ngejar-ngejar saya? Saya masih di bawah umur, loh. Bapak gak boleh genit-genit sama saya."


"Sembilan!" Pak Rusel kembali berseru, membuat Noura berdecak, lalu kembali meloncat di tempat. "Saya ngerjain tugas, keleus! Murid kayak kamu itu saya perjuangkan untuk di hukum!" jawabnya mengenai perkataan Noura barusan. "Sembilan setengah!"


Noura meloncat, lalu berdecak sebal. "Emang, saya murid kayak gimana, sih? Cantik? Gak usah bapak kasih tau juga saya udah tau."


"Otaknya pendek!" balas Pak Rusel, "Sembilan setengah!"


Noura mendengus dengan napasnya yang masih terengah. "Bapak, dimana-mana, otak ya nggak ada yang pendek atau tinggi!"


"Sembilan setengah!"


"Bapak, ih! Saya capek!"


"Kalo kamu capek, ngapain bikin ulah lagi?"


"Bapak gak percayaan banget, sih?! Bukan saya yang nembak Melvin!"


"Gak mungkin Melvin suka sama cewek berotak jongkok kayak kamu. Rangking kamu sama Melvin itu jauuuuhhh banget. Kayak langit dan permukaan tanah."


"Rangking gak menjamin orang itu menarik!"


"Tapi tetep aja. Mustahil Melvin suka sama kamu."


"Emang! Mustahil banget, malah."


"Makanya, itu berarti, kamu yang nembak Melvin. Melvin kan pintar."


"Bapak! Ih, sebel deh sama bapak!" Noura berseru sambil mendengus. "Udah dong, Pak. Bapak gak bosen hukum saya? Bapak takut jauh-jauh dari saya, makanya hukum saya terus, gitu?!"


Pak Rusel berdecak, lalu mendelik. "Saya juga gak akan hukum kamu kalo kamu nggak bikin ulah."


"Yang bikin ulah itu Melvin! Bukan saya!"


Tetap saja. Pak Rusel tidak mempercayai ucapan Noura dan tetap pada pemikirannya sendiri.


Instagram: shifa.lee


Blogger: nurshifasf.blogspot.com

__ADS_1


__ADS_2