REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA

REINKARNASI KALI INI, PERMAISURI JAHAT INGIN MENJADI PENGUSAHA
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Stefano menatap terpana Aelia, tidak menyangka wanita yang dulu mengejar dan berusaha mencari cintanya malah bersikap tidak peduli. "Aelia."


"Makan supnya, nanti jadi dingin. Setelah itu, pergilah menghibur para istri dan anak-anak. Para bangsawan pasti akan bergosip kalau saya berusaha memonopoli anda, Yang Mulia." Aelia bicara tanpa menatap suaminya, kedua anak mereka mengangguk setuju.


Stefano tidak bisa berkata-kata melihat dinginnya istri dan kedua anak.


Mereka berempat makan malam dalam diam dan suasana canggung, tidak ada yang berniat bicara.


Keesokan harinya suasana kekaisaran menjadi heboh dan memanas. Gosip mengenai Kaisar yang lebih memilih tinggal dan merayakan ulang tahun bersama Permaisuri dan anak-anaknya, menjadi topik utama kekaisaran. Hal itu dikarenakan, Kaisar selalu datang ke acara ulang tahun Cassia.


Gosip diperkuat dengan putri Cassia yang mengumumkan tidak akan keluar istana untuk sementara waktu dan memutuskan berlibur di wilayah keluarga Ratu. Tentu saja hal ini menjadi pro dan kontra di kalangan bangsawan.


"Kaisar hanya ingin menghibur Permaisuri pasca sakit, nanti pasti kembali ke pelukan Ratu. Tidak perlu khawatir."


"Selama ini Permaisuri tidak terlalu berguna, Ratu yang mengurus tugas-tugas Permaisuri. Yang Mulia Kaisar sangat suka pada wanita yang bisa diajak kerja, bukan bersenang-senang."


"Kalian bicara apa? Istri sah Yang Mulia Kaisar itu Permaisuri, sudah sewajarnya Yang Mulia peduli pada istri. Kenapa kalian malah bela Ratu?"


"Benar, meskipun Permaisuri hanya suka mengejar Kaisar. Tetap saja dia adalah istri sah Kaisar, dan melahirkan dua anak pewaris tahta. Apakah kalian sudah mendengar dari mulut Kaisar kalau anak selain Permaisuri adalah pewaris tahta?"


"Ya, kamu benar sih. Tapi-"


"Mau sejelek apa pun kelakuan istrinya, tetap saja dia istri sah. Toh Permaisuri juga anak Duke yang statusnya lebih tinggi dari ratu."


Para bangsawan wanita mulai berdebat mengenai status mana yang lebih tinggi sebagai pendamping Kaisar, sebagian besar bangsawan membela Permaisuri, menepis perilakunya yang tidak bisa dicontoh sebagai salah satu bangsawan tertinggi.


Sementara para bangsawan pria mencemooh pertengkaran para wanita di salon.

__ADS_1


"Para wanita berdebat mengenai status istri, bukankah keduanya tidak penting. Yang terpenting adalah pewaris tahta."


"Memiliki Ibu yang bodoh merupakan aib, kasihan sekali Pangeran Mahkota. Saya tetap mendukung Pangeran Bence, meskipun pangeran kedua terlihat suka bermain-main, tapi ibunya bisa mengarahkan anak dengan baik melalui kecerdasannya. Permaisuri? Apa yang bisa dilakukannya? Hanya mengejar Kaisar dan membuang banyak uang."


"Hati-hati bicara, takutnya ada pendukung Permaisuri yang mendengar," tegur bangsawan lain yang duduk berhadapan dengan bangsawan yang menghina permaisuri.


"Saya tidak takut, semua yang saya katakan adalah fakta. Permaisuri telah membuat contoh yang buruk sebagai bangsawan tinggi untuk para wanita, kasihan Pangeran Mahkota yang memiliki Ibu seperti itu."


"Benar, kebanyakan pria yang memiliki Ibu gila, akan ikut gila juga. Lebih baik tetap mendukung Pangeran Bence."


Berbeda dengan para bangsawan wanita yang lebih mengutamakan perasaan dalam pendapat mereka, para bangsawan pria lebih mengutamakan logika. Sementara rakyat tidak terlalu peduli dengan kegiatan politik.


"Kaisar peduli pada Permaisuri memang bagus, aku sendiri tidak peduli gosip beredar. Yang penting bisa berikan makan untuk anak dan istri sudah cukup."


"Berdebat begitu juga tidak menguntungkan untuk kita, yang penting kekaisaran aman dan tidak ada yang mengganggu."


"Benar."


"Apakah Ratu sudah membayar kompensasi karena menyentuh wilayah kita?" tanya Aether ke kakeknya. "Jangan bilang, mereka belum memberikan apa pun."


Kakek Aether menghela napas panjang. "Ya, memang. Mereka hanya mengeluarkan janji."


Aelia yang mendengar itu karena mereka berdua diskusi di istana Timur, mengeluarkan pendapat. "Bagaimana dengan perjanjian yang disahkan oleh hukum?"


Perdana menteri menatap tidak paham putrinya. "Yang Mulia, apa maksud anda? Siapa yang dihukum?"


Aelia mengerutkan kening, lalu bertanya. "Selama ini ada aturan dan hukum kekaisaran, digunakan untuk menghukum apa?"

__ADS_1


Perdana menteri menjawab dengan bingung. "Untuk yang melakukan kesalahan."


Aelia mulai paham dan menggumam kecil. "Berarti selama ini di kekaisaran, tidak ada hukum perdata?"


Wajah Aether berubah tegang ketika Ibunya menyinggung hal itu.


Aelia menjelaskan ke sang Ayah. "Ayah bisa bicara dan jelaskan hal ini ke Kaisar, aku tidak tahu apakah orang itu akan paham atau pura-pura paham. Yang pasti kita harus melakukan sesuatu untuk melindungi aset dan menyerang orang-orang yang sudah merugikan kita."


Aether tersenyum ke Aelia. "Ibu, bisakah dijelaskan apa rencana Ibu tentang hukum itu?"


Aelia menatap putranya dan mulai menimbang. Awalnya dia tidak ingin Aether belajar terlebih dahulu, tapi ketika mengingat posisi putranya sebagai pangeran mahkota, dia tidak bisa menyembunyikannya.


Aelia mulai menjelaskan kepada ayah dan putranya. Setelah kekacauan ulang tahun Putrinya, Aelia semakin semangat untuk mencari uang sendiri dan menarik kedua anaknya. "Jadi, kita membuat perjanjian dengan kedua belah pihak yang didasarkan oleh hukum. Nah, tentu saja hakim harus memutuskan terlebih dahulu. Kalau ada kasus perjanjian yang berlandaskan hukum, selama ini apa yang kekaisaran lakukan?"


Kakek Aether mengerutkan kening dan menjawab. "Harus mendapat persetujuan dan ditanda tangani oleh Kaisar. Tapi jarang yang melakukan itu, karena butuh waktu yang lama. Jika situasinya tidak mendesak, seperti jual beli rumah, atau perjanjian lainnya, mereka memakai pengacara sebagai pihak ketiga."


Aelia terpana. "Apakah di kekaisaran ada pengacara?"


Aether menatap bingung ibunya. "Ibu, pengacara ada karena adanya hakim dan hukum. Biasanya yang memiliki profesi ini adalah bangsawan atau orang kaya."


Aelia mengangguk. "Kalau yang itu, Ibu paham. Jadi selama ini hakim digunakan hanya untuk sidang pidana?"


Kakek Aether mengedipkan kedua mata dengan bingung lalu bicara ke Aether. "Pangeran Mahkota, mungkin saat ini kondisi Permaisuri masih kurang stabil, bisakah anda bantu membawanya ke dalam kamar?"


Aelia mengeluarkan protes. "Ayah, aku tidak gila. Aku hanya ingin menganalisa supaya bisa menghasilkan uang banyak, bayangkan jika rencana ini dilaksanakan- bukankah kita akan menjadi orang kaya?"


"Permaisuri, selama ini wilayah Duchy kita tidak ada masalah keuangan. Kenapa Permaisuri bicara seolah saya tidak pernah memberikan uang?"

__ADS_1


"Bukan itu maksud aku-" Aelia bingung harus menjelaskan mulai dari mana. "Aku hanya ingin kita keluar dari masalah kecurangan dan tidak perlu membuang waktu lagi. Jika Kaisar mengesahkan rencana ini dan bekerja sama dengan kita, tentu saja pembagiannya harus adil- kita tidak perlu khawatir tentang masalah posisi Aether yang selalu diancam para bangsawan lalu Selena yang diremehkan. Kita harus memiliki uang banyak dan kekuasaan besar, untuk membungkam para bangsawan yang selama ini menyudutkan keluarga kita."


Aether menghela napas panjang. Sekarang, ide aneh apalagi yang muncul di kepala wanita yang melahirkan dirinya?


__ADS_2