
Apa yang terjadi di taman, disaksikan dengan jelas oleh para bangsawan di hall sambil memakan kue ulang tahun putri Selena.
Kaisar meninggalkan ratu yang dicintai serta putri kesayangannya, lebih pilih merayakan ulang tahun putri Selena.
"Kaisar sekarang menyayangi putri Selena, apakah karena putri memegang haremnya?"
"Apa? Putri Selena memegang harem Kaisar? Bukankah itu sangat memalukan? Bagaimana bisa seorang anak-"
"Ratu sudah menyentuh Pangeran Mahkota, dan hampir mempermalukannya di dalam pesta. Benar kata Permaisuri, jika pesta mewah dilanjutkan di saat Permaisuri sakit, Pangeran mahkota akan dinilai sebagai anak pembangkang."
"Anehnya Permaisuri yang selama ini menelantarkan anak-anaknya terlihat peduli, biasanya Permaisuri selalu mendekati Kaisar atau berbuat ulah di sekitar Kaisar. Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah."
Di saat para bangsawan muda ribut mengeluarkan pendapat karena perubahan sikap Kaisar terhadap keluarganya, serta beberapa bangsawan yang lebih tua mulai memikirkan masa depan untuk mendukung siapa pun.
Cassia dan ibunya membereskan kekacauan di taman. Ratu yang tidak mau melihat para tamu undangan melihat hal itu, membuat perintah untuk menutup pesta ulang tahun.
Pesta ulang tahun Cassia yang sudah direncanakan sejak lama, menjadi hancur.
Cassia membersihkan makanan di rumput sambil menangis jijik. "Aku tidak bisa melakukan hal ini, ibu. Aku seorang putri."
Ira menatap tidak berdaya putrinya lalu melirik seorang bangsawan yang diberikan perintah oleh kaisar, dia berbisik di samping putrinya. "Jangan bersikap seperti itu, dia bisa melapor kepada Kaisar. Jaga sikap kamu."
Ira hanya seorang pelayan biasa yang mengikuti ratu sejak kecil, hidupnya mulai berubah semenjak ratu menginginkan dirinya masuk harem Kaisar.
"Aku tidak ingin sendirian di istana seluas ini, Permaisuri juga tidak menyukai kehadiranku. Karena itu, jadilah selir untuk Kaisar dan bersumpah setia kepadaku."
Itulah yang dikatakan ratu untuk meminta Ira sebagai salah satu selir kaisar.
Tentu saja Ira tidak ingin kehilangan kesempatan tersebut dan mau mengikuti perintah majikannya. Banyak yang iri dengan keberuntungan Ira.
Ira menasehati putrinya untuk tidak membantah perkataan Kaisar, dia menyadari kekurangannya dengan baik. Buta politik dan hidupnya harus bergantung pada orang lain.
Hal itulah yang membuat Cassia kesal dengan ibunya. "Apakah Ibu tidak memiliki harga diri? Kita sudah menjadi anggota keluarga kekaisaran, kenapa harus melakukan pekerjaan rendahan? Aku harus-"
Bangsawan yang dipercayai kaisar untuk mengawasi Cassia dan ibunya memberikan saran. "Saya sarankan supaya anda tidak membuat ulah lagi, Yang Mulia. Mengingat Kaisar sudah mengeluarkan peringatan keras."
Cassia berdiri dan mengangkat dagunya dengan angkuh. "Kamu hanya seorang bangsawan rendahan, beraninya bicara tidak sopan terhadap aku."
__ADS_1
Bangsawan itu mulai mencibir Cassia. "Apakah anda tidak bisa memahami perintah Kaisar? Mungkin lebih baik hanya satu putri di kekaisaran, putri seorang selir tidak akan pernah bisa menyamakan kedudukan dengan putri dari Permaisuri."
"Kamu-"
Ira menghalangi anaknya untuk menyentuh bangsawan tersebut. "Cassia, ibu mohon."
Cassia menatap marah bangsawan tersebut lalu berjongkok kembali, dia tidak akan pernah melupakan perbuatan Selena terhadap dirinya. Andai saja Selena tidak merayakan ulang tahun di taman dan memonopoli ayah mereka, dia tidak akan pernah melakukan tindakan impulsif seperti itu.
Ratu yang hanya duduk mengawasi, melihat Cassia masih marah dan sepertinya membuat perhitungan di dalam hati.
***
Di dapur istana permaisuri, kaisar memasak masakan sederhana untuk istri dan kedua anaknya.
Selena dan Aether melihat sup lalu mencicipinya.
Stefano yang duduk di samping Aether, memperhatikan reaksi kedua anaknya. "Bagaimana?"
Selena dan Aether menatap ayah mereka bersamaan. Sejak dari taman sampai ke dapur, Stefano tidak bersikap formal seperti biasanya, bahkan menyebut dirinya ayah.
"Enak."
Aelia penasaran dan coba mengambil sup itu di mangkok lalu mencicipinya. Dia terkejut begitu merasakan rasa yang tidak asing. "Bagaimana-"
Stefano tersenyum. "Ah, aku mendapatkan asam dari negara jauh. Aelia jika tidak bisa makan, pasti makan yang asam, bukan? Aku mencarinya dengan susah payah, jadi tolong terima ketulusan aku."
Selena dan Aether terpana dengan perkataan ayah mereka lalu saling bertukar tatapan karena mereka duduk berhadapan.
Aelia tidak menyadari perubahan sikap suaminya dan mulai makan banyak.
Stefano senang melihatnya.
Selena dan Aether tidak berani mengganggu interaksi orang tua mereka.
Stefano lega melihat Aelia makan banyak, lalu mulai mengambil makanan untuk dirinya.
Aether tidak tahan untuk berkomentar. "Yang Mulia-"
"Ayah," tegur Stefano.
__ADS_1
Aether mengoreksi panggilan Kaisar dengan canggung. "Ayah?"
"Ada apa?" Stefano menanggapi panggilan Aether.
"Kenapa Ayah tidak datang ke pesta ulang tahun Cassia? Bukankah dia anak kesayangan Ayah?"
"Semua anak Ayah selalu menjadi kesayangan, siapa yang bilang seperti itu?"
"Semua orang," jawab Aether dengan tegas.
Stefano berhenti menyuap sup dan menoleh ke Aether. "Apakah kamu juga berpikiran sama?"
Alih-alih menjawab pertanyaan sang ayah, Aether bertanya. "Bukankah Ayah membenci Ibu?"
Aelia mengangguk setuju dan menanggapi dengan tenang. "Tidak perlu memperbaiki hubungan, kami sudah tahu anda sangat menyayangi Ratu. Kami bertiga tidak akan pernah mempermasalahkannya."
Stefano menatap curiga Aelia. "Kamu tidak akan mempermasalahkannya?"
Selena membela ibunya. "Ibu sudah tidak ingin mengejar Ayah lagi dan ingin fokus bersama kami, biarkan kami bertiga tenang."
Stefano mengerutkan kening. "Aku tidak bisa melakukan itu."
Aether bertanya. "Kenapa?"
"Karena Aether adalah pangeran mahkota, Selena adalah putri kekaisaran lalu-" Stefano menatap lurus Aelia sementara wanita itu menatap dia dengan mata cantiknya. "Kau adalah Permaisuri. Kedudukan kalian bertiga tidak akan pernah berubah."
Selena, Aether dan Aelia jelas tidak menyukai situasi ini. Mereka sudah berencana untuk keluar dari istana kekaisaran dan membangun kekuasaan sendiri tanpa harus menunggu Kaisar.
Aelia membalas Stefano. "Anda punya istri dan anak cadangan, kekaisaran tidak akan masalah karena ada banyak pewaris, tinggal anda yang menentukan siapa yang bisa menjadi penerus anda."
"Beda!" Stefano menjawab dengan lantang, dia tidak bisa mengutarakan perasaan dan pikirannya secara langsung karena harga diri seorang pria. "Beda jika kalian bertiga tidak ada."
Selena dan Aether masih tidak paham jalan pikiran Stefano yang masih mengikat ibu dan dua anak, tapi berselingkuh dengan wanita lain dan membuat anak.
Selena dan Aether tidak suka adanya hubungan poligami. Pria tidak akan pernah adil dalam segi mana pun meski menjelaskan sampai berbusa.
Aelia yang sudah merasakan kehidupan menyakitkan di dua kehidupan berbeda, tidak ingin mengulang hal yang sama. Dia tidak peduli dengan pemikiran Stefano, yang terpenting dirinya bisa bersama kedua anak.
Aelia tidak mau mati sia-sia lagi hanya untuk mengejar seorang pria yang tidak mencintainya. "Aku tidak peduli."
__ADS_1
Hanya itu komentar seorang Permaisuri yang memiliki dua anak, kepada seorang Kaisar yang berkuasa.