RaVin: Troublemaker & Snowman

RaVin: Troublemaker & Snowman
2 - Ini Menyenangkan


__ADS_3


Noura menghela napas panjang, kemudian berdiri dan menggerakan pinggulnya yang pegal. Sialan. Badannya terasa sakit semua karena dihukum membereskan sendiri ruang janitor yang sangat berantakan itu.


"Ra!"


Dengan perlahan, Noura menengok kebelakang. Disana, teman-temannya sedang melambaikan tangan kepadanya sambil berjalan dengan senyum semringah.


Noura tersenyum dan berbalik badan. Tak lama kemudian, teman-temannya berada di hadapannya. Dua sahabat wanita, dan tiga sahabat laki-laki cukup untuknya.


"Dari mana aja lo?" tanya Yasmin.


Yasmin Aurellia. Ia adalah gadis dengan mata belo yang selalu memakai bando di kepalanya. Ia sangat menyukai warna pink. Koleksi barang-barangnya tidak ada yang berwarna selain pink.


Noura tersenyum kecil. "Hukum." jawabnya.


"Di hukum ngapain lo?" tanya Salsa.


Salsabila Rein Hanna. Perempuan dengan sebutan "Ratu Cubit" ini memang sangat sering mencubit orang. Cubitannya tidak bisa di katakan pelan ataupun keras. Tapi, sangat keras. Siapapun yang terkena cubitannya akan membekas sampai seminggu lebih. Kadang, ada yang sampai berdarah dan hilang dalam waktu yang tidak dapat di tentukan. Walau begitu, ia adalah orang yang sangat blak-blakan.


Noura hanya nyengir. "Tadi gue bersihin ruang janitor, masa! Pegel banget nih badan gue."


Samuel bertepuk tangan satu kali dengan wajah antusias. "Gue tau! Lo ngerusak speaker kelas, kan?"


Samuel Denovan. Laki-laki dengan peringkat ke-99 ini memang rajanya gosip. Gosip apapun yang ada di sekolah ini, ia pasti mengetahuinya. Dan tentunya, menyebarkannya ke murid-murid lainnya.


"Tau dari mana lo?" tanya Vabian pada Samuel.


Vabian Denovan. Sesuai namanya, Samuel dan Vabian se-marga. Mereka memang sangat dekat. Sampai-sampai, SD hingga SMA mereka selalu berada di sekolah yang sama. Jika Vabian mempunyai nilai akademis yang tinggi, Samuel memiliki nilai non akademis yang tinggi.


"Lo lupa? Dia kan jagonya gosip." sahut Farrel.


Farrel Domino. Laki-laki penerus Domino Corp ini sangat kalem dan juga fashionable. Diantara mereka berenam, ialah yang hanya menjadi Most Wanted Guy di SMK SB. Dia sangat menjaga teman-temannya. Maka dari itu, suatu keberuntungan jika menemui kawan se-solid Farrel.


Vabian nyengir lebar. "Gue lupa!"


"Okay!" seru Noura. "Sudahi perdebatan ini, kawan! Gue gak mau masuk kelas. Jadi mendingan, kita pergi keluar kelas dan balik tar sore."


"Ra, lo tuh bakal di hukum!" seru Samuel sambil menunjuk Noura. "Masa lo masih mau bikin masalah lagi?"


Noura hanya nyengir lebar. "Apa gunanya ada trouble maker di sekolah kalau bukan buat bikin masalah?"


Semua temannya –kecuali Farrel– memutar bola mata—malas. "Terserah!" seru mereka, membuat Noura mengerucutkan bibirnya.


***


Melvin memasuki kelasnya dengan santai. Kelas yang telah ia huni selama hampir 3 tahun. Kelas 12 Multimedia 2. Di kelas ini, hanya beberapa murid saja yang menempati.


15 murid, lebih tepatnya.


Dan 15 murid itulah yang menjadi juara teratas dikelas ini.


Hening. Sangat hening.

__ADS_1


Melvin kembali melangkahkan kakinya, menuju ke bangku yang sudah didudukinya selama berada dikelas ini. Ia kemudian duduk disana dengan tenang, kemudian mengambil buku ensiklopedi yang ia simpan dimejanya. Jari-jari lentiknya kemudian membuka lembar terakhir yang ia baca dibuku tersebut.


Hening. Selalu saja.


Kelas dengan murid yang rangking 1-15 ini selalu saja hening. Kenapa?


Karena yang mereka lakukan hanyalah menjawab soal-soal dari buku yang mereka pelajari, membaca buku, atau melakukan hal lain yang semakin menambah ilmu pengetahuan mereka.


Mereka membenci orang yang berada diatas mereka. Termasuk --ralat-- terutama, Melvin. Si Rangking Pertama.


Tapi, Melvin tidak peduli.


Ia tidak butuh teman, ataupun musuh. Di sekolah.


Yang Melvin perlukan hanyalah terus menjadi rangking pertama, dan lulus dari sekolah ini.


Setelah itu, ia akan bebas dari monster yang selama ini dipanggil 'Ayah' olehnya.


Melvin tersenyum kecil. Ya, ia harus bebas dari monster itu, dan membangun segalanya sendiri. Tanpa memerlukan bantuan Ayahnya.


Ia akan bebas.


Namun, tak lama setelah itu terdengar suara orang memukul benda dengan irama yang sangat keras.


Fokus mereka terpecah. Mereka semua mendongak, kemudian menatap Melvin serempak, membuat Melvin menghela napas panjang dengan gigi yang bergemeletuk.


Ia berdiri, diikuti dengan yang lainnya.


Mereka kemudian berjalan keluar kelas, dan berjalan ke kelas tetangga. Kelasnya para orang bodoh.


"Demi cintaku padamu~"


"Uow~uow~uow~"


"Demi cintamu padaku~"


"Apaan lo, Ra! Main ngubah lirik lagu?"


"Demi apa lo nanya gitu ke gue~"


"Suara lo tuh cempreng, Ra!"


"Ya terus, kenapa lo malah ikutan nyanyi?"


"Karna gue tau liriknya."


"*** ah! Gue bosen--"


Brakk


"--anjing! Kaget gue!"


Gadis itu menggerutu dan berbalik, menatap Melvin --sang penggebrak pintu-- yang memincingkan matanya menatap Noura.

__ADS_1


Iris coklat perempuan itu menunjukan binar senang. Ia tersenyum kecil, dan berkata dengan antusias, "Eh, astaga dragon! Ada apa kalian kemari, nak?"


Melvin tersenyum sinis, dan berjalan mendekati Noura dan teman-teman Noura yang bersidekap dada. "Ada apa?" tanya Melvin skeptis dengan nada datar. "Lo yakin nanya hal itu?"


Dalam sidekap dadanya, Noura mengedikan bahu. "Ya. Secara gitu, kita gak ngundang lo. Dan lo malah seenaknya masuk kedalem kelas kita bareng para pengikut lo."


Tidak ada yang tersinggung oleh perkataan Noura. Alasannya hanya satu; sudah biasa.


Kembali, Melvin tersenyum sinis. "Lo orang yang paling nyebelin yang pernah gue liat."


Kembali, Noura mengedik. "Gak peduli. Mau apa lo?"


Melvin tersenyum sinis. Tak pernah dalam hidupnya ia melihat perempuan se-liar Noura, se-kalem Noura saat berhadapan dengan orang se-dingin Melvin yang dibenci para murid disekolah ini karna kepintarannya yang tak terkalahkan.


Gadis dihadapannya ini ..., sangat tidak jelas. Ia semu dimata Melvin. Tak pernah sekali pun ekspresi sedih ataupun stress terpantri diwajahnya. Seperti ..., manusia tidak punya tujuan hidup. Manusia yang bahkan tidak peduli orang mencaci makinya, menghinanya, dan membicarakannya dibelakang.


"Dasar orang gak jelas," kata seorang yang berada di belakang Melvin. Perempuan yang merupakan musuh Noura sejak dulu, Athala, namanya. Perempuan itu kemudian mendengus sinis pada Noura. "Gue heran. Anak siapa sih lo? Gak bisa diem, gak tau malu, gak tau diri, lagi. Apa ortu lo malu sama lo? Karna itu mereka gak pernah dateng kesekolah ini kalo dipanggil," ucap Athala panjang lebar. Athala menatap tubuh bersidekap Noura dari atas sampai bawah. "Wajar sih."


Lagi-lagi, Noura mengedik dengan santainya. Ia menatap Athala tepat dimanik mata. "Gue emang anak gak jelas. Siapa keluarga gue aja gak ada yang tau. Tapi, gue bukan anak manja-yang-boros kayak kalian. Ya.., walaupun gue tau keborosan itu harus kalian bayar pake otak kalian, tapi yang pasti, gue cewek yang apa adanya."


Athala tertawa terbahak-bahak. Bukan tawa yang renyah, namun terlihat dipaksakan—terlihat seolah merendahkan. "Lo pikir, lo apa adanya? Iya?" tanyanya, kemudian tertawa sinis. "Lo muji diri sendiri?"


Noura menggeleng. "Enggak. Gue serius. Gue emang apa adanya. Gue bodo? Emang. Gue banyak bacot? Emang. Yang paling penting, gue bebas." katanya, kemudian tertawa lebar.


Yang paling penting, gue bebas.


Melvin yang mendengarnya hanya terdiam. Bebas, ya?


Rasanya ..., seperti apa?


Baru saja Melvin akan membalas perkataan Noura, sebuah teriakan membuat mulutnya kembali tertutup.


"NOURA!! MAU KEMANA KAMU?! KAMU LUPA?! KAMU HARUS BERSIHIN PERPUS!!!!!"


Dan gadis mungil dihadapan Melvin langsung melotot, lalu menepuk keningnya kencang. "******!" serunya, kemudian celingukan menatap seisi kelas. Teman-temannya, sama seperti Noura, menengok kiri-kanan, dan berlari kesana-kemari, mencoba mencarikan tempat persembunyian bagi Noura. Kelima orang itu makin mempercepat gerakkannya, sambil terus menggumamkan kata '******' berkali-kali.


Tadinya, Melvin akan berkata, "Kayak lo tau aja bebas tuh kayak gimana," pada Noura. Namun, setelah melihat bagaimana keadaan disini terlihat, Melvin tahu, bahwa Noura tahu apa arti bebas.


Yaitu, menaati peraturan yang diperlukan, seperti memakai seragam kesekolah.


Juga, melakukan hal yang ingin dilakukan menurut kata hati. Seperti, bolos dijam pelajaran yang membosankan.


Ini~


Melvin, untuk pertama kalinya, ia menunjukan sebuah senyum tipis saat menatap gadis itu dengan teliti.


.


Langkah kaki dari luar terhenti tepat diambang pintu. Pak Rusel menyeringai menatap Noura yang mematung saat akan masuk ke kolong meja yang dipenuhi oleh kursi-kursi yang terlihat akan menutupi tubuh kecil Noura. Pria paruh baya itu mengangkat tongkatnya, menunjuk Noura. "I got you!"


~Menyenangkan.


Ini masih masa pengenalan, yaa

__ADS_1


Instagram: shifa.lee


Blogger: nurshifasf.blogspot.com


__ADS_2