Redemption

Redemption
Bab 8


__ADS_3

Bai Meiren memberikan senyum ringan sebelum menjawab, "Ini transaksi yang menguntungkan. Aku membantumu dan kamu membantuku."


Jika dia bisa membebaskannya dari Mo Ran, apa yang tidak bisa dia lakukan sehingga membutuhkan bantuannya. He Qin memikirkan ini dengan penuh pertimbangan.


"Ini tidak pada level misi S organisasi gelap. Kamu hanya perlu membantuku mengawasi dalam gelap." Bai Meiren tau apa yang dia khawatirkan. Dia ingin keluar dari kandang harimau jadi dia tidak bisa terjerumus ke kandang macan. Dia perlu berhati-hati, jangan sampai langkahnya membawanya ke keadaan yang lebih berbahay.


"Apa yang kamu ingin aku lakukan?" He Qin bertanya dengan hati-hati.


"Hanya menjamin keamanan dan kedamaian perusahaan ku," Jawabnya santai.


Selalu ada orang dalam gelap yang membereskan masalah perusahaan.


"Ini tidak membunuh orang dan mengorbankan nyawa," Lanjutnya.


"Baik." He Qin pikir ini pertukaran yang berat sebelah. Jika dia memintanya untuk bertarung melewati lautan api, baru dia akan merasa ini pertukaran yang seimbang. Karena dia tau seberapa tidak mungkinnya keluar dari jeratan organisasi Naga Hitam.


Dia kira, saat menyelesaikan misi tingkat S dia bisa mendapatkan imbalan yang besar dan meminta keluar dari organisasi. Namun, ternyata selama ini semua yang melakukan misi tingkat S di umumkan mati karena gagal dalam misi. Kenyataannya mereka semua telah di bunuh oleh organisasi sendiri.


Sampai saat ini dia mungkin akan menjadi satu-satunya mantan anggota organisasi naga hitam.


"Bagus." Bai Meiren tersenyum santai tetapi jika diperhatikan lebih teliti dia menarik sudut mulutnya lebih tegas dan tajam.


"Ayo pergi," Lanjutnya.


Dia mengajak He Qin kembali ke ruang awal. Mengambil tiga orang lainnya untuk keluar bersama.


Mereka bertemu dengan tentara yang baru menerobos ke lantai dua.


"Di mana yang lain?" tanya salah satu tentara.


"Kami tidak tau. kami tidak menemukan siapapun lagi di lantai dua." Nona muda itu menjawab terlebih dahulu.


Melihat ada yang terluka, tentara meminta mereka bergegas keluar. mereka melanjutkan pencarian ke setiap sudut hotel.


"Nona, terimakasih telah membawa kami keluar dengan selamat." Nona muda itu menghampiri Bai Meiren setelah menyerahkan ibu yang terluka untuk ditangani.


"Tidak apa-apa nona, kita berada di jalan yang sama. tindakan itu sudah sewajarnya." Bai Meiren tersenyum sebelum melanjutkan, "Bagaimana kabar nyonya yang terluka?"


"Untungnya peluru tidak mengenai tulangnya." Nona itu menjawab dengan lega, "Nona bolehkah aku tau namamu?"


"Bai Meiren."


"Aku Zhao jingjing," nona Zhao tersenyum ramah."Nona Bai, kapan-kapan mari kita bertemu dan makan bersama sebagai ucapan terimakasih ku."

__ADS_1


"Tidak masalah." Bai Meiren menyambut niat baiknya.


"Apa kita bisa bertukar wechat?"


"Tentu saja," Bai Meiren mengeluarkan ponselnya, membiarkan nona Zhao menscan QR wechat nya.


"Nona Zhao sepertinya aku harus pergi dulu." Bai Meiren berpamitan dan mengajak He Qin pergi bersamanya.


"Hubungi aku saat kau bebas," Balas nona Zhao.


"tentu," Sahut Bai Meiren.


Bai Meiren dan He Qin pergi ke parkiran untuk mengambil mobil yang Bai Meiren gunakan menuju kota tua.


Saat di parkiran Bai Meiren dengan indra yang sensitif merasakan ada hawa dingin mengelilingi parkiran.


"Orang besar mana yang hadir disini." Pikirnya.


......***......


Bai Meiren membiarkan He Qin tinggal di apartment di kawasan sky kingdom. Penyamaran He Qin telah di urus oleh Xiao Bao, jadi Bai Meiren tidak khawatir akan masalah ini.


Dia kembali ke rumah utama keluarga Bai di ibukota.


"Renren." Ketika melihatnya dia langsung menghampirinya dan menyapa dengan hangat. Dari ingatan Bai Meiren yang dulu, wanita ini adalah istri pamannya.


Ayahnya adalah yang tertua. Dia memilik dua adik laki-laki, Bai Han dan Bai Xu.


Wanita yang menyambutnya, Lu Shi, istri Bai Han.


"Bibi," Dia membalas dengan ramah.


"aiyoo, Kamu terlihat semakin tinggi dari tahun lalu." Lu Shi menggandeng nya masuk ke dalam rumah, "Ayo masuk semua sedang menunggu mu."


Selain orang tuannya tidak ada yang tau dia pulang lebih awal dan menghadiri acara fashion show malam itu. Mereka juga tidak tau kejadia kapal yang tenggelam.


Bai Meiren yang dulu ramah dan sopan. Dia tetapi di tidak terlalu dekat dengan keluarga pamannya.


Saat mereka sampai di ruang tamu, kakek, nenek dan keluarga kecil kedua pamannya sudah hadir disana.


"Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Bro Yan, sister Ye dan Sister Xi." Dia menyapa semua orang yang ada diruang tamu.


"Renren kemarilah sayang." Nenek menyuruhnya untuk mendekat dengan gembira.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik nenek, bagaimana dengan mu?"


"Nenek sangat baik, nenek sangat merindukan mu." Dia memeluk hangat Bai Meiren.


Keluarga Bai terus mengobrol dengan riang. Bai Meiren memperhatikan Bai Xi.


Dari ingatan Bai Meiren dia tau jika Bai Xi menjadi seperti ini setelah kejadia tiga tahun yang lalu.


Bai Yan dan Bai Xi di serang saat berlibur waktu itu. Ayahnya mengatakan itu adalah serangan dari musuh keluarga Bai. Bai Xi terluka parah, dokter mengatakan ada kerusakan di saraf otaknya sehingga dia tidak bisa menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.


Setelah mengobrol cukup lama, mereka kembali melanjutkan kesibukan masing-masing. Hanya nyonya tua Bai dan Bai Xi yang masih menemani Bai Meiren.


"Nenek, aku membawa teh yang enak disini, biarkan nenek mencobanya." Bai Meiren mengeluarkan teh setelah kematian yang telah ia persiapkan.


"Pelayan, bawakan peralatan untuk menyeduh teh."


Pelayan segera pergi mengambil peralatan setelah mendengar perintahnya.


"Benarkah?" Nyonya tua Bai orang yang sangat suka minum teh, jadi dia sangat antusias.


"Tentu saja, biar kutunjukan seni menyeduh teh yang sudah nenek ajarkan padaku." Bai Meiren tersenyum lembut. Bai Meiren yang asli di didik menjadi wanita yang elegan, Nyonya tua Bai sangat memperhatikan hal ini. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk cucunya.


Nyonya tua Bai selalu menginginkan seorang putri tetapi dia hanya memiliki tiga putra. Hal ini membuatnya sangat perhatian kepada cucu-cucu perempuannya.


Saat mendengar Bai Meiren akan menunjukkan seni menyeduh teh dia dua kali lipat lebih bahagia.


Dulu Bai Meiren yang nyonya tua Bai kenal sopan, penurut dan sangat elegan. dia adalah panutan para nona muda kaya. dia tidak ada waktu untuk mengobrol santai seperti ini. banyak mata yang tertuju padanya, dia harus sempurna dan terus belajar banyak hal.


"Tentu saja, ayo ayo tunjukan pada nenek." Nyonya tua Bai bertingkah seperti anak kecil yang akan mendapatkan mainan favorit nya.


Pelayan yang membawa peralatan menyeduh teh datang dan menyiapkan nya di atas meja.


Bai Meiren mulai menyiapkan teh dengan seni menyeduh teh yang di ajarkan nyonya tua Bai padanya.


"Halus, sangat halus luar biasa. seni menyeduh teh Renren sangat halus." Pujian terus terlontar dari nyonya tua Bai.


"Baiklah, nenek ayo cicipi." Dia memberikan secangkir teh kepada nyonya tua Bai.


"Xixi kemari, ini teh untuk Xixi." Dia memberi tanda agar Bai Xi mendekat lalu memberinya secangkir teh.


"Renren, ini adalah teh terbaik dan terenak yang pernah nenek cicipi." Nyonya tua bai seperti terpesona dengan aroma dan rasa teh yang diberikan Bai Meiren.

__ADS_1


__ADS_2