RaVin: Troublemaker & Snowman

RaVin: Troublemaker & Snowman
6 - Bukan Hanya Satu Orang


__ADS_3


Seperti biasa, Noura menenteng tasnya di salah satu bahu dan berjalan dengan kaki yang sedikit mengangkang juga tangan yang perlahan maju dan mundur. Noura tidak menghiraukan saat orang-orang menatapnya dengan tatapan tidak suka dan membisiki Noura dengan umpatan kejam. Ia terus melangkah dengan langkahnya yang terlihat sombong dan angkuh. Dan barbar, tentunya. Pandangan Noura menangkap punggung tegap seseorang yang sangat Noura kenal.


Noura tersenyum miring. Ini saatnya balas dendam, setelah kemarin Noura dibuat onar oleh lelaki itu. Noura mempercepat langkahnya, dan saat semakin dekat, Noura melompat dan sengaja menabrakan tubuhnya dengan penggung itu. Noura tertawa mengejek melihat Melvin yang tersungkur di lantai koridor dengan kacamata dan bukunya yang tergeletak di samping Melvin. "Rasain! Cemen banget jadi cowok! Digituin aja jatoh, lo!"


Melvin mengangkat kepalanya, menatap sinis, kemudian berdecih dan mengabaikan Noura yang menunggu reaksi selanjutnya dari Melvin. Lelaki itu lebih memilih mengambil kacamatanya, kemudian memakainya lagi, lalu memungut bukunya. Melvin berdiri, dengan mata yang menatap dingin pada Noura.


Noura berdecih, lalu bersidekap dada. "Apa? Mau nembak gue lagi?"


Melvin menggeleng. Tatapannya sinis pada Noura. "Anak pembunuh." bisiknya, namun masih terdengar di telinga Noura.


"Apa?" tanya Noura kaget, tidak menyangka. "Lo ngomong apaan? Munyuh naknuh?"


Melvin hanya menatap tajam pada Noura beberapa saat, kemudian berbalik dan meninggalkan Noura yang berdiam diri dengan heran. "Apaan, sih? Gak jelas banget itu orang," ucapnya, lalu mengedikan bahu dan berjalan memasuki kelasnya.


Di dalam kelas, ia sudah melihat ketujuh temannya duduk di bangku milik Noura sambil bersenda gurau.


Noura segera menghampiri mereka, lalu mengetuk-ngetuk meja dengan kencang. Kelima orang itu menoleh, lalu tersenyum lebar pada Noura. "Yo, mamen! Apa kabar? Long time no see, loh!" seru Noura berlebihan.


"Alay!"


"Mulai dramanya!"


"Huu Noura lebay!"


"Baru aja semilidetik yang lalu kita bertemu!"


"Dan kau sudah melupakan kenangan itu, Ra?"


"Alay *****! Makin alay lo pada!"


"Najisin lah!"


"Gak butuh temen yang alay!"


"Lebih butuh teman di ranjang!"


"HUUU NOURA SOK-SOKAN RANJANG-RANJANGAN!"


"Maenannya ranjang!"


Noura tertawa menyaksikan paginya yang sangat berisik itu. "Berisik lo pada! Masih pagi, juga!"

__ADS_1


"Idih, semenjak lo datang, kelas jadi berisik, tau!" seru Samuel sambil tertawa. "Tadi kelas hening, kok. Iya gak?" ucapanya, yang langsung diiyakan oleh satu kelas.


Noura merasa gondok. Wajahnya memerah, dan ia langsung memiting leher Samuel dan menjitak-jitak kepala laki-laki itu.


"Ih Noura mainannya kasar!"


"IIIHHHH!"


"Jauhin! Jauhin!" seru Samuel saat Noura melepaskan pitingannya. Samuel mundur dan menjauhi Noura sambil berucap, "Iihhh!" bersama teman-temannya.


Wajah Noura makin memerah. Ia berlari ke arah teman-temannya yang malah menghindar dan berseru, "Iiihh!" pada Noura seolah Noura adalah sebuah virus menjijikan.


Noura menggeram marah, lalu berteriak, "KALIAN NYEBELIN!!"


***


Tatapan Melvin terarah lurus pada perempuan yang wajahnya memerah marah itu. Namun tak ayal, sebuah tawa lolos saat perempuan itu berlarian dan mengejar kawannya yang terus menghindar. Melvin menelan ludahnya susah payah, lalu menghela napas panjang saat merasakan sesak memenuhi jantungnya. Melvin memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menatap wajah ceria itu.


Melvin tidak tahu harus bagaimana ia menghadapi ini. Di satu sisi, ia merasa berat untuk menghilangkan senyum di wajah Noura. Namun, di sisi lain, ia ingin terbebas dan hidup tanpa beban yang ditanamkan Ayah pada Melvin.


Melvin menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah kelasnya. Samar-samar, ia mendengar suara dari dalam lab yang akan ia lewati.


"... Lo bayar gue berapa?"


"Berapapun lo mau. Asal lo mau ikutin perintah gue."


"Lukain Noura. Gampang, kan?"


Langkah Melvin terhenti saat mendengar nama yang sangat sensitif itu masuk melalui gendang telinganya. Lukain Noura, katanya? Penasaran, Melvin mengintip ruangan lab yang berada di samping tangga kelasnya. Ia melihat Athala yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Mata Melvin memincing, menatap Athala dan laki-laki itu bergantian.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Melvin. Sebuah senyum sinis kemudian terukir di wajahnya.


Ternyata, bukan hanya satu orang yang menginginkan Noura terluka di dunia ini.


***


"... Jadi gitu. Ada yang mau di tanyakan? Kalau gak ada, gak usah."


Semua tertawa seadanya saat Bu Endah mencoba melucu di hadapan para murid.


Melvin masih dengan tampang kalemnya. Entah mengapa, lawakan Bu Endah tak pernah membuatnya tertawa, bahkan tersenyum sedikitpun. Satu orang yang pernah membuatnya tersenyum tanpa paksaan.


Gadis mungil itu.

__ADS_1


Setelah Ibunya, hanya Noura yang pernah membuatnya tertawa. Walaupun hanya tawa kecil, tapi dapat membuat hatinya menghangat.


"Nah—"


Tok tok tok


Perkataan Bu Endah terpotong saat ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Masuk!" seru Bu Endah.


Tak lama, ada tangan yang melambai di kaca pintu ruangan kelas. Pintu kelas ini memang seperempatnya di hiasi oleh kaca transparan.


Dan kejadian tadi, tertangkap oleh mata semua penghuni kelas. Tak lama, suara orang bisik-bisik terdengar. Melvin yang duduk di barisan pertama dekat pintu, dapat mendengar bisikan itu dengan jelas.


"Uh, gak nyampe! Yan, angkat gue, cepet!"


"Yan-Yan emang gue Yanti? Nama bagus lo ganti-ganti. Repotin banget, lagi! Makanya, cepet gede!"


"Aelah, banyak bacot lo ih! Gak cocok, tau! Cepet angkat gue, ****!"


"Iya, iya, bentar."


Setelah itu, kepala seorang gadis mungil menyembul di kaca.


Semuanya tertawa saat melihat wajah ngacol Noura terlihat di kaca seperempat itu saat menatap kelas. Kecuali Bu Endah yang hanya melongo.


"Hai Bu!" sapa Noura. Ia menatap Melvin dan tersenyum. "Hai snowman!" sapanya lagi.


Masih dengan tampang melongo, Bu Endah menatap penghuni kelas. "Itu Noura, kan?" tanyanya.


Murid yang lainnya hanya mengangguk, kecuali Melvin.


Bu Endah mulai menampakan wajah marah. Ia menatap wajah Noura yang nyengir ke arahnya dengan sangar. "NOURA!!! MASUK KAMU KEDALAM!!!"


Noura segera memukul-mukul kepala Vabian yang berada di bawahnya. "Turunin, ****! Bu Endah kesini!" katanya panik.


Vabian segera menurunkan Noura dan Noura and the gang berlari menghindari kejaran Bu Endah.


Semua penghuni kelas tertawa, kecuali Melvin yang wajahnya sangat datar.


Ini aneh. Saat mengetahui bahwa Noura tadi di angkat oleh Vabian, ia merasa risih sendiri.


Entahlah.


Ingin rasanya Melvin menjauhkan Noura dari Vabian.

__ADS_1


Tapi, Melvin segera menghilangkan pikirannya tersebut. Ia lebih memilih opsi lain dalam logikanya. "Murahan." gumamnya pelan sambil kembali menatap buku di hadapannya.


Walaupun pikirannya melayang entah kemana.


__ADS_2