
Flashback Kehidupan pertama Selena, enam tahun, Indonesia.
"Ibu sakit?"
Selena duduk di samping ibunya dan membawa kue mangkuk beserta lilin. "Ibu, Selena bawa kue ulang tahun. Hari ini ulang tahun Selena. Selena diberitahu kakak kalau ibu sangat mengharapkan kehadiran Selena dan mengucapkan cinta setiap hari."
Aelia hanya duduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan diikat di tempat tidur supaya tidak menyakiti diri sendiri. Kedua matanya sayu menatap jendela keluar, seolah ingin pergi dari kamar.
Selena menghapus air mata dengan punggung tangan mungilnya. "Ibu, Selena tidak bisa menyalakan api, kakak juga tidak bisa. Tapi Selena menganggap api sudah di atas lilin."
"....O.."
Selena mengangkat kepala. "Ibu?"
"Ste... fa..... O."
Aelia memutar kepalanya ke Selena. "Di mana suamiku?"
Selena yang tadinya berdiri di samping tempat tidur, berjalan mundur dengan ketakutan.
"Aku... sakit... di mana... suamiku?"
"I... Ibu... Ayah... pergi ke luar... Ayah kerja."
"Kerja? Dia bermain dengan wanita lain, apakah kamu tahu? Tunggu! Siapa kamu? Apakah kamu anak pelacur itu?"
"I- Ibu, Selena anak Ibu."
"Tidak, kamu bukan anakku. Kamu anak orang lain, anakku diambil dari tanganku!" Aelia menjerit histeris.
Selena kecil menangis dan hendak lari menuju ibunya. "Ibu- ibu."
"Selena, kamu mau kemana?"
Tiba-tiba seorang pria dewasa menangkap tubuh mungil Selena yang masih berusia enam tahun.
Selena berusaha menggapai ibunya. "Tidak! Lepaskan! Aku ingin bersama ibu! Ibu!"
Kue mangkuk yang dibeli dengan uang tabungan jatuh ke lantai dan diinjak pria itu, begitu pula dengan lilin dan harapannya.
Selena yang melihat itu dari cahaya pintu yang dibuka, terkejut.
Selena memukul pria itu lalu lari ke kakaknya ketika mereka audah keluar dari kamar Aelia.
__ADS_1
Aether memeluk adiknya. "Selena, apa yang kamu lakukan di tempat ibu?"
Selena menangis. "Aku ingin melihat ibu, aku ingin merayakan ulang tahun ibu."
Pria yang mengambil Selena dengan kasar, menghela napas kesal. "Selena, ibu kamu itu sudah gila! Dia tidak bisa diselamatkan lagi. Yang benar saja ingin mendekatinya."
Selena menatap tajam pria itu. "Jangan berkata kasar kepada ibuku!"
Stefano yang memakai jas mahal dan rapi, berjalan mendekati kedua anaknya yang membuat keributan. "Ada apa ini? Kenapa Selena membuat keributan sekarang?"
Malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun firma Stefano, banyak tamu penting datang sementara kedua anaknya membuat kekacauan.
Selena mengalihkan tatapan tajamnya ke sang ayah.
Stefano mengerutkan kening. "Tatapan apa itu, Selena? Apakah kamu sudah tidak bisa menjadi anak baik lagi?"
Aether bicara menggantikan Selena, tanpa menatap ayah mereka. "Hari ini ulang tahun Selena dan dia baru saja beli kue mangkuk dengan uang tabungannya, tapi aku rasa kue itu sudah dihancurkan pria itu."
Tatapan mata Aether mengarah ke sepatu pria yang bertindak kasar terhadap Selena. Menyadari tatapan Aether, dia segera angkat kaki dan terkejut melihat sisa kue yang menempel di sepatu mahalnya.
"Apa-apaan ini?" teriak pria itu dengan jijik.
Stefano merasa bersalah pada Selena. "Selena, Ayah minta maaf. Besok kita rayakan ulang tahun bersama."
"Stefano, sudah ada banyak tamu datang. Kenapa kamu ada di sini? Oh, kenapa anak-anak nakal ada di sini?"
Stefano bangkit dan menatap marah ibunya. "Bu, mereka anak-anakku."
"Anak-anak nakal itu hanya bisa menyusahkan hidup kamu. Sebaiknya mereka tinggal di asrama, perbanyak ilmu."
Aether memeluk erat adik kecilnya dan menenangkan. "Jangan khawatir, jika ayah membuang kita. Selena masih ada kakak."
Stefano yang mendengar itu, memarahi Aether. "Bicara apa kamu? Masuk kamar sana dan rayakan ulang tahun bersama adik kamu! Ayah bekerja juga demi kalian!"
Aether menarik lembut adiknya, menjauh dari keributan orang dewasa.
Selena menatap pintu kamar ibunya yang ditutup sekali lagi lalu bertanya kepada kakaknya. "Ibu bisa sembuh 'kan?"
Aether mengangguk untuk menenangkan adiknya. "Ya, ibu pasti sembuh."
Tapi, semua yang dikatakan Aether adalah kebohongan untuk Selena.
Setiap ulang tahun, Selena harus melewatkannya bersama pintu yang tertutup di kamar ibunya dan kue ulang tahun bersama lilin yang tidak dinyalakan api.
__ADS_1
Hingga akhirnya Selena bisa menyalakan api lilin ulang tahun sendiri. Namun, yang dia dapatkan adalah kenyataan pahit.
Bersamaan dengan padamnya lilin, tanpa sengaja pintu kamar terbuka dan Selena melihat kaki yang tergantung di udara.
Teriakan menggema di dalam rumah.
Aether segera menarik adiknya untuk menjauh sementara Stefano menarik tubuh Aelia.
"Aelia! Aelia!" Teriak Stefano dengan panik sambil memeluk tubuh istrinya yang mulai dingin.
Keluarga Stefano yang datang berkunjung dan melihat itu terkejut, Aelia yang keras kepala dan membuat malu keluarga, memutuskan bunuh diri.
Selena menatap satu persatu keluarga ayahnya yang sudah menjelekan sang ibu. "Ini semua gara-gara kalian! Kalian mengikatnya seperti orang gila, padahal ibu sakit! Kakak! Otopsi ibu! Tolong otopsi ibu, aku tahu ibu sakit. Aku tahu ibu tidak kuat mendapat perlakuan tidak adil seperti itu."
Stefano bangkit dan menggendong tubuh Aelia yang sudah kaku. "Tidak perlu, hanya aku yang tahu dia sakit apa!"
"Mau dibawa kemana ibu?" Selena mendorong Aether yang terkejut dan menghalangi jalan Stefano. "Jangan sakiti tubuh ibuku! Dia sudah tidak bernyawa!"
"Minggir!" Tekan Stefano.
Selena menolak untuk menyingkir.
Stefano berteriak marah. "MENYINGKIR, SELENA!"
Sebelum ayahnya melakukan hal di luar kendali, Aether menarik tubuh adiknya. "Selena."
Selena berontak. "Tidak, ini hari ulang tahunku yang ketujuh belas. Harusnya ibu sudah sembuh dan bersama aku sekarang! Ibu tidak gila! Aku anak ibu, aku yang tahu segalanya!"
Ibu Stefano mendengus marah. "Ibu dan anak memang sama-sama gila!"
Hari itu adalah hari ulang tahun terburuk bagi Selena, ulang tahun yang menandakan kedewasaan dan juga harapan, lenyap begitu saja.
Beberapa hari kemudian, Selena dan Aether harus mendapat kenyataan yang menyakitkan.
"Nyonya besar hamil dan sudah waktunya melahirkan namun tidak bisa keluar karena tubuhnya yang terlalu kurus dan tidak memiliki tenaga, salah satu bayi mati di dalam kandungan."
"Satu? Berarti ada satunya lagi?" Tanya Aether setelah mendapat keterangan dari kepala pelayan.
Kepala pelayan menghela napas panjang. "Satunya lagi ada di dalam inkubator dan dalam keadaan sehat."
"Bukankah ibu gila? Siapa yang sudah menghamili ibu?" Tanya Selena dengan nada tinggi di depan keluarga ayahnya. Dari dulu dia benci keluarga sang ayah yang selalu memaki ibunya di belakang.
Keluarga Stefano tidak berani berkomentar, namun ibu Stefano yang sejak awal benci Aelia, mengutuk Selena. "Ibu gila kalian berdua pasti berselingkuh dengan pria lain, dia sudah kehilangan akal sehat sehingga tidak bisa membedakan suami dan pria lain lagi!"
__ADS_1